
Setelah selesai melakukan perdebatan yang cukup hebat. Ristan memilih diam dan pergi menuju ke ruang kerja. Hingga hari mulai malam Ristan masih terjaga menghadap ke layar laptop miliknya.
"Apa yang ku lakukan di sini?" Tanya Ristan kepada dirinya sendiri dengan melihat keadaan di sekitarnya
"Astaga. Sebenarnya aku ku ini sedang marah! Tapi, kenapa malah dia yang jadi memarahiku. Bahkan dia tidak membujukku untuk masuk ke dalam kamar " Ucap Ristan kesal menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal
"Sebaiknya aku pergi tidur saja" Ucap Ristan segera mematikan laptop miliknya dan berjalan menuju ke arah kamar
Ristan terlihat nampak ragu-ragu saat akan masuk ke dalam kamar tersebut.
"Ya sudah lah aku akan meminta maaf kepadanya terlebih dahulu" Ucap Ristan sembari membuka pintu kamar tersebut dan memperlihatkan Jasmine yang tengah terbaring di atas ranjang
"Apa? Bagaimana istri ku bisa tidur nyenyak seperti ini. Sedangkan aku... A ku" Ucap Ristan lirih dengan naik ke atas ranjang tersebut
"Jas. Jasmine... Apa kau sudah tidur sayang ku?" Tanya Ristan lirih sembari mengusap kepala Jasmine
"Ck. Payah" Ucap Ristan menoyor kepala Jasmine dan segera tidur dengan tubuh membelakangi Jasmine
"Dasar suami kurang ngajar. Apa-apaan ini, dia menoyor kepala ku saat aku lagi tidur begini" Ucap batin Jasmine kesal
"Hm" Suara Ristan berdehem
Hal itu membuat Jasmine memelototkan kedua bola mata miliknya dan seketika tubuhnya terasa kaku.
Selang beberapa menit kemudian ponsel Ristan kembali berbunyi.
"Siapa sih" Ucap Ristan kesal saat ponsel miliknya berbunyi di tengah-tengah dirinya sedang beristirahat
"Ya halo. Ada apa? Cepat bicara, aku sedang sibuk" Ucap Ristan dalam telepon tersebut
"Apa kau sudah tidur?" Tanya Tama
"Hm. Ya" Jawab Ristan sedikit berbisik agar tidak menganggu tidur Jasmine
"Aku sedang menyelidiki kematian Fiana" Ucap Tama apa adanya
"Fiana" Jawab Ristan mengulanginya lagi penuh dengan penekanan
"Iya Fiana mantan tunangan ku sudah meninggal dunia beberapa hari yang lalu. Terus saat di hari yang sama Pak Dirga masuk ke dalam penjara" Ucap Tama menjelaskannya
"Apa yang kau pikirkan? Bukankah kau sudah tidak memiliki hubungan dengan keluarga Dirgantara?" Tanya Ristan berjalan keluar dari kamar tersebut agar tidak menganggu tidur Jasmine
"Apa yang mereka bicarakan?" Tanya Jasmine kepada dirinya sendiri dan mengikuti langkah Ristan
"Tapi, aku merasa kasihan kepada Fiana. Ternyata selama ini dirinya sangat menderita" Jawab Tama
"Oh ya" Ucap Ristan tidak percaya dengan ucapan Tama
"Ternyata Pak Dirga itu orang jahat. Tega sekali dirinya menjual Fiana kepada lelaki hidung belang. Agar dirinya bisa mendapatkan uang. Terus tidak hanya itu saja yang Pak Dirga lakukan. Intinya Pak Dirgantara itu orang jahat" Jawab Tama menjelaskan kepada Ristan dengan suara beratnya
"Ya. Aku mengerti perasaan mu. Selanjutnya apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ristan membuang nafasnya begitu kasar
"Polisi memberikan ponsel Fiana kepada ku dan di dalam ponsel tersebut banyak sekali chat yang mengancam nyawa Fiana. Aku ingin mencari tahu siapa laki-laki yang bernama Marvel itu" Jawab Tama
"Jadi Fiana meninggal bukan karena sakit?" Tanya Ristan yang masih tidak mengerti
"Bukan. Tapi, dia bunuh diri. Fiana mengantungkan diri di dalam kelas miliknya" Jawab Tama
