
Angela tidak mau ambil pusing tentang pria itu, dan lebih memilih masuk, namun langkahnya terhenti ketika Nana berkata, "Dia memang ayahmu."
Angela berbalik dan menatap sang adik, kemudian ia mengingat bahwa adiknya tidak pernah berbohong.
"Tante tidak berbohong? Jadi om tadi beneran ayahnya Septian?" tanya Septian kecil kegirangan.
Nana hanya menjawab dengan anggukan.
Angela yang tidak ingin membuat anaknya bersedih, ia tidak bisa membantah. Meskipun ia sendiri tidak yakin bahwa pria tadi adalah Septian suaminya.
Septian kecil berlari masuk rumah dengan kegirangan.
Hal itu membuat seisi rumah dibuat tidak percaya dengan ucapan Septian kecil yang berkata bahwa ayahnya sudah datang.
Pak Demian beserta istrinya memghampiri Angela dan Nana untuk menanyakan langsung.
"Apa benar Septian telah kembali?" tanya sang ayah.
"Angela tidak tahu yah, Nana yang bilang seperti itu pada Septian," jawab Angela.
"Terus, kalian membiarkannya pergi begitu saja. Kenapa kalian tidak menahannya?" tanya ayahnya lagi.
"Kami tidak bisa berbuat apa-apa, lagian dia pake masker sama topi. Nana tadinya mengira dia orang asing. Namun, Nana yakin dia kak Septian!" jawab Nana.
"Kalau begitu, kenapa lamu bilang dia kak Septian?" tanya Angela.
"Tadi kakak juga denger suaranya, masa sudah lupa sama suara kak Septian," jawab Nana.
"Lalu kenapa dia pergi kalau dia memang kak Septian?" tanya ayahnya.
"Dia pergi karena menyangka kak Lala sudah menikah lagi dan sudah punya anak," ucap Nana menjelaskan.
Ucapan Nana membuat mereka terdiam, apalagi Angela.
Mungkin karena ia tidak ingin menerima harapan palsu, atau memang ia sudah bisa merelakan dan melupakan Septian.
"Febrian. Iya, hanya Febrian yang bisa membawa Septian pulang," ucap ayah mereka berlalu pergi.
Meskipun demikian, Pak Demian juga mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Septian.
Setelah beberapa saat, Febrian akhirnya datang ke kediaman pak Demian.
Satu keluarga itu berkumpul di ruang tamu, dan lalu Nana menceritakan semua yang terjadi, serta alasan mereka meyakini bahwa pria tadi adalah Septian.
"Dia bukan kak Septian. Paling kalian salah menduga," ucap Febrian.
"Kenapa kak Febrian bicara seperti itu? Kakak sudah tidak percaya sama ucapan Nana?" tanya Nana.
"Bukan tidak percaya. Tapi, tidak ada kemungkinan bahwa pria itu kak Septian," jelas Febrian.
"Apa alasan kamu bicara seperti itu?" tanya pak Demian.
"Bukankah pada saat kecelakaan gps menunjukan tkp sebagai titik terakhir? Kalaupun kak Septian berhasil lolos, ia tetap akan meninggal karena kehabisan darah. Karena tidak adanya pendonor," jelas Febrian.
Mendengar penjelasan Febrian, tidak ada yang berani menjawab. Bahkan pak Demian ikut membenarkan ucapan Febrian.
"Febrian benar, tidak ada orang yang bisa menyelamatkannya. Karena orang itu sudah tiada," ucap pak Demian.
"Siapa memangnya yah?" tanya Angela.
"Mendiang kakeknya Febrian" jelas pak Demian.
Angela tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan.
Akan tetapi, dilema terjadi ketika anak kesayangannya ikut berbicara.
"Septian percaya sama tante Nana. Kalau om yang tadi ayahnya Septian. Karena om itu mirip sama Septian" ucap Septian kecil.
"Apa Septian pernah melihat wajah om yang kemarin?" tanya Angela.
"Pernah ma, waktu di mall," balas Septian kecil.
Kemudian Angela memgambil ponselnya, lalu menunjukan foto mendiang suaminya.
"Apa ini wajah om yang tadi?" tanya Angela.
"Iya ma, itu om yang tadi" jawab Septian kecil dengan penuh keyakinan.
