My Uncle Ristan

My Uncle Ristan
Episode 26



"Dasar keras kepala! Aku sudah menyuruh mu untuk tetap tinggal di kamar. Tapi, kau malah pergi berduaan dengan mantan pacar mu yang tidak berguna itu" Ucap Ristan marah dan menutup pintu kamar hotel itu begitu keras


"Maafkan aku" Jawab Jasmine berjalan menuju ke arah sofa yang berada di dalam kamar hotel tersebut


"Apa maaf? Tidak semudah itu, Jas. Bukan satu kali atau dua kali. Bahkan berulang kali kau membuatku kesal dengan tingkah laku mu itu yang masih seperti anak kecil" Ucap Ristan segera meraih tangan Jasmine dan membawanya ke dalam pelukannya


"Ristan" Teriak Jasmine begitu lantang saat wajahnya begitu dekat dengan wajah Ristan


"Astaga. Sepertinya kita datang di waktu yang salah" Bisik Syifa di telinga Vita


"Sttt. Diamlah dan jangan membuat diriku tambah ketakutan" Jawab Vita lirih dan tubuhnya seketika bergetar karena ketakutan


"Ini semua salah mu seharusnya kita tidak berada di dalam kamar ini" Ucap Syifa mencengkeram selimut tersebut begitu erat


Ristan yang sedang marah dirinya langsung menyambar bibir Jasmine dan tidak melepaskan pelukannya. Nafas Ristan memburu seperti orang yang sedang habis berlari cepat.


Sedangkan Jasmine memukul dada bidang Ristan. Agar dirinya bisa lepas dari ciuman Ristan.


Tangan Ristan tidak hanya diam saja. Melainkan tangan itu sudah berhasil membuka satu persatu kancing pakaian milik Jasmine dan melempar pakaian tersebut ke sembarang arah.


"Jangan sakiti aku" Ucap Jasmine lirih dan berjalan mundur


"Aku tidak akan menyakitimu. Tapi, setelah ini mungkin kau akan ketagihan dan meminta lagi kepada ku" Jawab Ristan dengan suara beratnya sembari mengendus aroma tubuh Jasmine yang begitu wangi


"Tidak" Teriak Jasmine begitu kuat saat Ristan sudah menyusu dan meremas kedua daging kenyal tersebut


"Aku sangat menyukainya dan ukuran sangat pas di tangan ku" Rancu Ristan


"Berhenti. Jangan sakiti aku, Ristan" Ucap Jasmine seperti orang yang sedang mendesah


"Sepertinya telinga ku sedang sakit. Apa kau bisa mendengarnya secara jelas?" Tanya Vita kepada Syifa begitu lirih dan masih bersembunyi


"Ya. Aku mengerti sepertinya mereka sedang membuat dede bayi" Jawab Syifa blak-blakan dan sedikit tertawa


"Siapa" Teriak Ristan menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah di sekitarnya


"Apa ada orang di sini?" Tanya Jasmine sembari menutup bagian atas miliknya dengan kedua tangannya


"Jangan macam-macam dengan ku. Cepat keluar!" Bentak Ristan dengan suara lantang


"Mungkin suara tikus" Jawab Jasmine segera meraih pakaian miliknya dan mengenakannya lagi


"Kita belum selesai" Ucap Ristan menarik pakaian Jasmine dan melepasnya kembali


Sedangkan bibirnya terus ******* bibir Jasmine dan membawanya ke atas tempat tidur tanpa melepaskannya.


Ristan menghempaskan tubuh Jasmine ke atas tempat tidur.


"Aw..." Pekiknya kesakitan dan tanpa bersuara


Ristan yang melihat Jasmine terkapar di atas tempat tidur. Dirinya tersenyum lebar dan segera melepaskan pakaian miliknya dan juga celana miliknya. Kini hanya meninggalkan penutup kain bagian bawah.


Jasmine hanya terlihat pasrah saat Ristan naik ke atas tempat tidur dan menindih tubuhnya.


Ristan kembali membuat tanda merah di bagian leher Jasmine. Lalu turun ke bawah dan membuatnya di bagian perut Jasmine.


"Secepatnya kau akan segera lahir dari rahim ini" Ucap Ristan mengelus perut Jasmine dan menciumnya


Ristan membalikkan posisi tubuhnya dan sekarang dirinya berada di bawah tubuh Jasmine.


"Ayo, lakukan seperti yang aku lakukan tadi kepada mu!" Perintah Ristan dengan mengelus wajah cantik Jasmine


Jasmine terdiam berada di atas tubuh Ristan dan dirinya masih tidak mengerti apa yang Ristan ucapkan.


"Kenapa?" Tanya Ristan yang tidak mengerti


Jasmine menundukkan wajahnya dan tidak menjawab


"Jangan bilang kau tidak mengerti. Benar-benar payah istri ku ini. Sepertinya aku harus mengajarimu dulu" Ucap Ristan tersenyum melihat wajah Jasmine


Setelah itu Ristan membaringkan tubuh Jasmine di samping dirinya.


