My Superhero

My Superhero
Bos Baru



Setelah berada di hotel, Septian akhirnya diserang dengan banyak pertanyaan dari sang istri.


Namun ia lebih memilih untuk menghiraukannya dan malah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Akan tetapi, bukannya berhasil malah justru membuat sang istri makin menjadi.


"Sayang jawab" ucap Angela sambil menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya


"Aku capek yang, besok saja" ucap Septian kesal.


"Sekarang sayang,"


"Emm kenapa kamu suka sekali memaksa yang" ucap Septian kesal.


"Habisnya aku penasaran" ucap Angela melemah.


"Sini peluk terus cium dulu" ucap Septian sambil membuka sebagian selimutnya.


"Muuahh" ciuman Angela pada sang suami setelah memeluknya diatas ranjang.


"Kalau sudah biarkan suamimu ini untuk istirahat ya"


"Baik, suamiku sayang"


Setelah mereka sepakat. Akhirnya Septian menceritakan tentang siapa mereka semua, mulai dari kang Jamal, kelompok maung bodas, pak Ferdian, serta jarum emas yang ia berikan pada istrinya.


Angela yang sedari tadi hanya mengangguk-angguk kecil, sekarang sudah memahami semuanya.


Ia menjadi semakin kagum pada suaminya. Sampai-sampai melupakan kesepakatan yang mereka buat tadi.


Dengan bersemangat Angela menciumi sang suami.


Hal ini membuat mereka berlarut-larut dalam buayan cinta.


"Sekarang ya sayang, aku gak bisa tahan lagi" ucap Angela memohon.


Septian yang sudah kehabisan alasan, serta tidak ingin membuat sang istri kecewa hanya bisa pasrah.


Akhirnya merekapun melakukan ritual yang seharusnya terjadi dari dulu.


Setelah memuaskan sang istri, merekapun akhirnya terlelap sampai pagi.


Saat pagi menjelang, Septian yang terbangun terlebih dahulu, menyuruh adiknya untuk pulang duluan.


"Sayang, cepat mandi, kita harus siap-siap" ucap Septian saat melihat sang istri susah terbangun dari tidurnya.


"Mau kemana sayang" ucap Angela.


"Pokoknya cepat siap-siap"


"Tapi, punyaku masih sakit yang" ucap Angela.


"Gak ada alasan. Lagian semalam juga kamu yang mau"


"Beneran sayang sakit"


"Ya sudah istirahat dulu, aku mau keluar beli sarapan" ucap Septian berlalu keluar.


Dan setelah kembali dan membuka pintu, Septian tidak melihat sang istri ditempat tidurnya.


Saat hendak menutup pintu, kemudian sang istri memeluknya dengan erat dari belakang. Yang membuat makanan yang ia bawa terjatuh ke lantai.


"Ngagetin yang" ucap Septian sedikit kesal.


Tanpa menjawab Angela dengan semangat yang masih terus membara, kembali menciumi sang suami dan menariknya hingga terjatuh diatas ranjang.


Setelah cukup lama, akhirnya Angela berhenti dan berbisik pada suaminya.


"Sayang, lanjutin yang semalam ya"


"Bukannya masih sakit?" tanya Septian.


"Iya, tapi kepengen lagi"


"Ya sudah, buka bajunya"


"Bukain sama kamu yang" ucap Angela manja.


"Dih udah kamu yang minta, enak maen menyuruh-nyuruh saja" ucap Septian sambil membukakan satu persatu pakaian sang istri.


Angela hanya tertawa mendengarkan perkataan dari suaminya.


Setelah aktivitas itu telah berakhir, Septianpun akhirnya mengajak sang istri untuk pergi ke sebuah tempat.


Perjalanan yang ditempuh lumayan lama. Karena Septian mengajak sang istri pergi ke sebuah bukit, yang indah nan sejuk disana.


Setelah tiba, merekapun duduk dan beristirahat di bawah pohon. Disertai perbincangan hangat dari pasangan muda ini.


"Sayang kenapa kita kesini" ucap Angela.


"Ini tempat latihan kamu? Emang kamu latihan apa disini?" ucap Angela polos.


"Apa kamu ingat, metode lempar jarum yang aku ajarkan sama kamu dirumah?"


