My Uncle Ristan

My Uncle Ristan
Episode 46



Dengan bantuan Ristan, kini Marvel beserta gengnya masuk ke dalam jeruji besi untuk menebus kesalahannya. Ristan berkacak pinggang di hadapan mereka sebelum dirinya melangkahkan pergi dari hadapan mereka.


"Tuan tolong maafkan kami" Ucap Jio menangis dengan memohon


"Bagaimana dengan Ibuku? Siapa yang akan menjaga Ibu ku. Padahal dia sangat membutuhkan ku" Celoteh Dion meratapi nasibnya


"Kalian tidak akan bebas keluar dari tempat neraka ini dan terima saja pertanggung jawaban mu" Ucap Ristan memalingkan wajahnya saat berbicara dengan mereka


"Tolong bebaskan aku, Tuan! Aku tidak bersalah. Aku di hasut oleh Marvel dan di iming-iming uang. Asal Tuan tahu aku ini tulang punggung keluarga ku. Bagaimana dengan Ibuku? Siapa yang akan menjaga Ibuku? Ibu ku sudah tua dan rentan. Bekerja saja tidak bisa" Sambung Dion menagis saat menjelaskannya dengan bersimpuh di kaki Ristan


"Mari, tinggalkan tempat ini!" Ajak Tama kepada Ristan


"Ya. Sepertinya tempat ini tidak cocok dengan ku" Jawab Ristan segera berjalan sembari mengancingkan jas miliknya di ikuti oleh Tama


"Marvel ini semua karena mu. Dasar brengsek" Umpat Dion langsung melayangkan pukulannya yang mengenai wajah Dion


"Apa-apaan ini. Berani sekali kau memukul wajah ku" Jawab Marvel marah memegang pipinya yang terasa sakit


"Rasakan ini!" Teriak Dion menghajar Marvel


Sedangkan Jio terus menagis, tidak menghiraukan perkelahian antara Marvel dan juga Dion.


Marvel yang tidak mau kalah dirinya balik menendang perut Dion. Membuat Dion terjungkal kesakitan, saat itu juga Marvel menginjak-injak tubuh Dion dengan tertawa terbahak-bahak.


"Hei... Berhenti jangan membuat keributan" Teriak Pak Polisi segera mengamankan Dion dan membawanya ke sel yang lainnya


"Ck. Dasar bajingan kau masih saja menagis. Dasar cengeng" Umpat Marvel menarik kerah pakaian Jio setelah itu mendorong tubuh Jio hingga mengenai tembok


"Kau masih bisa berbicara seperti itu kepada ku. Setelah apa yang sudah terjadi kepada kita" Ucap Jio memelototi wajah Marvel dengan tatapan tidak suka


"Bukan salah ku, kalian saja yang bodoh karena sudah mau mengikuti semua perintah serta ucapan ku" Jawab Marvel marah balik memelototi Jio


"Kau brengsek, kau bajingan, kau tidak seperti manusia. Kau binatang Marvel" Umpat Jio di depan wajah Marvel hingga air liurnya mengenai wajah Marvel


"Bugh" Marvel meninju wajah Jio, seketika Jio tidak sadarkan diri


"Hahaha" Terdengar jelas Marvel tertawa terbahak-bahak melihat keadaan Jio pada saat itu


Di tempat lain


Kejadian sama persis terjadi di dalam sel tersebut. Setelah Dion di interogasi dengan teman satu selnya. Dion mendapatkan sebuah pukulan selamat datang dari pimpinan sel tersebut.


Diantara kedua segera dilarikan ke rumah sakit. Dengan ambulance yang berada Dion dan juga Jio dilarikan ke rumah sakit.


Pimpinan penjara sel merasa khawatir saat keadaan mereka sulit untuk di jelaskan. Dengan pengawasan Polisi kini Dion dan Jio di rawat di rumah sakit.


Marvel yang merasa jagoan dirinya di larikan ke sel tahanan yang lainnya. Bahkan orang-orang di sana selalu tersenyum kepada Marvel saat Polisi berada di sekitarnya. Namun sebaliknya saat Polisi tidak ada para tahanan yang lainnya segera menghajar Marvel, hingga nyawanya terancam mati.


Proses persidangan terus berjalan lancar. Namun orang tua Marvel dan Jio tidak kunjung datang hingga hakim mengetok palu saat membacakan buku yang akan mereka dapatkan.