"Aw..." Pekiknya kesakitan


"Ada apa? Kenapa?" Tanya Ristan segera bangun dari tidurnya dan mengecek tubuh Jasmine


"Kenapa tempat tidurnya keras sekali?" Tanya Jasmine menautkan kedua alis miliknya


"Hm. Apa? Benarkah seperti itu. Biarkan aku yang mengeceknya" Jawab Ristan membantu Jasmine agar berdiri


"Aw..." Pekiknya kesakitan dan kini terdengar sangat jelas. Bahwa ada dua orang yang sedang berbicara


"Apa kau mendengarnya?" Tanya Ristan berbisik di telinga Jasmine dan Jasmine menganggukkan kepalanya


"Aduh gawat ini. Bisa-bisa kita ketahui, Vit" Ucap Syifa lirih namun suara itu masih terdengar jelas di telinga Jasmine dan Ristan


Ristan tersenyum licik saat dirinya mengetahui bahwa di dalam kamar tersebut ada orang lain selain dirinya dan juga Jasmine


"Cepat pakai pakaian mu!" Perintah Ristan kepada Jasmine


"Kenapa?" Tanya Jasmine yang tidak mengerti


"Apa kau tidak mau memakai pakaian mu atau kau mau kita lanjutkan lagi?" Tanya Ristan berjalan menghampiri Jasmine yang sedang memunguti pakaian miliknya


"Tidak" Jawab Jasmine begitu lantang dan segera memakainya


Ristan tersenyum lebar melihat Jasmine yang terburu-buru memakai pakaian.


Keduanya sudah terlihat rapi dan segera keluar dari dalam kamar hotel tersebut. Terlihat jelas Ristan mengandeng tangan Jasmine.


"Kita akan pergi ke mana?" Tanya Jasmine yang ingin tahu


"Rahasia" Jawab Ristan berbicara di depan wajah Jasmine begitu intens lalu mencium bibir itu


Jasmine terdiam dan langkah kakinya mengikuti langkah kaki Ristan.


"Cepat bereskan yang ada di dalam!" Perintah Ristan kepada Danu saat sudah berada di luar kamar hotel


"Baik Tuan" Jawab Danu begitu tegas dan segera masuk ke kamar hotel tersebut


"Siapapun yang berada di dalam kamar ini cepat keluar" Teriak Danu begitu lantang


"Aduh... Bagaimana ini, Vit?" Tanya Syifa kepada Vita begitu lirih


"Sudah kita diam saja. Mereka juga tidak akan tahu kalau kita bersembunyi di sini" Jawab Vita santai


"Ck. Kau ini tamatlah riwayat kita" Ucap Syifa meringis


"Halo Om" Panggil Syifa dan Vita secara bersamaan kepada Danu. Saat Danu membuka selimut tersebut


"Siapa kalian dan sedang apa kalian berada di dalam kamar hotel ini?" Tanya Danu berkacak pinggang di hadapan mereka


"Aku Syifa Om"


"Dan perkenalkan nama aku Vita Om" Sambung Vita meringis


"Ck. Aku sudah tahu. Apa yang kalian lakukan di tempat ini?" Tanya Danu mengepalkan kedua tangan miliknya


"Kita berdua temannya Jasmine, Om. Jasmine menyuruh kita untuk datang ke kamar ini" Jawab Vita menjelaskannya


"Aku sudah mengetahui semuanya. Kalian di sini karena di undang Jasmine datang ke Bali, untuk menggagalkan bulan madu Jasmine bukan. Dan lihat sekarang kalian sudah membuat Tuanku merasa tidak nyaman" Ucap Danu memelototi mereka


"Maaf" Jawab mereka secara bersamaan dan meringis


"Tidak ada kata maaf untuk kalian berdua. Asal kalian tahu uang tiket pesawat kalian itu. Bukan berasal dari uang Jasmine. Itu uang Tuan Ristan dan sebagai gantinya, kalian harus segera mengembalikan uang tiket pesawat itu" Ucap Danu menjelaskannya


"Bagaimana bisa begitu? Aku harus bertemu dengan Jasmine dan meminta penjelasan kepadanya" Jawab Syifa segera berdiri dari atas tempat tidur


"Kalian tidak boleh pergi dan cepat kembalikan uang itu atau... Aku akan mengunci kalian berdua di dalam kamar ini" Ancam Danu kepada mereka


"Jangan" Teriak Vita begitu lantang dan memelototi wajah Danu


"Astaga kita benar-benar sial sudah datang ke tempat ini" Ucap Syifa mengepalkan kedua tangannya


"Aku akan membayarnya. Tapi biarkan kami keluar terlebih dahulu karena kami tidak memiliki uang cash" Ucap Vita kepada Danu


"Jangan berbohong" Gertak Danu


"Kita tidak berbohong! Bukankah Tuan Ristan orang kaya dan kenapa dia masih meminta uang receh kepada kita?" Tanya Vita


"Ck. Tutup mulut mu. Karena Tuan Ristan tidak ingin melihat kalian berdua mempengaruhi Jasmine" Jawab Danu menjelaskannya


"Apa" Ucap Mereka terkejut dan tidak percaya


"Menjauhlah dari kehidupan Jasmine. Ini perintah Tuan Ristan untuk yang terakhir kalinya" Jawab Danu begitu tegas


Mereka segera menyelesaikan masalah tersebut dan langsung mengembalikan uang tiket pesawat mereka. Setelah itu Danu menyuruh mereka untuk kembali ke Jakarta.