My Wild Wife

My Wild Wife
permintaan Sean



pagi harinya.....


"enak tu" celetuk ell melihat Aruna yang sedang menyantap semangkok bubur ayam dan telah lengkap dengan setelan kerjanya, Aruna kini bersiap lebih awal untuk menghindari kesalahannya kemarin


"udah cuci muka Lo?" tanya Aruna yang melihat ell duduk di dekatnya dengan meneguk segelas air putih


"nggak cuci muka aja gue cantik, apalagi cuci muka" jawab ell dengan mencomot kerupuk yang ada di mangkok Aruna


"dih narsis!, tu bubur lo" Aruna menunjuk bubur yang masih terbungkus diatas meja


"Lo beli na?"


"iya, emang kenapa?, kalau kita yang bikin nggak akan siap gara-gara gue debat Ama Lo " ucap Aruna yang terus melahap buburnya


"ih..enak aja gue cuma ngebantu juga, btw tumbenan Lo siap agak pagian banyak kerjaan lo?" tanya ell yang telah ikut menyantap bubur


"gue nggak mau ngulang kesalahan kemarin, oh ya gue nggak sempat cerita, Lo tahu kemarin gue terlambat dan dimarahin habis-habisan sama karyawan senior"


"nggak berantem Lo sama dia?"


"ya nggak lah, orang gue juga salah datangnya terlambat kalau gue ikut marah bisa-bisa gue di tendang langsung dari perusahaan itu"


"Cemen lo na, kalau gue ni udah gue Jambak tu rambutnya, tangan nya gue pelintir tubuh nya gue tendang!, ih emosi gue lama-lama!" kesal ell berapi-api


"ya udah Lo mau nggak ketemuan di luar kantor? gue buat janji ni sama dia"


"uhukk...." ell yang sedang makan pun tersedak mendengar ucapan Aruna


"Lo ngadu saudara lo" ucap ell tidak percaya dengan perkataan Aruna dilihat dari wajahnya ell terlihat tampak cemas


"bwahahah...." tawa Aruna


"makanya jangan sok jagoan"


"'ishh ... ngeselin lo!" ucap ell mengerucutkan bibirnya


saat Aruna sedang asik tertawa, tiba-tiba suara klakson motor terdengar


Tit....tit....


"siapa na?" tanya ell menatap Aruna


"kayanya sela udah dateng deh, gue duluan ya ell" pamit Aruna sembari mengacak-acak rambut ell


"Aruna!" teriak ell kesal yang dibalas Aruna dengan menjulurkan lidahnya


"gue kira bohongan Lo mau jemput gue, ternyata serius" celoteh Aruna menatap sela yang memakai sebuah jacket serta helm dengan motor scooter jacket serta dengan scooter yang tampak antik


"iya baru keluar dari bengkel, gimana oke nggak?" tanya sela sedikit bergaya diatas motornya


"hmm...kalau menurut gue sih motornya kece tapi orangnya....." ucap Aruna meneliti


"udah ayok, buruan naik nanti dimarahin Lila lagi Lo mau?, nih helmnya" sela pun menyodorkan helmnya pada Aruna


"iya-iya!, btw Lo kece juga tahu pake celana" tawa Aruna


"udah berisik Lo na" sela pun segera menjalankan motornya tak lupa memberikan klakson pada pengurus kebun yang tak lain pak Umar


diatas motor......


"Lo punya satpam sama penjaga kebun na?" tanya sela yang melihat post satpam


"oh dulunya emang iya tapi satpam nya pulang kampung, sekarang cuma pak Umar yang bersihin kebun sambil jaga rumah"


"pak Umar? bapak yang tadi?"


"iya bapak yang tadi, emang kenapa Lo nanya?"


