
Setelah ciuman yang lumayan lama terdengar,
Ting.....
Pesan masuk di hp Septian yang seketika menghentikan adegan manis itu.
"Siapa sih ganggu aja, gak tahu lagi dapet adegan langka" gerutu Septian dalam hati, Namun malah melempar hp tersebut diatas meja di sampingnya.
"Maaf" suara Angela pelan sambil menunduk.
"Kau juga minta maaf setelah menciumku?"
"Bukan itu, aku minta maaf atas kemarin, gara-gara aku kamu jadi begini" ucap Angela yang masih menunduk.
"Gak apa-apa kok, lagian itu bukan salah kamu itu salah aku juga, karena aku sengaja melakukannya biar tahu kemampuan kamu"
"Kemampuan? Emang aku punya kemampuan apa?"
"Di hari pertama di kampus, aku lihat kamu menulis menggunakan tangan kanan dan kiri bergantian. Tulisan itu sama bagusnya, jadi aku pikir kemampuan kamu di tangan dan kaki. Makanya kemaren aku menguji kemampuanmu, hasilnya cukup memuaskan"
"Jadi, aku adalah bahan percobaanmu gitu?" ucap Angela yang sudah menatap Septian.
"Bukan gitu maksud aku, itu ku lakukan agar nanti aku bisa melatih kamu dengan baik"
"Aku gak butuh pelatih" ucap Angela bergegas pergi namun tangannya di tahan lagi.
"Maaf" ucap Septian memelas.
"Buat apa" ucap Angela datar.
"Maaf, sepertinya aku sudah menyukaimu" ucap Septian sambil melepaskan tangannya.
Angela terdiam sejenak mendengarkan perkataannya, dia sangat terkejut namun ada rasa senang dihatinya.
Kemudian dia berjalan keluar tanpa berkata-kata apalagi.
"Ahh bodoh kenapa bilang suka sama dia, dia kan gak mungkin suka sama gue, aduh gue harus gimana? siap-siap saja di benci sama dia. Dan kenapa gue ngerasa bersalah banget ya? apa pernikahannya di tunda atau batalin aja, aduh kok jadi bingung gue" gerutu Septian dalam hati.
Kemudian terdengar suara ketukan pintu, yang ternyata bi Minah menyuruh untuk makan siang dibawah karena sudah ditunggu.
Setelah tiba ia kemudian duduk samping Angela tepat menghadap om Demian yang langsung membuka pembicaraan.
"Apa kamu sudah sehat?"
"Sudah om, lagian saya kan tidak kenapa-napa, cuma kecapean saja" ucap Septian.
"Bagaimana pernikahannya? mau dilaksanakan hari ini atau ditunda?" pertanyaan om Demian yang langsung membuat Angela dan Septian tersedak bersamaan.
Setelah meminun air dan menghentikan makannya dia menjawab sambil menunduk "Tidak tahu om"
"Loh kenapa apa kamu masih sakit"
"Tidak om, hanya saja waktu itu saya terlalu memaksakan diri untuk menikahi Angela karena keinginan orang tua saya. Namun sekarang saya sadar, bahwasanya tidak adil jika saya menikahinya tanpa memikirkan perasaannya"
"Terus mau kamu di tunda atau di batalin?"
"Saya bingung om, saya ingin menyerahkan keputusan ini kepada Angela, karena saya tahu bagi seorang perempuan menikah dengan orang yang tidak dia cintai itu sangat berat, apalagi orang seperti saya yang sudah tidak punya orang tua, belum lagi harus merawat adik saya?"
"Om salut sama kamu, om merasa bersalah tidak memikirkan perasaan putri om. Jadi Angela, kamu mau menikah dengan septian atau tidak?"
Belum selesai pembicaraan tersebut Septian sudah berdiri dan hendak pergi namun lengannya digenggam erat, dan Angela mulai menatap Septian dengan penuh amarah, namun tak lama tatapan itu pun luntur tatkala air matanya menetes.
