
Beberapa hari yang lalu Rennata menerima email dari Perusahaan tempatnya melamar pekerjaan. Tidak dia duga, dia diterima bekerja disana sebagai sekretaris pribadi Presdir.
Hari ini dia akan pindah ke apartemen yang berada tidak jauh dari lokasi tempatnya akan bekerja. Setelah dia menata indah apartemen yang akan dia tinggali , dengan bersenandung riang, Rennata pergi berkeliling sembari menyapa orang-orang yang dia temui dijalan.
Rennata memang terkenal ramah dan banyak tersenyum. Bahkan tidak sedikit laki-laki yang mengajaknya berkencan dan hidup bersama. Tapi Rennata hanya menolak mereka semua dengan senyuman manisnya.
Waktu berlalu sangat cepat, pagi itu Rennata tampak sibuk bersiap untuk mulai bekerja. Dia tidak ingin dihari pertamanya bekerja dia mendapat masalah dengan pekerjaannya. Apalagi dia mendengar isu bahwa bossnya cukup tegas dan disiplin.
Di lobby kantor, seperti biasa Rennata menyapa semua orang yang ditemuinya sembari berjalan menuju ruangan bossnya dilantai teratas.
"Ren!!." Panggil seorang pria. Spontan Rennata segera menoleh kearah panggilan dan melihat sosok pria yang berlari kecil kearahnya. Awalnya dia tidak terlalu memperhatikan siapa lelaki itu hingga lelaki itu tepat berdiri didepannya dengan nafas tak karuan.
"Erick!. Ternyata kau, aku tidak menyangka bertemu denganmu disini. Aku memang mendengar dari Mama kalau kau kembali. Kenapa kau tidak mengabariku??. Aku merindukanmu." Linangan airmata keluar dengan sendirinya dari pelupuk mata Rennata sembari memeluk laki-laki yang dipanggilnya Erick itu.
Erick adalah sahabat Rennata dari kecil , namun mereka terpaksa berpisah karena Erick melanjutkan pendidikannya diluar negeri tempat ayahnya berasal.
"Cup cup cup.. jangan menangis, Baby. Kau tau kan, aku sangat benci melihatmu menangis." Ucap Erick menenangkan sahabatnya itu sambil menghapus airmata Rennata. Rennata tersenyum dan mencubit pipi Erick yang tersenyum didepannya.
"Awww.. Kau benar-benar tidak berubah ya?. Sakit, Ren.. berhenti mencubitku!." Rengek Erick.
Rennata tertawa sangat senang dan kembali memeluk Erick, dia tidak menyangka akan kembali bertemu dengan sahabatnya itu yang juga merupakan cinta pertamanya. Walau hanya dia yang tau, tapi dia ingin suatu saat nanti dia dan Erick bisa bersama selamanya.
"Astaga. Maaf, Erick, mengobrolnya kita lanjutkan nanti. Aku harus segera keruangan Presdir."
"Baiklah, cepat temui dia, dia memiliki tempramen yang sangat buruk. Jangan sampai kau dimarahi olehnya."
Diruangannya, Brian Balder terlihat sangat marah.
"Kenapa dia sangat lamban?. Kalau bukan karena dia melihatku malam itu, aku tidak akan menjadikannya sekretarisku.." Emosi Brian sambil sesekali memperhatikan jam ditangannya. Dengan tajam dia segera menatap kepintu saat dia mendengar ada suara seseorang sedang membuka pintu.
"Maaf, Pak. Saya terlambat." Tunduk Rennata yang datang memang sedikit terlambat itu. Kalau bukan karena bertemu dengan Erick pasti dia takkan terlambat seperti ini. Namun kalau dia tidak menyapa Erick, pasti itu akan menjadi penyesalan baginya akibat kerinduan ini.
'Aku rasa dia tidak melihatku dengan jelas malam itu, kalau dia melihatku dengan jelas dia pasti sudah mengenaliku saat ini.' Fikir Brian dalam benaknya. Dia tidak tau bagaimana jika semua orang tau jati dirinya sebenarnya.
"Sudahlah, Brian. Kenapa kau begitu marah karena keterlambatan yang kau tau tidak lama ini."
"Erick, kenapa kau bisa disini?." Lirih Rennata yang melihat Erick masuk keruangan itu dan berjalan kemeja Brian.
"Cih, kenapa kau malah membelanya, dan untuk apa kau datang kesini?." Sinis Brian.
"Ayolah brother, bukankah kita akan pergi melihat perkembangan Mall yang akan kita buka seminggu lagi itu?. Apa kau lupa hanya karena melihat wanita cantik diruanganmu?." Goda Erick memegang pundak Brian yang terlihat terkejut akan ucapan Erick. Dia akui sekretaris barunya itu memang cantik, tapi mana mungkin dia akan tertarik dengan karyawannya yang notabanenya hanyalah orang biasa.
"Persiapkan dirimu sekretaris Osbert, kau harus ikut kemanapun Presdirmu pergi." Tambah Erick tersenyum pada Rennata.
"Aku selalu siap Erick.."
"Erick?. Kau memangilnya Erick?. apa kau tidak tau siapa lelaki ini?. Dia adalah teman bisnisku dan dia juga adalah seorang presdir sebuah perusahaan ternama. Mana sopan santunmu?."
"Sudahlah, Brian, biarkan dia memanggilku begitu, bahkan aku memanggilnya Baby." Senyum Erick membantah ucapan Brian. Brian tampak kaget dengan ucapan Erick barusan. Namun dia hanya berusaha menutupi kekagetannya.
"Sudahlah, ayo pergi.." Perintah Brian berdiri dari duduknya sambil diikuti Erick dan Rennata disampingnya.
Seperti biasa semua karyawan wanita disana terkagum-kagum dengan pesona Brian dan Erick. Tak sedikit juga yang iri dengan Rennata yang bisa berdiri disebelah kedua pria tampan tersebut.
**************
Story by Ferlind Kim
Selesai baca divote sama komentarnya ya all.. biar author semangat lanjutinnya 😊☺