My Superhero

My Superhero
Nana



"Uhuk, uhuk," septian seketika tersedak, ketika mendengar ucapan yang mengejutkan dari putranya.


Demikian pula dengan orang-orang yang berada disana.


Septian berpikir sejenak, kemudian menatap putra tercintanya.


"Itu bukan mainan sayang, itu komputer opa," ucap Septian sambil mengusap rambut putranya.


Septian kecil menatap Septian, setelah mengetahui bahwa ucapan papanya tidak berbohong, ia menjawab dengan mengangguk.


Kemudian Septian melihat sekeliling dan menyadari tidak adanya Nana disana.


"Septian main dulu sama mama, papa mau nyari tante Nana," pinta Septian sambil menurunkan putranya dan menatap Febrian.


"Iya pa," jawab Septian kecil.


Setelah itu, Septian beserta Febrian pergi menemui Nana di kamarnya.


Setelah masuk, mereka melihat Nana sedang melamun di kasurnya.


"Anak gadis kok ngelamun, mikirin apa sih," ucap Febrian yang membuyarkan lamunannya.


"Tidak ada, kakak ngapain kesini?" tanya Nana setelah berbalik.


"Kakak ganggu kamu ya?" tanya Septian lalu duduk di kasur.


"Tidak kak, cuma penasaran aja," jawab Nana.


"Ada yang mau kakak tanyakan sama kalian," ucap Septian.


Seketika Nana dan Febrian terkejut mendengar ucapan serius dari Septian.


Nana beserta Febrian menatap tajam kearah Septian dengan sedikit mengintimidasi.


"Jangan tanya yang aneh-aneh," ucap Febrian.


"Soal apa kak?" tanya Nana.


"Kalian tidak keberatan kalau kakak jodohkan?" tanya Septian.


Nana dan Febrian mematung seketika, setelah mendengar pertanyaan tersebut.


"Nana masih remaja, kakak tidak akan menikahkan kalian secepat itu," ucap Septian sedikit mencairkan suasana.


"Terus maksudnya dijodohkan apa?" tanya Febrian.


"Kamu tidak lupa umurmu kan?" ucap Septian balik bertanya.


"Tidak, masa lupa," jawab Febrian.


"Kamu sudah saatnya punya pacar dan menikah, ayah dan ibu pasti memikirkan hal itu sekarang," ucap Septian.


"Aku juga tahu, tapi maksud kakak apa?" tanya Febrian.


"Aiiis, kamu ini. Kalau kalian tidak mau dijodohkan, kamu boleh cari pacar dan segera menikah," jawab Septian.


"Kenapa harus dijodohkan sama Nana?" tanya Nana.


"Kalau kak Septian nyuruh kak Febrian nyari pacar lain, kakak takut Nana sakit hati. Soalnya, cuma Febrian temen Nana satu-satunya," jawab Septian.


Nana dan Febrian kembali terdiam sejenak, setelah mengetahui Septian sangat memperdulikan mereka.


"Sekarang gini saja, kalau Febrian punya pacar. Nana ikhlas tidak? Begitupun Febrian, jika Nana punya pacar, ikhlas tidak?" tanya Septian.


"Jika kak Febrian mau terus Nana tidak, atau Nana yang mau terus kak Febrian tidak, bagaimana?" tanya Nana.


"Kalian itu seperti kartun duo botak, kalau satu dari kalian suka, pasti dua-duanya suka," jawab Septian.


"Nana sudah sayang sama kak Febrian, tapi takut kak Febrian tidak mau sama Nana," ucap Nana sambil menunduk.


"Kak Febrian juga sangat menyayangi Nana," ucap Septian sambil mengusap punggung Nana.


Febrian yang mendengar ucapan kakaknya tidak bisa protes dan hanya bisa menurut.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan, sekarang istirahat, besok Nana masuk sekolah," ucap Septian beranjak berdiri.


"Tapi Nana belum mempersiapkannya," ucap Nana.


"Anak sultan sejak kapan mikirin persiapan?" ucap Febrian menggoda.


"Hehe," senyuman kecil terlihat dari mulut manis Nana.


"Ya sudah, kakak pergi dulu," ucap Septian berlalu pergi bersama Febrian.


Keesokan harinya, Nana diantar Febrian pergi ke sekolah barunya, sedangkan Septian pergi ke perusahaan IGS beserta Angela dan putranya.


Saat sampai di sekolah, Febrian lalu menyusul Septian ke perusahaan, karena status Febrian adalah CEO disana.


