My Superhero

My Superhero
Jalan-jalan



Angela beserta Nana, Roby serta bi Minah. Memutuskan untuk pergi ke beberapa tempat yang cukup terkenal.


Mulai dari gedung sate, teras cihampelas sampai di alun-alun kota Bandung serta beberapa tempat lainnya.


Berbanding dengan Septian yang justru pergi ke sebuah tempat yang sangat biasa, bahkan malah terlihat seperti sebuah markas besar sekelompok preman.


Benar saja, sekelompok orang disana lengkap dengan atribut bertuliskan Maung Bodas, menghampiri Septian berserta adiknya.


"Hey, anak kecil. Ini bukan tempat kalian, pergi atau kalian dalam bahaya" ucap seseorang mengejek mereka.


"Kami mau cari kang Jamal, apa beliau ada disini?" ucap Septian santai.


"Apa kami tidak salah dengar? Kau mau cari bos Jamal?


"Kalau tidak ada, salah satu dari kalian pergi kerumahnya, bilang kalau ada tamu disini!" perintah Septian menunjuk seseorang yang paling muda.


"Apa kau cari mati? Siapa kau berani memerintah?" ucap seseorang kesal.


Mendengar itu, emosi Febrian tidak bisa di tahan. Ia hendak menghampiri dan menghajar mereka, tetapi di tahan Septian.


"Yang aku tahu, Maung bodas adalah kelompok keamanan yang menjaga beberapa pasar dan juga terminal, kenapa kalian malah seperti preman jalanan" ucap Febrian kesal.


"Kurang ajar, enteng kali omonganmu. Tidakkah kau sudah ku peringatkan?"


"Cih, kakakku juga sudah bilang mau ketemu kang Jamal, kenapa kau tidak memanggilnya kemari?"


"Aku akan memanggilnya jika kau bisa mengalahkan dia" ucap ketua disana menunjuk seseorang dengan postur tubuh tinggi besar.


"Aku tidak mau, aku mau melawan kau" ucap Febrian menunjuk pria tadi.


Mendengar itu, beberapa orang disana hendak maju, Namun ditahan pria tadi yang maju sendiri.


Febrian yang maju namun ditahan sang kakak, yang sudah berhadapan dengan pria tersebut.


"Kalau kau menang, aku akan memanggil bos Jamal kesini, kalau kau kalah jangan salahkan kami jika kau tinggal nama" ucap pria itu.


Septian hanya tersenyum mendengar perkataan pemuda itu, kemudian ia menunjukan sebuah jarum emas ditangannya.


Melihat hal itu, semua orang disana panik. Karena jarum emas adalah senjata rahasia yang sangat melegenda dikelompok maung bodas, dan hanya bos mereka yang punya.


Bahkan mereka saja yang sudah lama bergabung tidak pernah memilikinya bahkan menyentuhpun tidak pernah.


"Siapa kau? Kenapa kau punya benda itu?" ucap pria tadi panik.


"Kenapa kau bertanya? Bukankah kau mau bertarung, ayo" ucap Septian santai.


Meskipun orang sangat emosi mendengarkan perkataan Septian, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat jarum itu.


Karena orang yang mempunyai benda itu bukan orang sembarangan dikalangan mereka.


"Cepat panggil bos Jamal kemari" ucap pria tadi pada temannya.


"Siap kang"


Sementara Angela dan Nana sedang berada di alun-alun kota.


"Kak Lala, Nana mau foto sama orang itu" ucap Nana menunjuk seorang wanita cantik.


Mendengar itu Angela menyuruh Roby untuk memfoto mereka bersama beberapa orang, dengan berbagai cosplay, seperti karakter-karakter superhero, hantu dan bahkan tokoh nyi roro kidul yang Nana tunjuk tadi.


Setelah Nana mereka puas, mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah mall terkenal disana. Dikarenakan Bandung juga terkenal dengan fashionnya, bahkan dijuluki parisnya pulau jawa.


Setelah memilih dan mencoba beberapa pakaian, yang sangat banyak. Hal mengejutkan terjadi ketika mereka hendak membayar.


"Berapa totalnya mbak" ucap Angela kepada pelayan wanita.


"150 juta teteh" ucap pelayan tersebut berlogat Sunda.


