
Sebenarnya Septian mengajak sang istri pulang pulang ke rumah bukan tanpa sebab dan tujuan. Hal ini dibuktikan ketika pagi hari, Septian mengajak Angela beserta adiknya ke halaman belakang rumah.
Dengan berbekalkan alat-alat yang ia bawa, ditambah lagi dengan beberapa alat yang sudah tersedia disana.
Ia bermaksud untuk mengajarkan Angela dalam hal ilmu bela diri.
Kemudian Septian memberikan metode lempar jarum, dengan memberikan jarum berukuran sedang dengan jumlah yang sangat banyak pada istrinya, lalu menyuruh untuk menyelipkannya diantara sela-sela jari.
Setelah mengikuti instruksi kemudian Septian menyuruh untuk menembak beberapa buah mangga dari jarah yang cukup jauh.
"Hah gini saja, terlalu mudah" ucap Angela.
"Sekarang pake kedua tangan secara bersamaan dan tembak dengan 6 jarum, masing-masing 3 jarum di tangan" ucap Septian masih menjelaskan.
Setelah beberapa saat.
"Tuh lihat sendiri, gak ada yang meleset, kan?" ucap Angela bangga.
"Lumayan hebat juga istriku" ucap Septian sambil memikirkan sebuah rencana.
Sementara pak Demian beserta istrinya sangat senang melihat anaknya bisa sehebat itu, namun mereka lebih kagum saat melihat metode yang diajarkan oleh Septian tersebut. Bahkan bukan hanya mereka saja melainkan semua penghuni rumah.
"Coba beberapa kali lagi, namun jaraknya ditambah sedikit jauh, terus targetnya yang berukuran lebih kecil" ucap Septian.
Angela tidak menjawab hanya mengangguk.
Namun lagi-lagi hal yang mengejutkan terjadi, tatkala semua jarum tidak ada satupun yang meleset.
Setelah Angela berfikir dia telah lolos dalam latihan dengan memuaskan. Namun hal mengejutkan kembali terjadi saat Septian menaruh sebuah mangga diatas kepalanya, serta menyuruh Angela menutup mata.
Hal itu sontak membuat Angela geleng-geleng kepala, mengingat hal yang dilakukan saat ini cukup ekstrim.
"Saat aku bilang shoot, kamu tembak kearah suara" ucap Septian.
"Tapi, kenapa harus pake penutup mata" tanya Angela.
"Biar kamu bisa memaksimalkan kekuatan pendengaran. terus kamu bisa melakukannya disaat tersesat, seperti ditempat gelap atau pada malam hari" ucap Septian.
"Tapi, jangan salahkan aku kalau kamu kenapa-kenapa lagi" ucap Angela khawatir.
"Iya. Ingat satu hal, maksimalkan pendengaran dan waktu. Jika aku bilang shoot, langsung tembak sambil berbalik badan" ucap Septian yang hanya dijawab anggukan oleh istrinya.
shoot......
Tanpa ragu-ragu Angela langsung menembak. Namun percobaan pertama gagal, bahkan jauh dari ekspektasi. Begitupun kedua, ketiga dan sampai percobaan kesepuluh. Namun dapat dilihat dari kerja kerasnya, perlahan akurasi tembakan semakin membaik. Hingga pada tembakan ke sebelas, Angela bisa melakukannya dengan sempurna.
Terlihat senyum tipis dari Septian yang menandakan dirinya sangat senang, karena bisa melatih kekuatan istrinya dengan sangat baik.
Sampai percobaan-percobaan berikutnya, Angela dengan lebih agresif dan powerfull dapat menguasai ilmu lemar jarum dengan sangat sempurna, melebihi kemampuan ninja-ninja di televisi.
Karena saking asiknya latihan, Angela sampai lupa waktu, bahwa hari sudah menjelang sore dan sudah hampir gelap.
Tanpa menunggu lama, merekapun langsung pamit untung pulang ke apartemen. Sempat dicegah oleh kedua orang tua beserta adiknya. Namun Mereka tetap pulang, dan akan mampir setiap akhir pekan.
Setibanya di apartemen merekapun membersihkan badan, lalu memutuskan untuk segera tidur.
Setelah Angela berbaring diatas kasur, Septian malah duduk di meja sambil memainkan laptopnya.
