
Setelah adegan suap-suapan yang cukup dramatis tersebut, seorang perawat datang untuk mengecek kondisi terakhir Septian.
Perawat tersebut memberitahukan bahwa dua hari kedepan Septian sudah pulih, dan diperbolehkan untuk pulang.
Akhirnya setelah dua hari berlalu, Septian dan keluarga pulang kembali ke Negara asal mereka yaitu, tanah air tercinta kita, Indonesia.
Setibanya di kediaman pak Demian, Septian meminta untuk beristirahat dan tidak ada yang mengganggunya.
Ayah dan ibu Septian beserta pak Demian mengerti akan maksud dari ucapan tersebut, mengingat hari masih menjelang siang.
Septian lalu berbaring di kasur, sementara Angela menidurkan putra kesayangannya di box tempat tidur.
Setelah Septian kecil tertidur, Angela berbaring di samping suaminya lalu memeluknya.
"Sayang?" tanya Angela sambil menatap Septian.
"Apa sayang?" ucap Septian balik bertanya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Angela.
Septian lalu berbalik menatap Angela sambil mengerutkan dahi.
"Kenapa kok nanyanya gitu?" tanya Septian.
"Aku cuma pengen tahu aja, karena aku kaget juga melihat kamu seperti ini," jawab Angela sambil melirik tubuh suaminya dari atas sampai bawah.
"Aku bisa balik ke penampilan seperti dulu, jika kamu keberatan melihatku kayak gini," ucap Septian.
"Bagaimana caranya?" tanya Angela.
"Pake jam tangan milik Septian kecil," jawab Septian.
"Hah, kok bisa?" tanya Angela dengan sedikit kaget.
"Bisa, makannya ayah sama ibu kita cuma terkejut tapi tidak panik," jawab Septian.
"Jadi ayah sama ibu kita sudah tahu masalah jam itu?" tanya Angela.
"Ya tahulah, massa enggak. Mereka selama ini selalu berusaha membuat jam tangan itu, tapi tidak bisa," jawab Septian.
"Kenapa? Memangnya apa yang susah?" tanya Angela dengan sedikit rasa percaya diri.
"Dih, sok pinter. Kamu juga tidak akan bisa membuatnya," jawab Septian sambil memalingkan wajahnya keatas.
"Aku memang gak bisa, tapi suamiku pasti bisa," ucap Angela berbangga diri.
"Aku cuma bisa pakai doang, tidak bisa membuatnya," ucap Septian.
"Kalau bukan kamu terus siapa?" tanya Angela.
"Suamimu yang tampan ini belum pulih 100%, jangan banyak ditanya. Mending pijitin biar cepat sembuh," ucap Septian sambil menyodorkan lengan kanannya.
"Iiiiih, bukannya dijawab malah nyuruh," ucap Angela kesal sambil mencubit tangan Septian.
"Aw, sakit tahu. Pijitin bukan di cubit," pinta Septian sambil mengusap-usap tangannya.
Angela kemudian tersenyum menyeringai sambil menatap tajam Septian.
Lalu dengan dengan secepat kilat, Angela sudah berada diatas tubuh Septian.
"Sini aku pijitin lehernya," pinta Angela hendak menyentuh leher Septian dengan kedua tangannya.
"Itu mau memijit apa mau mencekik?" tanya Septian sambil menutupi lehernya dengan kedua tangan, dengan raut wajah ketakutan.
Angela tersenyum kecil, dan tanpa berbicara apapun lagi. Ia langsung mencium bibir suaminya.
Septian hanya pasrah dan melayani permainan istrinya. Ia tahu hal itu akan terjadi, karena sudah memperkirakannya menggunakan kekuatan hipotesis prediksi.
Dan setelah itu, mereka melanjutkan dengan hal yang sudah biasa dilakukan oleh sepasang suami istri.
Beberapa menit berlalu, Angela telah kelelahan lalu tertidur di samping Septian, begitupun dengan Septian yang sudah memejamkan mata terlebih dulu.
Tok......tok......tok.......
"Bangun nak,"
Suara lembut seseorang diiringi ketukan pintu dari luar kamar mereka.
Septian lalu menghampiri dan membuka pintu.
Setelah pintu terbuka ia sangat kaget, ketika melihat ibunya membawa makanan kesukaannya.
"Ngapain ibu repot-repot? Pake diantar segala. Septian bentar lagi turun sama Angela," tanya Septian sambil menutup pintu.
