
Keesokan harinya, setelah semua barang mereka telah selesai di masukan mobil. pasutri ini berpamitan pada semua orang tak lupa pada bi Minah, Bagas dan beberapa pengawal lainnya.
Mereka berangkat dengan menggunakan mobil Ferrari yang menjadi hadiah pernikahan mereka.
Setelah tiba di apartemen, mereka beristirahat dan memulai obrolan yang nampaknya di dominasi oleh Angela, dikarenakan alasan kepindahan mereka diputuskan secara sepihak.
"Kenapa harus pindah segala? Bukannya lebih nyaman tinggal dirumah? Ya meskipun disini juga tidak kalah mewah sih" ucap Angela setelah merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Sudah ikutin aja suami kamu yang tampan ini" ucap Septian tersenyum sambil duduk di sofa serta mengangkat kakinya diatas meja.
"pasti ada udang dibalik batu, ada maunya ini mah, yakin gue" tegas Angela.
"Memang ada, tapi ini hanya bisa kita berdua saja"
"Ah pokoknya kalau macam-macam, gak ada ampun" ucap Angela dengan jurus andalannya yaitu kedua tangannya menutupi dada bagian atas.
"Dih, makannya hapus tuh pikiran kotormu itu. segala mikir aneh-aneh"
"Emang bener kamu ngajak aku kesini buat nyari kesempatan?"
"Aku tuh ngajak kamu kesini karena mau jujur sama kamu, kalau aku sama Febrian itu sudah lulus kuliah di usia 14 tahun"
"Haaah! gak mungkin, jangan halu ya wahai suamiku yang sok pintar" ucap Angela tak percaya.
"Terserah, yang penting kamu harus nurut sama aku"
"Gak mau, ada juga kamu yang harus nurut sama aku"
"Kamu tahu gak, siapa yang menaruh racun di makanan kamu waktu di kampus?
"Gak, emangnya siapa"
"Roby, dia disuruh oleh seseorang dari perusahaan ayah, dan kemungkinan pelakunya ayah kamu"
"Haaah, jangan asal nuduh kamu, kalau orang lain aku percaya, tapi kalau ayah aku gak percaya"
"Tapi itu faktanya, bahkan bu Lisa juga terlibat"
"Hah, pasti gara-gara kemarin, otak kamu jadi error begini"
"Aku serius, dengerin yang bener dong. bu Lisa itu bukan dosen, tapi bawahan ayah yang seminggu sebelum aku masuk dia jadi dosen, dan sekarang kalau kita berhenti kuliah, lihat saja bu Lisa juga gak lama bakalan recent dari kampus"
Angela tidak menjawab hanya menatap keatas seakan sedang berfikir atau mengingat-ingat sesuatu.
"Apa kamu percaya sekarang"
"Belum tahu, tapi sepertinya ucapanmu tidak berbohong"
"Terus kejadian penculikan kamu beberapa hari lalu juga itu pasti perbuatan ayah kamu, mengingat dia santai-santai saja anaknya di culik. Padahal kalau orang lain pasti paniknya minta ampun. Lihat sekarang, si Roby malah enak-enak saja ketemu ayah kamu"
Angela tidak menjawab seakan tidak percaya ucapan Septian, namun justru ucapannya tidak salah.
"Nah ini alasannya aku ajak kamu kesini, kalau kita tanyakan pasti tidak akan dijawab, terus kalau kita menyelidikinya di rumah pasti ketahuan"
"Namun kenapa harus ayah? Kenapa tidak orang lain?" tanya Angela yang mulai bersedih.
"Makanya kita cari tahu sama-sama. Terus, tempat yang paling aku curigai yaitu di perusahaan, itu alasannya aku ngajak kamu masuk perusahaan biar kamu tahu sendiri"
"Dan satu hal lagi, Aku gak bisa masuk kampus buat jagain kamu" ucap Septian yang tanpa sadar sudah memegang tangan Angela
"Ya sudah, aku akan menjauh dari kamu, awas jangan sampai menyesal" ucap Septian yang hendak pergi namun lengannya digenggang erat oleh Angela.