"Ingat, emangnya kenapa?"


"Itu metode latihan yang ayah ajarkan pada ibu, bahkan aku sama Febrian juga ikut latihan. Namun tidak bisa sehebat ibu" ucap Septian mengingat-ingat.


"Berarti ibu kamu hebat dong,"


"Sangat hebat, sama dengan kamu. Cuma bedanya, kalau ibu bisa membidik target yang sangat jauh, kalau kamu bisa menggunakan kedua tanganmu secara bersamaan" ucap Septian tetap fokus ke depan.


"Tapi, kamu sama Febrian bisa jugakan?"


"Ya kalau bisa sih bisa cuma kalah jauh kalau dibandingkan sama kamu dan ibu"


"Terus kita mau latihan bareng?" tanya Angela.


"Akukan pelatih, sama ikut latihan" ucap Septian sambil melirik pada sang istri.


"Masa muridnya lebih jago daripada pelatihnya" ucap Angela bangga.


"Tapi secara teori aku lebih hebat daripada kamu" ucap Septian mencubit hidung sang istri.


Septian kemudian mengambil beberapa jarum dan juga penutup mata dari dalam tas punggungnya.


Setelah memberikan pada sang istri dan menutup matanya, Septian menyuruh Angela untuk menembakan jarum kepada batang pohon yang dihinggapi burung-burung, dengan mendengar kicauannya.


Hal ini bertujuan agar melatih kekuatan serta fokus tinggi dari sang istri, mengingat banyaknya suara kicauan burung, serta jarum yang harus melawan arah angin yang cukup kencang.


Setelah berlatih cukup lama, Septianpun sangat bangga dengan perkembangan pesat dari sang istri.


Prok...prok....prok..


Suara tepukan tangan beberapa orang yang membuat Septian melirik kearah mereka.


"Kang Jamal" ucap Septian setelah melihat kang Jamal, beserta anggota kelompok maung bodas yang cukup banyak.


"Saya berpikir aden akan kesini, ternyata benar" ucap kang Jamal menghampiri Septian.


"Iya kang, saya merindukan tempat ini" ucap Septian.


"Sama den, akang juga tidak kesini lebih dari 10 tahun" ucap kang Jamal.


"Oh iya ada apa akang kesini?" tanya Septian.


"Akang mau bicara soal kepemimpinan kelompok maung bodas. Namun malah disuguhkan dengan kemampuan nona yang sangat hebat den" ucap kang Jamal melirik Angela.


"Saya jadi malu" ucap Angela.


"Kenapa membicarakannya dengan saya? bukankah akang memimpin mereka dengan baik?"


"Tidak den, akang merasa tidak pantas. Lagian ayah den Septian yang mendirikannya, jadi aden yang lebih pantas"


"Ya sudah. Tapi saya minta, Kang Jamal yang tetap mengelolanya"


"Baik den, tapi jangan menolak, kalau aden lagi di Bandung mendapatkan banyak pengawalan"


"Iya kang, terima kasih. Kalau nanti ada masalah jangan lupa hubungi saya kang"


"Siap den" ucap kang Jamal menunduk dan diikuti semua anggota maung bodas yang berada disana.


"Sekarang sudah sore, kami balik ke hotel duluan kang" ucap Septian sambil mengemasi barang-barangnya.


"Baik den, mari saya antar" ucap kang Jamal diikuti semua anak bawahnya dari belakang.


"Terima kasih kang"


Setelah menjelang malam, akhirnya mereka sampai di depan hotel dan membuat semua tamu hotel yang lain terkejut, saat melihat banyak anggota maung bodas mengawal seorang pemuda yang menggunakan sepeda motor.


"Siapa dia?"


"Apakah dia pemimpinnya?"


"Tidak mungkin maung bodas yang terkenal disini hanya dipimpin oleh seorang pemuda biasa"


Ucapan beberapa orang dari belakang kerumunan.


"Sampai sini saja kang" ucap Septian.


"Baik den, kalau aden ada perlu apa-apa, hubungi akang saja den" ucap kang Jamal.


"Pasti kang, terima kasih" ucap Septian berlalu sambil menggandeng tangan sang istri


"Sama-sama den, selamat malam" ucap kang Jamal yang hanya di jawab dengan lambaian tangan.


Next.......