My Superhero

My Superhero
Septian Kenapa?



Setelah selesai menyuapi sang suami, Angela dengan cepat menarik tangannya untuk segera pergi ke halaman belakang rumah.


Seketika Septian terkejut tatkala melihat beberapa perlengkapan latihan yang dikategorikan sangat profesional.


"Kamu menyiapkan ini semua sayang" ucap Septian sambil melihat beberapa target bidik.


"Iya sayang. Tapi dibantu sama Febrian, Roby dan juga Nana" ucap Angela yang sudah bersiap diposisi.


Shoot....shoot...shoot...


Septian semakin terpukau dengan skill dari sang istri yang jauh lebih hebat dari sebelumnya. Apalagi saat ini Angela tidak hanya menutup mata, tetapi ditambah dengan menutup telinga.


Tidak hanya Septian tetapi kedua orang tua serta adik-adiknya pun sangat terpukau. Mereka juga sangat memuji kemampuan Angela yang sudah bisa mandiri. Namun hal itu justru membuat mereka melupakan sosok yang penting yaitu Septian sendiri.


"Waaah, kak Lala hebat. Nana jadi bangga" ucap Nana memeluk Angela setelah jeda latihan.


"Iya kak Lala hebat" ucap Febrian.


"Nak kamu sekarang sudah bikin kami bangga" ucap sang ibu didekat suaminya.


"Bibi juga tidak menyangka, non Angela bisa sehebat ini" ucap bi Minah sambil mengacungkan jempolnya.


Tak lupa Roby, Ian dan Dani, serta beberapa pengawal lainnya memberikan apresiasi.


Karena saking senangnya Angela beserta keluarga, mereka sampai lupa bahwa hari sudah menjelang malam, serta tidak ada satupun orang yang menyadari kepergian Septian dengan motornya.


Tiba pada saat mereka hendak makan malam, tiba-tiba Febrian merasa ada yang kurang dari tadi, Dan benar saja ketika melihat Angela sendirian. Febrian langsung teringat akan sang kakak.


"Kak Angela, kak Septian mana?" ucap Febrian panik.


Mendengar perkataan Febrian, bukan hanya Angela tetapi semua orang yang ada di sana terdiam sejenak lalu berubah panik.


Pasalnya Septian kalau pergi, paling tidak ada satu orang yang mengetahuinya. Atau dengan kata lain ia pasti berpamitan terlebih dahulu.


"Penjaga" teriakan pak Demian sangat kencang.


Tak lama beberapa penjaga masuk dan memberi hormat "Ada apa tuan"


"Septian pergi kemana" ucap pak Demian.


"Den Septian tadi siang keluar dengan motornya, tuan" ucap salah satu penjaga.


"Apa? Tadi siang? Kemana perginya?"


"Untuk hal itu, kami tidak berani bertanya"


"Kalian boleh pergi"


"Baik tuan" ucap penjaga tersebut berlalu pergi.


"Kamu telepon suami kamu, malah diam saja" ucap pak Demian menatap Angela.


"Iya yah" ucap Angela sambil membuka hpnya.


Tuut....tuut......tuut....


Angela terus mencoba beberapa kali menghubungi suaminya namun tidak diangkat.


"Tidak diangkat yah" ucap Angela.


"Handphonenya kak Septian ada dikamar kak Angela" ucap Febrian yang membuat mereka semua melirik kearahnya.


"Darimana kamu tahu?' ucap Angela penasaran.


"Pendengaranku tajam, namun masih kalah tajam sama kak Septian"


"Apa kalian bertengkar" ucap ibunya mulai membuka suara.


Angela terdiam sejenak, berpikir berulang kali. Namun sepertinya ia sangat yakin bahwa ia dan sang suami baik-baik saja.


"Pikirkan baik-baik nak" ucap ibunya.


"Tapi Angela yakin bu, kami tidak bertengkar. Malahan justru kami makin harmonis" ucap Angela menyakinkan sang ibu.


"Terus kenapa dia pergi tanpa pamit, apa ada hal yang sangat penting?" ucap ibunya kembali.


"Angela tidak tahu bu, lagian kita keluarganya. Mana ada hal yang lebih penting dari kita" ucap Angela.


Angela hanya menggeleng, dan saat itu dia sekilas melirik Febrian.


