
Kedatangan Bu Hana ke Indonesia membuat Ristan terkejut. Ditambah pula Anjani mengadu kepada Bu Hana. Bahwa Ristan sudah menikah diam-diam dengan anak yang masih di bawah umur.
"Aku pulang" Teriak Jasmine saat masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh Alif
Jasmine terpaku melihat ke arah mereka. Di ruang tamu sudah ada Ristan, Anjani, dan Bu Hana. Jasmine berjalan masuk ke dalam dengan kepala menunduk.
"Apa kau yang bernama Jasmine?" Tanya Bu Hana segera berdiri dari tempat duduknya
"Ibu..." Ucap Ristan begitu lirih sembari memegang tangan Bu Hana
Deg
"Ibu" Ucap batin Jasmine langsung menengok ke arah Bu Hana dengan tersenyum kaku
"Duduk! Kita harus bicara!" Perintah Bu Hana kembali duduk
"Aku" Jawab Jasmine menunjuk ke arah dirinya sendiri
"Siapa lagi kalau bukan dirimu" Ucap Bu Hana ketus
Akhirnya Jasmine duduk di antara mereka dan mulai di interogasi. Bu Hana terus menatap ke arah wajah Jasmine dengan tatapan tidak suka.
"Siapa nama mu?" Tanya Bu Hana kepada Jasmine
"Jasmine" Jawab Jasmine dengan segera
"Apa kau tidak memiliki marga?" Tanya Bu Hana begitu kesal
"Punya" Jawab Jasmine singkat
"Jadi, siapa nama lengkap mu?" Tanya Bu Hana memelototi wajah Jasmine
"Nama lengkap ku Jasmine Noir" Jawab Jasmine mengangkat wajahnya dan memberanikan diri melihat ke arah wajah Bu Hana
"Sepertinya kau bukan orang susah. Jadi, pergilah dari rumah ini dan jangan menganggu kehidupan Ristan" Ucap Bu Hana penuh penekanan
"Ibu jangan berbicara seperti itu kepada Jasmine. Ibu tahukan kalau Jasmine itu anak Ronald sahabatku" Jawab Ristan kembali menjelaskannya
Sedangkan Jasmine terdiam sembari menghela nafasnya begitu dalam.
"Sahabat mu itu sudah mati" Bentak Bu Hana marah kepada Ristan
"Sebenarnya ada apa, sih" Ucap Jasmine menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal
"Kau itu masih saja tidak sadar diri" Sambung Anjani memelototi wajah Jasmine
"Anjani ini semua salah mu. Kau sudah bercerita apa saja kepada Ibuku" Jawab Ristan segera berdiri dari tempat duduknya
"Kenapa kau malah menyalahkan Anjani. Kalau Anjani tidak berbicara kepada Ibu. Mana Ibu tahu kau tinggal satu rumah dengan anak kecil ini" Ucap Bu Hana membela Anjani
"Namanya Jasmine dan bukan anak kecil. Jasmine tidak tahu apa-apa soal masalah ini. Aku yang salah karena sudah berbicara asal kepada Anjani. Kalau aku dan Jasmine sudah menikah dan yang sebenarnya aku dan Jasmine tidak benar-benar menikah. Aku hanya berbicara asal" Jawab Ristan menjelaskannya
"Tidak" Teriak Ristan begitu kuat
"Tapi tetap saja dia tidak boleh tinggal di rumah ini" Sambung Bu Hana ketus
"Kenapa Bu? Aku sudah berjanji kepada Ronald. Aku akan menjaga Jasmine dengan baik dan sekarang aku menjadi wali Jasmine" Jawab Ristan menjelaskannya
"Janjimu itu sudah tidak berlaku karena Ronald sudah meninggal. Lupakan soal menjaga Jasmine! Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Dan kau harus lebih fokus mengurus Anjani" Ucap Bu Hana penuh dengan penekanan sembari memelototi wajah Ristan
"Aku akan pergi dari rumah ini" Ucap Jasmine segera berdiri dari tempat duduknya
"Jangan. Kau tidak boleh pergi dari rumah ku" Jawab Ristan mencegahnya
"Sepertinya kehadiran ku hanya merusak hubungan di antara kalian" Ucap Jasmine menundukkan kepala dan segera pergi
"Bagus kalau kau sudah sadar diri" Sambung Anjani sembari menarik salah satu sudut bibirnya
"Jas... Jasmine" Panggil Ristan mengejar Jasmine yang keluar rumah
"Tetaplah di sini bersamaku. Kau tidak perlu mengejarnya" Ucap Anjani mencegah Ristan
Jasmine menagis sesenggukan dan terus berlari. Dirinya menghentikan salah satu taxi yang melintas di jalanan tersebut. Taxi itu terus berjalan dan mengantarnya pulang ke rumahnya.
"Apa sekarang kalian sudah puas?" Tanya Ristan membuang nafasnya begitu kasar
Anjani maupun Bu Hana keduanya saling terdiam dan saling berpandangan.
"Tega sekali kalian mengusir Jasmine dari rumah ku. Apa kalian tidak merasa kasihan kepada anak yatim pintu. Siang malam aku menjaganya agar dia dapat tersenyum kembali setelah kedua orang tuanya meninggal. Dan sekarang kalian malah mengacaukannya" Teriak Ristan marah dengan mengacak-acak rambut miliknya sendiri dan merasa frustasi
"Sayang. Kenapa kau sangat mempedulikan Jasmine. Ayolah jangan seperti ini kepada ku" Jawab Anjani sembari mengelus punggung Ristan dan mencoba menenangkannya
"Aku ingin memutuskan hubungan dengan mu" Ucap Ristan melepaskan cincin yang berada di jari kelingkingnya
"Jangan lakukan itu" Teriak Bu Hana mencengkeram kuat lengan Ristan
"Jujur saja, Bu. Dari awal aku mengenal Anjani. Aku tidak pernah jatuh cinta kepada dirinya. Jadi, untuk apa hubungan ini terus di lanjutkan" Ucap Ristan segera melepas cincin tersebut dan memberikannya kepada Anjani
"Cinta atau tidak cinta bukan menjadi halangan. Dulu Ibu menikah dengan Ayahmu tanpa dasar cinta" Jawab Bu Hana menjelaskannya
"Tega sekali kau berbicara kepada ku seperti itu, setelah lima tahun kita bersama" Sambung Anjani dengan mata berkaca-kaca
"Sudah jangan terlalu di pikirkan. Ibu yang akan mengurusnya nanti" Jawab Bu Hana segera memeluk Anjani yang terisak
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikahi mu" Teriak Ristan segera masuk ke dalam kamar miliknya dan membanting pintu itu begitu kuat
Anjani terus menagis di pelukan Bu Hana dirinya tidak bisa menahan rasa sakit atas ucapan Ristan.
Selang beberapa jam setelah Anjani berhenti menagis. Bu Hana segera mengajak Anjani jalan-jalan keliling Jakarta. Lantaran Bu Hana tidak bisa lama-lama berada di Indonesia.
Kini Anjani menggantungkan hubungannya dengan Ristan kepada Bu Hana. Bu Hana akan terus mendukung Anjani agar bisa menikah dengan Ristan. Di sisi lain Anjani berasal dari keluarga terpandang dan terhormat. Hal itu membuat Bu Hana menyukai Anjani. Di tambah pula Anjani berprofesi sebagai model dan sangat mencuri perhatian Bu Hana.