
Dalam perjalanan menuju pulang ke rumah, tak ada sepatah pun kata yang keluar dari mulut Ristan. Sesekali Ristan hanya melihat ke arah wajah Jasmine begitu sendu.
"Sudahlah berhenti menagis! Untuk apa kau menangisi laki-laki brengsek seperti, Darren" Teriak Ristan sembari memukul stir mobil miliknya dan melihat ke arah wajah Jasmine
"Kau tidak pernah merasakan patah hati. Apa kau tahu Darren itu cinta pertama ku. Aku tidak rela dia meninggalkan ku begitu saja" Jawab Jasmine menagis sesenggukan
"Dasar bodoh" Bentak Ristan segera menepikan mobilnya
"Cup" Ristan langsung mencium bibir Jasmine
Jasmine membulatkan kedua bola mata miliknya menerima ciuman Ristan. Dan di detik berikutnya, Jasmine segera mendorong tubuh Riska agar menjauh darinya.
Keduanya saling terdiam dan menundukkan kepala. Ristan kembali melihat wajah Jasmine, tangan itu mengelus rambut Jasmine yang terurai begitu panjang.
Dengan nafas yang menggebu-gebu, Ristan langsung menyambar bibir Jasmine. Jasmine terdiam mendapat serangan dari Ristan. Ristan tidak hanya sekedar mencium bibir Jasmine. Dirinya juga saling bertukar saliva, tanpa rasa jijik. Walaupun Jasmine tidak membalas ******* bibir Ristan.
Tangan Ristan tidak hanya tinggal diam saja. Tangan itu terus menekan tubuh Jasmine agar lebih mendekat kepada dirinya.
"Maaf" Ucap Ristan lirih setelah melepaskan ciumannya
Jasmine menundukkan kepala sembari memegang bibir miliknya. Dan ini pertama kalinya bagi dia mendapatkan ciuman dari seorang lelaki. Jujur saja, waktu dirinya berpacaran dengan Darren dia tidak pernah berciuman.
"Antar aku pulang ke rumah!" Perintah Jasmine memalingkan wajahnya ke arah luar jendela
"Iya" Jawab Ristan segera menyalakan mesin mobil miliknya
Mobil itu terus berjalan dan menuju ke rumah Ristan.
"Kenapa kau membawaku pulang ke rumah mu?" Tanya Jasmine menautkan kedua alis miliknya
"Ayo, keluar!" Perintah Ristan membuka pintu mobil tersebut
"Aku tidak mau bertemu dengan Bu Hana" Ucap Jasmine ketus, dengan melipat kedua tangan miliknya
"Di rumah tidak ada Bu Hana. Ibu ku sudah balik ke Singapura" Jawab Ristan menjelaskannya
"Tetap saja aku tidak ingin masuk ke dalam rumah, mu" Ucap Jasmine menolaknya
"Dari pada kau sendiri di rumah mu. Lebih baik kau tinggal di rumah ku. Dan di sini banyak orang yang akan menjaga mu" Jawab Ristan menarik tangan Jasmine
"Di rumah mu banyak peraturan dan aku tidak bisa bebas" Ucap Jasmine ngotot ingin kembali masuk ke dalam mobil tersebut
"Apa kau ingin aku mencium bibir mu lagi?" Tanya Ristan tersenyum
"Apa maksudmu?" Tanya Jasmine balik sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya
"Hahaha" Terdengar suara tertawa Ristan sampai di telinga Jasmine
"Astaga kau ini" Ucap Jasmine kesal, mendorong tubuh Ristan
"Ayo" Ajak Ristan menarik tangan Jasmine dan mereka segera masuk ke dalam rumah
"Mulai saat ini kau harus tinggal di rumah ku lagi" Ucap Ristan dengan mendudukkan Jasmine di ruang tamu
"Bagaimana dengan Anjani?" Tanya Jasmine dengan berhati-hati
"Anjani" Jawab Ristan lirih
"Apa Anjani tidak akan marah kepada ku lagi?" Tanya Jasmine ketus
"Aku sudah memutuskan hubungan dengan Anjani" Jawab Ristan segera duduk di samping Jasmine
"Kenapa?" Tanya Jasmine yang ingin tahu
"Kau tidak perlu tahu. Ini masalah orang dewasa" Jawab Ristan tersenyum lebar
"Ah... Tidak asyik" Ucap Jasmine segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan
"Kau mau ke mana?" Tanya Ristan mengikuti langkah kaki Jasmine
"Mau" Jawab Ristan segera menyenderkan kepalanya di bahu Jasmine
"Om-om mesum" Ucap Jasmine segera berjalan dan meninggalkan Ristan yang tengah tertawa melihat kepergian Jasmine
"Tuan" Panggil Alif
"Kau. Mengejutkan ku saja" Jawab Ristan tersenyum kaku dengan mengelus dada miliknya
"Apa Tuan lupa. Kalau hari ini Tuan ada janji dengan Pak Dadang?" Tanya Alif mengikuti langkah kaki Ristan
"Tidak" Jawab Ristan ketus dan terus berjalan
"Kalau Tuan tidak lupa. Kenapa Tuan belum bersiap juga?" Tanya Alif yang tidak mengerti
"Apa maksudmu?" Tanya Ristan segera menghentikan langkah kakinya dan berkacak pinggang di hadapan Alif
"Sepuluh menit lagi, Tuan harus bertemu dengan Pak Dadang" Jawab Alif menjelaskannya
"Apa. Kenapa kau baru mengatakannya sekarang" Teriak Ristan segera berlari masuk ke dalam kamar miliknya untuk menganti pakaiannya
Alif menggelengkan kepala melihat kepergian Tuan Ristan.
