
Mereka tidak mengetahui bahwasanya pria tersebut ialah Septian, karena penampilannya yang sudah jauh berbeda serta kasus kecelakaan yang menimpanya.
Namun, meskipun Septian pergi bersama CEO perusahaan yang sangat kaya raya serta berpengaruh disana, bukan berarti mereka akan mengalah begitu saja.
Hal ini terlihat ketika satu orang wali murid tersebut menghampirinya.
Tanpa berbicara panjang lebar, pria tersebut menyerang Septian berserta beberapa pengawal dibelakangnya.
Akan tetapi, ketika pria tersebut hendak menyerangnya, langkahnya terhenti ketika melihat kedatangan dua pasang suami istri beserta seorang anak kecil.
Benar, mereka adalah orang tua Septian beserta mertua dan juga putranya.
"Ayah, ibu," ucap Septian dalam hati,
"Papa mama," ucap Septian kecil sambil berlari mendekati orang tuanya.
Angela lalu menggendong putranya di samping Septian dan Nana.
"Kalian pulang saja, biar kami disini!" pinta pak Ferdian sambil menepuk bahu Septian.
Mengingat akan berbahaya jika sampai terjadi sesuatu didepan putranya, Septian dengan kesal memilih pergi.
Namun saat hendak pergi, kekesalan Septian bertambah ketika melihat kedatang seseorang yang tak asing baginya.
Bahkan Angela, Nana beserta Febrianpun ikut terkejut melihat orang itu.
"Fikry , kenapa dia ada disini? " tanya Angela dalam hati.
Pria tersebut adalah Fikry, anak kampus yang dulu mencelakai Septian.
Namun, karena kecurangan yang ia beserta keluarganya lakukan, ia mendapatkan hukuman penjara yang singkat dan pembebasan bersyarat.
Fikry yang melihat Angela menjadi kesal, karena ia mengetahui bahwa Angela yang membuat berandalan sekolah tersebut menjadi babak belur.
Tapi, ia lebih memilih untuk pergi begitu saja, dengan tatapan jahatnya.
Setelah itu mereka bergegas pulang, karena orangtuanya sudah mengurus mereka.
Saat dalam perjalanan, Septian sedang fokus menyetir, sedangkan Febrian yang masih khawatir akan keadaan Nana.
"Nana kamu baik-baik saja," tanya Febrian.
"Tidak kak, lagian mereka tidak jahat sama Nana," jawab Nana.
"Kalau tidak jahat, kenapa mereka menculik Nana?" tanya Febrian.
"Mereka hanya mau balas dendam atas kejadian kemarin, waktu kakak menghajar mereka," jawab Nana.
Mendengar ucapan Nana, Febrian sedikit terkejut, akan tetapi Septian beserta Angela yang lebih terkejut.
"Terus kenapa Nana malah menghubungi kak Angela?" tanya Febrian.
"Aku takut kalau kakak kenapa-kenapa, makannya Nana manggil kak Angela, karena Nana pikir kak Angela bakal datang sama kak Septian," jawab Nana.
"Aihs, lain kali kalau ada apa-apa hubungi kakak terlebih dahulu," ucap Febrian kesal.
Nana tidak menjawab dan hanya tertunduk lesu saat mendengar perintah Febrian.
"Kamu juga, ngapain sih berurusan sama berandalan sekolah," ucap Septian tanpa menoleh.
"Akukan cuma jagain Nana," jawab Febrian.
"Kamu bukan jagain, tapi kamu cemburu karena mereka menggoda Nana," ucap Septian.
Deg.......
Febrian terkejut mendengar ucapan dari kakaknya tersebut yang benar adanya.
"Aku kira mereka berbuat jahat, lagian itu juga biar mereka kapok," ucap Febrian.
"Lain kali kalau itu terjadi lagi, tanya dulu sama Nana, biar gak jadi ribet kayak gini, terus membahayakan mereka," pinta Septian.
"Iya maafin aku kak," ucap Febrian.
"Minta maaf sama Nana sana, lihat dia sampai menunduk gitu, kayak anak SD belum dibagi raport," jawab Septian.
"Nana, maafin kakak ya," ucap Febrian.
Nana kemudian menatap Febrian, kemudian memaafkannya setelah melihat ketulusan dimata Febrian.