"Astaga. Apa yang sudah dirinya pikirkan? Sampai harus mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung lehernya" Ucap Ristan terkejut begitu pula dengan Jasmine yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan antara Ristan dan juga Tama
"Sungguh malangnya nasib mantan tunangan ku" Jawab Tama sedikit terisak
"Awal pembicaraan di dalam chat tersebut. Fiana memerintahkan kepada Marvel untuk melakukan hal keji kepada Jasmine dalam arti meniduri Jasmine. Agar Jasmine sadar diri dan tidak menganggu Darren" Jawab Tama apa adanya
"Pasti ini Marvel orang yang sama" Ucap Ristan mengepalkan kedua tangan miliknya
"Apa maksudmu?" Tanya Tama
"Kau dia Marvel yang sama. Berarti dialah orang yang sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minuman Jasmine. Brengsek" Jawab Ristan marah
"Apa" Ucap Tama terkejut
"Aku sudah memberikan pelajaran kepada anak-anak bajingan itu. Ternyata dirinya tidak pernah merasa takut juga dan malah berbuat lebih kepada orang lain" Jawab Ristan sembari memojokkan salah satu tangan miliknya ke tembok
"Oh jadi ini ulah Fiana dan Marvel" Ucap Jasmine lirih dan tanpa sengaja tangannya menyenggol vas bunga yang berada di atas meja
"Siapa di sana?" Tanya Ristan saat mendengar suara vas bunga terjatuh
"Ada apa?" Tanya Tama
"Entahlah. Sepertinya ada pencuri" Jawab Ristan asal
"Siapa di sana" Teriak Ristan berjalan dalam kegelapan sembari mencari saklar untuk menyalakan lampu
"Ristan" Panggil Tama dalam sambungan telepon tersebut
"Jasmine" Ucap Ristan terkejut melihat Jasmine sedang menagis
Jasmine terdiam dan hanya mampu menatap ke arah wajah Ristan.
"Tam. Besok aku akan menemui mu di kantor mu" Ucap Ristan segera mengakhiri pembicaraannya
"Tapikan, Ris" Teriak Tama dengan menatap layar ponsel miliknya
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah tadi kau sedang tidur. Apa kau sedang menguping pembicaraan ku dengan Tama" Begitu banyak pertanyaan yang diajukan Ristan kepada Jasmine. Dan tidak satupun pertanyaan Ristan di jawab oleh Jasmine
"Jas..." Panggil Ristan lirih dan segera memeluk tubuh itu begitu erat
"Kenapa kau tidak memberi tahu ku kalau orang itu Marvel?" Tanya Jasmine dengan mendorong tubuh Ristan agar menjauh darinya
"Bukankah aku sudah mengatakannya waktu itu. Jika kau ingin bertemu orang itu, maka aku akan mengantarkan mu" Jawab Ristan melihat wajah Jasmine begitu intens
"Ck. Kau ini! Ya Tuhan apa salahku kepada Marvel dan Fiana. Hanya karena cinta mereka buta dan bisa melakukan hal jahat kepada ku" Ucap Jasmine berjalan mondar-mandir di hadapan Ristan dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapkan lagi
"Maka dari itu kau harus melupakan Darren. Dan itu sama saja seperti mereka otaknya" Ucap Ristan penuh penekanan
"Sttt" Jawabannya dengan menutup kedua telinga miliknya dan segera pergi
"Sayang... Tunggu aku" Teriak Ristan mengejar Jasmine yang masuk ke dalam kamar miliknya
Jasmine naik ke atas ranjang dan di ikuti oleh Ristan.
"Sebaiknya kau tidur saja, ini sudah larut malam" Ucap Jasmine saat melihat Ristan akan menyentuh tubuhnya
"Iya aku akan tidur" Jawab Ristan tersenyum lebar
Jasmine terdiam dan masih duduk
"Tidurlah. Orang yang sedang mengandung tidak boleh begadang. Nanti akan menganggu kesehatan janinnya" Ucap Ristan membantu membaringkan tubuh Jasmine di samping dirinya
Jasmine terdiam mendapatkan perlakuan seperti itu kepada Ristan. Dan di detik berikutnya dirinya segera memejamkan kedua mata miliknya dengan hati terluka.