Tanpa berpamitan kepada Jasmine, Ristan segera pergi meninggalkan rumah. Pertemuan Ristan dan Pak Dadang sangatlah penting. Lantaran ada hubungannya dengan masalah perusahaan Noir Grup.
Hari mulai malam, Jasmine yang berada di ruang makan senantiasa menuggu kepulangan Ristan.
"Sebaiknya Nona makan terlebih dahulu" Ucap Bu Atul menghampiri Jasmine yang sudah satu jam duduk di sana
"Aku akan makan malam bersama dengan Ristan" Jawab Jasmine menjelaskannya berulang kali kepada Bu Atul
"Maaf Non. Sepertinya Tuan Ristan pulang terlambat. Apa..." Ucap Bu Atul tidak di lanjutkan
"Jangan hiraukan diriku. Aku akan tetap menunggu Ristan" Jawab Jasmine ngotot
Bu Atul segera meninggalkan Jasmine sendiri di ruang makan. Dan sesekali dirinya tetap memantau keadaan Jasmine.
"Hoam" Jasmine yang mengantuk tidak bisa berkompromi dengan kedua mata miliknya dan dirinya segera meletakkan kepalanya di atas meja makan tersebut dan tertidur
Saat Ristan sampai di rumah, dirinya segera masuk ke dalam kamar miliknya karena sudah lelah dengan pekerjaan kantor.
"Tuan" Panggil Bu Atul berlari menuju ke arah Ristan
"Iya. Ada apa?" Tanya Ristan dengan segera
"Nona Jasmine" Jawab Bu Atul lirih
"Kenapa dengan Jasmine, Bu? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Ristan dengan memegang pundak Bu Atul. Dirinya begitu khawatir setelah mendengar nama Jasmine
"Nona Jasmine menunggu Tuan di ruang makan..." Jawab Bu Atul terpotong karena Ristan sudah lari terlebih dahulu dan Bu Atul segera mengikutinya
"Kenapa Jasmine tidur di sini?" Tanya Ristan kepada Bu Atul sembari mengangkat wajah Jasmani
"Nona Jasmine menunggu Tuan dan dirinya ingin mengajak Tuan untuk makan malam bersama" Jawab Bu Atul menjelaskannya
"Kenapa kau tidak menjelaskan kepadanya" Ucap Ristan lirih dan merasa bersalah
"Nona Jasmine ngotot dan ingin menunggu, Tuan" Jawab Bu Atul menundukkan kepala
"Ck. Dasar keras kepala" Ucap Ristan menoyor kepala Jasmine dan segera membawanya ke kamar
Setelah membaringkan Jasmine di atas tempat tidur. Ristan duduk di samping Jasmine dengan mengelus kepala Jasmine. Ristan yang terbawa suasana. Dirinya membuyarkan lamunannya dan segera menyelimuti tubuh Jasmine.
"Kenapa dengan diriku" Ucap Ristan berjalan menuju ke kamar miliknya. Dan tidak mengerti dengan perasaannya saat ini dan dirinya segera memukul kepalanya dengan kedua tangan miliknya
"Benar-benar bodoh" Umpat Ristan kepada dirinya sendiri dan di detik berikutnya dirinya tersenyum lebar