My Uncle Ristan

My Uncle Ristan
Episode 33



"Kenapa kalian semua tidak ada yang menjemput aku di sekolah. Apa kalian sudah bosan bekerja dengan keluarga Dirgantara" Teriak Fiana begitu lantang hingga membuat para karyawan yang bekerja ketakutan


"Maaf Nona. Tadi aku pergi ke sekolah, Nona. Tapi tidak ada satupun orang di sana dan aku sudah menunggu selama tiga puluh menit" Jawab Pak Gilang menjelaskannya


"Alasan saja. Bahkan aku masih di sana menuggu kedatangan mu" Ucap Fiana memalingkan wajahnya dan merasa kesal apa yang sudah terjadi hari ini


"Maaf" Jawab Pak Gilang menundukkan kepala


"Plak" Fiana menampar wajah Pak Gilang dan kejadian itu di lihat dengan kedua mata Tama


"Apakah seperti ini caramu memperlakukan karyawan mu?" Tanya Tama berkacak pinggang di belakang tubuh Fiana


"Ta. Tama..." Jawab Fiana terbata-bata terkejut melihat wajah Tama


"Sangat tidak berperikemanusiaan" Ucap Tama menggelengkan kepala


"Kau salah Tama. Ini tidak seperti yang kau lihat" Jawab Fiana berusaha membuat Tama mengerti


"Aku datang kemari untuk memutuskan pertunangan kita" Ucap Tama memberikan cincin tersebut kepada Fiana dan segera pergi


"Tama jangan lakukan ini kepada ku. Aku sangat mencintai mu" Teriak Fiana mengejar Tama


Tama terus berjalan keluar dari rumah tersebut dengan perasaan lega karena sudah memutuskan hubungan pertunangannya dengan Fiana.


"Bagaimana ini. Aku harus bagaimana menjelaskan semua ini kepada Papa Dirga" Ucap Fiana dengan sedikit berteriak melihat kepergian mobil Tama


"Benar-benar hari paling sial dalam hidup ku" Ucap Fiana frustasi memukul kepalanya dengan tangannya sendiri dan tertawa terbahak-bahak


"Apa Nona Fiana sudah gila? Aku merasa khawatir dengan keadaannya. Setelah di tinggal mati oleh Bu Fatin. Fiana menjadi seperti bukan dirinya sendiri" Ucap Pak Gilang lirih


"Hus... Jangan berbicara seperti itu. Kalau dia mendengar ucapan mu kau bisa-bisa di pecat" Jawab Bu Kusuma yang merupakan art di rumah Fiana


"Ini semua gara-gara Pak Dirga" Ucap batin Bu Kusuma kesal


Fiana berjalan mondar mandir di dalam kamar miliknya. Dan benar saja beberapa menit kemudian Papa Dirga menelepon Fiana.


"Dasar anak bodoh" Umpat Papa Dirga dalam telepon tersebut


"Maafkan aku. Aku sudah membuat kesalahan" Jawab Fiana


"Sekarang bagaimana cara mu agar perusahaan kita tidak bangkrut?" Tanya Papa Dirga penuh penekanan


"Aku akan meminta maaf dengan tulus kepada Tama. Aku akan berusaha meyakinkan Tama" Jawab Fiana dalam telepon tersebut


"Lupakan Tama. Tama bukan laki-laki yang gampangan seperti dirimu. Aku akan mencari laki-laki lain untuk dirimu. Bersiaplah malam ini" Ucap Papa Dirga mengakhiri pembicaraannya


"Pa. Papa" Teriak Fiana kesal dan membuang ponsel miliknya ke sembarang arah


"Dia tidak pernah memikirkan perasaanku sama sekali" Ucap Fiana menangis dan menjatuhkan tubuhnya di atas lantai


"Ibu bantu aku, Bu. Menjauh dari kehidupan Papa. Papa seperti monster yang haus kekayaan dan sekarang lihatlah laki-laki mana lagi yang akan aku kencani" Ucap Fiana menangis sesenggukan dengan memukul dada miliknya yang terasa sesak


"Non. Sudah waktunya makan" Ucap Bu Kusuma dengan mengetuk pintu kamar Fiana


"Aku tidak ingin makan dan tinggalkan aku sendiri" Teriak Fiana begitu lantang


"Baik Non" Ucap Bu Kusuma segera pergi menjauh dari kamar Fiana


"Gadis yang malang" Ucap Bu Kusuma lirih sembari melihat ke arah pintu kamar Fiana yang terletak di lantai atas