
Septian hanya tersenyum mengetahui dugaannya terbukti benar.
Ia lalu menggendong Septian kecil tanpa menghiraukan Angela.
"Ayo pulang jagoan kecil, nanti opa marah," ajak Septian.
"Tante Nana juga ikut," ucap Nana, lalu menggandeng tangan Septian.
Saat hendak pergi, Septian kecil berbalik melihat Angela.
"Mama tidak ikut pulang?" tanya Septian kecil.
"Mama tidak mau pulang, kalau tidak diajak sama ayah," jawab Angela.
"Ayah, ajakin mama pulang," pinta Septian kecil.
"Nanti mama pulang sendiri, kalau sudah tidak marah sama ayah," jelas Septian.
"Ya sudah mama tidak mau pulang," ucap Angela kesal.
"Septian juga tidak mau pulang yah, mau sama mama saja," ucap Septian kecil sembari berusaha turun dari gendongan sang ayah.
"Tante Nana juga temenin Septian saja," ucap Nana ikut-ikutan.
Septian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, melihat sikap keluarga kecilnya.
Septian akhirnya menghampiri mereka bertiga.
"Tante Nana gendong Septian kecil yah," pinta Septian.
Septian lalu tanpa bicara lagi, langsung menggendong Angela.
Angela terkejut, namun ia sangat bahagia ketika tahu bahwa suaminya masih sama kayak dulu.
"Jangan macem-macem disini, banyak kamera pengawas," ucap Septian yang membuat Angela senyum-senyum sendiri.
Mereka akhirnya pulang ke kediaman pak Demian, beserta beberapa orang suruhannya.
Sesampainya disana, mereka disambut dengan sangat antusias.
Septian sendirilah yang jadi pusat perhatian, karena mereka sangat merindukan sosok Septian.
Febrian orang yang paling tidak percaya, kini menangis histeris, ketika melihat sang kakak sekarang berada didepannya.
Pak Demian beserta istrinya juga ikut terharu, melihat Septian dan Febrian sedang berpelukan dalam tangis bahagianya.
"Sudah, kakak mau istirahat. Besok kakak cerita sama kamu serta ayah dan ibu. Sekarang kakak mau tidur," ucap Septian.
"Tapi kak,,,,," ucap Febrian terpotong.
"Tidak ada tapi," jelas Septian.
Septian akhirnya berdiri, lalu menatap pak Demian beserta istrinya.
"Septian pamit dulu yah, mau balik ke hotel," ucap Septian.
"Opa, Septian mau ikut ayah," ucap Septian kecil.
"Tidak bisa, kamu harus tetap disini," ucap pak Demian.
"Biarkan saja, dia sudah tidak menyayangi kita lagi yah," ucap Angela menyela.
"Satu hal lagi, kamu boleh pergi kapanpun kamu mau, tapi jangan harap bisa kembali lagi kesini. Apalagi mau bawa anakku pergi," ucap Angela kesal lalu pergi ke kamar sambil menggondong putranya.
"Susul dia nak, selama ini dia telah menderita atas kepergianmu, dan harus merawat anak kalian sendiri," pinta ibunya Angela.
Septian hanya mengangguk lalu pergi menyusul Angela ke kamarnya.
Sampai didepan pintu kamar, Septian mengetuk pintu beberapa kali namun Angela tidak menjawab.
Tok...tok....tok...
"Sayang buka pintunya," ucap Septian.
Angela tetap tidak mau membuka pintu, sampai saat Septian berbalik untuk pergi.
Kreeeek....
Pintu terbuka dan Septian kecil menghampirinya dengan menangis.
"Mama menangis, katanya ayah jahat, hiks" ucap Septian kecil.
"Maafin ayah ya," ucap Septian sambil mengusap air mata anaknya.
Septian kecil hanya mengangguk lalu menarik tangan ayahnya untuk masuk.
Setelah masuk, Septian benar-benar sesak dan sakit di hatinya, ketika melihat anak dan istrinya sedang bersedih atas dirinya.
"Jagoan ayah jangan sedih lagi," pinta Septian.
"Tapi mama, masih menangis yah," ucap Septian kecil
"Nanti ayah hibur yang hibur mama, sekarang jagoan ayah harus bobo" ucap Septian sambil memasukan putranya ke box tempat tidur anak.
