MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 9



Sudah hampir sebulan Brian hanya mengurung diri dikamarnya. Dia bahkan tidak ada nafsu untuk keluar dan menyerahkan seluruh pekerjaannya pada wakilnya di perusahaan.


Sedangkan di perusahaan milik Erick, Rennata yang memang bekerja disana selalu saja teringat pada Brian.


Bahkan beberapa kali, saat dia dipanggil ke ruangannya oleh Erick, dia tidak sengaja memanggil Erick dengan nama Brian. Pada awalnya dia hanya menganggap itu sebagai kesalahan biasa karena sebelumnya sudah terbiasa memanggil nama Brian.


Namun saat ini Rennata sudah sadar bahwa hatinya telah beralih pada Brian. Hingga akhir-akhir ini dia selalu memimpikan Brian dan tidak bersemangat setiap bersama Erick.


Siang itu, Rennata pergi keruangan Erick.


"Erick, ada sesuatu yang perlu aku bicarakan padamu." Ucap Rennata masuk keruangan Erick.


"Ada apa sayang?.. Nah, ayo duduk disini." Tanya Erick sembari mengajak Rennata duduk disofa.


Saat Erick memegang tangan Rennata, dia sangat kaget karena Rennata langsung melepaskan pegangannya dan duduk di sofa.


"Erick, aku minta maaf, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku sudah tidak bisa membohongi perasaanku. Pada awalnya aku memang sangat menyukaimu, namun ternyata itu hanyalah perasaan sayang karena kita teman semasa kecil." Ucap Rennata memberanikan dirinya berbicara hal itu pada Erick. Dia tau apa yang dia ucapkan ini membuat Erick terluka, namun dia harus mengatakannya karena tidak ingin semakin membuat Erick terluka.


Erick terdiam mendengar ucapan Rennata yang sangat tiba-tiba itu. Dia sangat shock dan berusaha menyembunyikan semua itu agar Rennata tidak merasa terbebani.


Sebenarnya dia tidak menyangka akan kehilangan Rennata seperti ini. Dia berusaha tersenyum dan menenangkan dirinya.


"Aku mengerti, aku akan melepaskanmu, dan aku akan selalu ada seperti biasanya untukmu.. Datanglah jika kau membutuhkanku.. Aku tau kau menyukai Brian, pergilah dan temui dia.. Sepertinya dia juga menyukaimu." Ujar Erick berusaha mengikhlaskan Rennata.


Jujur saja perasaannya sangat sakit saat ini dan sekaligus marah pada Brian. Tapi dia menyembunyikan semuanya karena dia tidak ingin amarahnya membuat gadis yang dicintainya itu sampai menjauhinya.


"Aku benar-benar minta maaf Rick.." Sedih Rennata menatap Erick.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa.. Aku hanya ingin melihatmu bahagia dengan orang yang kau cintai."


Rennata berdiri dari duduknya dan memeluk Erick. Saat dipeluk oleh Rennata, airmatanya tanpa sengaja menetes. Dia tidak menyangka semua akan berakhir secepat ini.


Agar Rennata tidak melihatnya menangis, dia segera menghapus airmatanya sebelum Rennata melepas pelukannya.


🏵🏵🏵🏵🏵🏵


Siang berlalu dengan cepat, Rennata yang sudah keluar dari perusahaan Erick telah selesai mandi dan berganti pakaian. Sore itu dia berencana untuk menemui Brian dirumahnya.


Dengan menggunakan taxi, Rennata pergi ke rumah Brian. Dia sudah berniat mengatakan perasaannya pada Brian. Dia tidak peduli dengan tanggapan Brian, yang penting dia telah jujur soal perasaannya itu.


Didepan sebuah rumah mewah berwarna merah, Rennata turun dari taxi dan masuk ke halaman rumah.


"Kak Ren!." Panggil seseorang.


Rennata kaget saat menoleh kearah suara yang memanggil namanya itu. Dia melihat Mark adiknya sedang berdiri didepan sebuah mobil yang terparkir didepan rumah Brian.


"Mark, kenapa kau ada disini?." Tanya Rennata saat berada tepat didepan adiknya.


"Justru harusnya aku yang bertanya pada kakak. Kakak ngapain disini?." Ucap Mark balik bertanya.


"Kakak kesini untuk menemui Pak Brian. Dan kamu kenapa ada disini?. Bukannya kau harusnya ada di agensimu?."


"Aku hanya menemani kak Robert mengambil beberapa barangnya, dia tinggal disini dengan kakaknya." Jelas Mark.


"Robert?.. Robert leader grupmu itu?. Jadi dia adiknya Pak Brian?.. Pantas saja dia sangat tampan."


"Maaf membuatmu lama menunggu Mark." Ucap Robert keluar dari dalam rumah sambil membawa beberapa barang.


"Tidak apa-apa kak.. Apa ini sudah semuanya?."


"Sudah.. Dan siapa yang bersamamu itu Mark?.. Apa dia fansmu?." Tanya Robert yang melihat Rennata yang berdiri didekat Mark.


"Ahh ini kakakku."


Robert segera menunduk dan berkenalan dengan Rennata.


'Secara langsung dia benar-benar tampan.. Apa semua saudara Brian setampan ini.' Ujar Rennata didalam hati sembari memperhatikan ketampanan adik dari laki-laki yang dicintainya itu. Selama ini dia hanya melihat Robert lewat tv dan ponselnya saja. Dia tidak menyangka akan bertemu langsung dengan Robert.


"Apa kak Robert punya saudara namanya Brian?.. Katanya kak Ren mau ketemu dia." Tanya Mark setelah Robert dan Rennata selesai berkenalan.


