
"Nona tidak apa-apa, cuma syok dan kelelahan. Namun usahakan itu jangan sampai terjadi lagi, karena sekarang ia sedang hamil" ucap dokter.
"Hamil?"
"Iya, baru satu bulan. Kalau begitu saya permisi dulu tuan, nyonya" ucap dokter sambil menunduk lalu pergi.
Entah perasaan senang atau sedih, mengingat mereka masih berduka atas kepergian Septian.
Nana yang beberapa hari ini sangat lengket dengan sang kakak, semakin tidak bisa berjauhan.
Setelah beristirahat cukup lama, Angela akhirnya terbangun dan melihat sang adik tertidur pulas disampingnya.
"Nana bangun, kak Lala lapar" ucap Angela pelan.
"Iya kak, Nana ambilkan ke dapur" ucap Nana setengah sadar lalu beranjak pergi.
Nana lalu membawa nampan berisi makanan lengkap dengan buah-buahan.
"Nana suapin ya kak?"
Angela hanya mengangguk.
"Kak, mulai sekarang Nana yang merawat kak Lala sama bayinya" ucap Nana polos.
Angela tidak menjawab hanya mengangguk, namun kali ini diiringi dengan deraian air mata.
"Kak Lala jangan nangis, Nana jadi ikutan sedih" ucap Nana dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Angela yang tidak bisa menahan tangisnya langsung memeluk sang adik.
Akhirnya merekapun berpelukan dengan tangis di keduanya.
"Nana jangan tinggalin kak Lala ya, Nana harus bantuin merawat bayi kak Lala" ucap Angela tersedu-sedu.
"Iya kak, Nana pasti akan selalu ada buat kak Lala. Sekarang kak Lala tidur jangan nangis lagi" ucap Nana sambil melepaskan pelukannya.
Di tempat lain, perjuangan kakek Sagara akhirnya membuahkan hasil, dikarenakan cucunya sekarang sudah siuman.
Kendati demikian, kakek Sagara tidak menanyakan apapun sampai keadaanya benar-benar pulih dan diperbolehkan untuk pulang.
Setelah tiga hari berlalu, dokter menyatakan mereka boleh pulang karena sang cucu sudah sembuh total.
Tiba di rumah sederhana kakek Sagara, beliau mempersilahkan cucunya masuk dan memberikan makanan serta mengajaknya untuk berbicara.
"Nak, apa kamu mengingat sesuatu?" ucap kakek Sagara.
"Tidak kek, yang saya tahu cuma nama dan kekuatan saya saja" ucap cucunya.
"Tidak apa-apa jangan dipaksakan, nanti kamu juga akan ingat"
"Iya kek"
"Ini ada beberapa baju anak saya, pake saja ukurannya pas, dan juga kamu sangat mirip dengannya saat dia masih muda" ucap kakek Sagara sambil menyerahkan setumpuk baju.
"Terima kasih kek, tapi anaknya kakek pada kemana?"
"Mereka sepertinya menganggap kakek sudah meninggal" ucap sang kakek bersedih.
"Terus kenapa kakek tidak menemui mereka. Pasti mereka merindukan kakek"
"Kakek tidak ingin membuat mereka kembali bersedih pada saat kakek benar-benar meninggalkan mereka nantinya"
"Iya sih tapi kek...."
"Sudah, sana ganti baju terus istirahat" ucap kakek Sagara sambil berjalan keluar.
Keesokan paginya, kakek Sagara melihat sang cucu baru keluar dari kamarnya dengan telanjang dada.
"Pagi-pagi begini gak pake baju? Gak kedinginan emangnya" ucap kakek Sagara kepada cucunya.
"Tidak kek justru saya kepanasan"
"Kamu ini ada-ada aja, ya sudah sana mandi"
"Baik kek" ucap cucunya lalu berbalik dan hendak pergi.
Namun ditahan sang kakek ketika melihat tanda lahir berbentuk setengah hati di pundak kirinya.
"Ada apa kek?" ucap cucunya keheranan.
"Kamu cuma ingat nama? Apakah nama kamu Septian?" ucap kakek Sagara.
"Iya kek, aku Septian cucu kakek. Masa kakek lupa" ucap cucunya yang ternyata bernama Septian.
Setelah Septian duduk, kakek Sagara menceritakan semua yang terjadi padanya, mulai dari kecelakaan hingga ia berada di rumah kakek Sagara.
