MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
EPISODE 7



Brian yang biasanya sangat cuek dan tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya itu, setelah melihat Rennata yang bersama Erick tidak bisa mengontrol emosinya, rasanya dia ingin membunuh Erick dengan kekuataannya.


"Tenang Brian, Rennata itu bukan siapa-siapa bagimu.!" Lirih Brian berusaha menenangkan dirinya.


Sedangkan di tempat lain, Rennata mendekati Erick. Walau Erick hanya diam membisu, Rennata mencoba berbicara pada Erick. Namun Erick masih saja diam.


"Apa kita tetap pergi berkeliling?." Tanya Rennata ragu-ragu.


"Tentu saja, ayo kita pergi." Ucap Erick berjalan meninggalkan Rennata. Pikirannya masih tentang apa yang Brian ucapkan padanya.


Rennata berlari kecil mendekati Erick yang sudah berjalan lebih dulu dan berjalan perlahan disebelah Erick.


Di sebuah gang yang membuat Rennata takut setiap melewati gang itu, dia lebih mendekat pada Erick dan menggenggam erat tangan Erick. Erick yang menyadari hal itu berhenti dan memperhatikan wajah Rennata yang mulai pucat.


"Apa kau baik-baik saja Ren?." Tanya Erick memegang wajah Rennata.


"Ahh iya, aku baik-baik saja.. Ayo kita jalan lagi." Jawab Rennata, walau sebenarnya Erick tau kalau Rennata pasti takut dengan gang itu.


"Kamu pasti ingat kejadian itu kan?.. Sudah tidak apa-apa, aku ada disini bersamamu.. Mana tanganmu." Ujar Erick mengulurkan tangannya pada Rennata.


Mereka berjalan dengan bergandengan tangan. Disebuah taman mereka berhenti dan duduk dikursi taman.


"Apa kau ingat, waktu kita kecil kita sering bermain disini. Kita pun bertemu pertama kali di taman ini."


"Tentu saja aku ingat.. Saat itu kau menolongku karena aku dijahili anak-anak laki-laki."


"Aku hanya tidak suka melihat kau menangis. Kau sangat jelek kalau sedang menangis."


"Kau sudah membicarakan itu berkali-kali Rick.." Senyum Rennata melihat Erick yang mulai tersenyum.


"Ren.." Panggil Erick seraya mengenggam erat tangan Rennata.


"Iya kenapa Rick?."


"Bagaimana kalau kau berhenti dari tempatmu bekerja?." Pinta Erick penuh harap.


"Aku butuh pekerjaan itu, dan lagi aku tidak mau menjadi pengangguran lagi."


"Kau bisa bekerja di perusahaanku.. Atau aku bisa memberimu uang tanpa kau perlu bekerja."


"Aku tidak bisa menerima uang darimu kalau aku tidak melakukan apa-apa.. aku akan memikirkan untuk bekerja di perusahaanmu."


"Baiklah.." Angguk Erick. "Ren.." Panggilnya lagi.


"Iya kenapa Erick sayang?." Sahut Rennata menatap Erick.


"Apa kau mencintaiku?."


"Pertanyaan bodoh macam apa itu?. Bukankah kau tau bagaimana perasaanku?. Bahkan aku yang lebih dulu menyatakan perasaanku padamu." Senyum Rennata lalu mencium pipi Erick.


Tanpa peduli tempat, Erick mencium bibir kekasihnya itu. Seperti dunia milik sendiri, mereka hanya asyik berdua dan memadu kasih.


"Apa kau mau pergi ke hotel bersamaku?.. Kita disana sebentar saja." Ajak Erick yang sudah tidak bisa menahan nafsunya.


Dengan malu-malu Rennata hanya mengangguk. Dia tidak peduli lagi dengan kesuciannya, toh dia sudah melakukan itu dengan Brian sebelumnya.


Erick menggandeng tangan Rennata dan membawanya kesebuah hotel terdekat dari lokasi mereka.


Setelah check in satu kamar, mereka berdua masuk kedalam kamar termewah disana.


"Apa kau tidak terlalu membuang-buang uang Rick?."


"Tentu saja tidak.. Aku hanya ingin membuatmu nyaman saja."


Baru masuk kedalam kamar dan mengunci pintu. Erick dengan kembali mencium Rennata. Rennata terlihat sedikit kewalahan dengan Erick tapi dia berusaha mengimbangi.


