
Dengan langkah tergesa-esa, Ristan berjalan menuju keruangan Jasmine.
"Apa kau baik-baik saja? Maaf aku datang terlambat" Ucap Ristan memeluk Jasmine begitu erat
"lepaskan aku" Jawab Jasmine mendorong tubuh Ristan agar menjauh darinya
"Apa kau marah dengan ku?" Tanya Ristan menautkan kedua alis miliknya
"Tidak" Jawab Jasmine memalingkan wajahnya
"Maaf. Kemarin aku tidak bisa menjenguk mu. Aku sangat sibuk dengan urusan kantor" Ucap Ristan kembali memeluk Jasmine dan mencium keningnya
Sedangkan Vita yang melihat pemandangan seperti itu. Dirinya langsung memalingkan wajahnya dan tersenyum dengan sendirinya.
"Ehem..." Jasmine berdehem dan merasa malu saat melihat ke arah wajah Vita
"Siapa nama mu?" Tanya Ristan melihat ke arah Vita yang tengah duduk di sana
"Aku?" Tanya Vita dengan menunjuk ke arah dirinya sendiri
"Iya. Siapa nama mu?" Tanya Ristan dengan tersenyum
"Vita" Jawab Vita dengan segera
"Terimakasih. Semalam kau sudah menjaga Jasmine" Ucap Ristan yang masih melihat wajah Vita
"Iya" Jawab Vita menganggukkan kepala
"Nanti kau akan di antar pulang sama Alif. Kita harus pergi dulu" Ucap Ristan merangkul tubuh Jasmine dan segera pergi
Vita menautkan kedua alis miliknya melihat kepergian mereka. Dan di detik berikutnya, Vita segera keluar dari ruangan tersebut.
"Apa kau yang bernama Vita?" Tanya Alif yang masih berdiri di luar pintu
"Iya" Jawab Vita tersenyum kaku
"Aku Alif. Asisten Tuan Ristan yang akan mengantarmu pulang" Ucap Alif menjelaskannya dan segera berjalan di ikuti oleh Vita
Berita itu terdengar sampai di telinga kedua orang tua Ristan dan Anjani. Kedua keluarga itu berencana bertemu di rumah Ristan, tanpa sepengetahuan Ristan.
Ristan terkejut saat memasuki halaman rumah miliknya. Beberapa mobil terparkir di halaman rumah miliknya.
"Apa kau sedang membuat janji dengan seseorang?" Tanya Jasmine lirih melihat ke arah wajah Ristan
"Tidak" Jawab Ristan singkat
"Jadi, mobil siapa?" Tanya Jasmine membuang nafasnya begitu kasar
"Entahlah" Jawab Ristan segera keluar dari dalam mobil itu dan diikuti oleh Jasmine
Ristan melihat anak buahnya, tidak ada satupun orang yang berjaga di sana. Ristan membantu Jasmine berjalan masuk menuju ke dalam rumah miliknya. Dan sesampainya di dalam orang-orang itu melihat ke arah mereka.
"Kau" Teriak Bu Hana menunjuk ke arah wajah Jasmine dan segera menghampirinya
"Ibu, Ayah, dan kalian semua. Kenapa berada di rumah ku?" Tanya Ristan dengan mata melotot
"Minggir" Ucap Bu Hana berdiri di antara Jasmine dan Ristan
"Ibu" Bentak Ristan marah kepada Bu Hana
"Bukankah aku sudah mengusir mu dan kenapa kau sekarang berada di sini?" Tanya Bu Han mencengkeram kuat lengan Jasmine
"Bu lepaskan! Dia sedang sakit, Bu" Teriak Ristan mengibaskan tangan Bu Hana
Anjani menangis sesenggukan di dalam pelukan Mama Agnes.
"Sayang sudahlah kau diam saja dan kita akan membereskan masalah ini" Ucap Mama Agnes menenangkan Anjani yang sedang menangis
"Dia siapa?" Tanya Ayah Rafi yang merupakan Ayah Ristan
"Dia Jasmine, Pa. Anaknya Ronald" Jawab Ristan menjelaskannya
"Ronald Noir. Sahabat mu yang sudah meninggal dunia" Ucap Pak Rafi
"Iya" Jawab Ristan lirih
"Apa hubungan mu dengan wanita itu? Bagaimana bisa kau tinggal satu rumah dengan wanita muda seperti dia. Apa yang sudah kalian lakukan? Raf... Tolong jelaskan! Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran anak mu" Sambung Pak Basuki yang merupakan Papa Anjani
"Tenang dulu Bas...!" Jawab Pak Rafi dengan lirih
"Bagaimana kita bisa tenang, sedangkan anak mu memiliki wanita lain di tambah pula dengan foto itu. Jelas-jelas dia sudah meniduri anakku. Apa kau sengaja ingin memiliki dua istri?" Tanya Pak Basuki memelototi wajah Ristan
"Aku tidak pernah tidur bersama Anjani. Memegangnya saja tidak pernah" Jawab Ristan tersenyum sinis melihat wajah Pak Basuki
"Ristan" Teriak Bu Hana kesal mendengar ucapan Ristan
"Sudahlah, Bu. Aku sudah mengatakannya bukan! Di depan Anjani dan Ibu, aku sudah memutuskan hubungan ku dengan Anjani. Kenapa Ibu tidak memberitahu mereka?" Tanya Ristan sembari berjalan mendekat ke arah Jasmine
"Itu urusan mu dengan Ayah Rafi. Aku tidak mengerti soal urusan bisnis perusahaan kalian. Dan jujur saja aku tidak akan pernah menikahi wanita seperti Anjani" Jawab Ristan sembari memapah Jasmine agar duduk di kursi
"Berani sekali kau berbicara seperti itu kepada ku" Teriak Pak Basuki marah kepada Ristan dengan mengepalkan kedua tangan miliknya
"Ristan aku sangat merindukanmu" Ucap Anjani segera memeluk tubuh Ristan begitu erat
"Lepas" Bentak Ristan mendorong tubuh Anjani hingga jatuh ke atas lantai
"Aw..." Pekiknya kesakitan dengan memegang pantatnya
"Berani sekali kau mendorong anakku" Teriak Pak Basuki langsung menampar pipi Ristan
Jasmine terkejut melihat pemandangan yang ada di depan matanya dan tubuh Jasmine gemetar.
