
Pagi itu, Rennata beserta ayah ibu dan adiknya sudah berada di bandara. Memang mereka akan berangkat ke Swiss untuk liburan sekaligus merayakan ulang tahun Mark.
"Kak Brian nyusul jam berapa kak?." Tanya Mark menoleh pada kakaknya yang duduk di sebelahnya.
"Katanya siang nanti."
"Aku sebenernya juga ngajak kak Robert, kak."
"Emang dia lagi gak ada jadwal kayak kamu?."
"Ada kak, tapi cuma pagi ini doang. Dan dia bakal nyusul sore nanti."
Rennata hanya mangut-mangut mendengar penuturan adiknya itu. Dia juga akan menyiapkan mentalnya saat Brian bertemu Robert nanti. Dia sudah bisa pastikan jika akan sangat berisik.
Akhirnya pesawat yang mereka tumpangi lepas landas. Rennata tentu saja tidur selama penerbangan itu. Dia juga gampang ngantuk selama hamil ini.
Tidak jauh beda dengan Rennata, Mark juga sudah tertidur di kursinya.
Sesampainya di bandara Internasional Zurich Swiss, mereka segera naik ke dalam mobil yang memang sudah di persiapkan Brian sebelumnya. Memang Brian sudah menyiapkan segalanya untuk liburan ini, bahkan dia sudah membayar hotel mewah untuk mereka menginap.
"Renna ke kamar ya?." Pamit Rennata.
"Kami juga ke kamar sekarang."
Rennata ingin segera membereskan semua bawaannya, dan dia akan membersihkan dirinya agar setelahnya dia bisa berjalan-jalan di sekitar hotel.
Sesampainya di kamar hotel, dia duduk di sofa sekedar untuk melepas lelah sebelum masuk ke kamar mandi. Saat itulah ponselnya berdering. Senyumnya terukir jelas saat melihat siapa yang menelfonnya, siapa lagi kalau bukan suaminya.
"Hallo sayang." Ucap Rennata sesaat setelah mengangkat panggilan itu.
"Kamu udah sampai hotel?. Aman kan, selama perjalanan?. Gak liatin cowok-cowok kan?." Posesif Brian melontarkan berbagai pertanyaan yang mampu membuat Rennata tersenyum senang.
"Aku aman kok sayang. Kalau gak liatin cowok ganteng sih aku gak bisa janji lho." Goda Rennata.
"Awas ya kalau sampe macem-macem, daddy hukum kamu nanti."
"Uhhh ampun daddy."
"Makanya jangan coba-coba ya?. Eh, aku tutup telfonnya sekarang ya, sayang?. Soalnya ini mau meeting lagi."
"Iya sayang. Cepetan di selesein ya?. Biar kamu cepet nyusul kesini."
"Iya sayang. Bye honey. See you."
"See you."
Panggilan itu pun berakhir. Rennata meletakkan ponselnya di meja, lalu berjalan ke kamar mandi. Dia melepas semua pakaiannya lalu masuk ke dalam bathub untuk berendam.
Selesai mandi dan berdandan, dia segera keluar dari kamar hotel dan berjalan menuju lift untuk pergi keluar. Dia ingin berkeliling di sekitar hotel sembari menunggu kedatangan suaminya.
Saat akan keluar dari hotel, dia di panggil oleh Mark yang ternyata juga sedang berada di lobby.
"Lho Mark, kenapa keluar gak pake masker sama topi gitu?." Kaget Rennata melihat tampilan adiknya yang sangat santai itu.
"Tenang aja kak, nanti kalau pun ada yang deketin pasti bisa ke kontrol kok."
"Masalahnya bukan itu, nanti kalau ada paparazzy yang bikin artikel tentang kamu sama kakak yang aneh-aneh gimana coba?."
"Biarin aja." Cuek Mark.
"Lalu kau mau kemana?."
"Tentu saja menemani kakak. Kan aku juga udah lama gak jalan berdua sama kakak."
"Ya udah, kalau gitu ayo jalan."
Dua kakak beradik itu pun keluar dari hotel dan berjalan ke area sekitar. Mereka asyik mengobrol sembari sesekali tertawa.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Tepat jam 1 siang, Brian akhirnya sampai di hotel. Dia langsung saja ke kamarnya bersama Rennata. Di kamar, dia melihat istrinya sedang tertidur.
Brian mendekati ranjang dan mencium kening istrinya. Rennata yang merasakan ciuman itu pun terbangun dan mulai mengedip-ngedipkan matanya.
"Brian." Lirih Rennata mengucek-ngucek matanya.
"Maaf ya, kamu jadi kebangun."
"Kamu udah datang daritadi?."
"Aku baru nyampe barusan. Kamu udah makan?."
