My Superhero

My Superhero
Berjalan Lancar



"Mama bilang kalau papa itu jagoan, kayak superman," ucap Septian kecil polos.


Mereka tertawa melihat kepolosan putranya, Septian lalu menunjukan salah satu kehebatan jam tangan milik putranya itu.


Tit.......


Suara jam tangan ketika Septian menekan salah satu tombolnya.


"Telepon papa Septian," ucap Septian pada jam tangan milik putranya.


Tuuut.....tuuuut......tuuut....


Suara nada dering ponsel Septian memperlihatkan panggilan masuk.


"Wah, keren jam tangannya pa," ucap Septian kecil kagum pada jam tangannya.


"Itu di buat khusus untuk jagoan papa sama mama," ucap Septian sambil mengelus rambut putranya.


"Apa jam tangan papa juga hebat kayak punya Septian?" tanya Septian kecil sambil melirik jam tangan milik ayahnya.


"Ini lebih hebat dari punya Septian, nanti kalau Septian sudah besar. Jam tangan ini papa kasih buat Septian," jawab Septian setelah menunjukan jam tangan miliknya.


"Terima kasih pa. Tapi, kenapa mama tidak punya jam tangan seperti kita?" tanya Septian setelah melihat ibunya tidak punya jam tangan.


Septian hendak menjawab pertanyaan putranya, namun saat ia melihat istrinya dengan tatapan mengintimidasi. Dia terkejut ketika jam tangan miliknya bergetar dan berbunyi.


"Kakek mengirimkan barang keperluamu ke apartment kalian, kakek harus pergi mengurus sesuatu. Kalian harus cepat, karena rencana mereka hampir berhasil," Pesan suara terdengar di jam tangan Septian.


Angela yang mendengar itu kemudian bertanya kepada suaminya.


"Sayang pesan suara dari siapa?" tanya Angela keheranan.


"Aku gak bisa jelasin sekarang, aku pamit ke apartemen dulu sama Febrian, besok pagi aku jemput kalian disini," ucap Septian berlalu setelah memeluk putra dan istrinya.


Angela kemudian mengangguk setelah memangku putranya yang terdiam melihat papanya pergi.


Septian akhirnya pergi bersama adiknya ke apartment lama mereka.


Mereka kemudian mengambil barang yang telah dikirimkan oleh seseorang, lalu mempersiapkan semuanya.


Keesokan harinya......


Setelah mempersiapkan semua keperluannya, Mereka tiba di rumah pak Demian.


"Kalian ngapain disana?" tanya pak Demian setelah mereka turun dari motor.


"Mengurus sesuatu yah," jawab Septian.


"Kenapa gak nyuruh Ian sama Dani saja," tanya pak Demian.


"Mereka gak bisa yah," jawab Septian.


"Sekarang kami pamit pergi yah, Septian pastikan mereka semua akan baik-baik saja," ucap Septian.


"Baiklah, kalau kalian memaksa. Tapi ingat, jika ada apa-apa cepat hubungi kami," pinta pak Demian kepada menantunya.


Septian hanya mengangguk lalu menoleh kearah istrinya.


"Ayo sayang!" ajak Septian lalu menggendong putranya.


Mereka akhirnya pergi berlima ke bandara, setelah perjalanan beberapa jam.


Akhirnya mereka tiba disalah satu hotel berbintang dekat dengan menara ternama, Malaysia.


Saat berada di kamar hotel berukuran jumbo, Septian kemudian mengeluarkan beberapa alat yang mereka perlukan serta memberikan arahan.


"Beliau adalah kakek Kazuki, siapapun yang melihatnya, tekan tombol di kacamata kalian, lalu tombol di cincin yang kakak berikan tadi," ucap Septian.


"Emang cincin ini fungsinya buat apa kak?" tanya Febrian.


"Jika salah satu dari kita menekannya, maka kacamata kalian akan menuntun kita untuk berkumpul di tempat orang yang menekannya," ucap Septian.


"Bukankah keamanan disana ketat? bagaimana kita bisa masuk sayang?" tanya Angela.


"Oh iya, kalungkan kartu ini," ucap Septian lalu menyerahkan kartu identitas anggota pemerintahan disana.


"Kita jadi anggota pemerintah disini? Kakak dapat dari mana?" tanya Febrian.


