
Setelah hampir 3 bulan, akhirnya perusahaan Brian Balder yang terbakar sudah bisa digunakan seperti biasa lagi. Hari ini Rennata kembali bekerja dan tentu saja dia datang bersama Brian.
Brian yang sudah sangat semangat untuk memberitahu semua orang tentang hubungannya dengan Rennata, segera mengumpulkan karyawannya itu disebuah ruangan.
"Jadi hari ini saya akan mengumumkan sesuatu. Saya dan Rennata sudah menjadi sepasang kekasih dan kami akan segera menikah. Berbaik-baiklah dengannya, dan bantu dia beradaptasi lagi dengan perusahaan kita." Ucap Brian saat semuanya berkumpul.
Walau ada beberapa yang sedikit tidak suka, tapi diluar dugaan Rennata, banyak juga yang mendukung hubungan mereka dan memberi selamat padanya.
Setelah semua meninggalkan ruangan, Brian mengenggam tangan Rennata dan tersenyum.
"Semua akan baik-baik saja. Sekarang ayo kita kembali bekerja."
Saat Rennata akan keruangannya, dia mendapat pesan dari Erick untuk bertemu nanti malam. Sebenarnya Rennata masih tidak sanggup bertemu dengan Erick, namun dia tidak mungkin menghindari Erick selamanya. Setelah mengiyakan ajakan Erick, Rennata berjalan keruangannya.
"Selamat datang bu Renna." Sapa semua yang ada diruangan itu tersenyum.
"Ah iya, panggil Renna saja dan bersikap biasa saja." Ucap Rennata malu.
"Mana mungkin kami bisa bicara seperti biasa pada bu Renna."
"Tidak apa-apa, aku juga tidak mau ada perasaan canggung seperti ini. Kalian panggil Renna saja ya?."
Semua tersenyum dan hanya mengangguk.
Jam demi jam Rennata lewati dengan giat bekerja. Dan sesekali dia didatangi oleh Brian hanya dengan alasan untuk bertemu. Rennata sebenarnya sangat malu, namun dia tidak mungkin menolak kedatangan Brian yang juga merupakan bossnya itu.
Setelah kedatangan Brian yang kelima, Rennata mengajak Brian keruangan bossnya itu. Brian langsung setuju dan menggandeng tangan Rennata. Rennata sedikit risih karena melihat pandangan orang-orang yang dilewatinya. Sesampainya diruangan Brian.
"Nah, kalau gini kan aku bisa bebas memelukmu." Senyum Brian memeluk Rennata. Rennata hanya menghela nafas dan balas memeluk Brian. Dia tidak menyangka Brian memiliki sifat kekanak-kanakan seperti ini. Dia merasa Brian bukanlah orang yang sama dengan yang dia temui pertama dulu.
"Apa kau akan terus mencariku keruanganku?."
"Aku sudah menahan diri tapi aku masih saja merindukanmu.. Apa kau tidak suka aku kesana?."
"Bukan begitu sayang.. Aku tidak ingin makin dibenci orang-orang."
"Siapa yang berani membencimu sayang?. Katakan padaku."
"Tidak ada. Hanya saja aku takut itu akan terjadi nanti." Ucap Rennata berbohong, sebenarnya dia sudah menyadari ada beberapa orang yang sering memandangnya dengan jahat.
"Sudahlah.. Yang penting sekarang kita bahagia, dan jangan terlalu memikirkan mereka. Dan apa kau mau pergi kencan nanti malam?."
"Maaf sayang, aku akan bertemu Erick malam ini."
"Kenapa kau ingin bertemu dengannya?." Tanya Brian sedikit kesal.
"Aku hanya akan bilang soal rencana kita dan agar dia tidak merasa aku menjauh darinya. Dia kan sahabat kecilku." Jelas Rennata. Walau sedikit kesal, Brian akhirnya mengizinkan kekasihnya itu pergi. Padahal dia malam ini ada rencana untuk memberitahu segalanya pada Rennata. Tapi karena ini dia mengurungkan niatnya itu.
Setelah Rennata memeluk Brian dan meminta Brian untuk tidak datang keruangannya lagi, Rennata keluar dariΒ ruangan Brian dan kembali keruangannya.
Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan jam pulang. Rennata membereskan mejanya setelah melihat Brian yang berdiri diluar ruangannya.
Dengan senyum yang mengembang diwajahnya, Rennata berjalan kearah Brian dan langsung menggandeng tangan Brian. Karena jam kerja sudah selesai, Rennata kembali dengan kehidupannya diluar pekerjaan.
"Kau bukan terlihat senang karena janjimu dengan Erick nanti kan?." Curiga Brian berjalan disamping Rennata yang masih menggandeng tangannya.
"Aduh, kamu cemburu ya sayang?.. Tentu saja aku senang karena bisa bebas menggandeng tanganmu dan kita bisa pulang bareng."
"Okelah.. Sekarang ayo kita pulang."
Rennata dan Brian pulang kerumah. Sepanjang jalan tangan Rennata terus digenggam Brian. Rennata hanya tersenyum melihat sikap Brian. Dia tau bahwa kekasihnya itu pasti sedang kesal, tapi dia tidak mungkin juga membawa Brian bertemu dengan Erick. Apa yang akan dipikirkan Erick nantinya.
