
Dipagi hari yang cerah, kakek Sagara membawakan sebuah minuman hangat untuk Septian, serta duduk di sampingnya.
"Kamu merindukan keluargamu?" ucap kakek Sagara membuyarkan lamunan Septian.
"Iya kek, tapi aku sudah berjanji akan selalu bersamamu" ucap Septian bersedih.
"Aku bukan keluargamu, kau bisa pergi kapan saja"
Septian mengira kakek Sagara akan melarangnya untuk pergi.
Akan tetapi, kakek Sagara tidak melarang Septian untuk menemui keluarganya.
Justru menyuruh untuk menemui mereka saat ia merindukannya. Kakek Sagara hanya meminta untuk merahasiakan identitas serta kemampuannya untuk sementara waktu.
Septian senang mendengarkan berita itu kemudian ia memeluk kakak Sagara.
"Terima kasih kek. Nanti kalau aku sudah bertemu mereka, aku akan mengajakmu tinggal disana" ajak Septian sambil melepaskan pelukannya.
"Ambil ini, pinnya 123XXX. Gunakan untuk keperluanmu disana" ucap kakek Sagara sambil menyerahkan sebuah kartu ATM.
"Kenapa kakek memberikannya padaku?"
"Kakek sudah tidak membutuhkannya lagi"
"Kenapa kakek sangat baik padaku? Siapa kakek sebenarnya?" tanya Septian keheranan.
"Kau akan tahu sendiri nanti"
Mendengar ucapan dari kakek Sagara, Septian lalu menatap tajam sang kakek.
Septian akhirnya menyadari, bahwa kakek Sagara sepertinya sangat mengenal keluarganya.
Namun ia tidak berani untuk bertanya apapun lagi padanya.
"Kamu boleh pergi sekarang, aku akan menunggumu di rumah ini, jika kau ingin kembali" ucap kakek Sagara segera masuk dan menutup pintu.
Septian bingung harus pergi kemana, karena meskipun ia ingat keluarganya, tetapi ia belum ingat lokasi yang mereka tinggali.
Dengan hanya berbekalkan sebuah kartu bank, Septian memutuskan untuk pergi membeli beberapa baju di sebuah mall, ketika ia sampai di Jakarta.
Septian hanya membeli beberapa pakaian yang biasa saja, karena takut saldonya tidak cukup.
Namun kali ini, Septian salah. Karena uang yang ada disana sangat banyak.
Dia semakin penasaran dengan asal-usul serta identitas asli sang kakek.
Saat hendak keluar dari toko pakaian, tiba-tiba seorang anak kecil menabraknya.
"Aw," ucap anak tersebut kesakitan.
"Kamu tidak apa-apa nak?" tanya Septian lalu jongkok dan menatap anak itu.
"Tidak apa-apa. Maaf om, saya tidak sengaja" ucap anak tersebut sambil menunduk.
"Umur adek berapa tahun?" tanya Septian
"Dua tahun om" ucap anak kecil itu membuat Septian terkejut.
"Dua tahun sudah pintar dan sehebat ini, apa ini anak ajaib ya" ucap Septian dalam hati.
"Oh dua tahun. Kalau om boleh tahu, nama adek siapa?"
"Nama saya Septian om" jawab anak itu.
Septian kembali terkejut namun berusaha untuk bersikap biasa aja.
"Namanya bagus, cocok sama adek yang ganteng ini" ucap Septian sambil mengusap rambut Septian kecil.
"Iya om bagus, soalnya kata mama, nama ayahku juga Septian".
Mendengar hal itu membuat Septian diam mematung hingga beberapa saat.
Hingga pada saat ia telah tersadar, ia melihat anak itu sudah tidak ada.
Septian tidak ambil pusing, kemudian ia pergi ke sebuah hotel untuk ia beristirahat.
Setelah di dalam kamar, ia terus memikirkan anak kecil yang tadi ia temui.
Sementara anak kecil yang tadi kini sedang diceramahi sang ibu.
"Sayang, kamu kemana saja" tanya sang ibu.
"Tadi mau beli robot-robotan, tapi gak di bolehin sama opa" ucap Septian kecil.
"Nanti, kalau mau beli apa-apa bilang sama ibu ya."