"Bisa bayar pake kartukan"


"Bisa teteh"


Saat Angela membuka tas, dan mencari dompetnya. Ia mengetahui dompet beserta hpnya telah hilang.


Hal itu sontak membuat mereka panik, terlebih Angela. Karena semua kartu bank, bahkan black card yang diberikan Septianpun hilang bersama dengan dompetnya.


"Ada apa Nona?" ucap Roby menghampiri.


Sementara di belakang mereka terlihat beberapa orang sedang ikut mengantri.


"Kak Lala telepon kak Septian saja kak" ucap Nana.


"Oh iya, tapi handphone kak Lala juga hilang"


"Pake handphone saya saja Nona" ucap Roby memberikan handphone nya.


"Cepet dong teh, kalau masih lama nunggu saja di situ, yang lain biar bayar terlebih dahulu" ucap seorang wanita yang mengantri dibelakangnya.


Merekapun akhirnya duduk terlebih dahulu dan mencoba untuk menghubungi Septian.


Septian yang merasa kesal karena kang Jamal tak kunjung datang memutuskan untuk pergi.


Namun tiba-tiba di halang oleh seorang pria paruh baya.


"Kenapa anda mencari saya" ucap pria tersebut, yang ternyata ia orang yang di tunggu sejak tadi.


"Kang Jamal, apa kabar?" ucap Septian menyapa dan menyalami.


Bukannya menjawab, kang Jamal malah menatap tajam Septian, seolah-olah tidak merasa asing namun tetap tidak mengenalinya.


"Maaf, apakah kita pernah bertemu?" ucap kang Jamal.


"Saya sering melihat kang Jamal di rumah, namun kang Jamal tidak pernah melihat saya" ucap Septian.


"Di rumah siapa?"


"Di rumah pak Ferdian, apa kang Jamal lupa?"


Mendengar nama itu kang Jamal sangat terkejut, bahkan mereka semua juga terkejut melihat bosnya seperti ketakutan melihat dua anak kecil.


"Apa hubungan kalian dengan pak Ferdian?"


"Kami anaknya kang" ucap Febrian menyela.


Kang Jamal di buat terus-terusan terkejut oleh dua orang pemuda ini. Karena dia tidak tahu mereka sudah sebesar ini. Pasalnya kang Jamal dan ayah mereka sudah lama tidak bertemu.


"Den Septian dan ini Pasti Den Febrian" ucap kang Jamal dengan nada segan menunjuk Febrian.


"Benar kang, kang Jamal apa kabar?" ucap Septian.


"Baik den, dan sangat baik. Bagaimana kabar tuan Ferdian, akang jadi pengen ketemu"


Septian menjawab dengan tenang agar tetap terlihat tegar. "Ayah dan ibu sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, mereka diracuni hingga meninggal"


"Apa? gak mungkin den, akang gak percaya kalau tuan Ferdian meninggal keracunan"


"Aku juga tidak percaya, tapi itu faktanya kang"


"Apa Aden lupa? tuan Ferdian seorang ilmuan hebat, gak mungkin meninggal cuma karena racun" ucap kang Jamal masih tidak percaya.


Namun sebelum Septian mengobrol lebih lanjut Febrian berbisik, dan mengatakan Angela kecopetan dan sekarang sedang di sebuah mall.


"Kang nanti ngobrolnya lanjut dirumah akang, saya mau ke mall dulu, istri saya kecopetan"


"Kecopetan? Apa saja yang hilang? siapa tahu akang bisa bantu nyari?" tanya kang Jamal.


"Dompet hitam beserta handphone, didalam ada kartu tanda pengenal dengan nama Angela Larasati" ucap Septian.


"Baik den, nanti kalau ada kabar baik, nanti ketemu dirumah, soalnya akang mengenal beberapa kelompok akademi copet di Bandung"


"Terima kasih kang, sekalian saya minta satu orang anak buah akang"


"Baik den"


"Saya permisi kang"


"Hati-hati den" ucap kang Jamal lalu menyuruh satu anak buah kepercayaannya yang cukup berpengaruh di sana.


"Asep, kawal mereka dan setelah selesai ajak mereka ke rumah saya segera"


Next......