
Angela memutuskan untuk tidur di samping Septian, setelah orang tuanya meminta kepada mereka semua, untuk tidak mengajukan pertanyaan yang dapat membuat Septian terbebani.
Keesokan harinya, Angela terbangun dari tidur karena mendengar teriakan jagoan kecilnya.
"Mama," teriakan Septian kecil.
Angela menghampiri dan menggendong anaknya.
"Kenapa sayang?" tanya Angela.
"Papa dimana?" Septian kecil balik bertanya.
"Papa lagi tidur," jawab Angela.
"Ayo kita bangunin," ajak Septian kecil.
"Jangan, kasihan papa lagi sakit," ucap Angela.
"Emangnya papa sakit apa ma?" tanya Septian kecil sambil mengerutkan dahi.
"Papa cuma kecapean, ayo sini peluk papa," ucap Septian yang baru terbangun.
Angela lalu menurunkan Septian kecil agar bisa memeluk ayahnya.
Setelah berpelukan cukup lama, Septian kecil melepaskan pelukannya.
"Papa ganteng, mirip sama Septian," ucap Septian kecil sambil menyentuh kedua pipi ayahnya.
"Oh ya? Tapi gantengan anak papa," ucap Septian.
"Terima kasih papa," ucap Septian kecil.
Septian tidak menjawab malah tersenyum sambil memegangi rambut tipis anaknya.
"Sudah sayang, kita mandi dulu biar wangi," ucap Angela sambil menggendong anaknya.
"Tapi ma, masih mau ngobrol sama papa," ucap Septian kecil sambil berontak.
"Nanti dilanjut lagi, kasihan papa," ucap Angela berlalu ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi serta memandikan anaknya, Angela lalu menitipkan Septian kecil kepada Nana, karena alasan ingin mengobrol sama suaminya.
Angela lalu pergi ke dapur untuk mengambil makanan, serta menyuapi Septian di kamarnya.
"Aaa," pinta Angela sambil menyodorkan sendok ke mulut Septian.
"Cukup dengarkan saja, jangan bicara selagi makan," pinta Angela.
Septian hanya mengangguk.
"Dia memang anak kita, jika tidak percaya bisa tes DNA."
"Dia sama sepertiku, ketika dia marah. Dia meleparkan semua mainan dengan kedua tangannya secara bersamaan."
"Untuk kekuatan lainnya aku belum tahu. Tapi kalau kecerdasannya tidak bisa diragukan lagi."
Ucapan Angela sambil menyuapi suaminya, sedangkan Septian hanya menjawab dengan mengangguk sesuai perintah Angela.
Setelah selesai makan, Septian akhirnya berbicara.
"Aku percaya kalau dia anakku. Maaf, aku tidak bisa membantumu selama ini," ucap Septian pelan.
"Jangan minta maaf, ini bukan salahmu. Takdir kita mungkin seperti ini," ucap Angela.
"Kenapa kau memberi nama Septian padanya?" tanya Septian.
"Habisnya, aku harap dia bisa sepertimu. Benar saja, aku melihat sosok dirimu padanya. Dan juga, dia pasti memiliki kekuatan sepertimu," jawab Angela.
"Tapi, aku mau dia seperti anak kecil pada umumnya, jangan biarkan dia menjadi superhero di usia anak-anak," pinta Septian.
"Aku juga berfikiran seperti itu," balas Angela.
"Ya sudah. Sekarang peluk suamimu ini, aku sangat merindukanmu," ucap Septian sambil tersenyum.
"Aku juga sangat merindukanmu," ucap Angela sambil memeluk suaminya.
"Apa aku boleh tahu? Apa yang terjadi padamu hingga seperti ini?" tanya Angela.
"Apapun untuk istriku, tapi pelan-pelan. Soalnya, tiga bulanpun belum selesai kalau aku cerita," jawab Septian.
Angela hanya mengangguk.
"Masuk, jangan nguping,"
Angela kebingungan mendengar ucapan suaminya. Namun tak lama, pintu terbuka lalu masuk kedua orang tuanya beserta Febrian dan Nana.
Hal itu membuat Angela terkejut, namun ia cuma bisa pasrah, ketika Septian memeluknya dengan semakin erat.
Septian kecil juga ikut dalam pelukan mereka, setelah melihat kedua orang tuanya berpelukan.
"Iya yah, lagian sekarang kami punya jagoan kecil, akan sangat berbahaya jika tinggal apartment," ucap Septian sambil melirik jagoan kecilnya.