"Pa, om Febrian sama tante Nana boleh dimarahin, tapi jangan marahin mama ya," pinta Septian kecil dengan entengnya.
"Tidak bisa sayang, nanti papa marahin mama kalau sudah dirumah," ucap Septian.
Mendengar ancaman dari suaminya, Angela menjadi sangat terkejut serta ketakutan.
"Pokoknya gak boleh marahin mama," ucap Septian kecil sambil memeluk Angela lebih erat.
Hal inilah yang membuat Angela sedikit lebih lega, pasalnya, pelukan hangat dari orang tersayang akan membuat kita menjadi lebih nyaman dan tenang.
Tetap saja, di lubuk hati yang paling dalam, Angela sangat takut akan kemarahan Septian.
Karena bagi seorang istri, jangankan untuk dimarahi atau dipukul, dengan sedikit bentakan saja dari suami dapat sangat menyakiti hatinya.
Tak lama dari itu, akhirnya mereka sampai di rumah, lalu mereka masuk.
Setelah di ruang tamu, Septian mendekati putranya yang masih di gendong Angela.
"Sayang, temenin tante Nana ya, kasihan tante Nana lagi sedih," pinta Septian.
Namun biarpun Septian kecil adalah anak berusia dua tahun, ia mengerti dengan niat papanya itu.
"Gak mau, papa pasti mau marahin mama," ucap Septian kecil sambil memeluk mamannya.
Kemudian Septian menatap Angela dengan sedikit memberikan kode rahasia agar putranya mau menurut.
Setelah itu, Angela meyakinkan putranya untuk menemani tantenya.
Dengan usaha yang cukup keras, akhirnya Angela berhasil membujuk putranya. Septian beserta Angela lalu pergi ke kamar mereka.
Di kamar mereka, Septian dengan mata yang sudah berubah memerah kini mendekati istrinya dengan tatapan tajam.
Angela yang melihat tatapan jahat suaminya, perlahan berjalan mundur untuk menjauhinya.
Namun usaha itu sia-sia karena tubuhnya telah bersandar, serta wajah mereka sudah sangat dekat.
"Sekarang sudah merasa hebat kamu sayang," ucap Septian sambil memegang kedua pipi Angela dengan satu tangan.
"bu-bukan begitu sayang," ucap Angela dengan terbata-bata serta raut wajah ketakutan.
"Aku pernah bilang, kamu boleh menunjukan kekuatanmu, jika bersamaku atau dalam kondisi terdesak," ucap Septian dengan cengkraman yang semakin kuat.
"Maafkan aku sayang," ucap Angela dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Buuuk........
Septian memukul tembok tepat di samping wajah Angela.
Seketika Angela mulai menjatuhkan air matanya, karena rasa sakit dihatinya.
"Jika kamu melakukan hal bodoh seperti itu lagi, aku tidak akan memaafkanmu," ucap Septian sambil berbalik.
"Kenapa? Apa kesalahanku sebesar itu, sampai kamu marah seperti ini," ucap Angela dengan tangisannya.
Septian tidak menghiraukan ucapan Angela, namun langkahnya terhenti ketika sebuah benda mengenai punggungnya.
"Kamu egois, kamu bukan suamiku, suamiku tidak pernah seperti ini," ucap Angela setelah melemparkan bingkai photo mereka.
Mendengar itu, Septian berbalik lalu mendekati Angela perlahan.
Angela yang masih menangis, semakin ketakutan ketika suaminya mendekat.
Dikira akan semakin marah dan berbuat lebih jauh, Angela sudah siap untuk melawan suaminya, namun perkiraannya itu salah.
Septian justru berlutut dan menunduk, lalu menjatuhkan air matanya.
"Maaf, aku tidak bisa melindungimu dan Septian, aku juga tidak pantas jadi superheromu," ucap Septian dengan air matanya.
Angela terdiam mendengar ucapan dari Septian, ia tidak tahu harus bicara apa.
"Aku cuma tidak mau kamu kenapa-kenapa, kalau sesuatu terjadi padamu, apa yang harus aku katakan pada putra kita," ucap Septian.
Angela masih terdiam dan tidak menjawab ucapan dari Septian.
"Aku akan terima jika kamu membenciku, tapi aku mohon padamu, jangan lakukan hal bodoh yang akan menyakitimu dan berdampak buruk pada putra kita," ucap Septian lalu berdiri dan berjalan keluar.
Next.......