
Brian yang terluka sangat parah itu segera dilarikan ke rumah sakit istana. Dia pun juga sudah tidak sadarkan diri, karena jujur saja dia tidak menahan serangan kakaknya tadi dan hanya menerimanya begitu saja.
Sedangkan beberapa pengawal yang menemukan Brian tadi melaporkan hal itu pada kerajaan. Raja dan Ratu yang mendengar hal itu segera bergegas ke rumah sakit.
Sedangkan Rennata yang dengan masih mata sembabnya keluar untuk mencari udara segar. Namun kali ini dia meminta agar tidak ada yang mengikutinya, karena dia ingin sendiri.
Akhirnya Rennata berjalan keliling istana sembari merenungkan soal Brian. Dia masih tidak habis pikir, bahwa suaminya itu tega melakukan hal itu padanya.
Saat sampai di ruangan singgasana Raja dan Ratu, dia tidak menemukan kedua orangtua Brian tersebut. Padahal dia ingin dimanja oleh ibu mertuanya. Dan setelah dia fikir-fikir, beberapa pangeran yang biasanya selalu ada di istana tidak terlihat.
Karena penasaran, Rennata menahan salah satu pengawal yang berlari.
"Salam hormat, tuan putri."
"Kemana Raja dan Ratu?. Dan kenapa semua terlihat sangat sibuk?."
"Maaf tuan putri, semua sedang ke rumah sakit."
"Siapa yang dirawat?."
"Pangeran Brian, dia ditemukan di hutan dengan luka parah ditubuhnya."
Rennata yang mendengar hal itu tentu saja tersentak kaget, padahal sebelumnya dia masih melihat Brian baik-baik saja.
"Baiklah, antarkan aku kesana."
"Baik tuan Putri."
Rennata pun pergi ke rumah sakit dengan ditemani beberapa dayang dan pengawal kerajaan. Perasaannya sudah bercampur aduk sejak tadi. Dia masih marah pada Brian, tapi dia tentu saja tidak ingin kehilangan Brian. Bahkan anak pertama mereka akan segera lahir.
Di rumah sakit, Brian masih berada di ruang UGD, semua yang menunggu sangat cemas. Namun berbeda dengan Richard yang tetap tenang dan seakan tidak peduli. Dia memang sengaja tidak menggunakan kekuataan khususnya agar tidak ketahuan oleh orang lain, terutama kedua orangtuanya.
Pandangan semua orang teralihkan saat Rennata datang menghampiri mereka.
"Mana Brian, Yah, Ma?." Tanya Rennata berdiri didepan mertuanya.
"Dia masih di UGD, kita tunggu saja disini. Kamu duduklah."
"Apa yang terjadi?. Padahal sebelumnya aku masih mengobrol bersama Brian."
"Para pengawal menemukannya dalam kondisi terluka parah."
Dengan perasaan yang sangat khawatir, Rennata tidak henti-hentinya berdoa.
"Kalau mau nangis, nangis aja." Ucap Richard duduk di sebelah Rennata.
"Kak.. Aku takut Brian ninggalin kita semua."
"Tidak akan, bangsa kami tidak semudah itu untuk mati, Ren. Kamu jangan terlalu panik ya?."
"Buktinya saat ini Brian masih di UGD kak."
"Sebentar lagi dokter pasti akan keluar, kamu jangan terlalu panik, kasian anak kamu."
Rennata hanya diam lalu mengelus perutnya lembut. Hingga tak lama, keluarlah dokter dari ruang UGD.
"Bagaimana kondisinya?."
"Hormat saya pada Baginda Raja dan Ratu. Pangeran sudah kembali stabil, lukanya cukup parah."
"Kalau begitu pindahkan saja dia ke ruang biasanya."
"Baik baginda Raja."
Rennata yang daritadi hanya mendengarkan perkataan dokter itu merasa sedikit lega. Dia pun memeluk ibu mertuanya.
"Brian sudah baik-baik saja sekarang, kamu jangan panik lagi ya?."
"Iya Ma." Angguk Rennata.
Rennata yang dalam keadaan hamil besar itu pun memang tertinggal di belakang karena tidak bisa berjalan cepat.
"Mau saya carikan kursi roda, Tuan Putri?." Tanya seorang dokter yang berjalan di belakang Rennata.
