MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 5



Mark membuka pintu rumah setelah berfikir bahwa yang datang berkunjung adalah temannya. Namun Mark terdiam saat melihat laki-laki yang keluar dari dalam mobil.


"Kak Erick!!!." Teriak Mark yang akhirnya menyadari siapa laki-laki itu.


Dia sangat ingat bagaimana Erick selalu menjaganya waktu kecil dulu. Dan tentu saja Erick sudah menjadi idolanya. Bahkan tidak bisa dibandingkan dengan siapapun di dunia ini.


"Mark!, apa ini kau?.. Kenapa kau makin tampan saja?.. Dan kau bahkan mengalahkan kakakmu ini sekarang, pasti kau punya banyak pacar kan?.. Mau kakak ajarkan hal yang seru untuk kau lakukan dengan pacarmu?." Bisik Erick menggoda Mark.


"Ahh.. Kak Erick, aku tidak punya pacar dan aku tidak mungkin mengalahkan ketampanan kakak."


"Apa itu benar temanmu, Mark?.. Kenapa kau tidak bawa masuk?." Susul Rennata membuka pintu yang tadinya ditutup Mark dari luar.


Saat membuka pintu, Rennata sangat kaget melihat Erick yang tersenyum menatapnya dan merangkul Mark disampingnya.


Sejujurnya dia sangat senang melihat pujaannya itu, namun ada rasa bersalah dihatinya karena telah memberikan kesuciannya pada Brian, padahal dia baru saja menjalin hubungan dengan Erick.


"Hey Ren!, ternyata benar kau disini, aku sudah mencarimu ke apartemenmu, tapi kau tidak ada disana. Dan kau tidak mengangkat telfonku."


"Ahh, aku memang pulang karena rindu dengan rumah, dan aku tidak tau kau menelfonku." Ucap Rennata membuat alasan.


Melihat ekspresi Erick, dia sadar kalau Erick tidak percaya dengan alasannya. Tentu saja apa yang dia ucapkan pada Erick adalah kebohongan. Tidak mungkin dia mengatakan apa yang telah terjadi sebenarnya.


"Oke.. Dan apa kau tau, aku sangat merindukanmu." Goda Erick mencium kening Rennata.


Rennata hanya terpaku dengan perlakuan tiba-tiba Erick padanya. Dia tidak menolak karena dia juga merasa sedikit tenang dengan apa yang dilakukan Erick.


"Ehem.. Ada yang pacaran nih kayaknya." Senyum Mark.


"Apaan sih Mark, sana masuk!. Dan ayo gabung makan bareng Rick."


Erick mengangguk setuju dan masuk menyusul Mark yang berlari kedalam rumah. Sudah lama sekali dia tidak ke rumah keluarga Osbert itu. Padahal dulu bahkan sering menginap disana. Dia melihat sekeliling, tidak ada yang berubah. Dia kembali mengingat segala moment yang dia lalui di rumah itu.


"Ayah ibu, lihat siapa yang datang.. Putra kedua kalian akhirnya pulang." Semangat Mark didepan kedua orangtuanya. Memang bagi kedua orangtua Rennata dan Mark, Erick sudah seperti putra kedua mereka setelah Mark.


"Selamat sore Mom, Dad." Sapa Erick mencium pipi kedua orang tua Rennata dan tentu saja disambut gembira oleh kedua orang tua Rennata.


"Erick!, kapan kau pulang dari luar negeri nak?."


"Setahun yang lalu Mom, dan maaf aku baru bisa mengunjungi Mom dan Dad"


"Dad pernah melihatmu di tv, Dad pikir Dad salah lihat, tapi ternyata yang Dad lihat memang kau. Kami turut senang dengan kesuksesanmu."


"Ahh.. Aku tidak sesukses itu Dad."


"Ehem.. Apa makannya gak bakal dilanjutin?." Sela Rennata yang terus memperhatikan Erick dan kedua orangtuanya.


"Tentu makannya harus dilanjutkan, apalagi dengan kedatangan putra kesayangan kami ini. Ayo makan bareng Erick." Ajak Rose Osbert, ibu Rennata.


"Baik Mom, aku sudah sangat merindukan masakan Mom." Senyum Erick duduk di kursi sebelah Rennata.


Setelah makan dan mengobrol, Erick mengajak Rennata untuk jalan-jalan disekitar rumah. Rennata tentu setuju dan pamit pada kedua orangtuanya. Tentu saja orangtuanya pun mengizinkan.


