My Superhero

My Superhero
Hadiah



Mendengar ucapan polos dari seorang anak yang berumur dua tahun, membuat mereka terdiam dan fokus menatap anak tersebut.


"Darimana Septian tahu sayang?" tanya Angela sambil memeluk putranya.


Namun putranya masih menangis dan belum bisa menjawab pertanyaan Angela.


"Maafin mama sayang, mama tidak marah kok sama Septian," ucap Angela.


Setelah beberapa saat, akhirnya Septian kecilpun merasa lebih baik.


"Tadi Septian pegang tangan papa, terus nanti papa bangunnya, kalau sudah dibangunin sama orang itu" ucap Septian kecil sambil menunjuk dokter yang menghampiri mereka.


Mereka terdiam ketika melihat seorang dokter muda menghampiri mereka.


Namun dokter tersebut hanya berbicara untuk datang besok lusa.


Entah apa alasannya, mereka hanya bisa menuruti ucapan sang dokter.


Tibalah hari dimana mereka menjenguk Septian di ruangannya.


Mereka menunggu di luar ruangan sebelum mendapat izin dari dokter yang merawatnya.


Setelah mendapatkan izin dan masuk, mereka dikagetkan dengan tubuh Septian yang berubah drastis.


Perubahannya terlihat jelas ketika mereka melihat kulit sawo matang Septian, berubah putih seperti orang bule, bahkan rambutnya ikut memutih.


Namun meski begitu, Septian justru terlihat lebih tampan, dan Septian kecil sangat menyukainya.


Pak Ferdian menanyakan langsung kenapa bisa terjadi hal seperti ini pada putranya.


"Kenapa anak saya seperti ini dok?" tanya pak Ferdian.


"Ini terjadi karena pergerakan sel ditubuhnya terlalu cepat pak, melebihi batas normal," jawab sang dokter.


"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya pak Ferdian.


"Sepertinya pengaruh eksternal pak, karena kemarin saya lihat sudah normal kembali," jawab dokter.


"Sekarang, bagaimana keadaanya, apa sudah ada yang mendonorkan darahnya?" tanya pak Ferdian.


"Beliau kemarin mendapatkan donor darah dari seseorang, dia pasti baik-baik saja," jawab dokter.


"Siapa, dok" tanya Angela.


"Maaf, saya tidak bisa memberitahukan identitas orang tersebut. Namun saya harap, kejadian seperti ini tidak terjadi lagi, pasalnya luka tusuk serta bekas kecelakaan beberapa tahun lalu masih belum sepenuhnya pulih, itu bisa membahayakannya," ucap dokter.


"Baik, terima kasih dok," ucap Angela.


Dokter tersebut lalu mengangguk dan pergi meninggalkan mereka semua.


Orang tua Septian sebenarnya mengetahui apa yang terjadi kepada anaknya selama ini, namun karena ancaman dari kakek Kazuki mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kamu kenapa bisa seperti ini sayang?" tanya ibunya Septian sambil memegang tangannya.


"Mungkin dampak dari penggunaan jam tangan secara paksa," jawab Febrian.


"Memang jam tangan itu ada efeknya?" tanya Angela.


"Jam yang ditangan Septian kecil tidak ada, namun yang ditangan kakak ada, kalau yang memakainya sedang dalam keadaan terluka," jawab Febrian.


"Kamu tahu darimana sayang?" tanya ibunya sambil menoleh kearah Febrian.


"Kak Septian yang bilang padaku," jawab Febrian.


"Mama, Septian boleh pegang tangan papa?" tanya Septian kecil sambil menatap Angela.


"Tidur saja di samping papa, tapi jangan nakal," ucap Angela sambil menurunkannya di ranjang.


Septian kecil kemudian memegang tangan papanya dengan lembut. Namun sejurus kemudian, hal mengejutkan kembali terjadi.


Plak.....plak......plak....


"Papa bangun pa, Septian kangen papa," ucap Septian kecil, sambil terus menampar pipi Septian dengan cukup kencang ia agar terbangun.


Angela yang terkejut melihat tingkah putranya lalu hendak menggendongnya untuk menjauh, namun tangannya berhenti ketika mendengar teriakan suaminya.


"Aw sakiiiiit, anak siapa ini sih, kok nakal banget," ucap Septian sambil menghalau tamparan dari putra kecilnya.


"Anak kita sayang, jangan bilang kamu lupa," ucap Angela yang ikut memukul tangan suaminya.


