MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 15



Siang itu Brian sedang berduaan dengan Renata diruangannya. Aktifitas mereka berhenti saat seseorang mengetuk pintu.


"Masuk!." Ucap Brian.


Brian tertegun saat melihat Erick yang masuk. Sebenarnya dia masih kesal dengan Erick atas kejadian-kejadian yang terjadi padanya karena ulah Erick.


"Aku datang untuk meminta maaf. Aku sangat menyesal membuat situasi kita berubah seperti ini." Tulus Erick menunduk dihadapan Brian.


Awalnya Brian enggan untuk menerima kehadiran Erick lagi, terutama untuk menerima kesepakatan untuk kerjasama lagi. Namun hatinya diluluhkan dengan bujukan Renata yang memintanya untuk memaafkan Erick dan kembali menyetujui kontrak kerjasama lagi.


"Huft.. Baiklah, aku akan memaafkanmu untuk pertama dan terakhir kalinya. Jika suatu saat kau melakukan hal yang buruk lagi, aku benar-benar tidak akan memaafkanmu."


"Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan lagi. Terimakasih kau sudah memaafkanku. Aku harap kita bisa dekat seperti dulu lagi."


"Tentu saja bisa." Senyum Brian berdiri dan memeluk Erick.


"Awww panas." Teriak Erick melepaskan pelukan Brian.


"Hahaha.. Aku hanya memberi tanda bahwa aku benar-benar sudah memaafkanmu."


"Apa bukan karena kau sengaja ingin membakarku?."


"Aku tidak sejahat itu."


"Aku kepanasan karena ulah calon suamimu itu Renna." Merengek pada Renata yang hanya tersenyum daritadi.


"Jangan bersikap manja pada calon istriku." Melotot pada Erick.


"Dia melotot padaku Ren. Tolong aku."


"Sudahlah. Kalian mengobrollah berdua, aku akan keluar untuk bekerja." Ucap Renata mengabaikan kedua orang itu.


"Wahh.. Kau masih saja menyuruh Renata bekerja Brian?. Bukankah dia seharusnya sudah bisa hidup senang dan menghabiskan uangmu itu saja dirumah." Ucap Erick setelah Renata keluar dari ruangan tersebut.


"Dia sangat keras kepala. Dia tidak mau berhenti bekerja dan tetap bersikeras untuk bekerja."


"Aku mengerti. Dia memang seperti itu daridulu." Angguk Erick setuju. "Apa kau ingin tau bagaimana masa kecil Renata?. Aku adalah sumber yang tepat. Kami sudah bertumbuh bersama."


"Tidak perlu. Aku bisa melihatnya langsung dengan kembali ke masa lalu dengan memegang tangan Renata."


"Wah.. Ternyata kau juga bisa melakukan itu. Apa kau bisa melihat ke masa depanku?. Dan melihat siapa yang akan menikah denganku?." Kagum Erick.


"Kalau melihat masa depan aku tidak bisa. Aku hanya bisa melihat masa lalu."


"Benar-benar tidak menyenangkan."


"Apa kau bilang?.. Memangnya kau pikir aku ini Tuhan?.. Bisa melakukan semuanya." Emosi Brian. Entah kenapa, setiap dengan Erick dia selalu terpancing emosi.


"Hahaha... Kan siapa tau kau bisa." Tawa Erick puas karena melihat Brian yang sudah kembali seperti Brian yang pernah dia kenal. "Ngomong-ngomong aku sekali lagi mau minta maaf karena sudah mencari informasi tentangmu secara diam-diam."


"Jadi gara-gara itu kau bisa tahu tentangku dan kekuatanku."


"Iya.. Aku sudah tidak melakukan hal seperti itu lagi kok. Aku juga tidak peduli kau siapa dan bagaimana dirimu. Yang jelas bagiku sekarang kau adalah sahabatku Brian Balder."


Sedangkan Renata yang sedang sibuk ditempatnya dikagetkan dengan kedatangan ibunya Brian.


"Rena sayang." Panggilnya berdiri dihadapan Renata.


"Iya ma.. Mama sendiri aja kesini?."


"Iya, kebetulan ada yang perlu Mama perlihatkan padamu. Kamu ikut Mama ya?."


"Kemana Ma?."


Ibu Brian mengulurkan tangannya dan saat Renata memegang tangan ibu Brian. Dalam hitungan detik mereka sudah berada ditempat yang sangat indah. Dia bisa menyimpulkan kalau dia sekarang berada di planet tempat asal Brian.


Ibu Brian yang merupakan ratu disana meminta para dayangnya untuk mengganti pakaian Renata dengan pakaian seorang putri.


Renata sangat canggung saat dia harus menghadap raja dan ratu setelah mengganti pakaiannya dengan gaun putri. Dia tidak tau caranya memberi salam atau berjalan layaknya seorang putri.


Renata hanya mempraktekkan apa yang biasa dia lihat di film kerajaan. Berjalan dengan pelan dan menunduk memberi salam.


"Selamat datang didunia kami, anakku." Ucap ayah Brian.


"Terimakasih, baginda raja." Santun Renata.


"Jangan canggung seperti itu. Berlakulah seperti kamu diduniamu."


"Aku tidak mungkin melakukan hal selancang itu, baginda."


Karena tidak ingin membuat Renata canggung, ayah Brian mengubah semuanya menjadi lebih modern dan tidak terlihat seperti kerajaan sedikitpun.


"Sekarang berlakulah seperti diduniamu. Kemarilah, kami akan mengenalkanmu pada semua rakyat disini."


