
"Ya sudah, kami mau maen dulu sama Septian kecil. Kalian jangan lama-lama ributnya, gak enak sama yang lain. Ayo yah," ucap ibunya Angela pergi serta mengajak suaminya.
"Sekalian panggilkan Nana ya bu," pinta Septian ketika mereka hendak menutup pintu.
Setelah menutup pintu lalu keluar, selang beberapa menit Nana masuk seorang diri.
"Kalian bantuin kakak ya," pinta Septian kepada Nana san Febrian.
"Bantuin apa kak?" tanya Nana dan Febrian Serentak.
"Menyelamatkan orang tua kakak," ucap Septian.
Mendengar ucapan Septian, Angela dan Nana terkejut, terlebih lagi Febrian.
"Hah! Emang orang tua kak Septian masih hidup?" tanya Nana.
"Iya, mereka sekarang sedang berada di luar negeri," ucap Septian.
"Dari mana kakak tahu?" tanya Febrian.
"Itu gak penting. Sekarang kakak mau jelasin dulu kemampuan kita," jawab Septian.
"Aku sudah tahu kemampuan kakak sama kak Angela," ucap Febrian.
"Iya, tapi kamu belum tahu kemampuan Nana, terus kak Angela belum tahu kemampuan kamu," ucap Septian.
"Emang kemampuan Nana apa sayang?" tanya Angela.
"Nana bisa membaca suara hati dan pikiran seseorang," ucap Septian.
"Hah, kok bisa? Aku gak percaya Nana bisa sehebat itu," ucap Angela.
"Sayang kamu mau makan apa sekarang? Jawab dalam hati," pinta Septian.
Angela tidak menjawab kemudian memikirkan sesuatu yang ingin dia makan.
"Pizza," ucap Nana.
Angela menggelengkan kepala seolah tidak percaya dengan apa yang adiknya sebutkan, namun ia tidak bisa mengelak karena ucapannya benar.
"Benarkan sayang," ucap Septian meyakinkan.
Angela hanya mengangguk karena masih terkejut pada kenyataan.
"Kalau kekuatan Febrian sama dengan kakak yaitu, hipotesis prediksi. Namun panca indra serta fisiknya masih lebih unggul kak Septian. Akan tetapi, hipotesis prediksinya dua kali lebih luas serta akurat dari kakak," ucap Septian.
"Maksudnya kak? Nana tidak paham," tanya Nana.
"Jadi gini, kalau kakak bisa memprediksi musuh dalam jarak 10 meter dengan waktu 10 detik, maka Febrian mampu melakukannya dalam jarak 20 meter dengan waktu 5 detik," jawab Septian.
Jawaban Septian kemudian di iyakan oleh adiknya, yang membuat Nana dan Angela terkejut seakan tidak percaya.
"Terus, apa yang bisa kita bantu?" tanya Nana.
"Kakak mau ngajak kalian ke Malaysia, kalian cukup menurut saja," jawab Septian.
"Ayah dan ibu ada di sana?" tanya Febrian.
"Iya, tapi sebelum kalian ke sana, ambil ini!" jawab Septian sambil memberikan tiga kacamata hitam.
"Wah bagus, kacamata apa ini" puji Febrian.
"Septian sunglasses teknology, kacamata itu dilengkapi dengan kamera, gps serta sensor tanda bahaya, namun fungsinya sama seperti kacamata biasa," ucap Septian.
"Dapat dari mana kamu sayang?" tanya Angela yang masih fokus melihat kacamata tersebut.
"Gak usah tanya soal itu," jawab Septian.
"Punya kak Septian mana?" tanya Nana.
"Tidak punya, karena kacamata itu bisa menggangu konsentrasi pendengaran kakak," jawab Septian.
""Terus, jam tangan itu pasti canggih, kenapa kita gak dikasih?" tanya Angela.
"Jam tangan ini itu overtime, bisa membuat kita bisa bergerak sangat cepat. Kalau kamu mau, kamu bisa berlatih terlebih dahulu selama sepuluh tahun," jawab Septian.
"Waw, hebat. Pantesan waktu itu kamu bisa menghindar dari jarum emasku," ucap Angela.
"Tapi kak, kenapa belum sepuluh tahun kakak sudah bisa?" tanya Nana.
"Ini itu dirancang khusus buat orang seperti kakak sama Febrian, jadi cuma butuh tiga tahun buat kakak menguasainya," jawab Septian.
"Jangan bilang, orang yang bikin kacamata ini sama jam tangan itu orang yang sama," ucap Febrian.
