MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 16



Malam itu dilewati Brian bersama Renata dengan memainkan beberapa ronde adegan ranjang. Seperti biasa, Brian menjadi pihak yang dominan. Sedangkan Renata hanya menikmati saja apa yang dilakukan Brian pada tubuhnya.


"Sudah baby.. Hari ini cukup sampai sini saja. Aku besok harus menemani orangtuamu berkeliling." Ujar Renata mendorong tubuh Brian yang masih menindihnya.


"Tapi aku belum puas. Ayolah, satu kali lagi saja." Rengek Brian.


"No.. Aku akan membersihkan diri sekarang." Turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi.


Renata menyalakan shower untuk membersihkan tubuhnya. Tentu saja sebelumnya dia sudah menekan tombol untuk air hangat, karena dia tidak bisa mandi dengan air suhu normal saat jam masih menunjukkan jam 3 dinihari.


Saat tengah keramas, tiba-tiba dia merasakan sentuhan pada punggungnya dan terus perlahan merambat keperutnya. Renata meringis, lalu menghentikan tangan nakal yang memberikan sentuhan pada tubuhnya itu.


Tangan siapa lagi kalau bukan tangan milik Brian.


"Kalau mau mandi bareng aku setuju saja. Tapi untuk menyentuh tubuhku dengan maksud lain aku tidak setuju." Tegas Renata menatap tajam pada Brian yang terlihat masih bernafsu.


"Huft.. Baiklah, kali ini aku mengalah. Tapi besok-besok tidak akan lagi. Aku akan tetap menerkammu walau kau teriak sedikit pun." Cemberut Brian melepaskan tangannya dari tubuh Renata.


"Untuk kedepannya aku tidak akan menolak lagi baby.. Aku mencintaimu." Mencium pipi Brian.


"Aku juga mencintaimu." Senyum Brian yang membalas mencium bibir Renata. Renata tidak menolak dan membalas ciuman itu.


"Sudah ya?. Ayo kita mandi, habis itu tidur." Ucap Renata lagi.


Brian mengangguk dan mengambil sabun. Dia menyabuni seluruh tubuh Renata dan Renata menggosok rambut Brian dengan shampo. Brian tentu saja sesekali mengambil kesempatan memegang atau meremas area sensitif milik Renata, namun Renata hanya membiarkan saja.


Selesai mandi dan memakai piyama, Brian menggendong Renata yang juga sudah memakai piyamanya ke kamar milik Renata. Karena kasur Brian yang sudah kotor karena aktifitas mereka tadi.


Dikamarnya, Renata tidur sambil membenamkan wajahnya di dada bidang milik Brian. Ditambah dengan Brian yang memeluknya.



Renata langsung terlelap. Mungkin karena capek juga. Brian yang memperhatikan Renata tidur pun mencium kening Renata lalu juga memejamkan matanya untuk tidur.


🏵🏵🏵🏵🏵🏵


Pagi harinya, kedua orangtua Brian sudah menunggu Brian dan Renata dimeja makan.


"Mama sama Ayah udah nunggu kita daritadi?." Tanya Renata yang memang turun bersama Brian.


"Tidak juga. Kami juga bisa mengerti kalau kalian telat bangun." Senyum mama Brian yang seakan sudah tau apa yang mereka lakukan semalam.


"Tadi ayah sudah minta salah satu pelayan kita disana untuk memasak dan membersihkan rumah."


"Apa bisa seperti itu?." Takjub Renata.


"Bisa. Kami tinggal mengirim telepati pada mereka. Dan mereka akan langsung datang."


"Wah sangat menakjubkan."


"Biasa aja tuh." Celetuk Brian dan langsung ditatap sinis oleh Renata.


"Tentu saja biasa bagimu. Bagiku yang tidak pernah melihat hal itu, tentu saja hal seperti itu sangat luar biasa."


"Sudah. Mari kita makan. Gak baik juga berdebat dimeja makan." Ucap ayah Brian menengahi.


Brian dan Renata hanya diam lalu mengambil makanan yang sudah ada dihadapan mereka.


Selesai makan, ayah Brian pamit untuk kembali ke dunianya. Begitu juga Brian yang pamit pergi ke kantor.


Sekarang tinggallah Renata dan ibunya Brian.


"Mama mau kemana dulu hari ini?." Tanya Renata.


"Bagaimana kalau kita pergi menemui Robert dahulu, Mama rindu padanya. Habis itu kita ke rumahmu saja. Mama juga ingin akrab dengan mamamu."


"Baiklah. Mama tunggu disini sebentar, aku ambil tas dulu."


Renata berjalan bergegas ke kamarnya untuk mengambil tas dan dompetnya. Setelah itu, dia pergi mencari pelayan yang dipanggil ayah Brian tadi untuk memintanya membersihkan kamarnya dan Brian.


"Boleh sekalian tolong bersihin kamar aku sama Brian?." Canggung Renata saat bertemu salah satu pelayan.


"Baik, Putri." Senyum pelayan tersebut sembari menunduk hormat dan langsung dibalas Renata dengan tersenyum.


Renata turun kelantai bawah dan menghampiri ibunya Brian yang sudah menunggu. Dengan menggandeng tangan ibunya Brian, Renata berjalan keluar dan masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan Brian.


Tujuan pertama mereka adalah rumah yang sedang ditempati Robert saat ini. Rumah yang dibelikan Brian agar Robert tidak lagi tinggal bersamanya.


