
Setelah Septian pergi, kang Jamal menjadi murka, mengetahui istri dari Septian kecopetan.
"Kerahkan semua anak buah kalian. Dalam satu jam, temukan dompet lalu antarkan kerumah saya, dan pastikan tidak ada barang yang lecet apalagi hilang" ucap kang Jamal pada anak buahnya.
"Baik, kang" ucap mereka serentak.
Setelah mendengar perintah dari bos mereka. Tidak ada satupun orang yang diam, mereka lalu mencari semua pencopet ke semua tempat persembunyiannya.
Hampir satu jam mereka mencari namun belum menemukan titik terang, hingga pada akhirnya satu dari mereka memukuli salah seorang pencopet disana.
"Siapa yang mencopet dompet hitam pagi ini?"
"Tadi ada yang melapor pada saya, dua orang gadis mencopet dompet hitam beserta satu handphone" ucap bos copet sambil merasa kesakitan.
"Cepat telpon dia, dan jangan sampai ada barang yang hilang, atau kau ku habisi"
Tuutttt......
"Halo bos ada apa? kami mau operasi lagi" ucap seorang wanita di seberang telepon.
"Kamu nyopet handphone dan dompet hitam pagi ini?"
"iya bos, masih ditangan kami"
"Lihat tanda pengenalnya, apa pemiliknya bernama Angela Larasati?"
Dan Setelah pencopet melihat isi dompet tersebut.
"Benar bos"
"Bawa ke markas sekarang juga, dan pastikan tidak ada barang yang hilang atau kalian akan dalam bahaya"
"Baik bos kita segera kesana" ucap gadis tersebut mematikan telepon.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya kedua gadis itu datang.
"Berikan padaku" ucap satu orang preman yang langsung merampas dompet dan hp kemudian mengeceknya.
"Hanya ini, uangnya kemana?"
"Uangnya cuma 200 ribu, tadi kami pake buat makan dan ongkos kesini, sisanya masih utuh" ucap seorang copet dengan nada ketakutan.
Tanpa menjawab mereka pergi dari sana dan membawa dompet tersebut ke rumah kang Jamal.
"Ini kang dompetnya" ucap pria tadi menyerahkan dompetnya.
"Tidak ada uangnya?
"Cuma ada 200 ribu kang, tapi sudah diambil sama copetnya"
"Ya sudah, kamu boleh pergi dan kabari kabari yang lain untuk berhenti mencari"
"Baik kang, saya permisi"
Setelah beberapa menit perjalanan. Septian akhirnya sampai di mall tempat istrinya berbelanja. Kemudian ia melihat sang istri duduk bersedih dan lekas menghampirinya.
"Sayang kamu baik-baik saja" ucap Septian sambil memeluk istrinya dengan erat.
Angela menjawab dengan anggukan.
"Kak Septian kok lama, tadi bapak itu sudah marahin kak Angela" ucap Nana sambil menunjuk manager toko tersebut, dan dijawab anggukan oleh Roby ketika Septian meliriknya.
Mengetahui itu Septianpun akhirnya menghampiri sang manager.
"Kenapa tuan memarahi istri saya" ucap Septian sembari menatap tajam.
"Saya hanya memberitahu, jika tidak punya uang jangan belanja disini" ucap manager itu.
"Baik, saya akan bayar semuanya sekarang, tapi minta maaflah pada istri saya"
"Saya tidak salah, untuk apa minta maaf" ucap manager itu.
"Ajak Nana untuk pergi membayar belanjaan" ucap Septian melirik Febrian yang menjawab dengan anggukan dan langsung menggendong Nana.
"Tuan, biarkan saya yang membuat orang ini minta maaf sama Nona" ucap Asep yang baru sampai.
Ketika melihat Asep, manager toko tersebut menjadi sangat ketakutan.
Puukk
Suara beberapa pukulan diperut manager tersebut yang dilayangkan Asep.
"Maafkan saya Nona. Saya salah, saya benar-benar minta maaf" ucap manager toko dengan kesakitan, serta membuat semua orang disana terkejut, tak terkecuali Angela dan Septian.