"Pikirkan saja sendiri, kakak sedang bingung nyari alasan sama Septian kecil biar bisa pergi ke Malaysia," ucap Septian.
"Kenapa gak diajak saja?" tanya Nana.
"Dia sama sepertiku, bahkan dia lebih hebat." ucap Nana.
Ucapan Nana membuat mereka bertiga terkejut, apalagi Septian dan Angela.
Mengingat Nana tidak pernah berbohong kepada mereka, hal itulah yang membuat Septian dan Angela percaya.
"Lebih hebat maksudnya?" tanya Septian.
"Dia bisa merasakan aura seseorang. Kalau orang itu baik Septian kecil senang, namun kalau orang itu jahat Septian kecil akan marah," jawab Nana.
"Namun tetap saja, kakak tidak mau mengajaknya karena berbahaya." ucap Septian.
"Tapi menurut Nana, kalau Septian kecil ikut. Tidak akan ada yang menyangka kalau kita sedang menjalankan sebuah misi. Lagian Septian kecil pasti akan memaksa ikut," ucap Nana.
"Iya juga sih. Tapi, jika nanti ada sesuatu yang membahayakan biar kak Septian sama Febrian saja, kalian bertiga harus tetap aman," ucap Septian.
"Baik kak," ucap Nana.
"Sekarang kalian boleh keluar, terus suruh bi Minah antar Septian kecil kesini," ucap Septian.
Nana dan Febrian hanya mengangguk lalu pergi dari kamar Septian.
Tak lama, bi Minahpun datang dengan menggendong Septian kecil.
"Sini sayang, biar mama gendong," ucap Angela lalu menggendong putranya.
"Kalau begitu bibi permisi non," ucap bi Minah lalu pergi setelah melihat Angela mengangguk.
"Sayang, besok papa sama mama mau pergi ke perusahaan opa. Kamu mau ikut?" tanya Septian.
"Mau, asal papa yang gendong Septian. Soalnya kasihan sama mama, kemana-mana mama terus yang gendong Septian," jawab Septian kecil.
"Kalau begitu, bilang terima kasih sama mama," pinta Septian.
"Terima kasih ma," ucap Septian kecil sambil memeluk Angela.
"Sama-sama sayang, kamu itukan jagoan mama. Jadi sudah kewajiban mama," jawab Angela.
Setelah berpelukan cukup lama antara ibu dan anak, Septian kecil berbalik melihat ayahnya.
"Papa minta uang, buat beli mainan lagi," ucap Septian kecil.
"Minta uang, kenapa gak minta sama mama?" ucap Septian.
"Kata mama, papa itu habis kerja jauh banget, pasti banyak uangnya," jelas Septian kecil.
"Nanti papa kasih, sekarang ambil hadiah dari papa," ucap Septian.
"Apa ini pa?" tanya Septian kecil.
"Itu jam tangan buat jagoan ayah," jawab Septian ketika putranya telah mengambil jam itu.
"Ini sama kayak punya papa?" tanya Angela.
Septian yang mengerti maksud dari pertanyaan Angela, hanya menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Mama pasangin," pinta Septian kecil.
"Mama tidak bisa, coba minta pasangin sama papa," ucap Angela setelah mencoba beberapa kali.
Septian lalu memasangkan jam tersebut kepada putranya dengan cara yang tidak biasa.
Pasalnya, jam tersebut hanya bisa dipakai oleh orang yang di terima oleh jam itu sendiri.
Dengan kata lain, jam itu tidak akan bisa dipakai oleh sembarang orang, dan jika sudah terpasang, cuma bisa dilepas oleh sang pemiliknya saja.
Angela tahu itu bukan jam sembarangan, karena ukuran, warna serta hitungan waktu disana berubah ketika dipakai putranya.
Namun ia tahu Septian tidak akan menyakiti putranya, jadi ia pasrah saja meskipun ia sendiri penasaran tentang jam tangan super itu.
"Sudah sayang, ayo kita jalan-jalan," ucap Septian setelah memasangkan jam tangan pada putranya yang cukup lama.
"Ayo pa, tapi mama diajak ya," jawab Septian kecil.
"Mama biarin disini aja, nanti papa dimarahin kalau mama ikut," ucap Septian berbisik.
"Mau kemana? Kok mama gak diajak?" tanya Angela sambil mencubit perut suaminya.
"Aw, sakit ma. Papa bercanda kok," ucap Septian menahan sakit.
"Mama harus ikut kemanapun kalian pergi," ucap Angela sambil melepaskan cubitannya.
Septian sibuk mengusap perutnya yang kesakitan, karena ulah sang istri.
Next.....