"Iya bu"
Setelah beberapa hari berlalu, Septian yang cuma rebahan aja di kamar hotelnya, kini ia memutuskan untuk ke taman kota.
Setelah di taman kota, Septian bertemu dengan anak kecil yang ia temui beberapa hari lalu.
"Hai dek, masih ingat om?" tanya Septian setelah ia duduk di samping anak itu.
"Iya om, om yang tempo hari itukan" balas anak itu datar.
Meskipun begitu, Septian sangat kagum pada kemampuan anak ini, dikarenakan Septian menggunakan masker beserta topi hitam. Namun masih bisa dikenali oleh anak dua tahun yang baru pertama kali bertemu.
"Pinter. Adek kenapa sendirian disini? Mamanya mana?" tanya sambil Septian melihat sekeliling.
"Mama pergi beli minuman om. Aku juga tidak sendiri, ada mereka disini" balas Septian kecil sambil menunjuk dua pengawal yang jaraknya cukup dekat.
Septian terdiam seperti mengenali mereka, namun ia tidak ingat.
"Mau ikut om gak? Kita beli robot-robotan" ajak Septian.
"Om kok bisa tahu, kalau aku mau robot-robotan" tanya Septian kecil.
"Om itu sebenarnya manusia super, makannya om bisa tahu" ucap Septian berbisik.
"Om berbohong. Kata mama, manusia super itu cuma ayahku saja, tidak ada yang lain" ucap Septian kecil.
"Baiklah, ayo pergi" ajak Septian.
"Kalau mama nyariin aku gimana?" tanya Septian kecil.
"Om, akan izin dulu sama paman itu" ucap Septian sambil berjalan kearah dua pengawalnya.
Entah apa yang dibicarakan Septian, namun ia berhasil meyakinkan dua orang pengawal tersebut.
Septian akhirnya pergi dari taman beserta Septian kecil, lalu pergi ke toko mainan.
"Beli apapun yang Septian suka" ucap Septian pada Septian kecil.
Septian kecil tidak menjawab, karena sedang bersemangat membeli mainan.
"Om ayo pulang" ajak Septian kecil ketika telah mendapatkan banyak mainan.
Sesampainya didepan rumah, Septian merasa tidak asing dengan rumah tersebut.
Ketika Septian pamit untuk pulang, tiba-tiba ia dihentikan oleh seorang pria.
"Kau siapa?" tanya seorang pria yang keluar beserta mamanya Septian kecil.
Septian tidak menjawab karena tengah melihat mamanya Septian kecil yang sangat ia kenali.
Angela, Sekarang kau sudah punya suami sama anak?" gumam Septian dalam hati.
"Kenapa kau malah bengong?" tanya pria tersebut.
Septian masih tidak menjawab, dan akhirnya membuat pria itu mulai emosi.
Pria itu hendak memukulnya, namun Septian menahannya dan balik memukulnya hingga pria itu merasa sangat kesakitan.
Angela yang tadinya hanya diam saja, kini ia melakukan perlawanan karena pengawalnya terjatuh.
Angela dengan percaya diri bahwa tidak ada orang yang mampu menghindari jarum emas miliknya.
Shoot.....shoot......shoot....
Angela terkejut mengetahui fakta, bahwa orang itu mampu menghindar dari serangannya.
Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau bisa menghindari seranganku?" gumam Angela dalam hati.
Pertarungan mereka terhenti ketika Nana keluar, lalu menatap Septian tajam.
" Nana!" gumam Septian dalam hati.
Kemudian Nana menghampiri Septian dan berkata, "Kamu siapa? Kenapa mengetahui namaku"
Septian hanya tersenyum kecil yang tidak mereka sadari, mengingat Septian menggunakan masker beserta topi hitam.
Septian berbalik dan hendak pergi, akan tetapi terhenti ketika mendengar teriakan.
"Kenapa om hebat seperti manusia super? Apa om ini ayahku?" tanya Septian kecil.
Mendengar hal itu, membuat mereka semua terkejut.
"Om, bukan manusia super" ucap Septian tanpa berbalik.
Mendengarkan suara pria itu, Angela dan Nana seperti mengenalinya.
Next.....