 Selang berapa menit, mereka berdua sudah berada diatas ranjang tanpa memakai sehelai benang pun ditubuh mereka. Erick yang masih menciumi Rennata itu berhenti dan menatap Rennata lekat-lekat dan tersenyum.


"Apa kita akan melakukannya sekarang?. Dan apa kau tidak memakai pengaman?" Tanya Rennata. Tapi sebenarnya dia juga tidak peduli bahkan jika melahirkan anak dari Erick.


Erick yang akan memulai, kemudian mengurungkan niatnya karena melihat airmata Rennata dan merebahkan tubuhnya disamping Rennata yang memalingkan wajahnya.


"Kenapa kau menangis?.. Apa aku membuatmu kesakitan?." Khawatir Erick menghapus airmata Rennata.


"Tidak apa-apa.." Bohong Rennata mencoba tersenyum. Sebenarnya dia hanya teringat apa yang terjadi antara dia dan Brian.


Dan entah kenapa, saat dia dan Erick mulai berbaring di ranjang, dia terus melihat Erick yang berubah menjadi sosok Brian.


Karena setiap dia kembali dengan posisinya semula, Rennata terus meneteskan airmatanya.


"Kita hentikan saja sekarang.. Aku tidak sanggup melihatmu menangis.. Aku akan mandi sekarang." Ucap Erick mengelus rambut Rennata.


Erick masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Saat sedang mandi dengan air yang membasahi tubuhnya, dia merasakan Rennata memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku Erick.. Aku tidak bisa membuatmu senang." Isak Rennata merasa bersalah.


"Kau tidak perlu meminta maaf Ren.. Kau tidak bersalah, masih banyak waktu yang akan kita lalui. Aku tidak marah.. Sudah, jangan menangis sayang." Ucap Erick berbalik dan memeluk Rennata.


🏵🏵🏵🏵🏵🏵


Di depan sebuah gedung yang cukup tinggi, Robert, adik dari Brian keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam gedung. Baru sampai di pintu masuk, dia dihentikan oleh penjaga keamanan.


"Maaf, untuk hari ini yang bukan bagian dari tempat ini tidak bisa masuk."


"Aku akan bertemu kak Alvin hari ini.. Katanya dia manajer untuk grup band yang akan didebutkan, dan dia juga mencari seorang vokalis lagi."


"Setahu saya tidak ada grup itu ditempat ini.."


"Robert!!." Panggil seorang pria mendekati Robert dan petugas keamanan.


"Selamat siang Pak Alvin." Sapa petugas keamanan saat laki-laki yang memanggil Robert tadi sampai didepannya.


"Ahh selamat siang.. Kenapa kau masih disini Robert?.. Sepertinya yang lain sudah berkumpul."


"Aku sudah akan masuk tapi tidak boleh."


"Pak, mulai saat ini anak ini sudah punya akses bebas keluar masuk gedung.."


"Ah iya Pak, saya akan mengingatnya."


"Ayo kita masuk."


Robert masuk kedalam gedung dengan Alvin yang membawanya masuk kedalam grup. Dia dibawa masuk kedalam sebuah ruangan yang cukup luas dan memiliki bermacam alat-alat band disana.


Dia tidak bisa membayangkan dia akan latihan bersama grupnya disini. Disana dia melihat lima orang yang langsung berdiri setelah dia dan manajer Alvin menghampiri.


"Semuanya, kenalkan dia Robert, mulai hari ini dia akan menjadi anggota terakhir kalian."


"Halo semuanya, nama saya Robert dan saya baru berumur 20 tahun." Salam Robert menunduk didepan teman segrupnya. Tentu saja dia harus memberikan umur palsu pada mereka.


Semua ikut menunduk setelah Robert menunduk. Dan saat perkenalan itulah Robert tau berapa umur mereka. Dan ternyata dia menjadi member tertua di grup.


"Sebenarnya masih ada satu anggota lagi, tapi dia baru datang besok. Setelah dia datang, kita akan menentukan pemimpin tim dan semuanya."


"Baik kak." Sahut mereka serempak.


Sedangkan dikantornya, walau Brian berusaha fokus, tapi dia tidak bisa karena terus memikirkan Rennata yang sedang bersama Erick.


Dia sudah merasakan perasaannya yang berusaha mengambil alih dirinya lagi seperti ratusan tahun lalu. Dia sangat benci dengan perasaan seperti ini, karena dia juga tidak ingin kembali merasakan sakit karena ditinggalkan.


 


Story by Ferlind Kim


Selesai baca divote sama komentarnya ya all.. biar author semangat lanjutinnya 😊☺