"Wanita murahan! Wanita seperti Anjani tidak pantas mendapatkan perlakuan baik dari ku. Setelah dirinya menyebar foto yang merusak reputasi perusahaan ku" Ucap Ristan memalingkan wajahnya
"Reputasi. Justru kau yang sudah mencoreng nama baik anakku" Jawab Mama Agnes dengan segera
"Sudahlah kalian semua pergi dari rumah ku dan aku ingin beristirahat" Ucap Ristan segera duduk di samping Jasmine
"Ristan nikahi aku. Kalau kau tidak menikahi ku, laki-laki mana yang mau dengan ku. Setelah melihat berita itu" Ucap Anjani duduk di samping Ristan dan segera memeluk Ristan
"Itu bukan urusan ku! Kau minta saja pertanggung jawaban Jimi" Jawab Ristan dengan santai
Deg
"Jimi" Ucap Anjani lirih dan segera melepaskan pelukannya
"Apa kau terkejut? Kau pikir aku tidak tahu siapa dirimu" Jawab Ristan tersenyum licik melihat wajah Anjani yang ketakutan
"Apa maksudmu?" Tanya Anjani pura-pura tidak tahu
"Sudahlah jangan akting di depan ku. Aku tahu semuanya tentang dirimu, Anjani" Jawab Ristan segera berdiri dari tempat duduknya
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Bu Hana yang ingin tahu
"Anjani sedang hamil tiga bulan dan itu anaknya Jimi. Asistennya dia" Jawab Ristan menjelaskannya
"Maksud mu Anjani hamil?" Tanya Mama Agnes dengan tertawa
"Iya" Jawab Ristan dengan anggukan kepala
"Kebohongan apa lagi yang sedang kau bicarakan" Sambung Pak Basuki menghampiri Ristan dengan kedua tangan mengepal
"Hei... Yang di luar cepat bantu aku memutar videonya!" Perintah Ristan dengan berteriak
Mereka segera masuk dan memutar video tersebut. Mata mereka melotot dan tidak percaya dengan wajah wanita yang ada dalam video tersebut.
Sedangkan Ristan segera menutup mata Jasmine dengan kedua tangan miliknya. Saat Video tersebut tidak boleh di lihat untuk anak yang masih di bawah umur.
"Tidak mungkin" Ucap Mama Agnes lirih dan segera menutup mulutnya
"Cepat matikan videonya!" Perintah Anjani berteriak keras dan merasa gugup
"Kenapa dirimu bodoh sekali dan kenapa kau malah mau berhubungan badan dengan asisten rendahan mu itu" Ucap Pak Basuki menampar wajah Anjani
"Kau sudah membuat Mama malu, Anjani" Sambung Mama Agnes terisak
"Itu editan, Ma. Kalian jangan percaya dengan video itu" Teriak Anjani marah
"Aku tidak mengerti dengan semua ini. Kepala ku benar-benar pusing" Ucap Bu Hana segera duduk
"Bu..." Panggil Anjani kepada Bu Hana
Sttt
"Diam dan jangan berisik. Aku bukan Ibu mu lagi" Jawab Bu Hana memijat kepalanya yang terasa pusing
"Akhirnya aku mengetahui semuanya. Untung saja kau belum menikah dengan Anjani" Ucap Pak Rafi tersenyum melihat ke arah wajah Ristan
"Apa maksudmu? Kita harus menikahkan anak kita, sesuai janji kita saat kau meminta bantuan kepada ku" Sambung Pak Basuki dengan mata melotot
"Aku yang akan mengurusnya. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, berapa uang yang sudah kau keluarkan untuk perusahaan Ayah ku?" Tanya Ristan kepada Pak Basuki
"Tidak semudah itu. Lihat saja, aku akan membuat perusahaan Ayah mu bangkrut" Jawab Pak Basuki tersenyum licik sembari menarik tangan istrinya dan segera pergi dari rumah Ristan
"Pa... Aku ingin menikah dengan Ristan" Teriak Anjani yang masih di tempatnya dan tidak di hiraukan oleh Pak Basuki dan Mama Agnes
"Dasar tidak tahu malu" Ucap Bu Hana segera masuk ke dalam kamar tamu dan di ikuti Pak Rafi
Sedangkan Ristan masih duduk bersama Jasmine di ruangan tersebut dengan melihat ke arah wajah Anjani.
"Apa yang kalian lihat?" Tanya Anjani menangis sesenggukan dan segera pergi