"Coba lihat sekali lagi, siapa tahu kamu keliru nak!" pinta Angela.
"Sudah ma, Septian benar-benar yakin, kalau tidak percaya, tanya saja sama tante Nana," balas Septian kecil.
Mereka Semua dibuat terkejut dengan ucapan Septian kecil.
Tidak hanya Angela, bahkan Febrian yang tadinya tidak percaya, sekarang ia juga ikut merasakan dilema.
Mereka akhirnya merasa kebingungan dengan kejadian ini, ditambah lagi Febrian serta orang suruhan pak Demian, tidak bisa menemukan keberadaan Septian.
Setelah beberapa hari, pak Demian merasa putus asa, karena tidak bisa menemukan Septian.
Angela beserta Febrian dan Nana juga tidak bisa membantu.
Ketika Angela menatap sang buah hatinya, yaitu Septian kecil. Ia akhirnya terpikirkan ide brilliant.
"Yah, apa disekitar sini ada bangunan kosong?" tanya Angela.
"Emmm, kayaknya sih ada, emang buat apa?" jawab ayahnya dan balik bertanya.
"Bawa Nana sama Septian kesana, terus kabarkan kalau mereka berdua di culik," pinta Angela.
Pak Demian beserta Febriqn masih kebingungan.
"Jika dia benar Septian kita, dia akan datang. Namun jika bukan, dia tidak akan datang," jelas Angela.
Mendengar penjelasan dari Angela, pak Demian akhirnya menemukan kembali semangat yang hilang.
Setelah menyiapkan semua keperluan akting mereka, serta memberitakan kepada media tentang penculikan Nana sama Septian.
Pak Demian beserta Febrian hanya memantau dari rumah, sedangkan yang disana cuma Angela, Septian kecil, Nana dan juga Roby yang berperan sebagai penculik mereka.
Tidak hanya itu saja, supaya terlihat seperti penculikan sungguhan. Angela sudah menyiapkan beberapa orang sebagai penjaga lengkap dengan persenjataan, serta tidak segan-segan menyuruhnya untuk menembak.
Benar saja, setelah beberpa jam menunggu. Akhirnya tiba seorang pria, dengan menggunakan pakaian serba hitam ditambah topi serta masker.
Pria tersebut sangat hebat bahkan melebihi ekspektasi mereka, bahkan mereka ragu jika pria itu adalah Septian.
Karena jika dibandingka dengan Septian. Pria ini jauh lebih unggul dari segala hal, entah itu kecepatan, ketenangan, serta kelihaian dalam mengalahkan musuhnya.
Meskipun begitu, mereka tetap ingin mengungkap identitas pria itu.
Benar seperti dugaan author, bahwa pria tersebut adalah Septian.
Septian sekarang sudah berada diruangan tempat Nana dan Septian kecil disekap.
Namun ia tidak ingin bertindak gegabah, ia kemudian menatap Nana dengan tajam.
"Nana, apakah disini tinggal kalian berdua?" tanya Septian dalam hati.
Kemudian Nana mengangguk.
Dari sini dapat diketahui bahwa kemampuan dari Nana, yaitu ia bisa mendengarkan perkataan hati serta membaca pikiran seseorang.
Hal ini membuktikan kenapa Nana tidak bisa dibohongi, dan juga tidak pernah berbohong.
Septian lalu mendekati mereka serta melepaskan ikatan Nana dan Septian kecil.
Kemudian Nana serta Septian kecil memeluk Septian.
"Terima kasih kak" ucap Nana.
"Sama-sama" balas Septian.
"Ayah kenapa baru datang?" tanya Septian kecil sambil menangis.
Mendengar pertanyaan itu, Septian sempat menduga bahwa ini hanya jebakan untuk menangkap dirinya.
Namun ia tidak ingin terlalu terbebani, karena takutnya dugaannya salah.
"Apa om, mirip dengan ayahmu?" tanya Septian.
"Tapi kata mama, om itu ayahnya Septian," jawab Septian kecil.
Deg......
Bagaikan jantung yang tertusuk jarum emas, Septian terdiam mendengar ucapan dari Septian kecil.
Kemudian Angela muncul dari balik pintu sambil bertepuk tangan.
"Apa seperti ini, cara menemui putramu sendiri?" tanya Angela sambil menatap tajam kearah Septian.