
Angela hanya bisa menangisi kepergian Septian, rasa kesal, marah, sedih serta rasa bersalah bercampur dihatinya.
Septian pergi ke garasi dan mengambil motor kesayangannya, yang tidak pernah ada orang yang berani menyentuhnya selama ia tidak ada.
Septian pergi dengan perasaan sama seperti yang dialami sang istri, namun perbedaannya terletak pada ketakutan dalam dirinya.
Dengan perasaan yang sedang tidak baik, hal ini membuat Septian tidak fokus dalam berkendara.
Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, sampai tak butuh waktu lama, ia sudah tiba di kota Bandung.
Akan tetapi hal yang tidak diinginkan terjadi padanya, ia dengan tidak sengaja menyerempet sebuah mobil yang sedang melaju pelan.
Tak lama setelah mobil tersebut berhenti, keluar seorang gadis cantik khas Mojang Bandung.
Gadis tersebut kemudian menghanpiri Septian setelah melihat keadaan mobilnya.
Ia terpesona melihat wajah tampan Septian, ketika telah membuka helmnya.
Ia juga menyadari bahwa Septian bukan pria sembarangan, jika dilihat dari postur tubuh serta penampilannya.
"Maaf Teh, saya tidak sengaja," ucap Septian dengan sedikit menunduk.
"Saya tahu Aa, tapi mohon tanggung jawabnya" ucap gadis tersebut.
"Sekarang sudah menjelang malam, bagaimana kalau saya ganti rugi saja," ucap Septian.
"Baik, besok kita ke bengkel langganan saya, terus nanti Aa yang menanggungnya, bagaimana?" tawar gadis tersebut.
"Baiklah, besok ketemu dimana?" tanya Septian.
"Di terminal kota, tapi saya minta jaminan, takut Aa tidak datang," hawab gadis tersebut.
Kemudian Septian mengeluarkan dompetnya, lalu menyerahkan kepada gadis tersebut beserta seluruh isinya.
Setelah menerima dompet dari Septian, gadis tersebut segera pergi meninggalkannya.
Septian lalu pergi ke hotel tempat biasa keluarganya menginap disana.
Keesokan harinya, Septian pergi ke terminal sesuai perjanjian mereka kemarin.
Septian mengira jika gadis tersebut memilih tempat tersebut, karena takut jika bertemu di tempat sepi.
Akan tetapi perkiraannya salah, terlihat gadis tersebut seperti mendominasi terminal, setelah ia melihat dari kejauhan.
Septian lalu menghampiri gadis tersebut di dekat mobilnya, Septian terkejut melihat mobilnya sudah dalam kondisi bagus.
"Sudah di bawa kengkel Teh?" tanya Septian basa-basi.
"Sudah, tadi saya nunggu Aa lama, jadi saya bawa ke bengkel sendiri," jawab gadis tersebut.
Septian menatap dan mencurigai gadis tersebut setelah melihat gerak-geriknya.
Ia menyadari bahwa gadis itu memiliki niatan lain, selain meminta ganti rugi.
"Berapa biayanya, biar saya ganti?" tanya Septian.
"Murah Aa, cuma 200 juta," jawab gadis tersebut.
Septian terkejut mendengar nominal yang disebutkan, pasalnya ia cuma menggores mobilnya.
Namun ia tetap tenang dan akan segera membayarnya.
"Ya sudah, mana dompet saya?" tanya Septian.
"Dompetnya hilang Aa," ucap gadis tersebut.
Septian tersenyum kecil mendengar omong kosong yang dijadikan alasan.
"Saya tidak bisa membayarnya, jika dompet saya tidak ada," ucap Septian sambil berbalik dan hendak pergi.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat banyak orang yang mendekatinya.
Septian menghentikan langkahnya dengan tersenyum, ketika melihat orang-orang tersebut adalah anggota maung bodas.
Mereka tidak menyadari bahwa yang ia hadapi adalah Septian, pemimpinnya yang selama pergi.
Mereka tidak menyadarinya karena penampilan serta wajah Septian yang sangat berbeda.
"Siapa gadis ini, kenapa dia bisa memerintah mereka?" tanya Septian dalam hati.
Melihat Septian yang terdiam, mereka menganggapnya sedang merasa ketakutan lalu segera menyerangnya.
Pertarungan akhirnya terjadi, Septian bertarung sendiri melawan banyak orang.