Sontak mendengarkan itu, semua orang yang ada di sana diam dan tidak ada yang berani berbicara.
Angela menatap ayahnya tanpa melepaskan tangan Septian dan berbicara dengan lantang.
"Nikah saja hari ini atau aku akan berubah pikiran, membatalkan pernikahannya"
Ayahnya pun langsung kaget karena tidak pernah melihat anaknya setegas dan seberani itu padanya, dan langsung mengangguk. Serta Angela yang langsung berlari ke kamarnya sambil menangis diikuti oleh sang ibu.
Sedangkan Septian yang keluar dengan tatapan kosong diikuti oleh adiknya sampai ke taman belakang rumah.
"Kau baik-baik saja kak?" Febrian memulai berbicara.
"Baik"
"Apapun masalahmu, aku akan tetap membela dan bersamamu. karena kau cuma punya aku dan aku juga cuma punya kau" ucap Febrian sambil duduk di samping kakaknya lalu menaruh tangan dipundaknya.
"Apa aku salah, jika pernikahannya batal?"
"Tidak kak, kau tidak salah. hanya omongan kak Angela juga ada benarnya, buat apa kakak dulu datang kesini kalau pas dia nerima kakak, dan kakak malah pergi gitu aja"
"Terus sekarang gimana?"
"Kan tadi bukannya denger kata kak Angela kalau pernikahannya di lanjut, itu berarti ka Angela sudah menyukaimu"
"Aku gak yakin untuk itu"
"Ya biarpun, kak Angela belum menyukaimu. Tapi dia sudah bisa menerimamu apa adanya dan menyetujui perjodohan kalian"
"Tau ah, pusing"
"Ya sudah. ayo kita siap-siap. Kakak mau jadi pengantin baru" ucap Febrian menarik tangan kakaknya.
Di kamar Angela masih terdengar suara tangisan, namun saat ini tangisannya sudah sedikit melemah karena sang ibu tak hentinya menghibur sang anak.
"Mama juga tahu mungkin kamu masih berat, karena pernikahan memang tidak segampang itu, tapi kamu melihatnya, dia juga mikirin perasaan kamu. itu artinya dia sudah tulus menyayangimu, dan anak menjaga mu dengan baik. Gimana kalau mama jodohin ke temen kamu aja ya? biar kamu gak perlu nikah"
"Ihh mama apaan sih, siapa juga yang bilang gak mau"
"Terus kalau mau kenapa malah nangis? senyum dong biar makin cantik anak mama"
"Habisnya, aku kesel mah. masa dia sudah maksa aku buat nerima perjodohan ini. Giliran aku udah diterima, dia malah mau pergi gitu aja"
"Oh jadi yang waktu itu kamu senyum-senyum sendiri mikirin Septian, pantes saja kamu marah kaya tadi"
"Ih mama kok malah belain dia sih, ah udah mama keluar aja Angela mau mandi dulu"
"Ya sudah mama keluar, kamu sekalian mandiin Nana. Biar mama siapin gaun pengantinnya, biar kedua anak mama makin cantik" ucap ibunya sambil pergi dan tak lama Nana pun masuk dan ikut mandi bersama kakaknya.
Setelah mandi dan ganti baju Angela hendak keluar kamar namun ditarik tangannya oleh Nana yang mengajaknya untuk duduk dan berbisik "Kak Lala beneran sudah cinta sama kak Septian"
"Apaan sih Nana masih kecil bilang cinta-cintaan"
"Tapi benerkan kak"
"Gak ada cinta-cintaan" ucap Angela ketus.
"Hehe, kak Lala bohong. Nana gak bisa di bohongin, kak Lala sering senyum kalau bareng kak Septian, Nana nyakin kak Lala cinta sama kak Septian" ucap Nana sambil tertawa pelan.
Next.......