My Superhero

My Superhero
Kakek Kazuki



Benar saja, setelah Angela membuka pintu, terlihat Febrian sedang menggendong Septian kecil yang tengah kelelahan.


"Jagoan mama sudah pulang," ucap Angela menatap putranya.


"Mama kenapa rambutnya acak-acakan?" tanya Septian kecil, karena tidak pernah melihat mamanya seperti itu.


"Aduh, kenapa pertanyaannya seperti ini. Gimana jawabnya coba," ucap Angela dalam hati.


"Mama kok diem?" tanya Septian kecil kembali.


"Emm, ayo masuk dulu, nanti papa yang jawab," ucap Angela panik.


Sedangkan Febrian dan Nana sepertinya sudah mengerti dengan situasi seperti ini, jadi mereka memutuskan untuk masuk ke kamar masing-masing.


Setelah membaringkan Septian kecil di samping papanya, Angela yang masih panik akan pertanyaan putranya beralasan pergi ke kamar mandi.


"Papa ayo jawab," ucap Septian kecil.


"Jawab apa sayang?" ucap Septian sambil menatap heran pada putranya.


"Mama kenapa tadi rambutnya berantakan?" tanya Septian kecil.


Septian terdiam sejenak, seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Itu, tadi mama kepanasan terus papa kipasin pake topi, jadi rambutnya berantakan," jawab Septian sambil tersenyum kecil.


Septian kecil kemudian mengangguk dan lalu terlelap karena kelelahan.


Setelah menguping pembicaraan suami dan putranya yang sudah dirasa aman, Angela kemudian keluar dari tempat persembunyiannya.


"Sayang sudah aman?" tanya Angela berbisik.


"Dia sudah tidur. Tapi, apa dia tidak akan ngompol di kasur?" Septian balik bertanya.


"Itu tidak akan terjadi, tenang saja," jawab Angela sambil menarik selimut.


"Selamat tidur sayang," ucap Septian berbisik di telinga Angela.


Angela hanya mengangguk, lalu merekapun tertidur sambil berpelukan.


Keesokan paginya, Angela terbangun tanpa melihat suaminya.


Tok.....tok....tok....


"Kak Lala bukain pintunya," pinta Nana sambil mengetuk pintu.


Setelah membuka pintu, Angela melihat kedatangan adiknya sendiri, padahal Nana dan Febrian selalu bersama-sama.


"Kak Febrian sudah kesini kak?" tanya Nana sambil berjalan masuk.


"Tidak ada, pas kakak bangun, kak Septian juga tidak ada," jawab Angela.


"Kak Septian tidak bilang mau kemana?" tanya Nana.


"Tidak, mungkin lagi nyari sarapan," jawab Angela.


Nana melihat Septian kecil yang masih tertidur, kemudian melihat secarik kertas disampingnya.


"Sayang, aku pergi duluan sama Febrian, aku gak tega bangunin kamu. Kalau sampai sore aku gak pulang, cari aku di gps jam tangan putra kita," Tulisan di kertas yang ditemukan Nana.


Setelah membaca tulisan tersebut Angela dan Nana terkejut, namun berusaha untuk tetap tenang.


Sementara disisi lain, Septian dan adiknya telah menemukan keberadaan tuan Kazuki.


Namun sebelum masuk ke ruangan pribadi tuan kazuki di gedung tersebut, mereka di tahan oleh beberapa pengawal khusus KSS.


Mau tidak mau, mereka harus melawan beberapa orang yang semakin lama semakin banyak.


Septian mampu mengalahkan beberapa orang dengan mudah, bahkan tanpa menggunakan overtime jam tangan miliknya.


Satu persatu dari mereka mampu Septian kalahkan seorang diri.


Namun berbeda kali ini, ia mendapatkan lawan yang sepadan.


Pertarungan sengitpun terjadi sampai pemuda tersebut merasa diatas angin.


Saat Septian terpojok dan hendak menggunakan overtime miliknya, pemuda tersebut justru tertawa dan malah mempersilahkan masuk kepada mereka berdua.


Febrian sangat kebingungan melihat kehebatan pemuda yang mampu mengimbangi kekuatan kakaknya.


"Kak, kenapa dia bisa hebat sepertimu?" tanya Febrian.


"Dia memakai baju khusus yang bisa memindai sensor gerakan. Jika kamu mau, kakak akan membuatkannya untukmu," jawab Septian.


"Kakak bisa membuatnya?" tanya Febrian.


