MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 23



Malam ini akan diadakan pesta di aula istana untuk menyambut kelahiran adik bungsu Brian. Sebelum acara dimulai, Brian dan Rennata sedang bersiap untuk menghadiri pesta. Rennata juga ingin tampil lebih cantik dari biasanya, bagaimana pun sekarang posisinya adalah istri seorang pangeran.


Brian yang sudah selesai itu pun duduk di ranjang sembari memperhatikan istrinya yang sibuk bersolek.


"Kalau kamu tampil secantik itu, aku jadi takut sendiri untuk membawamu kesana."


"Kenapa?.. Apa make up ku terlalu tebal?." Khawatir Rennata menatap cermin dalam-dalam, untuk memastikan dia tidak berlebihan.


"Tidak.. Aku bilang kan kalau kamu tampil secantik ini, berarti kamu jauh lebih cantik dari biasanya."


"Gombal aja kerjaannya, ternyata manusia dan Alien sama saja."


"Emang sama."


"Lalu kenapa kamu takut membawaku ke pesta?." Penasaran Rennata berbalik menatap pada Brian.


"Karena kamu pasti akan membuat saudara-saudara ku tertarik padamu."


"Biarkan saja.."


"Enak aja.. Gak ada yang boleh jatuh cinta padamu selain aku." Cemberut Brian.


"Kita kan gak bisa mengontrol hati seseorang.. Lagian walau pun saudaramu tertarik padaku, aku tidak akan berpaling darimu."


Brian yang senang mendengar ucapan Rennata itupun berdiri dari duduknya dan mendekati Rennata. Dengan perasaan senang, dia memegang kepala istrinya itu, dan kemudian mencium puncak kepalanya.


"Aku benar-benar beruntung memilikimu." Ujar Brian.


"Kalau begitu jagalah aku dengan baik.. Walau suatu saat aku akan menua dan jelek."


"Itu sudah pasti.. Aku tidak akan mengecewakanmu."


Rennata akhirnya selesai dan berdiri dari tempat duduknya, lalu berbalik menatap Brian yang masih berdiri di belakangnya. Dia tersenyum lalu memeluk Brian.


"Siapkan senjata mu dengan baik, Sayang. Malam ini kita bertempur." Goda Rennata berbisik dalam pelukan Brian.


"Benarkah?.. Aku sudah menyiapkannya dari lama.. Jadi kamu pasti akan kalah malam ini." Semangat Brian.


"Kita liat saja nanti." Melepaskan pelukannya dan mencubit hidung Brian, "Ayo kita keluar dan pergi ke pesta."


Brian tersenyum menanggapi istrinya itu, lalu kemudian menggandeng tangannya keluar dari kamar.


Mereka berdua langsung saja berjalan ke aula istana tempat pesta dilangsungkan. Di sana sudah banyak yang berkumpul. Tentu saja tidak hanya kaum bangsawan, karena pesta itu bisa didatangi oleh siapa saja.


Saat Rennata sedang sendirian karena Brian ingin ke toilet, dia didekati oleh seorang wanita yang dia tau adalah wanita yang dia lihat bersama Brian tadi sore.


Rennata awalnya hanya diam, karena dia juga tidak suka basa-basi pada orang yang tidak dia kenal. Apalagi jika orang itu adalah seorang wanita.


"Selamat malam, Tuan Putri." Sapanya mengangkat sedikit gaunnya dan menunduk sembari tersenyum pada Rennata.


"Selamat malam." Balas Rennata melakukan hal yang sama.


"Perkenalkan, namaku Angel Smith. Panggil saja Angel. Aku sepupunya pangeran Brian."


"Iya, salam kenal. Aku Rennata."


"Aku sangat ingin bertemu denganmu, tidak ku sangka kita bertemu disini. Aku sudah meminta pangeran Brian untuk mempertemukan aku denganmu, tapi dia malah menyuruhku untuk menemui mu sendiri."


"Kenapa kamu ingin bertemu?." Penasaran Rennata.


"Karena aku sangat ingin menjadi teman dekatmu.. Aku selalu ingin memiliki teman seorang manusia, namun aku selalu dilarang ke bumi karena aku putri tunggal."