"Apa ibu dan ayah tau, Kak Ren sama kak Erick itu pacaran." Ucap Mark setelah Rennata dan Erick keluar.


"Kamu masih kecil udah tau pacaran aja Mark. Apa kamu juga udah punya pacar?." Goda Ayahnya.


"Hahaha, mereka udah dewasa Mark, mereka bisa nentuin mau sama siapa, tapi khusus buat kamu Ayah bakal ngizinin kok"


"Apaan sih Yah, aku gak mungkin pacaran. Aku mau pamit keluar ya Yah, Bu."


"Iya hati-hati dijalan."


Sedangkan disebuah taman yang lumayan ramai, Rennata duduk dikursi diikuti Erick yang duduk disebelahnya.


"Kenapa kau datang jauh-jauh kesini?." Tanya Rennata memandang Erick dan setelah itu memalingkan wajahnya. Dia tidak bisa mengontrol hatinya yang berdebar karena melihat ketampanan Erick.


"Tentu saja aku datang karena merindukanmu. Memangnya kau tidak suka aku datang menemui mu?." Ucap Erick menatap Rennata. Sebenarnya dia tidak suka dengan perlakuan Rennata padanya yang seakan menjauhinya.


"Bukan begitu, hanya saja kau tidak perlu jauh-jauh kesini karena alasan itu, kau bisa menghubungiku. Dan tentu kau pasti banyak pekerjaan di kantor mu."


"Aku sudah menghubungi beberapa kali, tapi kau tidak pernah mengangkatnya, bukankah tadi sudah kukatakan kalau aku menelfon mu."


Rennata ingat bahwa tadi saat didepan rumah, Erick sudah mengatakan kalau dia sudah menelfon nya.


"Maaf, aku hanya tidak tau.."


Tidak ada kata-kata yang terucap setelah itu, baik dari Rennata maupun Erick. Erick mencoba lebih dekat pada Rennata, namun setiap dia mendekat, Rennata terus menjauh.


"Erick, setelah ku pikir, sepertinya kita memang tidak bisa bersama, sebaiknya..."


Belum selesai Rennata bicara, Erick segera menghentikannya dengan memeluk Rennata. Tanpa perlawanan, Rennata hanya diam dalam pelukan Erick.


"Aku tidak mau mendengar kau berkata seperti itu lagi.. Aku tau apa yang akan kau katakan. Dan aku menolak untuk menyetujui kelanjutan ucapan mu."


Erick mempererat pelukannya pada Rennata. Dia tidak mungkin melepaskan gadis pujaannya. Kemudian dia mendengar isakan tangis dari Rennata.


"Kenapa kau menangis?.. Jangan menangis Baby. Kau tau kan, aku sangat benci melihat kau menangis." Tanya Erick melepaskan pelukannya dan menatap Rennata.


"Maaf Erick, tapi aku sudah tidak pantas berada di sisimu, aku ceroboh telah memberikan kesucian ku pada laki-laki lain!." Histeris Rennata menatap Erick. Dia tidak tega menyembunyikan semua yang telah terjadi pada Erick. Walau akhirnya dia akan kehilangan Erick, dia akan merelakannya.


Erick tampak kaget akan ucapan Rennata, tapi hanya sebentar karena tak bisa dipungkiri diapun juga tidak suci. Dan yang dia harapkan hanyalah ketulusan Rennata.


"Jangan menangis, aku tidak peduli dengan semua itu, asal kau tulus mencintaiku"


Rennata terdiam mendengar ucapan Erick. Dia tidak menyangka Erick berkata seperti itu. Dan dia merasa lega telah jujur pada Erick. Dia berjanji tidak akan membuat Erick kecewa lagi.


"Kita tidak usah membicarakan ini lagi, anggap saja ini tidak pernah terjadi." Tambah Erick sembari menggenggam tangan Rennata. Sekilas dia melihat senyum di wajah Rennata.


Sebenarnya Erick juga tau pada siapa Rennata memberikan kesuciannya. Dan dia sangat yakin laki-laki itu adalah Brian.


Karena selain laporan dari mata-mata suruhannya, dia juga sangat tau bahwa sebelumnya Rennata tidak pernah dekat dengan laki-laki lain selain dirinya.


Kira-kira semenjak apa yang Rennata lihat pada malam 10 tahun yang lalu. Karena Rennata pernah menceritakan apa yang terjadi pada malam itu padanya. Dan dia sangat tau, Rennata trauma akan kejadian itu.


Bersambung,,,


Story by Ferlind Kim


Selesai baca divote sama komentarnya ya all.. biar author semangat lanjutinnya 😊☺