"Tidak usah, terima kasih. Brian akan sadarkan diri kapan, dok?."
"Sepertinya butuh beberapa hari tuan Putri. Karena luka dikepalanya cukup serius."
Rennata hanya diam dan mulai menyalahkan dirinya karena membuat Brian seperti itu. Tapi dia sebenarnya juga tidak salah, justru Brian lah yang bersalah.
Saat berjalan ke ruangannya Brian, perut Rennata terasa sangat sakit yang membuatnya langsung berhenti. Dokter yang sejak tadi ada dibelakang Rennata dengan sigap mendekati Rennata.
"Tuan Putri, sepertinya sudah dalam masa melahirkan, lebih baik langsung periksa ke dokter kandungan."
"Akhh, sakit!.. Sepertinya benar aku akan melahirkan."
Dengan sigap dokter itu memanggil beberapa perawat dan menaikkan Rennata di sebuah kursi roda untuk dibawa ke ruang rawat yang terdekat.
Tidak lupa dokter tersebut meminta untuk memanggilkan dokter kandungan khusus anggota kerajaan untuk segera datang.
Tidak butuh lama, setelah Rennata berbaring di ranjang, masuklah dokter yang dipanggil tadi dengan beberapa perawat. Mereka langsung memeriksa Rennata yang sudah kesakitan.
"Ini baru pembukaan awal, perkiraan akan lahir malam atau dini hari." Ucap dokter itu terus memeriksa Rennata.
Setelah memastikan Rennata di infus, mereka juga membawa Rennata ke ruangan khusus anggota kerajaan. Namun tentu saja ruangannya berbeda dengan ruangan Brian.
Semua yang ada di depan ruangan Brian, kembali kaget dengan kedatangan Rennata yang sudah terbaring di ranjang rumah sakit.
"Kenapa dengan Putri Renna?." Tanya Jane sang ibu mertua mendekati.
"Diperkirakan Tuan Putri akan melahirkan malam ini, Ratu."
Semua terlihat sangat senang mendengar kabar tersebut.
"Yah, Ma. Renna mau satu ruangan dengan Brian. Renna ingin saat anak kami lahir, ayah mereka tetap disisi mereka."
Semua sempat terdiam, namun pada akhirnya menyetujui permintaan Rennata. Dan akhirnya Rennata satu ruangan dengan Brian.
Karena masih pembukaan awal, jadi Rennata masih bisa berjalan mendekati Brian. Dia kembali sedih melihat kondisi Brian.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?. Kenapa kamu malah terluka separah ini?. Padahal anak kita akan segera lahir." Ucap Rennata memegang tangan Brian.
Kemudian masuklah Richard dengan membawa koper yang berisi kebutuhan Rennata dan bayinya.
"Masih sakit?."
"Masih kak."
"Kalau masih sakit kenapa malah turun dari ranjangmu dan berjalan seperti ini?."
"Aku hanya ingin melihat wajah Brian."
"Aku sudah melihat apa yang dilakukan Brian padamu."
Rennata sudah bisa menduga hal itu. Karena sikap Richard yang terlihat sangat berbeda dari biasanya.
"Aku juga mau bilang kalau akulah yang membuat Brian seperti ini." Jujur Richard.
"Kenapa kak?. Kenapa kakak tega?." Kaget Rennata tidak percaya.
"Karena dia sudah menyakitimu, pokoknya biar kita bertiga saja yang tau masalah ini, jangan sampai Ayah dan Mama mengetahuinya, Brian bisa kehilangan nyawanya."
"Tapi..."
"Pokoknya diam saja. Soal wanita itu aku sudah melihat kalau Brian melakukan hal itu semata memang karena wanita itu mirip dengan kekasih masa lalunya. Dan aku juga sudah memastikan perasaannya padamu, ini bukti bahwa dia merasa menyesal."
Rennata tidak berkata apa-apa dan mencoba mencerna ucapan kakak iparnya itu. Dia kembali merasa lemas, lalu kembali berbaring di ranjangnya. Yang tidak bisa dia terima dengan akal sehatnya, kenapa Richard tega membuat Brian seperti ini. Walau dia merasa sangat marah pada Brian, namun dia juga tidak mungkin tega membuat Brian seperti ini.