"Belum, aku nunggu kamu soalnya, eh ketiduran."
"Kalau gitu aku pesen makan ya?. Kamu cuci muka dulu gih."
"Kamu selama di tinggal sendirian beneran gak macem-macem kan?." Introgasi Brian.
"Ngapain juga macem-macem, suami aku perfect gini kok." Mencium pipi Brian.
"Kamu udah nyari rencana kita semua mau kemana?."
"Belum sih. Nanti kita tanya Mark aja dia maunya kemana."
"Oh iya, aku udah beliin kado buat Mark."
"Kamu beli apa?. Aku pengen liat dong."
Brian mengeluarkan sebuah berkas yang mampu membuat Rennata melongo. Dia tau, suaminya itu miliarder tapi kalau beli hal ini untuk sebuah kado ulang tahun akan sangat berlebihan.
"Ini sertifikat rumah mewah di komplek perumahan elite tempat tinggal Robert?."
"Iya aku beli satu rumah disana buat kado Mark, aku udah atur dengan nama Mark, tinggal di tanda tangani aja."
"Ini gak terlalu berlebihan apa?. Padahal kita gak perlu ngasih kado kayak gini banget, dia anaknya simple kok."
"Enggak sayang. Ini udah kado yang pas buat Mark. Lagian dia bisa tetanggaan sama Robert."
"Kalau kamu mikirnya gitu, makasih banget ya?. Udah merhatiin keluarga aku sampe kayak gini."
"Keluarga kamu kan keluarga aku juga."
Rennata kembali memeluk erat Brian dan kali ini di balas oleh Brian. Saat sedang berpelukan, mereka mendengar bel berbunyi.
"Kayaknya makanannya udah dateng, aku ambil dulu ya?." Ucap Brian melepas pelukannya dan berdiri.
Brian berjalan ke depan pintu, dan benar saja, makanan mereka sudah datang. Dia mempersilahkan pegawai hotel itu masuk ke dalam untuk menyediakan semua makanan itu ke atas meja.
Setelah pelayan hotel itu pergi, mereka berjalan ke meja makan dan mulai menyantap makanan yang tersedia. Sesekali Brian menyuapi istrinya itu dan terkadang dia juga membersihkan sudut bibir istrinya yang makan belepotan.
"Kira-kira anak kita cewek apa cowok ya?. " Tanya Rennata setelah selesai makan.
"Aku sih mau cewek atau cowok sama aja."
"Apa anak kita bakalan punya kekuatan kayak kamu juga?."
"Enggak tau sih. Soalnya kan baru kita yang nikah beda dunia."
"Aku sih berharapnya gak usah."
"Lho kenapa?."
"Kan bahaya punya api kayak gitu apalagi kalau masih kecil, kalau bisa punya kekuatan yang gak bikin bahaya gitu."
"Hahaha pasti bakal punya api lah sayang, daddynya punya kekuatan api kok, mana mungkin anaknya punya kekuatan lain."
"Kenapa gak mungkin?. Buktinya ayah kamu aja semua anaknya punya kekuatan beda-beda."
"Ayah aku kan raja, dia emang punya semua kekuatan. Dan hal itu cuma jatuh pada salah satu keturunan Raja. Dan penggantinya pun harus punya semuanya."
"Berarti kak Richard juga bisa semua dong?."
"Tentu saja bisa, dia kan putra mahkota. Dia terlahir dengan bakat istimewa itu."
"Berarti tidak harus putra pertama yang jadi putra mahkota?."
"Tentu saja tidak, hanya putra yang terlahir istimewalah yang bisa jadi penerus raja."
"Gak adil dong."
"Kenapa gak adil?."
"Kan berarti hanya keturunan putra mahkota aja yang bisa naik tahta. Bagaimana dengan keturunan pangeran lain?."
"Enggak gitu juga sayang, walau kasus yang sangat jarang, terkadang ada anak dari pangeran lain yang memiliki keistimewaan itu."
"Jadi gitu. Semoga anak kita gak dapet hal istimewa itu ya sayang?."
"Kenapa?. Kamu gak mau punya putra yang bakal jadi penerus raja?." Heran Brian.
"Kan jadi putra mahkota itu pasti bakalan banyak aturan. Aku mau anak-anak kita hidup dengan bebas, bisa ngelakuin apapun yang mereka mau."
"Tidak juga. Justru aku dulu pengen jadi putra mahkota."
"Kan harus berlatih sejak kecil."
"Semua pangeran juga berlatih sejak kecil sayang, cuma bedanya kalau putra mahkota itu akan berlatih lebih keras."
Rennata hanya menggangguk. Dia masih saja takjub jika mendengar tentang keluarga suaminya itu. Tapi dia juga takut jika salah satu anaknya nanti malah terlahir istimewa seperti itu.