My Superhero

My Superhero
Masuk



Setelah mengakhiri kesibukannya, Septian mengajak anggota keluarga pergi ke taman halaman belakang rumah.


Setelah sampai disana, Angela menurunkan Septian kecil dari pangkuannya.


"Sayang, main sama om Roby dulu, mama mau bicara sama papa," pinta Angela.


Septian kecil tidak menjawab, lalu pergi berlari menghampiri Roby yang sedang menerbangkan sebuah drone.


"Kirain jalan-jalan kemana tahunya kesini," ucap Angela lalu duduk di samping Septian.


"Aku pengen lihat anak kita main, lagian aku gak pernah melihatnya sejak kepergianku," ucap Septian sambil melihat putranya dari jarah jauh.


"Terus, kenapa gak ikut main?" tanya Angela.


"Kalau aku ikut main, aku gak bisa jawab pertanyaan dari kalian," jawab Septian melirik Angela.


"Benar, ayah sudah mempersiapkan begitu banyak pertanyaan buat kamu," ucap pak Demian.


"Namun, jangan tanya kenapa Septian bisa selamat. Karena Septian juga tidak tahu," ucap Septian.


"Baik! Ayah cuma mau tanya? Apa kamu yang membuat jam tangan sama kacamata itu?" tanya pak Demian.


"Bukan," jawab singkat Septian.


"Lalu siapa yang membuatnya?" tanya Febrian.


"Alat super canggih seperti itu tidak ada jualan dipasaran, kakak tidak bisa memberitahukannya." jawab Septian.


"Tapi aku pengen tahu yang, terus aku juga mau alat seperti itu," ucap Angela.


Septian berpikir sejenak sebelum menjawab, lalu ia menemukan sebuah ide.


"Aku akan jawab, tapi minta satu syarat?" ucap Septian.


"Syarat apa sih yang?" tanya Angela.


"Aku akan menjawab, kalau diantara kalian ada yang mengalahkanku dalam permainan catur," jawab Septian.


"Baik, aku yang akan main," ucap Febrian menawarkan diri.


Septian mengangguk, lalu menyuruh seorang pengawal untuk mempersiapkannya.


Dan setelah semuanya siap, tidak ada satu orangpun yang mendukung Septian.


Hal ini dikarenakan Febrian pernah mengalahkan om Demian, dan juga agar Septian menjawab pertanyaan mereka jika ia kalah.


Meskipun tidak ada yang mendukungnya, bahkan istri dan mertuanya saja lebih mendukung sang adik, hal itu tidak menyurutkan semangatnya.


Justru Septian semakin percaya diri meskipun ia tidak pernah mengalahkan Febrian.


"Kak, mengalah saja. Dari dulu juga aku selalu menang," ucap Febrian.


"Belum main masa mengaku kalah, jangan sombong dulu. Sekarang adalah kekalahan pertama kamu dari kakak," ucap Septian.


"Baik, kalau begitu sekarang jalan," pinta Febrian pada kakaknya.


Mendengar percakapan mereka, membuat semua orang disana yakin bahwa Febrian akan menang.


Pertandingan berlangsung sengit, hingga beberapa saat Septian kecil datang dan menatap tajam papan catur tersebut.


Setelah itu Septian kecil menyentuh paha ayahnya dan Febrian secara bersamaan sambil menutup mata.


Mereka terkejut melihat kelakuan Septian kecil yang dianggap lucu.


Namun mereka sangat terkejut ketika Septian kecil berkata, "Papa akan menang, om Febrian kalah."


Mereka semua kini menatap Septian kecil dengan keheranan.


"Kamu tahu darimana sayang?" tanya Angela sambil menggendong putranya.


"Septian lihat nanti papa tersenyum, kemudian om Febrian sama opa menunduk," jawab Septian kecil.


Angela yang sedikit ragu dengan ucapan putranya dan menganggap itu cuma tebakan asal-asalan saja.


Namun, Angela terdiam kaku ketika melihat Septian tersenyum lalu Febrian menunduk dan berkata, "Aku kalah."


"Bagaimana bisa? Ucapan anak dua tahun bisa kebetulan seperti itu, apa aku sedang bermimpi atau cuma halusinasiku saja," gerutu Angela dalam hati.


