
Setelah kakek Kazuki beserta bu Lisa pergi dari sana, Septian menatap putranya.
"Sayang, kenapa bangunin papa tadi?" tanya Septian.
"Septian mau nanya, kenapa papa rambutnya jadi putih?" tanya Septian kecil.
Septian menatap semua orang disana dengan keheranan, kemudian Febrian memberikan sebuah cermin yang membuat dirinya terkejut seketika.
Ia terdiam sejenak mengetahui fakta, kalau dirinya telah melampaui batas penggunaan jam tangan overtime.
"Apa Septian takut melihat papa sekarang?" ucap Septian balik bertanya.
"Tidak pa, Septian juga mau rambutnya kayak papa?" jawab Septian kecil sambil tersenyum.
"Jangan sayang, nanti Septian dimarahin sama mama," ucap Septian sambil melirik Angela.
"Kenapa selalu menuduh mama," gerutu Angela.
Septian kemudian memikirkan sesuatu hal yang mengganjal dihatinya.
"Sayang, bisa tolong papa tidak?" tanya Septian sambil mengusap rambut putranya.
"Bisa, apapun Septian lalukan buat papa," jawab Septian kecil.
"Papa lapar, ajakin om Febrian sama mama buat beliin makanan," pinta Septian.
"Papa mau makan apa?" ucap Septian kecil balik bertanya.
"Om Febrian tahu makanan kesukaan papa, tanya saja sama om," ucap Febrian sambil menghampiri Septian kecil.
Angela curiga dengan alasan Septian menyuruh dirinya dan Febrian untuk pergi, namun ia hanya bisa menurut saja untuk saat ini.
Setelah Angela beserta putranya dan Febrian pergi keluar, Septian meminta untuk bicara berdua dengan Nana.
"Ibu, Septian boleh bicara berdua sama Nana?" tanya Septian pada ibunya.
"Emang mau bicara apa sayang?" ucap ibunya balik bertanya.
"Septian mau nanya tentang perjodohan Nana sama Febrian," jawab Septian.
Nana yang mengetahui kalau kakak iparnya sedang berbohong cuma bisa diam saja.
"Ucapan kakek Kazuki jangan dianggap serius," ucap bu Fira menegaskan.
"Ia bu, Septian mau tanya sendiri sama Nana. Kalau ia bersedia, nanti Septian yang bujukin Febrian," ucap Septian sambil menoleh kearah bu Fira.
"Tapi Nana masih remaja, masa mau dijodohkan" ucap Nana.
"Tuhkan sudah denger, anaknya sendiri bilang masih kecil," ucap pak Demian.
"Tapi, Septian mau nanyain sesuatu yang sangat penting sama Nana," ucap Septian dengan sedikit memaksa.
"Memang sepenting apa sih, kok kami tidak boleh tahu?" tanya ibunya beserta anggukan dari mereka.
"Ada deh, pokoknya soal adik sama kakak ipar," jawab Septian.
"Ya sudah, tapi jangan lama. Banyak hal yang akan kami tanyakan padamu," ucap ayahnya.
Septian mengangguk, lalu merekapun pergi keluar ruangan.
Setelah mereka pergi, Septian menatap Nana dengan tatapan mengintimidasi.
"Apa sih kak, kenapa tatapannya bikin Nana takut?" ucap Nana.
"Kakak mau bilang, kalau kamu boleh masuk SMA di sekolah umum," ucap Septian.
"Kenapa bilang seperti ini harus berdua?" tanya Nana.
"Memangnya Nana tidak malu, kalau kakak bilang kamu itu sudah besar tapi masih kekanak-kanakan," ucap Septian balik bertanya.
"Maksud kakak apa?" tanya Nana yang tidak mengerti ucapan Septian.
"Pas kita pertama kali bertemu, kakak tahu kalau kamu itu sudah besar," jawab Septian.
Karena Nana memang dimanja sejak kecil dan postur tubuhnya mungil jadi terlihat seperti gadis kecil.
Padahal waktu mereka bertemu, Nana sudah berusia dua belas tahun.
"Kak Septian tahu darimana?" tanya Nana.
"Kak Septian juga tahu aroma tubuhmu sama dengan kak Angela," jawab Septian.
"Jadi, itu alasannya kak Septian ikut pulang sama Nana waktu itu?" tanya Nana.