Disana, mereka langsung masuk kedalam rumah. Namun tidak melihat siapa-siapa.


"Sepertinya Robert gak ada dirumah, Ma." Ucap Renata yang memang tidak melihat tanda-tanda kehidupan dirumah itu.


"Anak itu ada dirumah." Berjalan menuju kamar yang ada diujung ruangan.


Renata hanya mengikuti calon mertuanya itu dari belakang.


"Hei anak nakal. Bangunlah." Ucap Jane Ehner yang merupakan calon mertua Renata itu sembari membuka pintu kamar.


Renata sangat kaget ketika melihat isi kamar tersebut. Bukannya Robert yang tidur dikasurnya, dia malah melihat Robert yang tidur diatas air tapi tidak basah sedikitpun.


Karena Robert yang tidak kunjung bangun, Jane memegang air tersebut dan seketika air menimbulkan ombak yang membuat Robert bangun.


"Kenapa kau tidak datang menemui Mama dan Ayah?. Padahal kami dari kemarin berada dirumah kakakmu."


"Maafin Robert, Ma. Sejak kemarin aku sangat sibuk. Bahkan aku baru tidur subuh tadi." Rengek Robert memeluk ibunya.


"Robert?. Jadi kamu itu tidur diatas air?." Tanya Renata tiba-tiba. Dia masih takjub dengan kenyataan keluarga ini.


"Iya kak. Maaf ya kalau bikin kakak kaget. Tapi aku emang gak bisa tidur kalau gak kayak gini." Jelas Robert.


Renata hanya mangut-mangut mengerti. Hampir setengah hari mereka disana, akhirnya meraka pamit pada Robert untuk pergi kerumah Renata.


Mereka masuk kedalam mobil dan diantar sopir kerumah Renata. Sepanjang jalan, Renata sibuk mendengarkan cerita tentang Brian semasa kecil, dan dia juga diceritakan bagaimana Brian hampir meninggal karena tidak bisa mengontrol kekuatannya sendiri.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, mereka sampai dirumah Renata.


"Bu.. Ini Rena!." Panggil Renata didepan pintu rumah.


Tak lama, ibu Renata keluar dari dalam rumah dan menyuruh Renata beserta Jane masuk kedalam rumah.


Tidak butuh lama bagi ibu Renata dan ibu Brian untuk mengakrabkan diri. Renata yang tidak ingin menganggu itu pergi kekamarnya dan menelfon Brian.


"Brian!." Panggil Renata sesaat setelah Brian mengangkat telfonnya.


"Iya baby, kenapa?."


"Nanti jemput aku ya?."


"Emang kamu dimana?."


"Dirumah. Tadi aku suruh sopirnya pulang karena pengen dijemput sama kamu." Manja Renata.


"Nanti pasti aku jemput. Tapi mungkin agak larut malam, karena aku ada meeting nanti sekitaran jam 7."


"Kamu beneran meeting kan?. Bukan janjian sama cewek lain?."


"Beneran sayang. Mana mungkin aku ngelirik cewek lain. Kan aku udah ada kamu yang cantik dan sexy. Jago lagi."


"Jago apa emang?."


"Jago dapetin hati aku."


"Bilang aja otak kamu udah mikir macem-macem kan?."


"Hehehe habisnya yang semalam belum cukup sih."


"Itu aja pikirannya. Inget ya, pokoknya kamu jangan lirik cewek lain karena aku gak ada disana."


"Iya enggak Renna sayang."


"Awas aja bohong. Aku gak bakal ngizinin kamu buat nyentuh tubuh aku lagi." Ancam Renata.


"Iya sayang, janji. Aku cuma cinta sama kamu kok."


"Buktiin dulu. Soalnya banyak laki-laki sekarang cuma modal omongan doang."


"Jangan samain aku sama mereka dong sayang."


"Ya udah, aku tunggu kamu dirumah ya?."


"Iya sayang."


Renata menutup telfonnya saat dia mendengar ibunya memanggil.


"Ada apa, Bu?." Tanya Renata saat berhadapan dengan ibunya.


"Itu, ibunya Brian udah pulang kerumahnya. Tadi dijemput sama pengawalnya. Dia buru-buru jadi gak bisa pamit sama kamu."


"Oh iya gak apa-apa, Bu. Ayah sama ibu udah nyobain baju yang dibeliin Brian untuk acara pernikahan nanti?."


"Udah dong. Bajunya cocok banget sama ibu, ayah kamu juga suka. Katanya dia jadi terlihat lebih muda."


"Syukurlah. Tapi aku minta maaf ya, Bu?."


"Untuk apa?."


"Aku gak bisa ajak ibu sama ayah ke acara pernikahan di kediamannya keluarga Brian."


"Udah gak apa-apa. Kalian kan juga ngadain pesta disini." Memeluk Renata.


Renata sangat ingin mengajak ibu dan ayahnya melihat kemegahan dunia Brian. Tapi apa daya, hanya dia yang boleh kesana. Itupun karena dia memang calon istri dari pangeran.


Untung saja dia memilki orangtua yang sangat sayang dan mengerti dirinya. Renata tidak bisa membayangkan jika dia tidak dilahirkan dikeluarga ini.


Bersambung..


author : Kim Ferlind


Ditunggu like sama comentnya..


Sebelumnya author mau bilang makasih buat yang support novel ini.. ♥🙇‍♀️