MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 18



Karena pernikahan Renata dan Brian yang akan berlangsung sebentar lagi, jadi mereka harus mempersiapkan segala hal terutama baju pengantin.


Sepulang dari rumah Renata, mereka langsung ke sebuah toko yang menyediakan baju pengantin yang ternama di kota itu. Brian ingin memberikan hal yang terbaik dan sempurna untuk pujaannya itu.


Mereka langsung disambut oleh pemilik toko yang kebetulan ada disana. Pemilik toko langsung membawa mereka ke sebuah ruangan untuk memperlihatkan koleksi terbaik dan terbaru dari toko itu.


Brian langsung menyuruh Renata mencoba semuanya dan memilih yang sangat cocok dengan tubuh ideal milik Renata.


"Bagaimana kalau kita pilih yang ini dan yang kamu pakai sebelumnya?." Usul Brian.


"Apa tidak terlalu terbuka?."


"Mmm sedikit sih.. Tapi apa kamu nyaman?."


"Oke sih.. Kita pilih yang kamu suka saja."


Brian kemudian mengambil yang dia suka dan membayarnya.


"Ayo kita pergi membeli cincin." Ajak Brian menggandeng tangan Renata.


"Bagaimana dengan penata riasnya?." Berjalan disamping Brian.


"Aku sudah menyewa penata rias yang terbaik, kamu tenang saja."


Brian membukakan pintu mobilnya lalu menunggu Renata masuk. Setelahnya dia berjalan ke arah pintu lainnya dan masuk kedalam mobil.


Dia mengarahkan mobilnya kesebuah toko permata yang berada tidak jauh darisana. Disana tentu saja dia juga memilih yang paling mahal untuk dipasangkan di jari manis milik Renata. Setelahnya mereka pun pergi.


"Kamu terlalu menghambur-hamburkan uang, Brian." Ucap Renata saat diperjalanan.


"Aku tidak peduli.. Yang penting aku akan memberikan semua yang terbaik dan termewah untukmu."


"Lalu sekarang kita mau kemana?."


"Aku harus kekantor karena ada pekerjaan, apa kamu tidak ingin bekerja ?."


"Aku akan ikut.. Aku juga ada yang perlu dikerjakan."


Mereka berdua pun pergi ke kantor. Brian yang memang sangat mencintai Renata itu selalu menggandeng tangan Renata dengan erat.


Brian masuk ke ruangannya dengan tetap menggandeng Renata disampingnya.


"Aku akan ke mejaku sekarang, kamu selesaikanlah pekerjaanmu." Ucap Renata setelah Brian duduk dikursinya.


"Apa kamu gak mau kerja diruangan ini saja?.. Bawa saja semua pekerjaanmu kesini."


"Tidak Brian.. Aku akan pergi ke mejaku."


Brian hanya cemberut dengan memperhatikan Renata yang semakin menjauh. Dia pun mengambil berkas-berkas yang ada di mejanya dan membacanya satu persatu.


Sedangkan Renata juga melakukan pekerjaannya. Dia terhenti saat adiknya tiba-tiba berada didepannya.


"Mark?.. Kenapa kau bisa disini?.. Kau tidak ada jadwal?."


"Aku hanya merindukan kakak. Dan aku ingin mengajak kakak makan diluar."


"Tapi kakak lagi bekerja. Bagaimana kalau malam nanti?."


"Aku punya waktu luang cuma saat ini kak, sebentar saja ya?.. Aku akan meminta izin pada kak Brian." Ucap Mark berjalan menuju ruangan Brian.


"Mark tunggu!." Mengikuti Mark.


Mark membuka pintu ruangan Brian dan masuk kesana.


"Kak Brian."


"Mark?!. Ada apa?." Tanya Brian berdiri dari kursinya dan mendekati Mark dan Renata dibelakangnya.


"Aku boleh pinjam kak Renna nya sebentar?.. Cuma makan dikantin bawah aja kok kak.." Ucap Mark tanpa basa basi.


"Kenapa harus izin sama kakak?.. Kan Renna kakakmu, kalau kau mau ajak dia makan, bawa saja." Senyum Brian.


"Tapi kata kak Renna dia lagi bekerja sekarang. Makanya aku minta izin langsung ke kak Brian."


"Kamu pergi aja sama Mark, Ren.. Kan udah lama juga gak ketemu, lagian jadwal Mark juga banyak kayaknya."


"Oke.. Apa kamu mau ikut?." Ajak Renata.


"Kalian pergi saja berdua, nikmati waktu kalian."


Renata dan Mark kemudian keluar dari ruangan Brian. Mereka lalu berjalan menuju lift untuk turun ke lantai bawah.


Selama menuju ke kantin, banyak orang yang memperhatikan mereka. Bagaimana tidak, Renata sedang berdua dengan Mark yang sudah jadi idola terkenal.


"Sepertinya disini ada beberapa penggemarmu Mark." Ucap Renata duduk disalah satu kursi disana.