Setelah beberapa menit, akhirnya Septian kecil tertidur pulas.
Septian lalu menghampiri Angela yang sudah berbaring di ranjang, dengan keadaannya yang sudah sedikit tenang.
"Apa kehadiranku menyakitimu sekarang?" tanya Septian.
Angela tidak menjawab malah berbalik badan membelakangi Septian.
"Maafkan aku telah menyakitimu selama ini" ucap Septian yang mengerti perasaan Angela.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan mengambil Septian kecil darimu,"
"Kamu pasti berat menerima semua ini, aku tidak akan memaksamu menerimaku seperi dulu, aku sekarang berharap kamu selalu bahagia,"
Septian lalu menyelimuti tubuh Angela tang dia rasa sudah tidur, namun setelah Septian berdiri dan hendak pergi, Angela berbalik.
"Pergilah, kau bukan suamiku. Asal kau tahu, suamiku itu Superhero bukan pengecut sepertimu," ucap Angela pelan.
"Maaf," ucap Septian mendekati dan hendak memeluk Angela.
Angela memukuli dada Septian dengan tangisnya yang kembali pecah.
"Kau jahat! kau tidak tahu sakitnya hatiku, ketika kehilangan orang yang paling ku sayangi," ucap Angela.
Septian tidak menjawab hanya mengeratkan pelukannya.
"Dan perlu kamu tahu. Bagaimana sakitnya hatiku, ketika anak kita selalu menanyakan seperti apa ayahnya dan dimana keberadaannya," ucap Angela dengan tangisan mulai histeris.
Mengetahui sakit dan derita yang dialami Angela selama ini, membuat Septian mulai menjatuhkan air matanya.
Septian semakin menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi, hingga membuat ia stres berlebihan.
Septian lalu merasa kesakitan di kepala sampai-sampai ia pingsan di pelukan Angela.
Angela yang panik lalu memanggil dokter pribadi untuk memeriksa keadaan Septian.
Setelah doker memeriksa, sang dokter menghampiri keluarga Angela diruang tamu.
"Bagaimana keadaanya?" tanya pak Demian.
"Beliau hanya stres dan banyak pikiran, namun usahakan itu jangan terjadi lagi. Karena beliau sedang dalam masa pemulihan ingatannya," ucap sang dokter.
"Pemulihan ingatan, maksudnya dia amnesia?" tanya Angela.
"Benar non, akibat kecelakaan tiga tahun lalu ia mengalami amnesia," jawab dokter.
"Sekarang dia sudah pulih dan mengingat kami?" tanya pak Demian.
"Kalau kesehatannya sudah baik tuan, namun untuk ingatannya baru pulih sebagian," jelas dokter.
"Jadi, dia baru datang karena baru mengingat kami?" tanya pak Demian.
"Benar tuan. Apa saya boleh bertanya suatu?" ucap dokter.
Pak Demian hanya menjawab dengan mengangguk.
"Apa den Septian punya kembaran?" tanya dokter.
"Tida ada, cuma Febrian saja saudaranya. Kenapa anda bertanya seperti itu?" jawab pak Demian.
"Maaf tuan, soalnya den Septian sekarang beda dengan yang dulu," ucap dokter.
"Apa bedanya dok?" tanya Angela.
"Den Septian dulu mengidap penyakit anemia hemolitik, namun sekarang sudah sembuh total. Dan juga sel-sel dalam tubuh den Septian bergerak lebih cepat dari biasanya," jawab dokter.
"Kok bisa?" tanya pak Demian.
"Den Septian sepertinya mendapatkan transfusi darah dari seseorang. Sementara untuk reaksi tubuh, dipicu oleh alat canggih yang ada pada dirinya. Entah itu kalung, gelang, cincin, jam tangan, sepatu atau benda lainnya," balas dokter.
"Apa itu berbahaya?" tanya Angela.
"Kalau berbahaya tidak non, malahan ini sangat baik buat den Septian. Pasalnya teknologi seperti ini tidak bisa didapatkan dengan mudah, apalagi dengan biaya murah bahkan gratis," jawab sang dokter.
Setelah dokter permisi untuk pergi, pak Demian terdiam seperti memikirkan sesuatu atau seseorang.
Next.....