"Terima kasih" ucap Angela yang langsung membuat Septian berbalik.
"Untuk apa"
"Untuk latihan hari ini. Aku seneng banget, karena sekarang aku bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain" ucap Angela sambil tersenyum.
"Iya sama-sama" ucap Septian sambil kembali melihat laptopnya.
"Ternyata suamiku yang menyebalkan ini pintar juga, bahkan aku sendiri tidak pernah membayangkan hal sehebat ini"
"Pintar apaan, kemarin juga ngalahin ayah catur, cuma karena lagi beruntung aja" ucap Angela keceplosan karena disusul gerakan refleks dari kedua tangannya menutup mulut.
Mendengar kata catur membuat Septian terpikirkan sesuatu. Hingga langsung menutup laptopnya dan berjalan menghampiri istrinya.
"Bukankah kemarin aku menang? Jadi, mana hadiahku?" ucap Septian tersenyum licik.
"Hadiah apa? Gak ada. Lagian aku gak janji, itu mah kamu aja yang inisiatif sendiri"
"Ayo cepat berikan, jangan mengelak"
"Emang kamu mau hadiah apa?" ucap Angela dengan menaikan nada suaranya.
"Gimana kalau malam pertama" ucap Septian berbisik ditelinga istrinya.
Seperti mendengar bisikan hantu, kemudian Angela menggetarkan tubuhnya seperti orang yang sedang ketakutan, dan langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Gak mauuuuuu" teriak Angela.
Septian hanya tertawa kecil melihat tingkah lucu dari istrinya itu. Yang kemudian menarik selimut tersebut, sampai Angela memberanikan diri menatap Septian dengan jurus andalannya, yaitu kedua tangannya menutupi dada bagian atas.
"Panggil aku dengan sebutan sayang" ucap Septian.
"Gak mau"
"Harus mau"
"Kenapa juga harus mau, itu mah enak di kamu gak enak di aku" ucap Angela meyakinkan.
"Bukan begitu. Kalau kamu menyebutku dengan kata sayang, maka ayah dan ibu beserta orang lain akan bilang kalau kita pasangan yang bahagia dan harmonis" ucap Septian.
"Apa hubungannya kata sayang sama bahagia"
"Ya ada. Emang kamu mau ayah sama ibu bilang kalau kita sudah menikah tapi gak bahagia, terus mereka merasa bersalah?"
"Ya enggak"
"Makanya, kita cukup terlihat seperti bahagia saja. Ya meskipun aku juga sadar belum bisa membahagiakan kamu, belum bisa jadi suami yang baik. Tapi paling tidak kita bahagia dihadapan keluarga"
Mendengar ucapan dari suaminya itu, seperti langsung menusuk jantung Angela. Pasalnya setelah mendengar hal itu membuat dia terdiam dan merasa sakit dihatinya. Entah karena memang dia tidak bahagia menikah dengan Septian, atau justru karena ia sendirilah yang membuat keluarga kecil ini tidak bahagia.
"Iya sayang" ucap Angela pelan.
Cup.....
Septian tiba-tiba mencium pipi Angela dan berjalan setelah mengusap kepalanya.
Melihat suaminya kembali duduk di sofa ia lalu menyuruhnya untuk segera beristirahat.
"Ini juga mau tidur, lagian bukannya aku selalu tidur disini. Apa kamu sudah lupa?" ucap Septian pada istrinya.
"Kamu sekarang boleh tidur disini, asalkan jangan macam-macam" ucap Angela.
"Tidak, terima kasih." ucap Septian yang langsung berbaring.
"Kenapa? Bukannya itu yang kamu inginkan selama ini?"
"Ya itu karena kita masih tinggal di rumah, kan aku sudah bilang, karena aku gak mau kalau mereka nyangka kita gak bahagia"
"Terus dengan kita seperti ini kamu bahagia?" tanya Angela.
Bagaikan disambar petir di siang bolong. Ucapan istrinya itu langsung membuat ia mati kata, hingga tak bisa menjawabnya.
"Gak peduli aku terjatuh dan terluka. Asalkan kamu bahagia aku juga ikut bahagia" ucap Septian sambil menutup seluruh tubuh dengan selimutnya.
Next.......