Renata hanya menurut dan berjalan kesamping orangtua Brian. Dengan teknologi yang jauh lebih canggih, Renata beserta kedua orangtua Brian sudah berada dilayar yang mengambang di depan mereka. Disanalah Renata dikenalkan sebagai calon putri pertama dikeluarga kerajaan. Karena Brian tidak memiliki saudara perempuan dan Brian adalah pangeran pertama yang akan menikah.


"Sekarang ayo ikut Mama, Rena." Ajak ibu Brian menggandeng tangan Renata.


Renata mengikuti ibu Brian yang terus masuk kedalam istana yang megah itu. Sepanjang jalan banyak pelayan yang memberi selamat pada Renata saat berpas-pasan dengan Renata.


"Apa kamu suka sama kamar ini, Rena?." Tanya ibu Brian saat mereka memasuki sebuah kamar.



"Ini sangat indah dan elegan Ma."


"Baguslah kalau kamu suka. Ini kamarmu dan Brian nantinya. Sebelumnya ini kamar Brian, karena dia akan menikah denganmu. Jadi kami mendekor ulang semuanya agar cocok untukmu."


"Terimakasih banyak, Ma. Apa aku boleh memotretnya?."


"Silahkan saja."


"Tapi apa ponsel berfungsi disini?."


"Tentu saja. Kami sudah memiliki teknologi yang sama dengan duniamu."


Renata yang sangat kagum dengan kamar itu segera mengeluarkan ponselnya dan memotret kamar itu dari segala sisi. Dan dia tidak lupa untuk berfoto bersama ibu mertuanya itu.


🏵🏵🏵🏵🏵🏵


Saat jadwal pulang, Brian keluar ruangan bersama Erick. Memang Erick tetap dikantor Brian daritadi, bahkan dia sempat-sempatnya tidur saat Brian sibuk dengan pekerjaannya.


Dimeja Renata biasa menunggu, Brian sangat heran karena tidak melihat Renata disana. Dia mencoba menghubungi Renata, namun nomer Renata tidak bisa dihubungi.


"Apa mungkin Rena sudah pulang duluan?." Ucap Erick yang melihat kekhawatiran diwajah Brian.


"Dia tidak mungkin pulang duluan. Walaupun pulang duluan, dia pasti akan memberitahu."


"Sudahlah.. Kita pulang saja. Mungkin Rena pergi kesuatu tempat."


Brian hanya mengikuti saran Erick. Mereka berpisah saat diparkiran. Brian yang sangat khawatir dengan Renata itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Renata.


Sesampainya dirumah, Brian masuk kedalam rumah dan memanggil-manggil Renata. Namun nihil karena Renata tidak ada disana.


Brian semakin panik saat jam sudah menunjukkan jam 8 malam, tapi Renata belum juga pulang. Dia juga sudah menghubungi orangtua Renata namun ternyata Renata tidak disana.


Brian segera berlari kepintu depan saat dia mendengar seseorang membuka pintu. Benar saja, dia melihat Renata masuk.


"Kau kemana saja, Rena?." Langsung memeluk Renata.


"Apa kamu segitu merindukan Rena sampai tidak melihat kami?."


Brian melihat ke asal suara dan melihat kedua orangtuanya berdiri tepat dibelakang Renata.


"Jadi Rena bersama kalian. Aku sangat khawatir tiba-tiba saja Rena menghilang. Pantas saja nomernya juga tidak bisa dihubungi."


"Mama sengaja mengajak Renata ke rumah kita untuk mengenalkannya pada rakyat kita."


"Harusnya aku juga diajak."


"Kapan-kapan ayo kita pergi berdua kesana, Brian." Ajak Renata yang terlihat sangat senang.


"Tentu saja. Lagian kita juga akan mengadakan pesta pernikahan disana."


Renata mengangguk senang dan masuk kedalam dengan menggandeng tangan ibu Brian. Kemudian dia meminta izin pada kedua orangtua Brian untuk membersihkan dirinya.


Renata pergi kekamarnya setelah diizinkan orangtua Brian dan Brian. Walau dia sudah tinggal serumah dengan Brian, tapi dia masih tidur berbeda kamar dengan Brian. Namun saat mereka ingin tidur bersama, Brian seringkali mengajak Renata kekamarnya.


Sesampainya dikamar, Renata langsung masuk kekamar mandi dan mulai membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia keluar dengan jubah mandinya serta rambut yang dibalut dengan handuk kecil.


Saat Riana memakai serangkaian skincarenya, Brian masuk kekamar dan mencium tengkuk Renata. Renata langsung menggeliat geli, lalu mengelus lembut pipi Brian.


Renata berdiri dan berbalik menghadap Brian lalu mencium Brian sembari merangkul leher Brian dan tentu saja langsung dibalas oleh Brian.


Saat Brian mulai memasukkan salah satu tangannya kedalam jubah mandi yang dikenakkan Renata, Renata mendorong Brian sedikit menjauh.


"Jangan sekarang ya?. Orangtuamu masih dibawah. Ayo temui mereka lagi."


Brian sedikit kecewa lalu duduk diranjang Renata sembari memperhatikan Renata yang kembali merias dirinya. Dia akui Renata paling bisa mempermainkannya, saat nafsunya sudah naik, bisa-bisanya Renata membiarkannya tidak menuntaskan nafsunya itu.


Bersambung...


Setelah sekian lama hiatus akhirnya baru ada waktu up lagi.. Semoga masih ada yang minat sama cerita ini.. 😣


Makasih yang masih mampir lagi..


dibantu like comment sama masukin favorit ya


Kim Ferlind