"Iya, Septian anak papa sama mama," ucap Septian kecil lalu memeluk Septian.


"Pinter anak papa. Oh iya, ini opa Ferdian ayahnya papa, kalau ini oma siska ibunya papa sama om Febrian," ucap Septian sambil menunjuk kedua orang tuanya.


"Hallo ganteng," ucap ibunya Septian sambil mengelus rambut cucunya.


"Kakek Kazuki dimana bu?" tanya Septian.


"Kalian tidak marahkan, sama kami dan kakek Kazuki?" tanya ibunya sambil menatap Septian.


"Tidak bu, lagian beliau tidak salah. Ini cuma salah paham, yang diinginkannya cuma bu Fira sama bu Lisa saja," jawab Septian.


"Kirain masih marah. Kakek Kazuki sibuk, bentar lagi kesini bawa hadiah buat kalian," ucap ibunya.


Tak lama setelah ibunya berkata seperti itu, datanglah kakek Kazuki beserta anak buah kepercayaannya.


Setelah mereka masuk, kakek Kazuki memberikan hadiah yang telah ia janjikan.


"Ambilah, kamu yang pantas memakainya, kakek sudah tua, tidak mampu mempelajarinya lagi," ucap kakek Kazuki memberikan jam tangan overtime.


"Terima kasih kek," ucap Septian setelqh menerima jam tangan tersebut.


"Kalau ini buat jagoan kecil kita," ucap kakek Kazuki sambil memberikan jam tangan.


"Ini punya Septian, hadiah dari papa, bukan dari kakek," ucap Septian kecil menegaskan.


"Iya sayang, tapi jam ini kakek yang menggambarnya, jadi punya kakek juga, sekarang bilang terima kasih sama kakek," ucap Septian.


"Terima kasih kek," ucap Septian kecil.


"Sama-sama, jadi anak yang pinter ya," ucap kakek Kazuki.


Septian kecil mengangguk sambil memberikan jam tangan tersebut pada Angela.


Kemudian kakek Kazuki memberikan sebuah hadiah kepada dua cucunya.


"Apa ini kek?" tanya Angela.


"Kakek memiliki 70% saham di Menara Kembar, kakek memberikannya kepadamu 30%, adikmu 30% dan putramu 10%." jawab kakek Kazuki.


Angela dan Nana kaget ketika mengetahui hadiah yang sangat mahal tersebut.


"Kenapa diberikan kepada kami semua, buat kakek mana?" ucap Angela balik bertanya.


"Buat kakek, ibumu dan tante Lisa masih ada, kamu jangan khawatir," ucap kakek Kazuki.


"Cuma aku yang tidak dapat apa-apa?" tanya Febrian.


"Kamu dapat cucuku," ucap kakek Kazuki.


"Maksudnya, aku juga dijodohin sama kayak kak Septian dan kak Angela?" tanya Febrian.


"Apa kamu gak mau sama dia?" ucap kakek Kazuki balik bertanya.


Febrian tidak menjawab, hanya terdiam ketika mengetahui hadiah yang ia dapat.


Mungkin karena ia sudah menganggap Nana seperti adiknya sendiri, berbeda dengan Nana yang terlihat sangat senang.


"Oh iya, aku juga punya hadiah buat kakek," ucap bu Fira.


"Apa itu?" tanya kakek Kazuki.


"Masuk," ucap bu Fira sambil menoleh kearah pintu.


Lalu masuklah seorang wanita yaitu bu Lisa, putri bungsu dari kakek Kazuki.


Bu Lisa lalu memeluk kakek Kazuki dan menangis haru.


"Ayah, maafkan Lisa yah," ucap bu Lisa.


"Ayah yang telah bersalah, dan ayah yang harus minta maaf sama kalian," ucap kakek Kazuki.


"Tidak yah, Lisa yang sudah meninggalkan ayah sendiri, mulai sekarang Lisa janji akan nemenin ayah disini," ucap bu Lisa sambil melepaskan pelukannya.


"Kalau begitu, nanti ayah siapkan segala sesuatunya," ucap kakek Kazuki sambil mengusap air mata putri bungsunya.


"Kalau begitu kami pamit dulu, kalau kalian semua butuh apa-apa di sini, beritahu kakek ya," ucap kakek Kazuki berlalu.


"Dadah kakek," ucap Septian kecil sambil melambaikan tangannya.


"Dadah," ucap kakek Kazuki dengan lambaian tangan.


Next.......