
"Dasar brengsek! Kalian itu tidak berguna sama sekali" Umpat Marvel kepada Dion dan juga Jio
"Maafkan kami, Bos. Kami sudah mengingatkan berulang kali" Jawab mereka bersamaan
"Kalian masih berani berbicara kepada ku atau mau aku bikin kalian pecel lele" Ucap Marvel memelototi wajah mereka
"Jangan Bos" Jawab Jio lirih sedangkan Dion mengusap wajahnya begitu kasar
"Ayo, kita pergi ke SMA Tunas Kelapa!" Ajak Marvel segera berjalan
"SMA Tunas Kelapa" Gumamnya namun masih terdengar jelas di telinga Marvel
"Apa kalian tidak ingin ikut dengan ku?" Tanya Marvel menghentikan langkah kakinya tanpa melihat ke arah belakang
"Untuk apa kita pergi ke SMA Tunas Kelapa?" Tanya Dion segera berjalan menghampiri Marvel yang masih berdiri di sana
"Tentu saja untuk meminta uang kepada Fiana" Jawab Marvel sembari mengambil rokok miliknya yang berada di dalam saku celana miliknya dan segera menyalakannya
"Apa Fiana masih memiliki uang?" Tanya Dion berfikir sejenak
"Dasar goblok! Dia punya uang atau tidak itu bukan urusan ku" Jawab Marvel langsung menendang kaki Dion
"Dion" Teriak Jio berlari dan segera membantu Dion untuk berdiri
"Jika masih ingin bergabung dengan ku. Maka ikuti semua perintah ku dan jangan banyak bacot" Ucap Marvel membuang puntung rokok miliknya dan menginjaknya penuh dengan emosi
"Bagaimana ini?" Tanya Jio kepada Dion begitu lirih
"Kita ikuti saja" Jawab Dion berjalan mengikuti langkah kaki Marvel dan di ikuti oleh Jio
Tepat jam pulang sekolah, lagi-lagi Fiana menunggu sang supir yang terlambat menjemput dirinya. Fiana berdecak kesal sembari men-scroll ponsel miliknya.
"Halo sayang" Sapa Marvel kepada Fiana
"Kau" Ucap Fiana segera berdiri dari tempat duduknya
"Akhirnya kita bertemu lagi" Ucap Dion tersenyum manis kepada Fiana
"Kenapa kalian bisa sampai ke tempat ini?" Tanya Fiana gugup dan memundurkan langkah kakinya
"Ah... Begini sayang. Aku butuh uang lima puluh juta" Jawab Marvel berbisik di telinga Fiana
"Apa kau sudah gila?" Tanya Fiana memelototi wajah Marvel
"Ayo, berikan uang itu dan kita akan segera pergi!" Perintah Marvel mendekatkan wajahnya ke wajah Fiana
"Jangan meminta lagi uang kepada ku. Aku bukan bank dan urusan bisnis kita sudah selesai" Jawab Fiana sedikit berteriak
"Tidak bisa seperti itu" Ucap Marvel tersenyum licik
"Jangan ganggu hidup ku lagi. Aku tidak ingin berurusan dengan mu lagi. Anak-anak jalanan yang tidak memiliki pendidikan" Jawab Fiana begitu lantang
"Sekarang kau bisa berbicara seperti itu kepada ku. Setelah apa yang sudah terjadi kepada diri itu semua karena ulah mu" Ucap Marvel mencengkeram kuat lengan Fiana
"Lepaskan" Jawab Fiana balik mencengkeram kuat lengan Marvel sembari menelepon sang supir
Marvel merampas ponsel Fiana begitu kasar dan membanting ponsel tersebut di atas lantai terus menginjaknya.
"Apa yang kau lakukan dengan ponsel ku?" Tanya Fiana dengan mata berkaca-kaca, tubuhnya terjatuh lemas di hadapan ponsel miliknya
"Itu akibatnya kau tidak menuruti perintah ku" Jawab Marvel berjongkok dan melihat wajah Fiana begitu intens
"Lihat saja aku akan melaporkan kalian semua kepada polisi" Ancam Fiana segera berdiri dan menuju ke arah wajah mereka
"Bagaimana ini Bos? Aku jadi takut" Sambung Jio dengan tubuh gemetar
"Laporkan saja! Aku tidak takut. Toh ini semua kau yang merancangnya" Ucap Marvel tertawa terbahak-bahak
"Dasar brengsek" Umpat Fiana segera berlari
"Cepat tangkap wanita itu!" Perintah Marvel begitu lantang
"Untuk apa kita menangkap Fiana, Bos?" Tanya Jio yang masih berdiri mematung di samping Marvel
"Dasar bodoh" Umpat Marvel marah dengan menoyor kepala Jio
"Ayo, cepat!" Ajak Dion kembali berlari dan menarik lengan Jio
"Dion. Kita akan ke mana?" Tanya Jio melihat wajah Dion
"Ikuti aku dan jangan banyak berbicara. Kita harus menangkap Fiana. Agar kita tidak di hukum oleh Bos Marvel" Jawab Dion menjelaskannya sembari berlari
"Kau pergilah ke arah sana dan aku akan pergi ke sana" Ucap Jio menjelaskannya dengan nafas menggebu-gebu
"Akhirnya otakmu berjalan juga. Ok baik laksanakan" Jawab Dion tersenyum dan segera berlari mengejar Fiana
Beberapa detik kemudian Fiana berhasil di ringkus. Dion dan Jio membawa Fiana kepada Marvel yang berada di gudang SMA Tunas Kelapa.