Setelah masuk ke kelas, Nana menjadi pusat perhatian karena wajah cantik dan imutnya.


"Waw, cantik bro,"


"Idola gue banget,"


Bisik-bisik anak kelas cowok disana.


Namun tidak hanya pujian, beberapa anak kelas itu juga tidak sedikit mencibir karena rasa iri mereka.


Hal itu justru membuat Nana tidak fokus di kelas, mengingat tidak hanya bisikan, tetapi sura hati dan pikiran mereka semua mampu diketahuinya.


Itulah yang membuatnya merasa sedikit terganggu, karena belum terbiasa jika membaca banyak pikiran seseorang yang membicarakan tentang dirinya.


Namun ia tetap berusaha untuk bersikap seolah seperti anak remaja sekolah pada umumnya, dan tetap merahasiakan kemampuannya dari siapapun.


Di sisi lain, Angela menjadi bahan pembicaraan hangat di perusahaan, mengingat ia pergi dengan seorang pria yang terlihat berbeda dari beberapa waktu lalu.


Hal itu terjadi karena perubahan pisik Septian, serta identitas yang disembunyikan dari mereka.


Sesuatu yang mengejutkan terjadi, ketika seorang pria menerobos masuk untuk bertemu dengan Febrian.


Saat pria tersebut hendak masuk, ia di tahan oleh security karena penampilannya seperti preman.


"Maaf pak, anda tidak boleh masuk," ucap pak security.


Namun pria tersebut tetap menerobos, dengan alasan telah membuat perjanjian dengan Febrian.


Saat pak security hendak menyeretnya keluar, tiba-tiba berhenti ketika melihat Febrian yang baru datang.


"Ada apa pak?" tanya Febrian.


"Pria ini menerobos masuk untuk bertemu tuan," jawab pak security.


Febrian lalu menatap pria tersebut, namun ia tidak mengenalinya.


"Ada perlu apa ya pak?" tanya Febrian.


"Saya mau bicara empat mata sama anda," ucap pria tersebut.


Febrian yang mencurigai pria tersebut jelas menolak permintaanya.


"Saya sibuk, bapak boleh pergi," ucap Febrian berlalu pergi.


"Saya anggota maung bodas, diutus langsung oleh kang Jamal untuk menyampaikan sesuatu," ucap pria tersebut.


Langkah Febrian terhenti seketika, setelah mendengar ucapannya.


Ia lalu mengajak pria tersebut untuk masuk ke ruangan pribadinya.


Setelah mereka masuk, pria tersebut terkejut melihat Angela beserta putranya dan seorang pria asing disana.


"Sayang main dulu sama mama, papa mau ngobrol sama om Febrian," ucap Septian sambil menurunkan putranya dan menghampiri Febrian.


"Duduk pak," pinta Febrian.


Setelah pria itu duduk, ia masih menatap Septian dengan tajam.


"Ada bapak datang kesini?" tanya Febrian.


"Tapi," ucap pria tersebut terpotong.


"Dia keluarga saya, anggota maung bodas juga," ucap Febrian.


Setelah mendengar itu, pria tersebut kemudian menatap Febrian.


"Begini bos, kang Jamal meminta Anda dan Septian untuk datang ke Bandung bersama nona Angela dan putranya," ucap pria tersebut.


Mendengar hal yang menyangkut istri dan anaknya, Septian lalu menatap tajam pria tersebut.


"Ada hal apa, sampai harus menyangkut mereka?" tanya Septian.


"Saya kurang tahu, sepertinya ada hal penting yang mau beliau sampaikan," jawab pria tersebut.


Septian terdiam, karena ia hanya mengingat sedikit tentang kang Jamal beserta kelompok maung bodas.


"Nanti kami pergi secepatnya, ada lagi?" ucap Febrian


"Tidak ada bos," ucap pria tersebut.


"Kalau begitu, kamu boleh pergi," ucap Febrian.


Pria tersebut hanya mengangguk lalu beranjak pergi.


"Siapa dia?" tanya Angela berjalan mendekati mereka sambil menggendong putranya.


"Dia anak buah kang Jamal, di perintah untuk meminta kita pergi ke Bandung," jawab Febrian.


"Oh kirain siapa," ucap Angela sambil menurunkan putranya.


Septian kecil lalu menghampiri Septian dan meminta untuk menggendongnya.


Setelah Septian menggendong putranya, ia heran melihat putranya yang tidak mau berjauhan meskipun cuma sebentar.


Next........