"Mari berteman kalau begitu, tapi kita juga gak bakal selalu ketemu, karena aku dan Brian menetap di bumi."


"Jadi kamu gak tinggal di istana?."


Tampak raut wajah sedih pada Angel. Rennata yang melihat itu juga merasa kasihan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Bagaimana kalau sekali-kali aku ajak ke bumi?. Aku akan minta Brian bicara pada orangtuamu. Kamu bisa tinggal di rumah kami." Ajak Rennata.


"Benarkah?. Apa pangeran Brian mau melakukannya?." Semangat Angel lagi.


"Aku akan melakukannya. Nanti jika kau ingin datang, panggil saja aku dengan telapatimu."


"Brian.. Sejak kapan kamu disini?." Kaget Rennata melihat Brian berdiri di samping mereka.


"Saat kamu bilang akan menyuruhku untuk bicara pada orang tua Angel."


"Lain kali kalau datang jangan bikin kaget itu." Kesal Rennata.


"Maaf, baby."


"Oh ya, apa benar kamu hampir hilang di pasar sore tadi, Ren?." Tanya Angel yang mendengar bahwa seluruh pengawal dikerahkan ke pasar karena Rennata menghilang.


"Hilang?.. Enggak tuh.. Kenapa?."


"Tapi seluruh pengawal datang ke pasar untuk mencarimu."


"Brian?." Menatap Brian yang pura-pura tidak mendengar penuturan Angel.


Karena terus di desak oleh Rennata, akhirnya Brian mengakui apa yang sebenarnya terjadi. Padahal dia sudah berusaha agar Rennata tidak mengetahui beritanya, karena tentu saja Rennata akan mengolok-ngolok dengan bilang dia lebay.


Acara resmi di mulai ketika Raja dan Ratu datang bersama pangeran yang baru lahir. Raja mengambil anaknya itu di gendongan Ratu dan kemudian mengumumkan nama putranya tersebut.


"Kenapa tidak di umumkan kekuatannya?." Heran Rennata, karena sudah pasti adik bungsu Brian itu juga memiliki kekuatan.


"Karena belum muncul." Jawab Brian.


"Jadi tidak muncul ketika baru lahir?."


"Beda-beda sih, kadang muncul sangat cepat, kadang juga sangat lambat."


"Kalau kamu dulu gimana?."


"Kata ibuku, aku mendapat kekuatanku saat aku masih berumur 2 bulan. Katanya aku anak yang paling berpotensi dari pada yang lain."


"Jangan bohong lho." Curiga Rennata.


"Aku serius, jika tidak percaya tanya saja pada Mama nanti."


Rennata hanya diam lalu kembali memperhatikan Raja dan Ratu. Namun tidak disangka-sangka, dia dan Brian malah di suruh mendekat. Dengan sigap, mereka berdua mendekat ke arah Raja dan Ratu.


"Selain mengenalkan pangeran yang baru lahir, kami juga akan mengenalkan menantu sekaligus putri pertama di keluarga kerajaan. Kalian tentu sudah tau siapa dia." Ucap Raja.


Dengan sopan Rennata pun menatap semua orang dan tersenyum sembari memberi salam. Bagaimana pun dia harus terbiasa dengan hal seperti ini.


Brian juga ikut berbicara setelah Rennata selesai, karena dia juga baru kembali ke istana. Semua juga tau kenapa dia baru kembali.


Semua orang memberi selamat pada Raja dan Ratu atas kelahiran pangeran Edric Ehner, dan tidak lupa juga memberi selamat atas pernikahan Rennata dan Brian.


Selesai acara, Brian dan Rennata kembali ke kamar mereka.


"Kamu tidak lupa soal perang kan?." Tanya Brian memastikan Rennata tidak ingkar janji.


"Tentu saja aku ingat. Kalau gitu aku mandi dulu."


"Ayo mandi bareng kalau gitu." Semangat Brian melepaskan jasnya.


Rennata hanya mengangguk setuju lalu masuk ke kamar mandi bersama Brian.