
Pagi hari setelah mandi dan sarapan Septian bergegas ke kampus dan pamitan sama adiknya.
"Kakak berangkat dulu, jangan kemana mana. untuk kerjaan kamu nanti tunggu aja instruksi dari kakak."
"Iya hati-hati kak" ucap Febrian sambil membawa piring makannya ke depan televisi.
Kemudian Septian pergi menggunakan motor sport kesayangannya.
"Selamat pagi pak,maaf saya telat!" Sapa Septian dengan motor sport di depan gerbang salah satu kampus elit di Jakarta.
"Sepertinya saya baru melihat kamu di kampus ini, apakah kamu mahasiswa baru? " Tanya penjaga kampus dengan cukup selidik,
"Benar pak! saya Septian."
"Ya sudah, berhubung kamu anak baru bapak akan izinkan masuk. tapi ingat kalau besok terlambat lagi jangan harap bisa masuk!" jelasnya sambil membuka gerbang kampus tersebut.
"Terimakasih pak" ucap Septian sambil melaju menuju parkiran motor.
"Sekarang gue kemana? gue kan gak tahu kelasnya dimana?" gerutu Septian di parkiran setelah motornya terparkir, dia pun berjalan masuk ke sekitar lorong kelas.
"Duh harus nanya ke siapa?" ucap Septian pelan, sambil menghela napas.
Tiba - tiba datang seorang wanita cantik berusia 30 tahunan, menghampirinya.
"Kamu yang namanya Septian?" tanya wanita tersebut sambil memperhatikan penampilan Septian.
"Iya benar."
"Ya sudah, ayo ikut saya ke kelas, saya adalah dosen kamu" tegas wanita itu sambil berjalan terlebih dahulu.
"Tunggu! Nama ibu siapa?"
"Panggil saja bu Lisa" jawabnya singkat.
"Oh baik, Bu Lisa."
"Ternyata namanya Lisa, cantik juga sih tapi sayang..." batin Septian yang terhenti karena sudah tiba di depan kelas.
"Pagi semua!" Sapa bu Lisa saat masuk kedalam kelas diikuti Septian di belakangnya.
"Pagi bu" Jawab anak-anak serentak.
"Waaaaaahh, siapa tuh bu? ganteng banget" teriakan salah satu siswi di kursi belakang.
"Dia ini siswa baru di kelas kita, silahkan perkenalkan dirimu" ucap bu Lisa melirik ke arah Septian.
"Halo semua nama saya Septian, Salam kenal. Semoga kita bisa berteman dengan baik." Perkenalan singkat Septian dengan suara datar tanpa nada ataupun ekspresi.
"Kalian bantu agar Septian bisa beradaptasi disini. Septian cari meja kosong, pelajaran akan segera dimulai"
Setelah selesai dengan beberapa pelajaran dan bel tanda waktu istirahatpun telah berbunyi, sebagian sudah meninggalkan kelas namun ada juga beberapa siswi yang mendekat ke tempat duduk Septian.
"Hai Septian, kenalin aku Fina" sambil melambaikan tangannya.
Sama halnya seperti Fina, siswi yang lain pun berebut ingin berkenalan dengan Septian.
Mungkin karena Septian ganteng, kulitnya putih, tinggi dan tubuhnya atletis.
Tapi berbeda dengan yang lain, gadis yang duduk di didepan Septian justru tidak peduli seakan-akan tidak terjadi apapun di kelas itu
Seketika Septian melirik dengan tatapan terpukau dan bergumam dalam hati. "Apa gadis ini calon istriku? gila cantik banget, siapa namanya jadi kepo gue"
Seakan mendengarkan kata hati Septian tiba - tiba Fina berkata, "hey dia itu Angela teman baikku, primadona di kampus kita sekaligus ketua kelas kita. Saya sarankan jangan deketin dia atau kamu akan dalam bahaya, karena Fikry telah mendekatinya dari dulu."
Setibanya di kantin dia duduk, tidak lama datang seorang cowok tinggi dan dua temen cowoknya di meja Septian. Ternyata mereka adalah Fikry Prasetya dan dua temannya, nyaitu Bayu serta Agus.