"Lepaskan aku" Ucap Fiana dengan terisak
"Tidak semudah itu Fiana Dirgantara" Jawab Marvel berjalan dan berjongkok di hadapan Fiana dengan mengelus wajah cantik Fiana
"Apa maksudmu?" Tanya Fiana ketakutan
"Beri aku uang. Maka akan aku lepaskan dirimu" Jawab Marvel begitu santai dan masih memandangi wajah Fiana begitu intens
"Aku tidak punya uang" Ucap Fiana memalingkan wajahnya
"Mintalah uang kepada Dirgantara!" Perintah Marvel penuh emosi
"Perusahaan Papa ku bangkrut dan dirinya tidak memiliki uang sepeser pun" Jawab Fiana menagis
"Oh ya. Aku tidak percaya itu" Ucap Marvel tersenyum licik
"Tolong lepaskan aku! Aku akan memberimu uang di lain waktu. Tolong ku mohon Marvel" Jawab Fiana lirih
"Aku menginginkan uang itu sekarang" Ucap Marvel segera berdiri dan duduk santai di hadapan Fiana
"Dion, Jio. Tolong bantu aku! Bicaralah kepada Marvel. Aku akan memberikan uang itu kepada kalian. Setelah aku memiliki uang lima puluh juta" Teriak Fiana kepada Dion dan Jio
"Fiana" Panggil Jio lirih dan menundukkan kepala
"Hah. Apa maksudmu berbicara seperti itu kepada ku?" Tanya Fiana menautkan kedua alis miliknya dengan membuang nafasnya begitu kasar
"Cepat buka ikatan talinya!" Perintah Marvel kepada mereka
"Baik Bos. Eh... Tapikan Bos" Ucap Dion terbata-bata saat memegang tangan Fiana
Sttt
Namun Jio sudah berhasil melepaskan ikatan talinya.
"Mendekatlah kepada ku!" Perintah Marvel kepada Fiana
"Apa" Jawab Fiana ketus dengan membusungkan dadanya dan tetap berdiri di hadapan Marvel
"Jangan menolak dan lakukan saja perintah ku" Ucap Marvel tersenyum licik kepada Fiana
"Ayo, cepat! Mendekatlah di hadapan Bos Marvel" Sambung Dion mendorong tubuh Fiana hingga terjungkal di hadapan Fiana
"Ck. Sial" Umpat Fiana kesal bersimpuh di kaki Marvel
Marvel segera berdiri dari tempat duduknya dan melepaskan celana miliknya. Seketika Dion dan Jio memelototi wajah Marvel.
"Puaskan aku" Bisik Marvel menjambak rambut Fiana
"Sakit lepaskan" Teriak Fiana seketika terkejut melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Fiana langsung memalingkan wajahnya
"Lihatlah ke arah milikku. Sudah beberapa hari ini dia belum mendapatkan belaian dari seorang wanita. Ayo, cepat puaskan aku Fiana" Ucap Marvel penuh penekanan memaksa Fiana untuk membuka mulutnya dengan memasukkan miliknya ke mulut Fiana dengan cara paksa
Ehem... Eh
"Bos..." Panggil Jio lirih
"Sebaiknya kita adakan pesta saja malam ini" Jawab Marvel tersenyum sembari mengelus rambut Fiana
"Pesta apa Bos? Bukankah kita tidak memiliki uang sepeserpun?" Tanya Dion yang tidak mengerti
"Pesta **** dan wanita ****** ini yang akan melayani kita" Jawab Marvel menarik paksa tubuh Fiana dan menidurkannya di atas meja
"Jangan lakukan itu kepada. Ku mohon Marvel ampuni aku" Ucap Fiana menangis sesenggukan
"Tutup mulut dan jangan banyak berbicara. Kalau kau tidak ingin merasakan kesakitan" Jawab Marvel tanpa pemanasan terlebih dahulu segera memasukkan miliknya kedalam milik Fiana
Begitu beringas Marvel menggagahi tubuh Fiana.
