
Septian lalu pergi keruangan kontrol IGS sambil menggendong putranya, diikuti Angela beserta Febrian.
Sesampainya disana, ia menurunkan putranya untuk melihat-lihat ruangan tersebut.
Angela beserta Febrian hanya mengawasi tingkah Septian kecil.
Septian lalu menghampiri monitor sistem.
"Hai IGS," ucap Septian sambil menatap monitor.
"Hallo tuan," suara sistem menjawab.
"Tampilkan informasi penting dari beberapa tahun lalu tentang kelompok maung bodas," pinta Septian.
Ting........
Ting........
Ting........
Sistem menunjukan beberapa gambar beserta tanggal pengambilan, lalu menjelaskannya.
Setelah beberapa saat, Septian akhirnya mengerti dengan apa yang terjadi di Bandung belakangan ini.
"Pantas saja kang Jamal meminta pergi ke sana" gerutu Septian dalam hati.
Septian kemudian memeriksa informasi pribadi dari beberapa anggota kelompok maung bodas, yang dicurigai telah menyimpang.
Setelah mendapatkan beberapa informasi tersebut, Septian lalu mengajak istri beserta putranya untuk makan siang.
Sementara Febrian bergegas pergi ke sekolah untuk menjemput Nana.
Setelah tiba di luar gerbang, Febrian melihat beberapa anak sekolahan yang sedang mengganggu Nana.
Ia kemudian turun dari mobilnya dan menghampiri mereka.
"Woi!" ucap Febrian sambil menunjuk salah satu dari mereka.
Salah satu murid berandal tersebut berbalik dan menatap Febrian, lalu tersenyum kecut dan mengisyaratkan Febrian untuk tidak ikut campur.
Tanpa ba, bi, bu lagi. Febrian langsung menghajar mereka sebagai konsekuensi akibat telah mengganggu Nana.
Febrian lalu menghampiri Nana dan menanyakan keadaannya sambil melirik sekujur tubuhnya.
"Aku tidak apa-apa kak," ucap Nana.
"Apa mereka berniat jahat sama Nana?" tanya Febrian.
"Tidak kak, mereka cuma iseng-iseng aja," jawab Nana.
"Tetap saja, Nana itukan pacar kakak. Sudah kewajiban kakak jagain Nana," ucap Febrian.
"Dih pacar, sejak kapan kita pacaran?" ucap Nana menggoda.
Mendengar itu Febrian menjadi salah tingkah, dan gugup sendiri.
"Ayo pulang," ajak Febrian untuk mengalihkan pembicaraan.
"Jawab dulu, kapan kita pacaran?" tanya Nana.
"Sekarang," jawab Febrian.
"Tapi kakak belum bilang cinta, terus Nana belum terima kakak," ucap Nana.
"Ya sudah! Kalau gak mau, jangan nyesel," ucap Febrian berlalu menghampiri mobilnya.
"Kok gitu sih kak, gak ada usahanya banget," ucap Nana sambil berjalan menyusul ke mobil.
"Masalah tadi jangan sampai kak Septian tahu, apa lagi ayah dan ibu kita," pinta Febrian sambil mengendarai mobilnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Nana sambil menoleh kearah Febrian.
"Gak ada alasannya, Sayang" jawab Febrian sambil tersenyum serta mengedipkan sebelah matanya.
"Ih apa sih kak, bikin ngeri aja," ucap Nana sambil membalikan pandangannya.
"Nih makan," pinta Febrian sambil memberikan makanan yang ia beli tadi.
"Terima kasih," ucap Nana.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya tiba di rumah.
Setelah memarkirkan mobilnya, Febrian lalu bergegas masuk untuk beristirahat.
Sementara Septian beserta Angela dan putranya sedang berada di sebuah restoran.
Ketika hendak pergi, mereka ditahan oleh seorang wanita.
"Angela," ucap wanita tersebut.
"Fina," ucap Angela.
"Apa kabar La?" tanya Fina.
"Baik Fin, gimana kabarmu?" Angela balik bertanya.
"Iya! Kenalin, ini anak gue Fin," ucap Angela sambil menoleh kearah Septian dan putranya.
"Hai, ganteng banget. Namanya siapa?" ucap Fina sambil mendekati Septian kecil.
"Septian tante," ucap Septian kecil sambil menyalami Fina.
Mendengar nama Septian, Fina terdiam sejenak dan termenung.