Ibunya meletakan makanan yang ia bawa, lalu menghampiri Septian kecil yang sedang duduk di kasur.
"Tidak apa-apa, ibu pengen lihat cucu ibu, masa gak boleh," jawab Ibunya.
"Ya sudah. Tapi, apa ada yang ibu mau tanyakan?" ucap Septian.
"Banyak, tapi lain kali saja. Ibu mau main sama cucu ibu yang ganteng," ucap ibunya sambil mencubit pipi Septian kecil.
"Kalau begitu, Septian mau turun dulu," ucap Septian berlalu pergi.
Septian lalu turun ke ruang tamu, dan melihat ayahnya sedang bermain catur dengan pak Demian, ditemani Febrian dan beberapa anak buahnya.
"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya ayahnya sambil menggerakkan pion tanpa menoleh.
"Baik yah," jawab Septian sambil melihat permainan mereka.
"Baguslah kalau begitu," ucap ayahnya.
Septian tidak menjawab dan fokus melihat permainan sengit mereka.
"Apa kamu sudah makan nak?" tanya pak Demian.
"Kerja juga enggak, gak usah makan yah," jawab Septian.
"Bisa bercanda juga kamu ya," ucap pak Demian sambil menoleh kearah Septian.
"Lumayan," ucap Septian singkat.
"Kak, kenapa kakak nyuruh Nana sekolah umum. Padahal, dulu kakak nyuruh home schooling?" tanya Febrian
"Biar temennya bukan kamu saja," jawab Septian asal-asalan.
"Kenapa gak minta izin dulu sama ayah?" tanya pak Demian.
"Septian kesini mau bicara soal itu," jawab Septian.
"Memangnya mau di sekolahin dimana?" tanya pak Demian.
"Dekat sini kok, gak jauh," jawab Septian.
"Baik, tapi Febrian pantau terus ya," ucap pak Demian sambil menoleh kearah Febrian.
Febrian menjawab dengan mengangguk.
Septian lalu menatap tajam kearah papan catur dan berpikir sejenak.
"Ayah akan kalah," ucap Septian sambil melirik pak Demian.
"Kamu semakin hebat sekarang," puji ayahnya Septian.
"Iya dong," jawab Septian singkat.
Benar saja, setelah beberapa saat, permainan dimenangkan oleh ayahnya Septian.
Kemudian ayahnya melirik kearah Septian dengan penuh tanya.
"Siapa yang memberikan jam tangan itu padamu nak?" tanya Ayahnya.
Septian tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari ayahnya.
"Seseorang yang pernah menyelamatkanku dulu yah," jawab Septian.
"Siapa orangnya? Dan dimana sekarang, ayah mau bertemu?" tanya Ayahnya.
"Septian tidak tahu yah," jawab Septian.
"Kamu bertemu dimana dengannya?" tanya ayahnya.
"Di pinggiran kota, tiga tahun lalu," jawab Septian.
Ayahnya Septian menduga mengenali orang tersebut. Namun, ia lebih memilih diam karena takut salah.
Sedangkan Septian berencana untuk menemuinya beberapa hari kemudian.
"Papa," ucap Septian kecil berlari kearah Septian yang diikuti Angela.
"Hey, jagoan kecil," ucap Septian sambil mengendong putranya.
"Pa, beliin Septian robot-robotan," pinta Septian kecil.
"Nanti kita beli, sekarang papa tidak punya uang, habis diambil sama mama semua," ucap Septian sambil menatap kearah Angela.
"Bohong sayang, papa tidak pernah ngasih uang sama mama," ucap Angela sambil duduk di samping Septian.
"Beliin pa," rengek Septian kecil.
"Nanti opa yang beliin," ucap Septian sambil melirik kearah pak Demian.
"Iya nanti opa beliin," ucap pak Demian.
"Gak mau, maunya sama papa," ucap Septian kecil.
"Iya, nanti kita beli yang banyak?" ucap Septian.
"Septian maunya yang bisa ngomong kayak perempuan," ucap Septian kecil.
Septian terdiam karena tidak mengetahui mainan apa yang diinginkan putranya itu.
"Septian lihat dimana mainan kayak gitu?" tanya Septian.
"Di perusahaan opa, waktu itu papa dan mama ngobrol sama mainannya," jawab Septian kecil.
Next........