"Dasar wanita ******" Umpat Marvel sembari meludah ke arah mahkota Fiana yang dirasakannya sudah longgar
"Kenapa Bos?" Tanya Jio yang melihat ekspresi wajah Marvel
"Sudah tidak perawan lagi" Jawab Marvel segera mengenakan celana miliknya kembali
"Hahaha" Terdengar suara tertawa terbahak-bahak Jio yang memenuhi seluruh gudang tersebut
"Benar sekali sesuai dengan dugaan ku. Fiana itu wanita ****** dan aku pernah melihat dirinya di bar Buffalo" Celoteh Jio namun tidak mengurung niatnya untuk menyentuh tubuh Fiana
Kini saatnya Jio dan Dion yang akan bermain threesome dengan Fiana. Mereka terus melakukannya hingga tidak memberi Fiana istirahat.
Saat adzan subuh berkumandang Marvel, Dion, dan juga Jio mereka segera pergi meninggalkan Fiana yang terbaring lemah di atas lantai gudang SMA Tunas Kelapa.
"Dasar keparat" Umpat Fiana dalam hatinya saat melihat mereka pergi dari gudang tersebut dan di detik berikutnya Fiana sudah tidak sadarkan diri
Keesokan harinya
Para siswa siswi SMA Tunas Kelapa mulai berdatangan ke sekolah. Yolanda yang merupakan teman sekelas Fiana dirinya langsung menuju ke dalam ruangan kelas 3.
"A..." Yolanda berteriak cukup kuat hingga anak-anak yang lainnya mulai berdatangan menuju ke dalam ruangan kelas 3
"A..." Mereka semua berteriak dengan menutup kedua mata miliknya
"Fiana" Teriak Yolanda segera memeluk kaki Fiana dengan tubuh yang menggantung
"Yolanda. Tenangkan dirimu dan menjauhlah dari Fiana" Ucap Pak Gani begitu tegas saat berada di dalam kelas tersebut
"Fiana, Pak. Siapa yang sudah membuat Fiana seperti ini?" Tanya Yolanda berteriak dan menagis histeris
"Biarkan Polisi yang menyelidiki kasus ini. Ayo, semuanya tinggalkan tempat ini!" Perintah Pak Gani kepada para siswa siswinya
"Astaga. Kasihan sekali aku melihat Fiana bunuh diri dengan cara menggantung lehernya di dalam kelas" Ucap siswa siswi yang lainnya
"Apa kurangnya dia coba, sudah cantik anak orang kaya pula" Bisik yang lainnya sedang mengomentari Fiana
"Kenapa dia harus bunuh diri, sih"
"Kalian semua jangan berbicara sembarang mengenai kematian Fiana. Jaga ucapan kalian semua. Sebentar lagi Polisi akan datang ke sekolah ini dan mengintrogasi kalian semua" Bentak Pak Gani segera menutup pintu kelas 3 dan masih berjaga di depan kelas
Tetap di hari yang sama Pak Dirgantara di ringkus oleh Polisi. Karena sudah membohongi rekan bisnisnya dengan iming-iming investasi.
Bahkan Pak Dirgantara tidak segan-segan menjual anak yang masih di bawah umur kepada seorang germo. Lantaran anak itu menginginkan sebuah uang untuk menyambung hidupnya.
Suara sirine mobil ambulance memasuki halaman rumah Pak Dirgantara.
"mobil ambulance siapa itu?" Tanya Pak Dirga menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah mobil ambulance tersebut
"Cepat jalan dan kau bisa menjelaskannya di kantor polisi!" Perintah Polisi tersebut dengan menyeret paksa Pak Dirga
"Tunggu aku harus memastikan sesuatu terlebih dahulu" Jawab Pak Dirga ngotot
"Ck. Kau ini alasan saja" Ucap Polisi tersebut
"Siapa yang meninggal? Ada apa ini?" Tanya Pak Dirga lari ke arah mobil ambulance tersebut dan bertanya kepada petugas
"Fiana Dirgantara di temukan tewas bunuh diri di dalam kelas 3 sekolah SMA Tunas Kelapa" Jawabannya
"Apa. Tidak mungkin! Kau jangan berbicara sembarang kepada anakku Fiana" Ucap Pak Dirga
Setelah jasad Fiana di turunkan dari mobil ambulance Pak Dirga menagis histeris dan segera memeluk tubuh Fiana yang sudah tidak bernafas lagi.
"Kita harus segera pergi ke kantor polisi" Ucap seorang Polisi menarik lengan Pak Dirga
Pak Dirga memberontak dengan alasan akan menyemayamkan jasad Fiana terlebih dahulu. Namun Polisi tidak memberikan izin kepada Pak Dirga dan dirinya harus segera menebus kesalahannya di jeruji besi.