My Uncle Ristan

My Uncle Ristan
Episode 48



Sejak dirinya sampai di kantor milik sang suami. Jasmine menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang tidak jauh dari tempat kerja Ristan. Entah kenapa kedua mata miliknya tidak bisa di ajak kompromi.


"Sayang, kapan kita akan pulang ke rumah?" Tanya Jasmine yang enggan membuka kedua mata miliknya


"Sudah istirahatlah dan jangan banyak berbicara" Jawab Ristan dengan mengusap kepala Jasmine


"Tubuh ku rasanya sakit semua" Celotehnya


"Bagian mana yang sakit? Apa kau ingin aku memijat tubuhmu" Jawab Ristan segera duduk di samping Jasmine dengan tangan menelusuri tubuh itu


"Astaga geli sekali rasanya" Ucap Jasmine sedikit tertawa


"Geli. Bahkan diriku belum memijat mu dan baru menyentuhmu" Jawab Ristan menautkan kedua alisnya miliknya


"Sudah-sudah jangan di teruskan" Ucap Jasmine mencegah tangan itu agar tidak memegang benda yang lainnya


"Berbaringlah dan nikmati saja" Cegah Ristan kembali menidurkan tubuh Jasmine


"Sayang" Jawab Jasmine lirih


Stt


Tangan Ristan terus memijat tubuh Jasmine dan sesekali tangan itu mengelus perut Jasmine dengan senyuman manis di wajahnya.


"Sayang aku ada di mana?" Tanya Jasmine ketika membuka kedua mata miliknya


"Ayolah, Jas. Apa yang kau tanyakan?" Jawab Ristan tertawa


"Apa kau sengaja ingin menggodaku dan membawaku ke hotel" Ucap Jasmine menundukkan kepala dan terlihat lesu


"Kumpulkan nyawamu dan barulah kau berbicara!" Perintah Ristan menggelengkan kepala sembari menepuk pundak Jasmine


"Hi" Jawab Jasmine meringis


"Dasar payah" Ucap Ristan menoyor kepala Jasmine lalu tertawa kembali


Terdengar suara ponsel berbunyi, mereka terdiam kemudian saling berpandangan.


"Entahlah aku tidak mengerti. Siapa ya yang menelepon ku" Celoteh Jasmine segera mengambil ponsel miliknya berada di atas meja


"Biarkan aku yang menjawabnya" Ucap Ristan mengambil paksa ponsel Jasmine


"Eh. Jasmine Noir. Apa kau lupa hari ini kau harus check up kandungan mu. Kalau kau sekali lagi tidak datang ke rumah sakit tanpa adanya penjelasan. Aku tidak ingin lagi menjadi dokter mu" Teriak Cika dalam telepon tersebut


"Kenapa kau tidak memberitahu ku?" Tanya Ristan


"Ristan" Jawab Cika terkejut


"Iya ini aku. Mulai sekarang yang berhubungan dengan kandungan Jasmine. Tolong hubungi aku terlebih dahulu!" Ucap Ristan sembari mengusap wajahnya begitu kasar


"Iya baiklah. Besok kalian boleh datang" Jawab Cika ketus


"Tidak perlu menunggu besok. Sekarang kau harus datang ke rumah ku dan aku tidak ingin menundanya lagi!" Perintah Ristan begitu tegas


"Hello Tuan Ristan Imanuel. Apa anda pikir aku tidak memiliki pekerjaan. Maaf pasienku sedang menunggu ku" Jawab Cika dengan tertawa terbahak-bahak


"Cepat lakukan jika dirimu tidak ingin kehilangan pekerjaan mu" Ancam Ristan kepada Cika


"Ristan" Teriak Cika begitu histeris dalam telepon tersebut


"Astaga perempuan ini membuat telinga ku menjadi tuli" Jawab Ristan segera mengakhiri pembicaraannya


"Jangan terlalu memaksa kehendak orang lain. Kalau Cika tidak bisa datang, iya apa boleh buat kita pergi ke rumah sakit besok saja" Ucap Jasmine lirih


"Tapikan sayang" Jawab Ristan lirih segera menghampiri Jasmine yang tengah duduk di pinggir ranjang dengan kedua tangan mengusap wajahnya


"Sudah lupakan saja. Sepertinya aku ingin makan sesuatu yang asam-asam gitu" Ucap Jasmine segera pergi keluar dari dalam kamar miliknya


Jasmine kembali berpapasan dengan Bu Atul. Tanpa pikir panjang Jasmine kembali muntah saat melihat wajah Bu Atul.