Setelah selesai membayar, Septian menyuruh adiknya untuk pulang terlebih dahulu bersama Nana dan juga Roby bersama bi Minah, yang hanya bisa diam melihat kejadian yang terjadi barusan.
"Kenapa semua orang disini ketakutan melihatmu" ucap Septian sambil berjalan dan melirik Asep.
"Apa? Kenapa bisa begitu?" ucap Septian karena merasa kaget.
"Tidak tahu pasti tuan, tapi katanya tuan Ferdianlah yang sangat berpengaruh"
"Kok bisa?"
"Karena tuan Ferdian telah melakukan banyak hal buat kota ini"
"Oh, jadi yang mendirikan kelompok maung bodas itu pak Ferdian?"
"Benar tuan, kang Jamal hanya sebagai wakilnya saja"
"Ya sudah terima kasih bantuannya"
"Sama-sama tuan, mari ikut saya ke rumah kang Jamal" ucap Asep lalu menaiki motornya.
"Sayang siapa dia? Terus kang Jamal, terus maung bodas, sama pak Ferdian itu siapa" tanya Angela keheranan.
"Ceritanya panjang sayang, nanti kamu tahu. Sekarang kita pergi dulu" ucap Septian yang sudah berada diatas motornya.
Selang beberapa saat mereka tiba di sebuah rumah sederhana namun sangat antik dengan desain classic.
Tok...tok...tok...
"Masuk" ucap seseorang dari dalam.
"Silahkan masuk tuan, saya akan menunggu disini" ucap Asep pada Septian.
Merekapun akhirnya duduk dan dihampiri oleh kang Jamal beserta sang istri dengan membawa beberapa cemilan dan minuman.
"Silahkan diminum den, non." ucap kang Jamal.
"Terima kasih" ucap Angela tersenyum.
"Ini Angela istri saya kang" ucap Septian.
"Oh cantik sekali, perkenalkan saya Jamal dan ini istri saya"
"Salam kenal om, tante" ucap Angela.
"Nona tidak usah panggil om, panggil kang Jamal saja"
"Emm iya kang Jamal"
"Iya akang sampe lupa, Ini den dompetnya, semoga tidak ada yang hilang" ucap kang Jamal sambil menyerahkan dompet Angela dari bawah meja.
"Terima kasih kang" ucap Septian.
"Terima kasih kang, tidak ada yang hilang" ucap Angela setelah melihat dompetnya.
"Begini kang, sebenarnya saya kesini mau meminta sketsa pembuatan jarum emas, apa akang masih pegang" ucap Septian.
"Ada den, akang sudah tunggu dari dulu. Pasalnya tuan Febrian menyuruh saya untuk memberikannya ketika aden sudah dewasa" ucap kang Jamal.
"Tapi akang gimana, kalau dikasih sama saya?"
"Tidak apa-apa den, lagian itukan buatan tuan Ferdian bukan buatan akang, dan itu juga dititipkan sama akang bukan dikasih"
"Terima kasih kang"
"Sama sama den. Tapi, apa aden sudah bisa menggunakannya"
"Saya tidak bisa kang, tapi istri saya bisa, malah lebih hebat daripada ibu dulu" ucap Septian sedikit bersedih.
"Jadi, ini buat nona?"
"Iya kang, Ini buat hadiah dari saya untuknya. Karena saya pikir dia yang lebih cocok daripada saya ataupun Febrian"
"Ini den, tapi akang cuma mengingatkan jangan sampe bocor ke orang luar bisa berbahaya" ucap kang Jamal sambil menyerahkan sketsa serta beberapa jarum emas yang sudah siap pakai.
"Terima kasih kang"
"Sama-sama den"
"Istri saya sudah kelelahan, jadi kami pamit pulang ya kang, nanti pasti sering main-main ke sini"
"Oh iya jangan lupa kalau kesini kabari akang ya"
"Iya kang, kami pamit ya. Kalau akang ada perlu apa-apa, hubungi kami" ucap Septian beranjak keluar.
Setelah pergi, mereka langsung menuju hotel untuk beristirahat.
Next.......