"Bukan disini, tapi di Negara ini. Kakak dapat dari seseorang kemarin," jawab Septian.


"Lebih bagus orang itu, cuma kalau tidak bisa, kalian boleh mengikuti orang yang menggunakan setelan hitam berlogo KSS. Tapi, jangan menekan tombol di cincin, tombol itu khusus buat kakek Kazuki saja," jawab Septian.


"Kami mengerti kak," ucap Febrian dan Nana sambil mengangguk bersamaan.


"Kita bagi menjadi dua tim, kakak sama kak Angela masuk sebagai anggota pemerintahan, kalian masuk sebagai pengunjung dengan Septian kecil," ucap Septian.


"Apa Septian tidak ikut kita saja sayang?" tanya Angela.


"Tidak, kalau Septian ikut Nana. Mereka tidak akan mencurigai gadis remaja sama anak kecil. Nana bisa membaca pikiran seseorang, jadi ia bisa menghindar" jawab Septian.


"Tapi tetap saja, aku gak tenang sayang," ucap Angela memelas.


"Ya sudah, kamu pergi sama Nana dan Septian. Biar aku sama Febrian," ucap Septian.


"Nah kalau gitu aku setuju," ucap Angela merasa lega.


Setelah memberikan rencana yang lumayan matang, Septian mengajak mereka untuk makan dan beristirahat, karena hari sudah mulai gelap.


Angela dan Septian telah berbaring dan hendak beristirahat, berbeda dengan jagoan kecil mereka yang sepanjang hari tertidur pulas.


Septian kecil lalu diajak berkeliling di sekitaran hotel sama Febrian dan Nana.


Angela yang masih penasaran dengan perubahan yang dialami Septian belakangan ini.


"Sayang, apa aku boleh minta sesuatu sama kamu?" tanya Angela.


"Minta saja sayang, asalkan jangan yang aneh-aneh," jawab Septian.


"Aku mau kamu selalu jujur dan berterus terang, aku itukan istrimu," pinta Angela.


"Aku akan berusaha untuk selalu jujur dan terbuka, sekarangpun aku sedang memberitahu sesuatu padamu, namun jika aku menjelaskan dengan perkataan kamu tidak akan mengerti," balas Septian.


"Serumit itukah hidup kita sekarang?" tanya Angela.


"Tidak juga sih, cuma sekarang hidup kita memang seperti ini," jawab Septian.


"Aku seperti ini cuma takut kehilangan kamu lagi, kalau itu terjadi, apa yang harus aku katakan pada putra kita," ucap Angela pelan.


"Aku mengerti sayang. Tenang saja, aku akan mati-matian agar kita selalu bersama," jawab Septian sambil memeluk Angela.


"Tapi aku masih keinget perkataan ayah," ucap Angela.


"Ayah berbicara seperti itu agar kita selalu waspada," ucap Septian meyakinkan.


Cup.......


Angela mencium Septian dengan lembut, yang membuat suaminya terkejut.


"Mulai kambuh nih nakalnya," ucap Septian menggoda Angela.


"Habisnya aku kangen sama perlakuan hangat kamu," jawab Angela.


"Aku juga kangen sama istriku yang nakal ini," ucap Septian.


"Kok bilangnya nakal sih, kalau gak mau bilang saja, jangan menghina istri sendiri," ucap Angela kesal.


"Cie ibu-ibu lagi marah," ucap Septian sambil mencubit pipi Angela.


"Bilang apa barusan, coba sekali lagi," ucap Angela sambil menatap tajam Septian.


"Bilang ibu-ibu lagi marah, tapi kenapa mata kamu melotot seperti itu," ucap Septian.


Dengan kecepatan melebihi manusia super, kini tubuh Angela telah berada diatas tubuh suaminya.


Tanpa permisi lagi, Angela mencium Septian dengan ganasnya.


Merekapun yang merindukan hal sama dari dulu, kini sudah tidak bisa menahannya lagi.


Disaat Angela telah membuka kancing baju suaminya dengan bersemangat, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok....tok......tok.......


"Ma, mama buka pintunya, Septian mau masuk," ucap Septian namun Febrian yang mengetuk pintu.


"Maaf sayang, aku lupa kalau kita sudah punya anak, hehe," ucap Angela sambil menghentikan perbuatannya dan menghampiri putra kecilnya.


Next.......