Septian menjawab dengan anggukan kecil.
"Jadi cuma itu saja kak?" tanya Nana.
"Bukan, itu adalah jawaban kalau mereka menanyakan padamu tentang pembicaraan kita," jawab Septian.
"Terus, kak Septian mau apa sebenarnya?" tanya Nana.
"Apa Nana bertemu dengan seorang dokter muda pas kakak dibawa kemari?" tanya Septian.
Nana terkejut dan terdiam sejenak, mendengar pertanyaan Septian.
"Kakak cuma mau tahu, apa yang kamu baca dari pikiran dan hati dokter itu?" tanya Septian.
Nana kembali terdiam mendengar pertanyaan Septian yang menyulitkan.
"Kenapa kakak menanyakan hal seperti itu?" ucap Nana balik bertanya.
"Nana tidak akan mengerti meskipun kakak jelaskan," jawab Septian.
"Terus kenapa kakak bertanya, kalau Nana saja tidak mengerti?" tanya Nana.
"Nana tidak mengerti tapi kakak bisa, cepat kasih tahu waktunya tidak banyak," pinta Septian.
"Dokter itu bilang, nungguin perintah dari seseorang sebelum ngobatin kakak," jawab Angela.
"Siapa," tanya Septian.
"Namanya Nana tidak tahu, tapi yang jelas ia pria tua," jawab Nana.
"Cuma itu saja?" Septian balik bertanya.
"Tadi dia bilang mau pulang ke Bogor," ucap Nana.
"Jadi benar, dia dokter yang waktu itu. Tapi kenapa dia ada di rumah sakit ini, apa perintah kakek?" ucap Septian dalam hati.
"Aku bisa dengerin kakak," ucap Nana dengan nada ancaman.
"Oh iya kakak lupa, kalau Nana pinter," ucap Septian sambil tersenyum kecil.
"Apa yang sebenarnya terjadi kak?" tanya Nana.
"Ini jebakan," jawab Septian.
"Apa jebakan, maksud kakak?" tanya Nana dengan perubahan ekspresi.
"Nanti kakak jelasin di rumah, pokoknya nanti Nana harus masuk sekolah umum," ucap Septian.
"Terus apa hubungannya sama sekolah?" tanya Nana.
"Kalau Nana sudah sekolah, kakak kasih tugas penting dan bayarannya mahal," jawab Septian.
"Beneran kak?" tanya Nana.
"Beneran, tenang saja," jawab Septian.
"Nana sendirian?" tanya Nana.
"Nana tidak sendiri, nanti ditemenin sama Febrian sama kakak juga," jawab Septian.
"Kak Angela?" tanya Nana.
"Kak Angela sama ayah dan ibu tidak boleh tahu," jawab Septian.
"Kenapa kak, bukannya kak Angela juga penting?" tanya Nana.
"Kak Angela sama Septian kecil adalah kelemahan terbesar kakak, mereka tidak bisa ikut," jawab Septian.
Tok......tok......tok.......
Suara ketukan pintu yang membuat mereka menghentikan pembicaraan.
"Masuk," ucap Septian.
Lalu masuklah Angela sambil menggendong Septian kecil beserta keluarganya.
"Apa yang kalian berdua bicarakan?" tanya Angela sambil menurunkan putranya di kasur.
"Kami bicara tentang sekolah Nana," jawab Septian.
"Papa tidak bohong sayang?" tanya Angela sambil menatap kearah putranya.
"Tidak ma," jawab Septian kecil setelah menatap papanya.
"Mana makanan buat ayah?" tanya Septian mengalihkan pembicaraan.
Angela lalu menyiapkan makanan buat Septian, setelah siap Angela hendak menyuapinya.
"Sini ma, biar Septian yang suapin papa," pinta Septian kecil pada ibunya.
"Oma saja yang suapin papa," ucap ibunya Septian menawarkan.
"Tidak boleh, cuma mama sama Septian saja yang boleh suapin papa," ucap Septian kecil.
"Gak boleh gitu sama oma sayang," ucap Angela.
"Pokoknya Septian yang suapin papa," ucap Septian kecil sambil merebut sendok makannya.
Angela dan keluarga hanya tersenyum, ketika melihat tingkah lucu putranya itu.
"Iya, papa cuma mau disuapin sama Septian dan mama saja," ucap Septian sambil mengusap rambut putranya.
Next........