"Jam tangan milik Septian kecil juga bisa melakukan hal semudah itu," jawab Septian enteng.


"Hah, aku lupa kalau kakakku seorang superhero," ucap Febrian setelah mendengar perkataan kakaknya.


"Welcome to KSS," suara sistem disana, setelah Septian menunjukan jam tangannya pada akses pemindai*.


"Wah, darimana kakak tahu kalau jam ini kuncinya?" tanya Febrian keheranan.


"Jam tangan ini sama sistem disini, pembuatnya orang yang sama. kakak tahu langsung dari pembuatnya sendiri," jawab Septian.


"Hah, segampang itukah hidup kakak?" tanya Febrian.


Septian tidak menggubris pertanyaan adiknya tersebut.


Kemudian mereka sampai di sebuah ruangan kaca yang sangat mirip dengan ruangan sistem IGS.


Setelah mereka masuk, terlihat dua orang sedang mengotak-atik sistem, dan satu orang lainnya sedang duduk santai.


Mereka bertiga terkejut melihat dua orang asing dapat masuk, padahal cuma mereka bertiga yang punya akses untuk masuk.


Setelah melihat dengan jelas kedua orang tersebut menghampiri Septian dan Febrian.


Yups benar, mereka adalah orang tua Septian dan Febrian yang tiga tahun lalu di kabarkan meninggal.


Namun, langkah kaki mereka terhenti ketika terdengar seseorang berbicara.


"Mendekatinya berarti membunuhnya," ancam pria tua tersebut sambil mengeluarkan sebuah pistol.


Septian tersenyum melihat orang yang ia cari selama ini, yaitu orang tuanya dan juga pria tersebut yang bernama kakek Kazuki.


Lalu kakek Kazuki mendekati Septian dan menodongkan pistolnya.


Septian tidak terlihat takut, justru ia tersenyum melihat seseorang berani mengancamnya.


"Kenapa kau tertawa? Apa kau ingin mati di tanganku?" tanya kakek Kazuki.


"Hahaha, aku mengerti kenapa kakek menjadi pengecut seperti ini," jawab Septian sambil tersenyum menyeringai.


Bruuuk......


Septian terjatuh karena tendangan kakek Kazuki cukup kuat.


Febrian yang mulai emosi hendak melangkah, namun dihentikan Septian sambil memegangi perutnya.


Kemudian kakek Kazuki kembali menodongkan pistolnya di kepala Septian, yang masih tergeletak dilantai.


"Siapa yang menyuruhmu kesini?" tanya kakek Kazuki dengan penuh emosi.


"Aku kesini mengunjungimu kek," ucap Septian.


"Omong kosong, mati saja kau," ucap kakek Kazuki hendak menarik pelatuk pistolnya.


Namun saat kakek Kazuki hendak membunuh Septian, datang Nana dan Angela yang menggendong Septian kecil.


"Waw, ada tamu lagi. Apa mereka istri dan anakmu?" tanya kakek Kazuki sambil melirik Angela.


"Aku sudah bilang, aku kesini untuk mengunjungimu," jawab Septian.


Kakek Kazuki tidak menjawab, malah mendekati Angela dan menodongkan pistol di kepalanya dari samping.


"Aku ingin lihat, apa kau masih bisa bicara, ketika gadis ini mati di hadapanmu," ucap kakek Kazuki.


"Kau boleh membunuhnya sekarang juga," ucap Septian enteng.


Ucapan Septian membuat semua orang yang disana terkejut, terlebih Angela beserta putra kecilnya.


"Apa kau sudah gila?" tanya kakek Kazuki.


"Aku tidak gila, aku hanya ingin melihat seorang kakek membunuh cucu dan cicitnya sendiri," jawab Septian.


Bukan hanya kakek Kazuki, tapi Angela, Nana dan Febrian juga sangat terkejut.


Mereka terdiam mendengar kejutan demi kejutan dari mulut Septian.


"Kakek, apa kamu ingat Fira sama Lisa?" tanya Septian.


Kakek Kazuki semakin terdiam, karena mendengar nama-nama putrinya.


"Gadis yang di sampingmu adalah putri-putrinya, dan anak kecil tampan itu cucunya," ucap Septian.


Mendengar hal yang sulit dipercaya seperti itu, membuat kakek Kazuki tidak bisa menahan emosinya lagi.


Dooor........


Kakek Kazuki menembak perut sisi kanan Septian yang mengagetkan semua orang.


Disaat pistol kembali diarahkan, tiba-tiba........


Next.........