Sedangkan orang tua Dion selalu berada di samping Dion dan memberi dukungan kepada Dion. Bahkan orang tua Dion sempat memohon kepada hakim dan Ristan serta Tama. Namun mereka menolak dan akan memproses Dion sesuai hukum yang berlaku.


Dengan langkah yang berat, Jasmine dan Ristan kini berada di depan makam Fiana.


"Kenapa kau bisa sampai seperti ini? Padahal aku belum memaafkan mu" Ucap Jasmine lirih sembari mengusap batu nisan Fiana


"Aku hanya sedang bercanda dengan Fiana" Jawab Jasmine tertawa dan tak terasa air mata Jasmine mengalir begitu saja


"Apa kau masih marah dan membenci Fiana?" Tanya Ristan dengan menghapus air mata Jasmine


"Tidak. Untuk apa aku marah dan membenci Fiana. Walaupun Fiana jahat kepada ku. Tapi, jauh dari lubuk hati ku. Aku sudah memaafkannya" Jawab Jasmine lirih dan menagis sesenggukan


"Jas... Sekali lagi aku meminta maaf kepada mu atas kesalahan Fiana mantan tunangan ku" Sambung Tama yang berada di tengah-tengah mereka


"Tama. Kenapa kau berbicara seperti itu kepada ku?" Tanya Jasmine melihat ke arah wajah Tama


"Aku tahu, Fiana sudah jahat kepada mu. Tapi, tolong maafkan dirinya. Selama hidupnya Fiana cukup menderita" Jawab Tama lirih dengan melirik batu nisan Fiana


"Iya Tama. Aku sudah memaafkan Fiana" Ucap Jasmine tersenyum lebar


Setelah berziarah ke makam Fiana, mereka pulang ke rumahnya masing-masing.


Jasmine duduk termenung di hadapan televisi.


"Apa kau sedang menonton televisi? Atau televisi yang sedang menonton dirimu?" Tanya Ristan yang membuyarkan lamunannya


"Uncle" Panggil Jasmine terkejut melihat wajah Ristan


"Iya ini aku. Apa yang sedang kau pikirkan sayang?" Tanya Ristan segera memeluk tubuh Jasmine yang masih duduk termenung


"Aku sangat merindukan Ayah dan Ibu" Jawab Jasmine lirih dengan membenamkan kepalanya di dada bidang Ristan


"Jika kau rindu kepada Ayah dan Ibu. Maka, kau bisa melihat foto Ayah Ronal dan Ibu Sarah" Ucap Ristan melihat wajah Jasmine


"Oh ya" Jawab Jasmine tersenyum


"Sebentar aku akan pergi mengambil foto keluarga mu" Ucap Ristan segera berlari mengambil foto keluarga Jasmine yang terpajang di atas meja di dalam kamar miliknya


"Jangan berlari" Teriak Jasmine tertawa melihat tingkah laku Ristan


"Lihatlah yang wajah Ayah Ronald dan lihatlah wajah Ibu Sarah!" Perintah Ristan sembari memberikan foto tersebut kepada Jasmine


"Ayah, Ibu" Ucap Jasmine melihat foto tersebut dan segera memeluknya


"Rasanya lucu sekali aku berbicara seperti itu kepada Ronal dan Sarah. Bukankah aku ini sahabatnya" Celoteh Ristan tertawa geli dengan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal


"Mungkin kalau mereka masih hidup. Tidak mungkin akan merestui hubungan kita" Jawab Jasmine melihat ke arah wajah Ristan


"Jangan berbicara seperti itu. Aku sangat mencintai mu" Ucap Ristan segera mencium bibir Jasmine


"Apa foto ini bisa menghilangkan rasa rindumu kepada Ayah dan Ibu?" Tanya Ristan dengan merangkul tubuh Jasmine dari samping sembari melihat foto tersebut


"Sedikit" Jawab Jasmine tersenyum kaku


"Jangan bersedih. Aku jadi ikut menagis melihat mu seperti ini " Ucap Ristan menagis sesenggukan


"Kenapa kau malah menagis seperti ini? Sudah-sudah jangan membuat drama lagi. Kau itu sangat sensitif akhir-akhir ini" Jawab Jasmine memeluk Ristan sembari menghamburkan ciuman di kedua pipi Ristan