My Superhero

My Superhero
Terungkap



Tok.....tok....tok....


"Bibi bawa makan siang" ucap bi Minah.


"Masuk saja bi" ucap Angela terbangun dari tidurnya.


Kemudian setelah bi Minah masuk, Angela baru tersadar bahwa Septian sudah tidak di kamarnya.


"Bi, lihat suami saya gak" ucap Angela panik.


"Den Septian dihalaman belakang non" ucap bi Minah sambil menaruh makanannya.


Tanpa pikir panjang. Angela langsung menghampiri Septian, yang lagi-lagi cuma duduk dan melamun saja.


"Sayang, kamu kenapa melamun? Mikirin apa sih?" ucap Angela lalu duduk disampingnya.


"Aku lagi mikir. Bagaimana reaksi kalian, jika aku pergi?" ucap Septian.


"Pergi kemanapun itu, pokoknya aku ikut" ucap Angela sambil menyenderkan tubuh dilengan suaminya.


"Kalau aku tinggal gimana?"


"Aku ikutin dari belakang"


"Ada-ada aja kamu" ucap Septian sambil mengelus rambut Angela.


"Emang, kamu mau pergi kemana yang?"


"Ke kantor" ucap Septian singkat.


"Dih, cuma ke kantor pake segala drama kamu yang"


"Tapi kata istriku kemarin, aku harus pamit kalau mau kemana-mana?" ucap Septian menggoda.


"Iya juga sih. Eh sayang, tapi kenapa kamu kemarin ninggalin aku sendiri" ucap Angela menatap Septian.


"Aku kemarin gak mau ganggu moment bahagia kalian. Lagian aku pikir kamu sudah hebat, jadi bisa melakukan apapun sendiri"


"Tapi sayang, sehebat apapun aku. Aku itu akan selalu membutuhkanmu, karena kamu my superhero." ucap Angela bangga.


"Oh ya?"


"Iya sayang, lagian aku bisa seperti ini juga karena kamu yang ngajarin, jadi kamu punya hak atas kemampuan aku"


"Kalau gitu, tutup mata"


"Kok nyuruh menutup mata? Awas kalau macam-macam?" ucap Angela sambil menutup mata.


"Buka" ucap Septian setelah memberikan sebuah kalung berlian yang sangat mewah.


"Wah bagus banget, terima kasih sayang" ucap Angela yang langsung memeluk Septian.


"Sama-sama. Itu hadiah atas keberhasilan kamu"


"Aku suka banget. Tapi, pasti mahalkan, beli dimana?" ucap Angela lalu melepaskan pelukannya.


"Itu dibuat khusus di perusahaan ayah, Nana juga dapat, kalau aku sama Febrian dapat ini" ucap Septian sambil menunjukan gelang di tangan kirinya.


"Bagus sayang, apa ini kamu yang desain?" ucap Angela sambil melihat gelang suaminya.


"Ini rancangan khusus, aku gak bisa soal beginian, yang bisa cuma Febrian. Tapi, dibantu ayah"


"Aku boleh pinjam sayang" ucap Angela sambil berupaya melepaskannya dari tangan Septian.


"Gak boleh sayang"


"Kenapa? Sama istri sendiri juga"


"Bukan begitu. Gelang ini, sama kalung kamu itu, sudah terpasang alat pelacak yang terkoneksi ke perusahaan sama handphone ayah"


"Kok bisa? Emang buat apa? Lagian kita gak bakalan kabur"


"Masa lebih pinteran Nana daripada kamu?"


"Aku serius sayang malah ngeledek" ucap Angela kesal.


"Kalau nanti kita kenapa-kenapa. Seperti aku kemarin pergi tanpa izin terus kamu diculik, ayah akan lebih mudah menemukan kita. Paham sayang?" ucap Septian sambil mencubit pipi sang istri.


"Iya paham, tapi lepasin sakit tahu" ucap Angela sambil memegangi pipinya.


"Cepetan mandi, bangun tidur malah langsung kesini. Jorok amat punya istri"


"Jangan nuduh sembarangan, aku sudah mandi tadi"


"Mandi dalam mimpi, itu ilernya masih kelihatan" ucap Septian sambil menunjuk pipi Angela.


"Mana? Gak ada" ucap Angela panik.


"Cepat mandi, atau aku yang mandiin" ucap Septian sambil tersenyum licik.