Mereka semua juga ikut terkejut bukan karena kekalahan Febrian, namun karena ucapan Septian kecil.


Septian kemudian mengambil putranya dari sang istri, karena takut Septian kecil akan dihujani banyak pertanyaan.


Beneran saja, pak Demian, Nana bahkan Febrian yang sedari tadi terdiampun ikut bertanya.


Setalah mereka masuk kamar, mereka beristirahat sampai tak terasa telah berganti hari.


Setelah Septian bersiap, ia mengajak istri dan putranya untuk pergi sarapan.


"Kalian sudah siap?" tanya Septian kepada Nana dan Febrian yang sedang sarapan.


"Sudah kak," jawab Febrian singkat.


Septian akhirnya pamit untuk pergi ke kantor IGS yang telah lama ia tinggalkan.


Sesampainya di sana, netizen heboh ketika melihat Angela pergi dengan seorang pria yang menggendong putranya.


"Siapa pria itu?"


"Apa dia suami barunya?"


"Mana aku tahu, orang dia pake masker!"


Ucapan beberapa karyawati, karena tidak mengetahui kalau Septian masih hidup dan telah kembali.


Septian kemudian masuk kedalam lift, dan menggunakan jam tangan milik putranya sebagai elevator access control system.


SEDIKIT INFO


Elevator Access Control System


Kontroler elevator access adalah alat pengontrol lantai yang dioperasikan bersamaan dengan sistem kunci ruangan, ini artinya bahwa lift hanya bisa diakses dengan menggunakan kartu kunci kamar yang dipegang oleh orang yang memiliki akses, sehingga bagi orang yang tidak memiliki kartu akses maka tidak dapat menggunakan lift.


Elevator Access Control System mengatur siapa saja yang diperbolehkan mengakses setiap lantai dalam perusahaan. Sistem ini dapat diatur sedemikian rupa, supaya aman namun juga fleksibel.


KEMBALI KE LAPTOP


Ketika lift berhenti dan terbuka mereka kebingungan, karena tidak mengetahui ada ruangan rahasia di perusahaan itu.


Ketika berjalan beberapa meter di lorong ruangan tersebut, mereka tiba di pintu pertama.


"Septian, Septian Junior, Angela, Silvana, Febrian," ucap Septian didepan pintu kemudian tak lama pintu tersebut terbuka.


Mereka yang semakin kebingungan memilih untuk mengikuti tanpa menanyakan apapun.


Setelah mereka masuk kedalam terlihat sebuah ruangan atau kamar yang berukuran besar yang sekelilingnya terbuat dari kaca tebal.


Septian kemudian menempelkan telapak tangan serta serta mendekatkan mata kanannya pada alat pemindai retina.


Setelah telapak tangan dan retina Septian terdeteksi dan diterima, kemudian terdengar "enter password," suara dari sistem tersebut.


Septian kebingungan karena tidak tahu passwornya, namun ia tetap mencobanya.


Ia kemudian menyebutkan namanya namun gagal, begitupun nama orang tuanya, sampai nama-nama semua anggota keluarganya.


Akan tetapi hasilnya nihil karena tetap saja salah dan membuat Septian frustasi.


"Sayang kamu tidak tahu passwordnya?" tanya Angela.


"Aku tidak menyangka, aku kira tidak ada passwordnya," jawab Septian.


"Tanya sama ayah atau ibu saja," pinta Angela.


"Aku tidak yakin kalau mereka akan memberitahukannya," ucap Septian.


"Coba saja dulu, siapa tahu mereka memberitahu kita," pinta Angela.


"Ya sudah aku coba," ucap Septian sembari mencoba menghubungi pak Demian.


Saat sedang mencoba, Febrian tiba-tiba bertanya, "Emang didalam ruangan ini ada apa kak?"


"Nanti kamu juga tahu," balas Septian tanpa menoleh.


Kemudian *Ting.......


"Password dan suara diterima" suara sistem bersamaan dengan pintu yang terbuka*.


"Hadeh, orang macam apa yang memberikan password seperti ini," ucap Septian kesal kemudian masuk dan berhenti menghubungi pak Demian.


Setelah mereka masuk kemudian terdengar suara dari sistem "Welcome to IGS control".


Kemudian Angela menjawab sekaligus bertanya, "Apa itu IGS?".


Next.......