"Heh anak baru! jangan sampe lo deketin Angela. atau lu akan berurusan sama gue, paham?" perkataan cowok tersebut sambil menepuk-nepuk pundak Septian dan mengisyaratkan kepada dua temennya untuk duduk di meja tersebut.
Setelah mereka duduk, Fikry memakan makanan yang sebelumnya sudah dipesan oleh Septian. Namun Septian diam saja, tidak menggubris perkataan Fikry dan tingkahnya yang sok keren itu.
Sementara tepat di depan mereka terlihat Angela dan Fina yang duduk sambil menunggu pesanan mereka.
Tak lama seorang pelayan pengantar makanan melewati tempat duduk Septian, "huuh....huuuuuh........huuuuh."
Septian mencium aroma khas seperti bau racun yang tidak asing, seperti pernah menghirupnya. Itu ternyata makanan yang akan diantar ke meja Angela dan Fina.
"Bahaya, jangaaan."
Namun sebelum selesai berteriak, Angela sudah memakannya, kemudian terjatuh dan memegangi lehernya sambil kejang-kejang.
"Toloooong" teriak Fina sambil menggoyang-goyangkan pundak Angela yang mulai tak sadarkan diri.
"Praaaaanggg" Septian meninju mejanya sampai langsung hancur berkeping-keping, dan tangannya pun bercucuran darah. Sejenak Dia menggunakan kekuatan penglihatannya untuk melihat urat nadinya, kemudian menyayatkan pecahan kaca tadi di leher Angela.
Setelah itu diapun langsung menghisap leher Angela, yang kemudian mengeluarkan darah hitam kental.
"uhhuk... uhhuk" suara batuk Angela yang mulai tersadar, dia melihat sepintas mulut Septian yang berlumuran berdarah. Namun karena kondisinya lemah, Diapun tak sadarkan diri lagi.
Septian kemudian langsung membawa Angela keluar kampus untuk mendapatkan pertolongan ke rumah sakit terdekat.
Di sisi lain, beberapa dari mereka merekam kejadian tersebut. Namun beruntung tidak ada yang berani mengunggahnya, karena peraturan kampus yang begitu ketat apalagi pada kasus semacam ini.
-
Sedangkan di depan ruangan rumah sakit.
"Plaaaak....plaaaaaak," tamparan keras mendarat di pipi kedua pengawal Angela.
"Kalian ngapain saja hah? Percuma saya membayar kalian! kerja begini aja gak becus."
"Maaf tuan, tapi kejadiannya di dalam kampus. Kami tidak bisa masuk ke dalam kampus," ujar salah satu pengawal.
"Aku tidak membayar kalian untuk membuat alasan!"
"Sudah mas lagian Angela sudah mendapat perawatan, dia tidak akan kenapa-kenapa." Ibu Angela berusaha menenangkan suaminya.
"Cekreeeek," Pintu ICU terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Tuan, Nona Angela keracunan. Ini adalah racun yang mematikan, harganya mencapai puluhan juta. Bisa membunuh dalam hitungan detik saja, sepertinya ada yang berencana membunuh putri anda. Tapi untungnya ada orang yang saat itu memberikan pertolongan pertama dengan baik, bahkan dokter biasapun belum tentu bisa menanganinya. Anda tidak perlu khawatir, Nona Angela, baik baik saja, saya permisi dulu" ucap dokter berlalu pergi.
-Kembali di kampus.
"Waaawww... hebat banget kamu Septian, bisa melakukan pertolongan pada Angela tadi." kata Fina memuji Septian di dalam kelas, dengan teman teman nya yang ikut kagum terhadap Septian.
"Kebetulan, aku pernah ikut PMI" balas Septian dingin.
"Ayo sebelum pulang kita jenguk Angela dulu di rumah sakit" kata Dewi wakil ketua kelas.
"Setuju" balas beberapa anak kelas.
"Kamu Septian? ikut kan, bareng sama aku yah" tanya Fina yang terlihat mau mengambil kesempatan untuk jalan bersama Septian.
"Gue sibuk, maaf" ucap Septian singkat.
Next..........