Septian terkejut mendengar hal itu, kemudian ia merasakan kepalanya sangat kesakitan hingga ia pingsan.
Setelah Septian terbangun, ia kembali terkejut. Karena melihat dirinya telah berada di dalam sebuah ruangan seperti labolatorium.
"Ini dimana kek" ucap Septian melihat kakeknya sedang sibuk dengan peralatan lengkap seperti seorang ilmuan.
"Di ruangan kerja kakek" ucap kakek Sagara tanpa menoleh.
"Kakek ilmuan?"
"Bisa di bilang begitu, tapi kamu jangan kasih tahu siapapun"
"Kenapa? Bukankah itu hebat"
Kakek Sagara tidak menjawab, ia justru menghampirinya, dan kemudian memasangkan sebuah jam tangan pada lengan kanan Septian.
"Jam tangan apa ini kek? kok tombolnya banyak" ucap Septian setelah melihat jam tangan tersebut.
"Ini jam tangan Overtime" ucap sang kakek.
"Overtime?"
"Iya, jam ini bisa membuat kamu masuk kedalam Overtime, dan bisa membuat kamu bergerak sangat cepat"
"Septian yang awalnya tidak mempercayai sang kakek, kemudian ia menekan salah satu tombol, dan alhasil ia melihat sang kakek seperti bergerak sangat lambat"
Kakek Sagara hanya tersenyum melihat kecerdasan dan kemampuan Septian, yang tidak perlu belajar menggunakannya dan hanya perlu sedikit beradaptasi.
Setelah Septian keluar dari Overtime, ia menanyakan kepada sang kakek bagaimana menguasai Overtime secara sempurna.
Si kakek menjelaskan kalau orang biasa yang mempelajarinya akan membutuhkan waktu sekitar paling rendah 10 tahun.
Namun bagi Septian ia tidak perlu khawatir, dikarenakan ia didukung oleh kemampuan hypotesis prediksi serta panca indera yang tajam.
Paling tidak dalam waktu 3 tahun Septian akan mampu menguasai Overtime secara sempurna.
Akan tetapi, meskipun Septian bersikeras akan menguasainya, ia malah mencurigai kakek Sagara.
"Siapa kakek sebenarnya? Mengapa kakek mengetahui kemampuanku?" ucap Septian menatap tajam sang kakek.
"Nanti kamu juga akan tahu" ucap kakek Sagara.
Mendengar kata-kata itu membuat Septian seperti mengingat seseorang. Akan tetapi, sebelum mengingat dengan jelas ia keburu pingsan.
Setelah kakek Sagara membawanya ke kamar dan menyadarkannya. Septianpun di diminta untuk istirahat beberapa hari sebelum latihan menguasai Overtime.
Setelah beberapa hari beristirahat Septian akhirnya memulai latihannya.
Namun kakek Sagara menjelaskan, bahwa objek yang bergerak akan sangat berbahaya daripada objek yang terdiam.
Jadi dia harus sangat berhati-hati dan fokus, serta menggunakan panca inderanya dengan baik.
Seperti latihan pada umumnya, kakek Sagara juga tidak ingin mengambil resiko, dengan melatihnya secara bertahap. Mulai dari titik termudah sampai titik tersulit.
Setelah latihan keras yang ia lalui bahkan tanpa sadar.
Hari telah berganti hari.
Minggu telah berganti minggu.
Bulan telah berganti bulan.
Tahun telah berganti tahun.
Tepat seperti dengan ucapan sang Kakek, yaitu Septian akan menguasai Overtime sepenuhnya setelah belajar dalam waktu tiga tahun.
Bukan hanya menguasai Overtime, ia juga sekarang telah mengingat beberapa orang, kejadian dan peristiwa yang ia alami tiga tahu lalu.
Dan orang yang pertama kali ia ingat ialah adiknya Febrian, kemudian ayah dan ibunya.
Bahkan ia juga sebenarnya sudah mengingat Angela, Nana dan orang tuanya.
Meski begitu, ia tidak ingin pergi begitu saja mengingat ucapan dari sang kakek, kalau dia kembali, orang yang sudah merelakannya akan lebih menderita ketika Septian telah benar-benar pergi.
Bukan cuma itu saja, ia juga ingin membalas budi kepada sang kakek, dengan menemaninya karena beliau hidup sebatang kara.
Next......