Pertarungan tersebut terjadi cukup lama, mengingat banyaknya orang yang harus dilawan.
Karena merasa tidak akan menang, salah satu dari mereka menghubungi Asep selaku ketua terminal, serta kang Jamal ketua dari kelompok tersebut.
Selang beberapa saat, merekapun di hajar habis-habisan sampai babak belur oleh Septian seorang diri, tanpa menggunakan kekuatan overtime miliknya.
Gadis itupun sangat terkejut melihat banyak anak buahnya dikalahkan seorang pria.
Septian kini tidak berniat pergi, setelah mengetahui bahwa mereka memanggil kang Jamal kesana.
Benar saja, tak lama munculah kang Jamal beserta Asep dengan menggunakan sepeda motor.
Kemudian menghampiri Septian dengan penuh emosi serta amarah.
Asep bahkan langsung berlari dan hendak menghajarnya, tetapi dihentikan kang Jamal.
"Maaf, kenapa kamu mengacau disini?" tanya kang Jamal.
Septian tersenyum kecil, ketika mengetahui bahwa kang Jamal tidak mengenalinya.
"Saya hanya membela diri," jawab Septian.
Kemudian gadis yang tadi berjalan kearah kang jamal, lalu membisikan sesuatu ditelinganya.
Entah apa yang dibicarakan, tapi itu membuat kang Jamal seketika murka dan hendak menghajar Septian.
Melawan kang Jamal yang sudah berkepala 5, jelas APM (action per-minute)/ gerakan tubuh Septian lebih cepat, Septian lebih diunggulkan.
Akan tetapi, dengan pengalaman, ketenangan, serta pemikiran matang dari kang Jamal, membuatnya cukup kerepotan.
Setelah pertarungan sengit yang cukup lama, akhirnya Septian memaksa kang Jamal untuk menyerah dengan sebuah pisau di lehernya.
Hal itu membuat mereka semua terkejut, karena kang Jamal yang begitu disegani dapat dikalahkan oleh Septian.
"Aku akan mengajukan satu pertanyan dan dua permintaan sebelum pergi," pinta Septian.
"Baiklah, saya akan turuti," ucap kang Jamal tanpa rasa takut sedikitpun.
Septian lalu melepaskan kang Jamal setelah ia menyetujuinya.
"Siapa gadis itu?" tanya Septian sambil melirik gadis tersebut.
"Lilis, anak saya yang baru datang beberapa bulan lalu dari Garut," jawab kang Jamal.
Septian akhirnya mengetahui, alasan gadis tesebut bisa memerintah mereka semua.
"Permintaan pertama, kembalikan dompet saya sekarang juga," ucap Septian.
Kemudian gadis tersebut mengambil dompet septian dan menyerahkannya.
Setelah mengambil dompetnya, Septian melihat kalau uangnya sudah tidak ada.
Namun Septian tidak memperdulikannya, karena ia merasa tidak mementingkan uang tersebut.
"Permintaan kedua, jauhkan putrimu dari kelompok maung bodas, karena ialah dalang dari masalah semua ini," ucap Septian.
Mendengar ucapan pria asing yang mengetahui masalah mereka, kang Jamal menatap Septian dengan penuh keheranan.
"Siapa kau, kenapa kau mengetahui masalah ini?" tanya kang Jamal.
Septian tidak menjawab dan berlalu pergi, namun ia terhenti setelah beberapa langkah.
"Aku tidak mau, maung bodas menjadi preman di kota Bandung, jika sampai ada yang melakukan pungli seperti yang sudah terjadi, ku habisi kalian semua," ucap Septian sambil melanjutkan perjalanan menuju parkiran motor.
Kang Jamal terdiam, karena terkejut mendengar ucapan pria tersebut yang baru ia kenali.
Ia kemudian menatap putrinya tersebut dengan amarah di hatinya.
Putrinya yang ketakutan menghampiri kang Jamal dan hendak meminta maaf, serta menanyakan siapa sebenarnya pria tadi.
Begitupun juga Asep yang mendekati kang Jamal hanya untuk menanyakan keadaannya serta identitas pria tersebut.
"Pak, siapa pria itu?" tanya putrinya.
"Dia Septian, pemimpin kita yang pergi selama ini," ucap kang Jamal sambil tertunduk.
Hal itu membuatnya terkejut, terlebih Asep yang syok karena tidak menduganya.
Next......