Angela yang panik tidak menjawab malah berlari masuk.


Setelah Angela pergi.


Ting.....


Suara pesan masuk di hp Septian dari adiknya.


Kak, aku diperusahaan. Cepat kemari, Ada hal penting yang mau aku bicarakan.


Tidak ingin kejadian kemarin terjadi, sekarang ia telah izin kepada pak Demian.


Sempat dilarang karena kondisinya masih belum pulih total, namun ia berhasil meyakinkan dengan alasan jarum emas yang dibuat sudah selesai.


Septian bergegas pergi dengan menggunakan sebuah mobil.


Setiba di ruangannya, Febrian menarik tangan Septian dan berbisik. "Kakak kesini sendiri".


"Iya kenapa"


"Lihat ini kak" ucap Febrian sambil menunjukan sebuah foto di Laptop kakaknya.


"Bu Lisa, kenapa dengannya?"


"Dia adalah adik dari ibunya Angela?"


"Adik kandung?" ucap Septian heran.


"Satu ayah tapi beda ibu"


"Itu saja?"


"Dia juga orang yang meracuni ayah, ibu dan kak Angela. Kalau kak Roby ia cuma kambing hitam. Biar mengalihkan fokus kita"


"Kamu pinter juga, tapi kakak sudah tahu kalau bu Lisa pelakunya" ucap Septian santai.


"Terus kakak diam saja, bukannya mau balas dendam?"


"Kamu masih tertipu permainan ini?" ucap Septian sambil menepuk bahu adiknya.


"Maksud kakak apa"


Septian tidak menjawab, kemudian ia membuka sebuah folder di laptopnya.


"Lihat ini" ucap Septian sambil menunjukan beberapa gambar racun dan tanaman serta obat penawarnya.


Febrian yang tidak mengerti mengerutkan keningnya dan berkata "Apa ini kak?"


"Ini racun yang digunakan bu Lisa buat meracuni Angela?" uca Septian setelah menutup laptopnya.


"Bukannya racun ini sangat berbahaya?"


"Sok tahu? Kata siapa?"


"Kata Nana, dia bilang kata ayahnya, dan ayahnya kata Dokter"


"Sekarang kau tahu kelemahan Nana?" ucap Septian berbisik.


"Gak tahu, emang apa?" ucap Febrian semakin keheranan.


"Dasar kau. Jadi gini, Nana itu tidak bisa kau bohongi, namun aku bisa membohonginya"


"Caranya gimana?"


"Caranya, aku cuma harus membohongimu agar kau percaya, dan setelah kau percaya. Kau yang menyampaikannya sama Nana"


"Aku masih gak ngerti kak?


"Dengan kata lain, aku berbohong padamu, namun kau jujur pada Nana" ucap Septian.


Febrian kemudian terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Jadi maksud kakak. Dokter itu berbohong pada ayahnya Nana? ucap Febrian.


Septian hanya menjawab dengan anggukan.


"Kenapa dia berbohong"


"Kakak juga kurang tahu, tapi kakak yakin, entah itu ibunya atau siapa. Yang jelas, ada orang selain kita yang tahu kekuatan Nana"


"Kok malah jadi bahas Nana sih kak" ucap Febrian kesal karena masih belum mengerti.


"Kenapa kau selalu bertanya? Katanya kau pintar?" ucap Septian berbelit.


Febrian lagi-lagi dibuat keheranan dengan jawaban yang tidak jelas dari kakaknya.


Septian yang kasihan kepada adiknya kemudian berterus terang.


"Baik, aku cerita sama kamu. Tapi lihat dulu apa disini ada penyadap suara sama kamera pengintai gak" ucap Septian sambil melihat sekeliling.


"Tidak ada kak" ucap Febrian.


"Racun ini tidak dibuat untuk membunuh, hanya untuk melumpuhkan saja" ucap Septian pelan.


"Yang benar kak?" ucap Febrian tidak percaya.


"Apa kau ingat perkataan kang Jamal, pas kita bilang kalau ayah sudah meninggal?"


"Ingat. Katanya ayah orang hebat semacam ilmuan gitu, terus kenapa?"


"Terus kenapa, terus kenapa. Ayah dan ibu itu masih hidup, jadi belum meninggal"


"Apa? Gak mungkin kak, ayah dan ibu sudah meninggal" ucap Febrian tidak mempercayai ucapan Septian.


Next......