"Lo tu udah kaya kenapa masih kerja? kalau gue jadi Lo nih na gue akan santai nikmatin hidup"


"nggak semudah itu sela, kita itu nggak selalu di atas, roda kehidupan itu berputar, dan saat kita di atas kita juga nggak boleh Santai-santai aja harus ada usaha"


"gue salut sama lo na orangnya bijak banget"


"bokap Lo punya perusahaan? kenapa nggak kerja di sana aja? kan bisa ikut berkontribusi sama perusahaan" tanya sela pada Aruna yang malah memilih bekerja di perusahaan lain


"oh gitu, lo beruntung banget ya punya bokap kaya gitu " ucap sela kagum


"sebenarnya om Nicolas itu bukan bokap kandung gue" lirih Aruna


"ha? apa Lo bilang na?" tanya sela memastikan sekali lagi tidak ada yang salah dengan apa yang di dengar


"iya, om Nicolas itu bukan bokap kandung gue, nanti gue jelasin deh" ucap Aruna menyudahi obrolan mereka


"iya oke deh" ucap sela mengiyakan, tapi sebenarnya ia masih sangat penasaran dengan apa yang dikatakan Aruna


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"kak...ayolah kak, kenapa kakak suka sekali menyulitkan ku, apa salahnya sih kakak menerima Monica? aku yakin ia akan bekerja dengan baik kak" ucap Sean yang terus membujuk Zee


sekarang Sean tengah berada diruang Zee, Zee yang duduk di atas kursi kerjanya sementara Sean di sofa tepat di depan meja kerja zee, Sean berupaya membujuk Zee yang tengah fokus dengan setumpuk berkas dimeja nya


brakk...Zee meletakkan kasar berkas yang sedang ia pegang


"sudah berapa kali ku katakan? aku tidak mau dia menjadi sekretaris ku!, apa kau tuli?" Zee menatap Sean tajam


"kenapa? beri aku alasan yang jelas" tanya Sean yang tak kalah menatap Zee tajam


"kau ingin alasan? aku tidak ingin berdekatan dengan orang bodoh, itu hanya akan menghambat pekerjaan ku!"


"apa kau bercanda? Monica itu lulusan kampus luar negri ternama!, itu bukan alasan yang masuk akal untuk kakak mengatakan nya bodoh bahkan menolaknya!"


"di sini aku pemimpin nya! kau tahu? segala sesuatu aku yang memutuskan!"


"baiklah, apa yang kakak inginkan dariku? aku akan melakukan semua yang kakak minta asalkan Monica di terima disini sebagai sekretaris kakak!" ucap Sean memberi penawaran, hanya ini satu-satunya cara menghadapi Zee yang keras kepala, mendengar penawaran yang di ucapkan Sean, Zee cukup tertarik


"segalanya?" tanya Zee tersenyum smirk


"i-iya se-galanya, ya aku akan melakukan nya" ucap Sean sedikit terbata, jujur saja ia takut melihat senyum Zee tersebut, perasaannya sekarang ini sedikit tidak enak setelah mengucapkan penawaran tadi


"hmm... menarik"


"ikuti semua perintah ku selama 1 bulan bagaimana?" tanya Zee tersenyum remeh menatap Sean yang seketika terbelalak


"sebulan? yang benar saja kau kak! " Sean seketika protes dengan syarat yang di ucapkan Zee


"iya atau kau pergi dari sini sekarang!"perintah Zee kembali berkutat dengan segala berkasnya


"syarat lain akan kulakukan kecuali yang satu itu" Sean kembali memberikan penawaran


tapi kali ini Zee sama sekali tidak mendengar kannya, ia hanya terus fokus menatap berkas di depannya


"kak ayolah...aku akan melakukan apapun kecuali itu, satu bulan itu bukan waktu yang sebentar kak, tolong mengertilah"


"keluar!" ucap Zee tanpa menatap ke arah Sean


"huh..." sean menghembuskan nafas kasar


"baiklah tapi apa saja yang ku lakukan dalam sebulan itu?"


"aku nanti yang akan menentukan, dan kau tinggal menjalani saja semua perintah ku dalam waktu satu bulan itu"


"setidaknya beri aku sedikit bocoran kak!"


"keluar!" teriak Zee pada Sean, kedatangan Sean ke ruangan nya sangat menggangu ketenangan Zee


"cih... baiklah besok Monica akan mulai bekerja disini, dan kakak tolong jaga


semua ucapan kakak kepadanya" ucap


Sean dan berdiri dari duduknya


"kau memerintah ku?" tanya Zee memandang Sean dengan senyum remehnya


"tidak, itu permintaan" Sean pun keluar dari ruangan tersebut, lama-lama dengan kakaknya membuat nya bisa gila dan frustasi.....


happy reading.....


jangan lupa, like, coment and vote.....