My Uncle Ristan

My Uncle Ristan
Episode 27



Suara rintihan dan erangan Jasmine memenuhi seluruh ruangan kamar tersebut.


Jasmine menjambak rambut Ristan dan Jasmine sudah membuat cakaran di punggung Ristan.


"Apa kau menikmatinya sayang ku?" Tanya Ristan dengan suaranya beratnya sembari mengelus rambut Jasmine yang menutupi wajahnya


"Hm" Jawab Jasmine dengan anggukan kepala dan memalingkan wajahnya


"Lihat aku!" Perintah Ristan memegang wajah Jasmine dan menghadapkannya ke arah wajahnya


"Ah..." ******* yang keluar dari mulut Jasmine


"Aku akan menambahkan kecepatannya" Bisik Ristan di telinga Jasmine dan sesekali mengendus dan menjilati bagian tengkuk Jasmine


"Lebih cepat!" Perintah Jasmine meremas kedua gundukan daging kenyal miliknya sendiri


"Sepertinya kau..." Ucap Ristan sedikit tertawa dan tidak meneruskannya lagi


Beberapa menit kemudian disusul oleh Ristan yang mengeluarkan sesuatu di dalam milik Jasmine.


"Kau sudah menjadi milikku. Aku harap setelah ini kau akan mengandung anakku" Ucap Ristan mencium perut Jasmine dan berbaring di samping Jasmine


Jasmine terdiam, pandangannya masih tertuju ke arah Ristan. Jasmine tersenyum lebar melihat wajah Ristan yang bercucuran keringat dengan nafas yang terengah-engah.


"Kenapa?" Tanya Ristan bingung melihat ke arah wajah Jasmine


"Kau begitu seksi dan juga tampan" Jawab Jasmine segera mengecup bibir Ristan


"Oh. Hahaha" Ristan menangapi ucapan Jasmine hanya dengan tertawa


"Kemarilah dan lebih mendekat!" Perintah Ristan kepada Jasmine dan seketika Jasmine menjatuhkan kepalanya di atas dada bidang Ristan


"Apa kau ingin mengulanginya lagi?" Tanya Ristan dengan membelai rambut Jasmine yang terurai begitu panjang


"Tidak" Jawab Jasmine meringis


"Kenapa?" Tanya Ristan sembari memindahkan kepala Jasmine di atas lengannya lalu memeluk tubuh itu yang masih polos


"Rasanya masih sakit" Jawab Jasmine lirih


"Nanti juga sakitnya akan hilang dengan sendirinya" Ucap Ristan


"Sebaiknya kita istirahat dulu!" Jawab Jasmine segera menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang masih polos


"Ok baiklah sayang ku. Istirahatlah nanti kita lanjutkan lagi" Ucap Ristan mencium pucuk kepala Jasmine dan segera memejamkan kedua mata miliknya


Tengah malam keduanya mengulangi hal itu lagi. Hingga matahari terbit dari arah timur.


"Kita harus mandi bersama untuk mempersingkat waktu" Ucap Ristan langsung mengendong Jasmine menuju ke kamar mandi


"Aku bisa berjalan sendiri" Teriak Jasmine sembari memukul dada Ristan


"Apa kau yakin. Bukankah itu mu masih sakit?" Tanya Ristan segera menurunkan Jasmine


Jasmine tidak menjawab dirinya segera berjalan.


"Jangan memaksakan diri" Ucap Ristan kembali mengendong Jasmine dan masuk ke dalam kamar mandi


Acara mandi di pagi hari semakin molor. Lantaran Ristan dan Jasmine sedang bergerilya di dalam sana.


"Selamat pagi Tuan" Sapa Alif dan Danu secara bersamaan saat melihat wajah Ristan sudah keluar dari kamar hotel tersebut


"Iya selama pagi" Jawab Ristan dengan senyum di wajahnya


"Tidak seperti biasanya" Ucap Danu lirih namun masih terdengar


"Hm" Alif berdehem dengan menyenggol lengan Danu dan memberikan kode


"Biarkan aku yang membawa kopernya" Ucap Danu meraih koper tersebut dari tangan Ristan


"Maaf Tuan. Apa sebaiknya kita sarapan terlihat dahulu sebelum kembali ke Jakarta?" Tanya Alif menundukkan kepala


"Tidak. Jasmine ingin segera pulang dan dirinya sudah bosan berada di sini" Jawab Ristan membantu memapah Jasmine


Sedangkan mereka berjalan dan mengikutinya dari arah belakang.


"Kenapa dengan Nona Jasmine?" Tanya Alif yang tidak mengerti dan bertanya kepada Danu


"Duh... Kau ini tidak mengerti sekali" Jawab Danu sedikit berbisik


"Iya. Kenapa dengan Nona Jasmine? Lihatlah cara dia berjalan" Ucap Alif lirih


"Itu berarti Tuan Ristan sudah berhasil membobol gawang Nona Jasmine" Jawab Danu dengan tertawa


"Aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapan, Dan. Apa mereka semalam sedang bermain bola?" Tanya Alif menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal


"Dasar bodoh" Umpat Danu begitu lantang


"Sttt"


"Maaf Tuan" Ucap Danu menundukkan kepala dan menghentikan langkah kakinya, lalu memelototi wajah Alif


"Sebenarnya apa sih tugasmu?" Tanya Danu berkacak pinggang di hadapan Alif dan menghadangnya


"Aku?" Tanya Alif menunjuk ke arah dirinya sendiri


"Hm" Gumamnya dengan anggukan kepala


"Bukankah aku seorang asisten Tuan Ristan" Jawab Alif yang masih menunjuk ke arah dirinya sendiri


"Tapi, kau sangat payah dalam hal..." Ucap Danu terpotong


"Apa kalian akan tetap di situ?" Teriak Ristan memelototi mereka


"Maaf Tuan" Jawab Danu tersenyum dan segera menarik lengan Alif


"Lepas" Gertak Alif saat tangan Danu mencengkeram lengannya begitu erat


"Makanya punya pacar" Ucap Danu kesal dan kembali berjalan meninggalkan Alif yang masih berdiri mematung