Karena ia telah mengetahui kejadian tiga tahun silam yang menimpa Septian.
"Nama yang bagus," ucap Fina sambil mengusap rambut Septian kecil.
"Ini papa Septian," ucap Septian kecil setelah Fina melirik kearah Septian.
"Halo," ucap Fina sambil menundukkan badannya.
Septian tidak menjawab hanya tersenyum kecil dengan sedikit mengangguk.
Fina lalu menatap Angela dan duduk di sampingnya lalu berbisik, "Gue kira, lo berhenti kuliah mau nikah sama Septian, tahunya sama bule,"
"Bule apa sih, dia Septian temen kita dulu, coba lihat baik-baik," ucap Angela.
Fina terkejut mendengar ucapan dari temennya itu, ia seakan tidak percaya, melihat Septian yang selamat dari kecelakaan tiga tahun silam.
Fina kemudian menatap tajam kearah Septian, dan iapun masih belum bisa percaya.
"Aku pernah melawan Fikri dan dua temannya di kampus, sebelum aku di DO," ucap Septian.
Deg........
Detak jantung Fina seakan mengiyakan perkataan tersebut yang membuktikan kalau ia adalah Septian.
"Gak, gak mungkin," ucap Fina sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya Fin, dia Septian," ucap Angela menjelaskan.
Fina masih terdiam dengan tatapan kosong, mengingat hal yang sulit diterimanya.
"Ayo sayang kita pulang, mama biar disini dulu sama tante Fina," ajak Septian pada putranya sambil berdiri.
"Dadah mama," ucap Septian kecil sambil melambaikan tangannya.
Septian beserta putranya pergi terlebih dahulu, sementara Angela dan Fina masih reunian berdua.
Keesokan harinya, Septian pergi ke perusahaan bersama putranya, sementara Angela akan pergi bertemu dengan Fina dengan alasan masih rindu.
Febrian Seperti biasa, mengantar sang pujaan hati pergi ke sekolah, lalu menyusul Septian ke kantor.
Tiba sebelum jam pulang sekolah, Angela mendapat panggilan video dari Nana.
Diperlihatkan kalau Nana sedang berada di sebuah gedung tua, beserta beberapa berandalan sekolah yang kemarin sempat mengganggunya.
Angela yang panik tidak sempat memberitahukan hal itu pada Septian dan juga Febrian.
Setelah Angela tiba di lokasi, terlihat Nana sedang di sekap oleh beberapa berandalan, yang memegang berbagai senjata tawuran anak SMA.
Melihat hal itu Angela hanya tersenyum melihat tingkah bocah-bocah tersebut, kemudian melawannya satu-persatu.
Disaat Angela sedang baku hantam dengan puluhan berandal sekolah, Nana kemudian memanggil Septian beserta Febrian.
Mengetahui Angela dan Nana sedang dalam bahaya, Febrian beserta Septian pergi dengan secepat mungkin.
Namun setelah mereka sampai, di tempat tersebut sudah tidak ada siapapun.
Setelah memastikan bahwa benar-benar tidak ada siapapun disana, tiba-tiba terdengar dering ponsel milik Septian.
Ting.......
"Kak kami di kantor polisi, kakak cepat kemari, keluarga mereka mau menuntut kami," ucap Nana.
Septian tidak menjawab dan lalu pergi beserta Febrian.
Sedangkan di kantor polisi, Angela sedang di caci maki oleh orang tua berandalan sekolah tersebut, yang diketahui bahwa mereka orang kaya.
Hal itu terlihat dari beberapa pakaian serta kendaran, dan cara serta gaya bicara mereka.
Bahkan beberapa polisi di sanapun, terlihat seperti akan membela mereka.
Disaat pembicaraan semakin semakin memanas di antara mereka.
Braaaaaak.........
Suara beberapa potongan kayu, gear sepeda motor yang diikat oleh rantai, serta beberapa senjata yang digunakan mereka sebelumnya.
Kemudian munculah dua orang pria dari balik kerumunan, yang tak lain ialah Septian dan Febrian.
Septian menatap kearah orang tua murid tersebut dengan sangat emosional.
"Kalian akan menuntut dua orang perempuan yang menghajar berandalan seperti mereka," ucap Septian.
Orang tua murid yang tadinya mendominasi pembicaraan, sekarang seperti mati kutu, ketika melihat Septian datang bersama CEO perusahaan besar IGS yaitu Febrian.
next