My Superhero

My Superhero
Marah



Setelah pelukan hangat dan berlangsung cukup lama, kemudian Septian kecil melepaskan pelukannya.


"Ma, Septian mau makan," ucap Septian kecil sambil menatap Angela.


"Ayo, papa masakin buat kalian," ajak Septian.


"Emang papa bisa masak?" tanya Septian kecil.


"Bisa dong, masakan papa jauh lebih enak daripada buatan mama," jawab Septian berbisik tapi masih kedengaran.


"Itu dulu pa, sekarang mama juga sudah hebat," ucap Angela memuji sendiri.


"Iya pa bener," ucap Septian kecil membela mamanya.


"Kalau begitu, mama saja yang masak. Biar papa sama jagoan kecil kita yang makan," ucap Septian sambil tersenyum pada putranya.


"Sekarang ikut mama ke dapur," ajak Angela kepada suami dan putranya.


"Baik, kalau masakan mama enak nanti papa kasih hadiah," jawab Septian sambil menggendong putranya.


"Septian gak dikasih hadiah pa?" tanya Septian kecil di gendongannya.


"Apapun yang jagoan papa minta, pasti dikasih sama papa," jawab Septian sambil mengikuti Angela ke dapur.


Setelah tiba di dapur, mereka keheranan melihat Febrian, Nana, beserta kedua orang tuanya duduk di meja, dengan alasan akan ikut makan.


"Bi, jangan bantuin istri saya ya," pinta Septian.


"Tidak den, bibi hanya membantu menyiapkan bahan makanan saja," balas bi Minah.


Saat Angela sedang asik memasak makanan dengan porsi banyak, pak Demian menatap Septian penuh curiga.


"Kenapa kalian mau pergi ke luar negeri, tidak minta izin sama kami?" tanya pak Demian.


"Bukan tidak minta izin yah, tapi belum," jawab Septian.


"Kenapa belum minta izin, tapi sudah beli tiket sama booking hotel?" tanya pak Demian.


Septian terdiam mendengar ucapan pak Demian yang mengetahui rencananya.


"Nana sama kak Febrian memberitahu ayah terlebih dahulu?" tanya Septian dalam hati.


Nana menjawab dengan menggelengkan kepala yang berarti tidak.


Kemudian Septian menyadari bahwa sistem dapat diakses melalui ponsel, laptop atau komputer pribadi pak Demian.


"Septian minta maaf yah, Septian akan batalin saja keberangkatannya," jawab Septian.


"Kenapa tiba-tiba kak?" tanya Febrian.


"Kita berdua tetap pergi, mau dapat izin atau tidak," jawab Septian menoleh pada adiknya.


"Dirumah sini siapapun harus patuh pada ayah, tidak ada yang bisa membantah!" tegas pak Demian.


Mendengar ancaman dari ayah mertuanya, Septian terlihat sangat emosi.


"Nana ajak Septian kecil bertemu Angela, jangan kesini sebelum saya ke sana," pinta Septian dalam hati menatap Nana.


Nana yang mengerti hanya mengangguk, lalu mengajak Septian kecil ke dapur menemui ibunya.


"Apa ini sebuah ancaman?" tanya Septian menatap tajam pak Demian.


"Bukan ancaman, lebih tepatnya peringatan kecil," jawab pak Demian enteng.


"Baik, kalau begitu sesuai aturan saja, yang di rumah ini harus menurut pada ayah. Febrian kemasi barangmu, kita keluar dari sini sekarang," perintah Septian pada adiknya dengan lantang.


Febrian hanya terdiam dan tidak bisa menjawab ucapan sang kakak.


"Kenapa kamu sangat keras kepala?" tanya pak Demian.


"Jika menyangkut keluargaku, apapun akan aku lakukan," jawab Septian tanpa menoleh.


Plaaaaak.....


Pak Demian menepuk meja dengan keras setelah ia berdiri dari duduknya.


"Kau tidak tahu jika dia berbahaya, bahkan sepuluh orang sepertimu akan sangat mudah dibunuhnya," ucap pak Demian.