"Aku sudah bertemu mereka tadi, dan berfoto bersama.. Jadi tidak ada yang akan menghampiri lagi."


"Wah.. kau benar-benar seorang idola sekarang." Kagum Renata.


Mark hanya tersenyum malu. Selagi menunggu pesanan mereka, Mark dan Renata sibuk berfoto bersama.


"Apa kau sudah pulang ke rumah?.. Sepertinya ibu dan ayah merindukanmu." Tanya Renata sembari melihat hasil jepretan di ponsel Mark.


"Jangan lupa mencoba pakaian yang sudah kami siapkan untuk acara pernikahan nanti."


"Aku sudah mencobanya kak.. Ibu mengirimnya ke dorm ku."


"Baiklah.. Ayo kita makan." Ajak Renata saat pesanan mereka datang.


Selagi mereka makan, mereka dihampiri seseorang yang terlihat seperti wartawan.


"Maaf mengganggu.. Apa aku boleh melakukan wawancara pada Mark?."


"Baiklah.. Hanya sebentar."


"Terimakasih waktunya."


"Kalau gitu kakak pergi ya, Mark?." Ucap Renata setelah menghabiskan makanannya. Dia berniat memberi waktu untuk wawancara Mark.


"Baiklah kak.. Makasih waktunya.. Nanti aku akan menghubungi kakak lagi." Senyum Mark.


Renata membalas senyuman tersebut dan berdiri dari duduknya.


"Tunggu.. Apa sebelumnya aku boleh tau?.Apa hubunganmu dengan Mark?." Cegat wartawan itu pada Renata.


"Jangan salah paham.. Aku kakaknya Mark. Kami bersaudara."


"Ahh baiklah.. Terimakasih."


Renata kemudian meninggalkan Mark dan wartawan tersebut. Saat dia akan menaiki lift, dia bertemu Brian yang akan keluar dari lift.


"Ren!. Apa makannya sudah selesai?." Heran Brian keluar dari lift dan mendekati Renata.


"Barusaja.. Kamu mau kemana?."


"Yah.. Padahal aku berencana akan bergabung denganmu dan Mark." Kecewa Brian. "Apa Mark sudah pergi?."


"Belum.. Dia sedang wawancara di kantin.. Tiba-tiba ada wartawan yang mendatanginya."


"Kalau begitu, ayo kita tunggu dia."


"Untuk apa?.. Dia akan pulang kerumah setelah ini."


"Itu lebih baik.. Kita antar saja dia pulang. Sekalian kita menginap di rumahmu lagi."


"Tapi kita baru saja kembali darisana, Brian. Lagian pekerjaanku belum selesai."


"Sudahlah.. Masalah pekerjaan bisa dilakukan kapan-kapan.. Ayo kita pergi baby." Semangat Brian menarik tangan Renata.


Renata tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya mengikuti Brian yang menariknya. Mereka melihat Mark masih melakukan wawancara. Sembari menunggu, mereka pun terus memperhatikan Mark.


Tidak lama kemudian, mereka melihat Mark yang berdiri dan meninggalkan tempat itu. Dengan segera, mereka menghampiri Mark.


"Apa kau kesini bawa mobil, Mark?." Tanya Brian.


"Aku naik taksi kak. Emangnya kenapa, kak?."


"Kau akan pulang kerumah kan?. Ayo ikut kami, kami akan mengantarmu." Ajak Brian.


"Bukannya pekerjaan kak Renata masih banyak, kak."


"Pekerjaan itu tidak penting. Ayo kita ke parkiran."


Setelah mendapat anggukan dari Renata, akhirnya Mark setuju untuk ikut dengan Brian. Mereka segera keparkiran dan langsung masuk ke dalam mobil milik Brian.


"Apa adikku tidak membuat kalian susah, Mark?." Tanya Brian saat diperjalanan.


"Kak Robert sangat baik pada kami. Dia juga selalu memberikan apa yang kami butuhkan."


"Benarkah?. Kenapa padaku dia sangat menjengkelkan."


"Mungkin karena kamu selalu mencari masalah dengannya, Brian." Sahut Renata.


"Tidak.. Malahan dia yang selalu mencari masalah padaku." Bantah Brian.


"Itu karena kak Robert ingin menarik perhatian kakak."


"Untuk apa?.."


"Untuk mendapat perhatian darimu. Cobalah sekali-kali ajak dia jalan-jalan."


"Lalu sekarang dimana bocah itu?."


"Tadi sebenarnya dia ikut bersamaku, tapi saat kami sampai di kantor, dia mendapat panggilan dari manajer."


"Benarkah?.. Berarti dia sangat sibuk sekarang. Harusnya dia bersenang-senang saja diusianya sekarang."


"Dia sudah bersenang-senang dengan karirnya saat ini, Brian. Kalau kamu merindukannya, kenapa tidak menelfonnya saja?."


"Siapa bilang aku merindukannya. Jangan aneh-aneh deh."


Renata hanya mangut-mangut mendengar ucapan Brian. Padahal dia tau, Brian sangat ingin bertemu Robert.