Septian yang melihat wajah istrinya sedang bersedih kemudian dia duduk di sampingnya serta memeluknya erat.
"Maafin aku ya, setelah kamu kenal sama aku, hidup kamu jadi seperti ini. Kamu tenang saja, aku akan menjadi superheromu dan tidak akan membiarkan siapapun melukaimu lagi, meskipun itu keluargamu.
"Oh iya lupa, nanti sore aku mau belanja makanan. kamu tunggu disini gak lama kok"
"Ikuuuut" ucap Angela memelas.
"Iya, kita pergi sekalian nyari makan. Sekarang kamu istirahat, suamimu yang tampan ini mau melihat informasi yang dikirim Febrian" ucap Septian sambil berjalan menuju laptopnya dimeja.
Setelah beberapa saat mengotak-ngatik laptopnya, ia melihat Angela sudah tertidur pulas.
Dan beberapa hari telah berlalu Angela sudah bisa beradataptasi dengan tempat tinggal barunya dengan baik.
Sampai pada akhir pekan, mengingat mereka diharuskan untuk berkunjung. Dan kebetulan mereka juga telah merindukan adik-adiknya yang lucu.
Setibanya dirumah, mereka yang disambut dengan antusias karena beberapa hari tidak bertemu.
"Nana tahu gak, ayah sama kak Febrian ada dimana?" tanya Septian pada adik kecilnya.
"Di ruang keluarga kak, mereka lagi main catur, tapi ayah Nana selalu menang, kan ayah Nana pinter seperti Nana" ucap Nana dengan bangga.
"Oh ya, kakak juga suka main catur" ucap Septian sambil menggendong adiknya dan sudah sampai diruang keluarga.
"Ah palingan juga kak Septian bakalan kalah kalau main sama ayah, ayahkan yang paling hebat" ucap pak Demian tanpa melihat mereka.
Merasa ditantang akhirnya Septianpun memutuskan untuk ikut bermain catur dengan pak Demian.
"Nana sama kak Lala dukung kak Septian yah, kalau kakak menang nanti Nana boleh minta apa saja sama ayah" ucap Septian mulai menurunkan adiknya.
"Beneran kak! yeee, semoga kak Septian menang" ucap Nana kegirangan.
Nampak ramai di ruang keluarga seperti ada final pertandingan catur dunia, mengingat kedua kontestan sama-sama tidak akan mengalah.
Setelah bi Minah mengantarkan minuman serta cemilan, bi Minah, Bagas, Roby, Ian dan Dani serta beberapa pengawal lainnya pun ikut menyaksikan dari jarak yang lumayan dekat.
Namun sebelum pertandingan dimulai Septian justru melirik Istrinya dan berkata untuk mendukungnya.
"Dukung aku ya sayang, kalau aku menang, kamu harus kasih aku hadiah, kalau aku kalah, aku akan kasih kamu hadiah, setuju" ucap Septian pada istrinya yang langsung disetujui dengan anggukan.
"Ayah jalan duluan" ucap pak Demian.
Setelah beberapa menit panjang, permainan yang cukup sengit antara menantu vs mertua yang didominasi oleh serangan brutal dari sang mertua.
Namun jangan lupakan kekuatan super yang dimiliki sang menantu, yang akan sangat berpengaruh di dalam permainan catur seperti ini.
Dan Benar saja meskipun serangan bertubi-tibi dilancarkan sang mertua, hal itu justru melemahkan pertahanannya. Yang akhirnya Septian memenangkan pertandingan, meskipun kalah jumlah, kualitas, serta kalah posisi dari para perwiranya.
Mengetahui kalau ayahnya kalah, Nana yang kegirangan berteriak dan menari-nari. Berbanding terbalik dengan Angela dan para penonton lainnya. Pasalnya sang juara yang tidak terkalahkan justru kalah dari menantunya sendiri.
Angela yang seakan mengerti maksud dari tatapan tajam sang suami, langsung buru-buru menggendong adiknya dan mengajaknya untuk tidur, serta akan menginap di kamar Nana dengan beralasan masih kangen.
Next.......