"Nanti malam tunggu aku pulang ya?. Aku ingin tidur denganmu malam ini." Ucap Rennata mencium punggung tangan Brian. Brian menatap Rennata senang dan mengangguk.
Sesampainya dirumah Brian, saat masuk kedalam rumah, mereka melihat Mark dan Robert sedang bersantai diruang tamu. Terlihat Mark sangat kaget melihat kakaknya datang bersama kakak Robert yang baru dilihatnya hari ini.
"Selamat datang, Kak." Sapa Robert tersenyum pada Rennata dan Brian.
"Kau kenapa bisa disini?. Bukankah kau sudah kubelikan rumah baru untukmu. Jadi jangan datang lagi kesini sebelum kuizinkan." Kesal Brian menatap Robert adiknya itu.
"Ada apa?." Tanya Brian duduk dikursi kosong dan diikuti Rennata.
"Ayah dan Ibu akan datang kesini malam ini.."
Brian yang mendengar hal itu langsung salah tingkah dan pucat. Dia memang meminta Robert mengatakan kepada kedua orangtua mereka soal rencananya untuk menikah. Tapi dia juga tidak menyangka, kedua orangtuanya itu akan datang menemuinya. Sudah hampir 100 tahun sejak dia belum bertemu dengan mereka.
"Kau terlihat pucat, apa kau sakit?." Khawatir Rennata melihat wajah Brian.
"Tidak kok.. Aku baik-baik saja, dan bukankah kau juga harus segera bersiap untuk bertemu Erick."
"Ah iya..Aku akan kekamar untuk siap-siap dulu." Berdiri dan berjalan kekamarnya.
"Kenapa kau malah menyuruh mereka datang?.. Bukankah aku sudah pernah bilang untuk tidak membawa mereka kesini." Kesal Brian tiba-tiba setelah Rennata pergi.
"Aku tidak menyuruh mereka datang, tapi Ayah sendiri yang ingin datang."
"Ya sudahlah, aku pusing. Aku akan kekamar, dan kau boleh pergi sekarang. Dan bukankah kau Mark Osbert?."
"Iya kak." Angguk Mark yang daritadi terlihat canggung karena pertengkaran kedua kakak beradik itu. Dan bahkan dia tidak sempat berbicara pada Rennata sang kakak.
"Maaf ya, kau jadi melihat aku marah-marah."
"Ah tidak apa-apa kak. Dan apa aku boleh bertanya satu hal, kenapa kak Renna bisa disini?." Tanya Mark sebelum Brian pergi. Namun Brian hanya tersenyum dan berjalan.
"Kakakmu itu akan segera jadi kakakku Mark. Dan artinya sekarang mereka sedang pacaran. Tentu saja kak Renna disini, karena emang udah tinggal disini." Ucap Robert mewakili menjawab pertanyaan Mark.
Setelah Robert dan Mark pergi, Brian masuk kekamar Rennata. Disana dia melihat Rennata yang sedang duduk didepan meja riasnya sembari memasang anting-antingnya.
"Kau jangan lama-lama disana ya sayang?." Sendu Brian mencium puncak kepala Rennata. Rennata langsung tersipu.
"Aku janji, aku tidak akan lama. Aku pergi dulu sayang." Balas Rennata mencium pipi dan kening Brian. Brian memeluk Rennata yang juga langsung dibalas Rennata.
Rennata pergi diantar sopir pribadi Brian yang sudah dia telfon sebelumnya.
Setelah mencium pipi Brian terakhir kalinya, Rennata masuk kedalam mobil.
π΅π΅π΅π΅π΅π΅
Erick yang terlebih dahulu sampai ditempat pertemuannya dengan Rennata, sedang menikmati minuman yang sudah dipesannya.
"Apa kau sudah menunggu lama?." Tanya seorang wanita yang tak lain adalah Rennata berdiri dihadapan Erick. Erick sedikit kaget melihat dandanan Rennata yang sangat cantik malam ini.
'Kau sangat cantik Ren, andai kau masih menjadi milikku, betapa bahagianya aku bisa memilikimu'. Ucap Erick didalam hatinya sembari masih melihat Rennata.
"Ah tidak, ayo duduk dulu." Berdiri dan mempersilahkan Rennata duduk.
Rennata hanya tersenyum dan duduk dikursinya.
"Aku tidak bisa lama-lama. Karena kau mengajak bertemu, sekalian saja aku ingin mengatakan.."
"Iya aku tau, sekarang kita makan dulu. Jangan seperti orang yang baru kenal seperti ini. Aku sudah memesan makanan yang kau sukai." Ucap Erick segera memotong pembicaraan Rennata.
"Ya sudah, ayo makan."
Selama makan, Rennata hanya diam tanpa berkata apapun. Dia hanya ingin segera pergi darisini dan pulang. Apalagi malam ini orangtua Brian akan datang.
"Aku mengajak bertemu ingin memberikan ini padamu.. Kau boleh lihat." Ucap Erick tanpa basa basi setelah mereka selesai makan dan memberikan seberkas dokumen pada Rennata.
Rennata yang bingung hanya menerima berkas yang diberikan Erick dan mulai membukanya.
BERSAMBUNG...
Selesai baca divote sama komentarnya ya all.. biar author semangat lanjutinnya πβΊ
Story by Ferlind