"Oh kak Brian, dia ada dikamarnya, dia sudah mengurung diri dikamarnya sejak perusahaannya terbakar.. Ayo masuk dulu kak, aku akan panggilkan kak Brian." Ajak Robert pada Rennata.


"Ah iya. Ayo kau masuk juga Mark." Tarik Rennata menarik tangan adiknya.


Mark hanya menurut dan berjalan disamping kakaknya.


"Lumayan panas sih.. Kenapa didalam lebih panas daripada diluar ya?." Jawab Mark menyeka keringatnya.


"Ahh, aku akan menghidupkan ACnya, kalian silahkan duduk dulu."


Robert naik ketangga, dan saat dia yakin kedua kakak beradik itu tidak menoleh padanya, diam-diam dia mengeluarkan kekuatannya untuk menetralkan ruangan lantai satu. Karena ruangannya lumayan luas, Robert terpaksa harus mengeluarkan energi lebih besar.


"Kak, keluarlah.. Aku benar-benar tidak mau masuk kekamarmu yang sangat panas itu untuk membujukmu." Panggil Robert dari depan pintu kamar Brian.


"Aku tidak akan keluar, kau pergi saja dan jangan mengangguku lagi."


"Aku menyuruhmu keluar karena ada yang mencarimu.. Keluarlah dan temui dia." Pinta Robert, namun Brian tidak menggubrisnya. Saat itu juga tiba-tiba ponselnya berdering dan melihat notifikasi dari manajernya agar dia dan Mark segera kembali ke Dorm.


Karena memang grupnya ada jadwal hari ini dan sebagai leader dia tidak ingin memberi contoh buruk pada member lainnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Robert segera turun kelantai bawah.


"Kak Briannya gak mau keluar kamar kak. Aku minta maaf tidak bisa membujuknya keluar, aku benar-benar harus pergi sekarang."


"Ahh tidak apa-apa, barusan Mark sudah memberi tahu kalau manajer kalian menyuruh kembali. Kalian boleh pergi, hati-hati dijalan dan semangat buat semuanya ya."


"Makasih kak. Ayo kita pergi Mark."


"Aku pergi ya kak?"


"Iya Dek."


Setelah Mark dan Robert pergi, Rennata berdiri dari duduknya dan berjalan kekamar Brian.


"Kenapa disini panas banget ya?.. Apa ACnya rusak." Gumam Rennata yang merasakan panas yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. "Pak, apa kau didalam?.. Ini aku Rennata, ada yang perlu aku bicarakan."


Karena tidak ada jawaban, Rennata mencoba memegang handle pintu untuk membuka pintu. Namun dia segera melepaskan pegangannya karena dia merasakan panas seperti dia habis memegang besi panas.


"Aduh.. Kenapa makin panas sih, aku tidak tahan sama panasnya.. Apa Bapak baik-baik saja didalam?." Teriak Rennata dan tiba-tiba pandangannya mulai tidak jelas.


Brian yang mendengar teriakan seperti suara Rennata membuka pintu kamarnya dan saat itu dia melihat Rennata yang hampir jatuh karena tak sadarkan diri. Dia segera menangkap tubuh Rennata agar tidak jatuh kelantai.


Sadar Rennata pingsan karena suhu panas yang dia sebabkan, Brian menghilangkan panasnya dan kembali menetralkan suhu dirumahnya dan menyalakan AC agar Rennata tidak kepanasan lagi.


Brian langsung membawa Rennata kekamarnya dan menidurkan Rennata diranjangnya. Melihat tangan Rennata yang memerah, Brian pergi mengambil es batu dan mengompres tangan Rennata.


"Apa kau baik-baik saja?." Tanya Brian saat Rennata membuka matanya.


"Apa yang terjadi?, aku tadi merasakan panas yang sangat panas dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Dan sebelumnya aku juga memegang pintu kamar bapak dan tanganku sangat perih."


"Aku sudah mengobati tanganmu.. Maaf tadi AC dirumahku rusak." Ucap Brian mencari alasan dan berharap Rennata percaya akan ucapannya.


Walau tampak bingung, Rennata hanya mengangguk mendengar ucapan Brian.


"Brian, apakah aku boleh bicara seperti ini padamu?" Ucap Rennata sembari menatap Brian.


"Tentu saja.. Dan kenapa kau ada disini?.. Apa Erick tau kalau kau disini?."


"Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Erick. Aku sengaja datang kesini untuk menemuimu. Ada yang harus aku katakan padamu."


"Apa yang ingin kau katakan?. Katakanlah." Tanya Brian. Sebenarnya dia sangat senang mendengar Rennata sudah tidak menjadi milik Erick.


"Mungkin ini terlalu memalukan. Tapi aku hanya ingin jujur soal perasaanku padamu. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu dan aku merindukanmu. Pada awalnya aku hanya menganggap ini perasaan biasa karena kita pernah tidur bersama. Tapi semakin hari aku semakin menyukaimu. Aku hanya ingin mengatakan ini." Jujur Rennata menundukkan kepalanya karena tidak sanggup menatap wajah Brian.


Brian yang mendengar ucapan Rennata tanpa berkata apa-apa langsung memeluk Rennata. Dia akan menjadikan Rennata ratunya dan akan menjaga Rennata selamanya.


"Aku juga sangat mencintaimu Ren. Aku sangat senang mendengar ini darimu."


"Lalu apakah sekarang kita ada hubungan?"


"Tentu saja. Mulai detik ini kau adalah milikku. Aku tidak akan membuatmu terluka dan aku akan pastikan membuatmu bahagia."


Brian melepaskan pelukannya dan menatap Rennata. Dia mencium pipi dan kening Rennata lalu memeluknya.


BERSAMBUNG..


Story By Ferlind Kim


Selesai baca divote sama komentarnya ya all.. biar author semangat lanjutinnya 😊☺