"Maksudnya kak?" tanya Febrian.
"Gak ada maksudnya. Sekarang om Febrian sama tante Nana peluk sini," pinta Septian sambil merentangkan kedua tangannya.
"Gak boleh, cuma Septian sama mama yang boleh peluk papa," ucap Septian kecil sambil berusaha melepaskan pelukan mereka.
"Tidak boleh begitu sayang, om Febrian sama tante Nana juga merindukan papa," ucap Angela sambil mengendong Septian kecil.
"Iya sayang, oma sama opa juga kangen mau peluk papa," ucap ibunya Angela sambil mendekati Septian lalu memeluknya.
"Tapi jangan lama-lama," pinta Septian kecil yang membuat mereka tertawa.
"Ya sudah, sini papa peluk," ucap Septian sambil memeluk Septian kecil.
"Bagaimana kondisimu? Apa sudah baikan?" tanya pak Demian.
"Sudah yah, malahan Septian besok mau ngajakin Nana sama Febrian ke perusahaan," ucap Septian keceplosan.
"Jadi, papa namanya Septian juga?" tanya Septian kecil.
"Coba tanya sama mama," pinta Septian sambil melirik Angela.
"Ma," ucap Septian kecil, namun hanya dijawab senyuman.
"Emang mau ngapain ke sana?" tanya pak Demian.
"Nanti juga ayah tahu," jawab Septian.
"Nana, ajakin Septian kecil keluar sebentar, kakak mau bicara penting sama ayah dan ibu," ucap Septian dalam hati.
Nana hanya mengangguk lalu mengajak Septian kecil keluar.
Setelah mereka pergi, Septian lalu memperlihatkan jam tangan overtime, yang ia dapatkan dari kakek Sagara.
"Ayah tahu apa ini?" tanya Septian menunjuk jam tangan miliknya.
Pak Demian beserta istrinya terbelalak melihat jam tangan tersebut.
"Ka, kamu dapat dari mana?" tanya pak Demian terbata-bata.
"Septian tidak bisa menjawab semua pertanyaan ayah, namun Septian bisa membantu kalian dan juga orang tuaku," jawab Septian.
Angela dan Febrian menggelengkan kepala, karena tidak mengerti sedikitpun tentang maksud dari pembicaraan mereka.
Setelah mengetahui maksud dari ucapan Septian, pak Demian dan istrinya setuju atas apapun yang akan dilakukan Septian.
"Septian mau menitipkan Septian kecil sama ayah dan ibu boleh," pinta Septian.
"Boleh, asalkan ingat pesan kami, jangan ada yang terluka diantara kalian," ucap pak Demian.
"Nana juga Septian ajak yah, soalnya kemampuan Nana paling hebat diantara kami," ucap Septian.
Pak Demian dan istrinya menjawab dengan Anggukan.
Sedangkan Febrian dan Angela hanya bisa menahan rasa penasarannya, kepada Septian beserta orang tuanya.
"Apa sebenarnya yang terjadi kak?" tanya Febrian.
Septian tidak menjawab malah menghiraukannya, berbeda dari Septian yang dulu selalu memberitahukan apapun kepada adiknya.
Bahkan bukan hanya Febrian, Angela juga terus melancarkan beberapa pertanyaan.
"Apa yang terjadi sayang?"
"Coba cerita, aku penasaran?"
"Apa hubungannya jam tangan ini sama perusahaan?"
Namun lagi-lagi Septian tidak menjawab, justru menyuruh Angela untuk bisa membagi waktu antara tugas dan merawat Septian kecil.
Angela kemudian mengeluarkan jurus andalannya yang sempat hilang beberapa tahun.
Benar, jurusnya adalah melipatkan kedua tangan di dada bagian atas, serta wajahnya yang cemberut.
"Sayang jangan marah, nanti juga aku kasih tahu, cuma gak sekarang," bujuk Septian.
"Gak mau! Pokoknya sekarang atau aku ngambek selama sebulan," ancam Angela.
"Ayolah, besok di kasih tahu di perusahaan, janji," ucap Septian sambil mengangkat dua jarinya.
"Gak mau! Kalau aku bilang sekarang berarti harus sekarang," ucap Angela dengan nada serius.
Pak Demian dan istrinya beserta Febrian hanya tersenyum kecil, ketika melihat kelakuan Angela.
Next......