"Febrian kamu tahu kemana kak Septian pergi" ucap Angela.


"Tidak tahu, kakak juga istrinya tidak tahu, apalagi Febrian" jawab Febrian.


"Maksud kakak, kira-kira kak Septian pergi kemana? ke tempat favorit, atau tempat yang biasa dia kunjungi sendiri, entah itu lagi sedih atau cuma buat menenangkan diri" ucap Angela menjelaskan.


Febrian berfikir sejenak, sepertinya dia mengetahuinya. Akan tetapi memilih untuk tidak memberi tahu.


"Tidak tahu" ucap Febrian berbohong namun diketahui oleh anak ajaib yaitu Nana.


"Kak Febrian berbohong kak" ucap Nana menatap Angela.


Angela dan keluarga sangat percaya pada Nana, dikarenakan anak itu tidak pernah berbohong, meski pada hal yang menurut sebagian orang sangat mustahil sekalipun.


Bahkan Febrian dan Roby yang notabennya orang baru, mereka juga ikut membenarkan hal itu.


"Haaaah, Febrian tidak tahu apa masalah kak Angela sama kak Septian. Namun sepertinya kak Septian lagi ingin sendiri" ucap Febrian sambil menghela nafas.


"Cepat beritahu kami nak" ucap ibunya Angela.


"Tapi bu, Febrian takut salah" ucap Febrian menatap ibunya Angela.


"Kak Febrian bohong lagi kak" ucap Nana sambil menatap Angela kembali.


"Kamu tidak kasihan melihat Angela sangat khawatir seperti itu?" ucap pak Demian.


"Iya yah, kak Septian ada di rooptop apartemennya"


"Biar Angela sendiri saja yah, takutnya kalau banyak orang bakalan bikin Septian tidak nyaman" ucap ibunya menahan tangan sang suami, setelah melihat Angela tanpa bicara dan langsung pergi.


Benar saja, setelah Angela tiba di basemen apartemennya. Ia melihat motor kesayangan sang suami terparkir disana.


Ia dengan cepat naik keatas dengan membawa sebuah bungkusan makanan, setelah memarkirkan mobilnya.


Angela perlahan menghampiri seorang pria yang sedang terduduk sendiri menatap kesebrang apartment.


"Kamu jahat" ucap Angela setelah duduk dan memukul bahu sang suami, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Namun Septian seperti tak mendengarkan ucapan sang istri, dan malah asik dalam pandangannya yang seakan tidak terpengaruh.


"Kamu kenapa sih yang? Kalau ada masalah cerita sama aku, bukan malah pergi gitu aja" ucap Angela yang sudah menjatuhkan air matanya.


Bukannya menjawab Septian justru malah berdiri dan menggendong tubuh sang istri lalu beranjak pergi.


Hal itu membuat Angela semakin bersedih, dan tetap menangis di bahu sang suami.


Setelah masuk ke kamarnya, Septian menurunkan tubuh Angela di ranjang mereka. Sedangkan ia malah membuka jendela dan menatap keluar, serta masih belum berbicara sepatah katapun.


Angela bangkit, lalu memeluk tubuh Septian dari belakang sambil terus menangis


"Kamu kenapa sih yang? Hiks" ucap Angela yang memaksakan diri untuk bertanya.


Kali ini usaha Angela sepertinya membuahkan hasil ketika sang suami berbalik dan memeluknya.


"Jangan cengeng, aku tidak apa-apa" ucap Septian sambil mengusap air mata istrinya.


"Terus kenapa kamu pergi ninggalin akau sendiri dirumah tanpa pamit"


"Aku cuma capek saja, maaf ya" ucap Septian berbohong.


"Kalau cuma capek kenapa tidak istirahat di kamar saja? Kenapa harus pergi kesini dan malah diam disana sendiri" ucap Angela kesal.


"Iya aku salah, maafin aku ya"


"Kamu ninggalin aku dirumah tanpa pamit, terus sekarang gak ngasih tahu alasannya. Setidak penting itukah aku bagimu?" ucap Angela marah.


"Aku minta maaf, aku bisa jelasin tapi tidak sekarang"


"Tidak perlu, aku pergi sekarang. Maaf jika aku mengganggumu" ucap Angela kesal dan lalu pergi.


Next......