"Hehe, aku sekarang tahu kenapa om selalu kalah dalam segala hal dari ayahku," ucap Septian sambil tersenyum menyeringai.


"Kau bilang om selalu kalah dari ayahmu, aku sudah salah menilaimu selama ini," ucap pak Demian.


"Aku yang sudah salah menilai om selama ini, aku pikir om orang yang hebat. Namun aku salah, om justru seorang pengecut yang cuma bisa diam, saat ayahku dalam bahaya ketika menyelamatkan kakek, dan sekarang mereka dalam bahayapun om masih diam saja," ucap Septian.


"Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku, jika bukan karena aku, kau mungkin tidak seperti ini sekarang," ucap pak Demian.


"Pak Demian yang terhormat, saya mengucapkan maaf dan banyak terima kasih atas perlakuan anda selama ini. Kelak kami akan membalas kebaikan anda suatu saat nanti. Febrian ayo pergi," ucap Septian sambil menundukkan badan lalu menatap adiknya.


Praaaang........


Suara pecahan piring yang terjatuh beserta nampan makanan yang dibawa Angela.


Angela yang sedari tadi diam menyaksikan percakapan antara suami dan ayahnya, kini mulai mendekati ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa yang ada dirumah ini harus patuh sama ayah?" tanya Angela sambil menatap ayahnya.


"Ini semua demi kalian, pergi ke sana sama saja bunuh diri," jawab ayahnya.


"Baik, kalau begitu tahan dia, jika dia tetap pergi, maka Angela juga pamit untuk pergi bersamanya," pinta Angela sambil menunjuk Septian dan masih menatap ayahnya.


"Jangan, kalian disini saja. Aku tidak mau membahayakan kalian semua. Aku titip Septian kecil padamu, rawat dia dengan baik," ucap Septian berbalik lalu hendak pergi.


"Papa, Septian mau ikut sama papa," ucap Septian kecil berlari dan meminta untuk digendong sang ayah.


"Papa mau pergi sebentar sama om Febrian, nanti papa pulang bawa hadiah buat Septian," ucap Septian sambil menggendong putranya.


"Pokoknya Septian sama mama harus ikut, eh sama tante Nana juga," ucap Septian kecil sambil melirik Nana.


"Kalau Septian ikut, opa sama oma kasihan tidak ada temennya," ucap Septian.


"Opa sama oma sudah besar pa, temennya juga bibi sudah besar, Septiankan masih kecil," jawab Septian polos.


"Ya sudah, tapi sekarang minta izin dulu sama opa. Septian besok mau pergi sama ayah, kalau diizinin boleh ikut kalau enggak, Septian tetap tinggal," pinta Septian.


"Opa bolehkan Septian pergi sama ayah besok, boleh ya opa, boleh ya?" tanya Septian kecil pada pak Demian.


Pak Demian terdiam sejenak ketika mendengar ucapan cucu kecilnya.


"Bilangin sama papa, kalau opa izinin kalian harus tetap baik-baik saja," jawaban pak Demian pada cucunya.


"Yeeeee, terima kasih opa," ucap Septian kecil kegirangan.


"Sama-sama sayang," jawab pak Demian.


Septian membawa putranya ke kamar dan menurunkannya di kasur.


"Septian sudah makan sayang?" tanya Septian pada putranya.


"Sudah pa, masakan mama enak. Papa harus kasih hadiah sama mama, sama Septian juga," jawab Septian kecil.


"Mama mau hadiah apa dari papa?" tanya Septian melirik Angela yang mengikutinya dari dapur.


"Septian saja dulu yang minta hadiah, mama nanti saja," jawab Angela.


"Septian mau hadiah apa?" tanya Septian pada putranya.


"Septian mau, papa jangan bikin mama nangis,"


Septian dan Angela terdiam mendengar ucapan dari putra kecilnya.


"Baiklah, tapi Septian juga harus nurut sama mama jangan bikin mama marah," pinta Septian.


"Iya pa, Septian akan jadi jagoan kayak papa," jawab Septian kecil.


"Siapa yang bilang papa jagoan sayang?" tanya Septian sambil menoleh kearah Angela.


next,