"Jas..." Panggil Ristan mengejar Jasmine ke arah kamar mandi


"Jangan berbicara seperti itu. Bu Atul sudah seperti orang tuaku. Tapi, kenapa rasanya kau ingin sekali mengusir Bu Atul dari rumah ini" Ucap Ristan berkacak pinggang di hadapan Jasmine


"Apa maksudmu?" Tanya Jasmine yang tidak mengerti


"Oh. Apa soal kemarin? Kau jadi seperti ini sayang ku. Maafkan Bu Atul. Aku berjanji tidak akan menyuruh dia untuk mengikuti setiap tindakan mu" Jawab Ristan langsung memeluk Jasmine


"Bukan itu yang aku maksud. Tapi, benar aku tidak ingin melihat Bu Atul" Ucap Jasmine lirih sembari mendorong tubuh Ristan dan pergi begitu saja


Jasmine membuka sesuatu yang ada di dalam kulkas miliknya. Dan di sana masih tersimpan rapi jeruk asam yang sempat dirinya beli waktu itu.


"Apa kau yakin?" Tanya Ristan mencegahnya


Jasmine mengendus kesal melihat wajah Ristan.


"Cepat makan!" Perintah Jasmine kepada Ristan


"Tidak mau" Jawab Ristan menyodorkan kembali


"Ck. Tidak asyik" Ucap Jasmine pergi meninggalkan Ristan dengan wajah datarnya


Selang beberapa menit kemudian datanglah Cika. Cika langsung mengecek kondisi kandungan Jasmine. Dan memberikan nasihat serta arahan kepada Jasmine dan juga Ristan yang akan menjadi calon orang tua.


Saat Cika akan pulang dirinya sempat berpapasan dengan Tama yang saat itu sedang bertamu di rumah Ristan.


"Cika tunggu" Teriak Jasmine berlari mengejar Cika


"Sayang jangan lari-lari" Ucap Ristan segera menyusul Jasmine dan mereka akhirnya berkumpul di depan rumah


"Ini untuk mu. Maaf sudah merepotkan mu" Ucap Jasmine sembari menyodorkan paper bag tersebut kepada Cika


"Terimakasih" Jawab Cika tersenyum


"Hei Tam..." Sapa Ristan terkejut melihat wajah Tama


"Hi... Tadi aku jalan-jalan dan tanpa sengaja mobil ku malah berhenti tepat di depan rumah milik mu" Jawab Tama sedikit tertawa


"Oh ya" Ucap Ristan menautkan kedua alisnya miliknya


"Jas... Aku pulang dulu" Pamit Cika segera memeluk Jasmine lalu mencium pipi Jasmine dan segera pergi


"Hati-hati di jalan" Teriak Ristan melambaikan kedua tangan miliknya


"Ck. Dasar tukang paksa" Umpat Cika lirih namun masih terdengar di telinga mereka


"Siapa dia?" Tanya Tama


"Dia keponakannya Ristan" Jawab Jasmine dengan segera


"Ternyata kau memiliki keponakan yang sangat cantik. Tapi, kenapa kau tidak mengenalkannya kepada ku" Ucap Tama melihat ke arah wajah Ristan


"Dia tidak pantas untuk mu. Cari saja yang lainnya" Jawab Ristan ketus


"Ristan... Sudahlah Tam jangan dengarkan ucapan Ristan" Sambung Jasmine menyenggol lengan Ristan dengan memasang wajah cemberut


"Ini untuk mu dan ini bagus untuk kesehatan wanita yang tengah mengandung" Ucap Tama menyodorkan paper bag kepada Jasmine


"Apa ini? Sebelumnya terimakasih banyak Tam kau sudah perhatian kepada ku " Jawab Jasmine meringis


"Aku pergi dulu" Pamit Tama dengan menepuk pundak Ristan dan segera pergi meninggalkan rumah tersebut


"Kalau kau besok datang lagi ke rumah ku. Tolong bawakan cemilan yang banyak untuk ku" Teriak Jasmine tertawa melihat kepergian Tama


"Apa-apaan sih" Ucap Ristan ketus dan segera masuk ke dalam rumah miliknya


"Kenapa dengan Ristan?" Tanya kepada dirinya sendiri dengan bingung


"Astaga. Ternyata masih banyak orang yang perhatian kepada ku" Ucap Jasmine segera masuk ke dalam rumah dengan memeluk kedua paper bag tersebut