
Sore itu Rennata diajak Erick untuk jalan-jalan ke pantai. Dengan enggan karena masih memikirkan Brian, Rennata akhirnya pergi setelah dipaksa Erick.
"Bukankah ini mengingatkan masa remaja kita Ren?. Dulu kita sering sekali ke pantai berdua dan main lari-larian." Senyum Erick menatap Rennata.
Dia memang sengaja kerumah Rennata setelah mengetahui Rennata tidak kembali kerumah Brian. Dia juga merasa, kali ini dia akan bisa mendapatkan Rennata kembali.
"Hmm Ya." Jawab Rennata singkat memalingkan wajahnya dari Erick.
Dibawah sinar matahari yang hampir tenggelam, Erick dan Rennata berdiri berdampingan. Tanpa ragu, Erick memegang tangan Rennata yang membuat Rennata menatapnya.
"Ren.. Bukankah kamu lebih baik bersamaku saja?. Kita sama-sama manusia dan kita juga sudah saling mengenal bahkan dari kita kecil."
Rennata terdiam melihat Erick. Dia tidak menyangka Erick akan mengatakan hal itu. Padahal dia sudah lama mengakhiri perasaannya pada Erick. Bahkan dia sudah mengatakan semua dengan jelas pada Erick. Dia benar-benar tidak tau bahwa Erick masih memendam perasaan padanya.
Sebenarnya dia bisa saja menerima Erick kembali. Namun walau dia mencoba melupakan Brian dan membencinya, tapi dia semakin mencintai dan merindukan Brian.
Bahkan dia sudah tidak peduli lagi dengan traumanya. Saat ini pun dia sangat ingin berada dipelukan hangat seorang Brian Balder. Tanpa sadar, airmatanya mengalir.
"Kau kenapa menangis?. Kau tau aku tidak suka melihatmu menangis kan?. Apa aku melakukan kesalahan?" Khawatir Erick menghapus airmata Rennata.
"Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana menanggapi perasaan tulusmu. Tapi aku juga tidak bisa menerima kamu kembali Rick. Aku benar-benar sudah jatuh cinta pada Brian. Aku merindukan Brian. Aku minta maaf." Jujur Rennata semakin terisak.
Erick segera memeluk erat Rennata dan mengelus kepalanya. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan Rennata, namun dia sadar, bagaimana pun dia tidak akan bisa mendapatkan Rennata lagi. Dan dia juga merasa bersalah sudah membuat Rennata bersedih. Seharusnya dia tidak memberikan rahasia Brian itu pada Rennata.
"Kembalilah pada Brian, Ren. Aku minta maaf membuatmu bersedih."
Rennata melepaskan pelukan Erick dan mengangguk tersenyum dengan mata sembab. Dia sudah membulatkan hatinya untuk kembali pada Brian.
π΅π΅π΅π΅π΅π΅
Saat kembali kerumah, Erick dan Rennata bertemu dengan ibu Rennata yang sedang duduk diluar.
"Apa kau bertengkar dengan Brian, Ren?" Tanya ibunya tiba-tiba. "Ibu sangat khawatir melihatnya pergi dengan murung tadi."
"Apa maksud ibu?. Kami tidak bertemu Brian tadi."
"Tadi dia kesini dan ibu bilang kau ada dipantai. Dia berlari kesana dan kembali dengan wajah murung dan berpamitan."
Rennata terlihat bingung, dia ingin mengejar Brian tapi dia tidak ada mobil.
"Aku akan mengantarmu mengejar Brian. Kau naiklah ke mobil." Ujar Erick.
"Benarkah?. Kau tidak apa-apa?"
"Apapun untuk membuatmu senang." Senyum Erick.
Rennata naik ke mobil setelah pamit pada ibunya, dan disusul Erick. Erick meninggalkan pekarangan rumah Rennata dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia yakin Brian belum jauh dan dia tidak ingin membuat Rennata terpisah lagi dengan Brian. Kali ini dia benar-benar akan mengikhlaskan Rennata pada Brian. Dan dia akan kembali mencoba berteman lagi dengan Brian.
Erick menghentikan mobilnya tepat didepan mobil Brian yang sedang melaju, membuat Brian mendadak berhenti.
"Kau mau bikin aku mati Rick?." Kaget Rennata memegang dadanya.
"Ya maaf Ren. Yang penting kita menghentikan Brian kan?. Sana temui dia. Good Luck." Ujar Erick tersenyum simpul. Dan meninggalkan tempat itu setelah memastikan Rennata naik kemobil Brian.
Brian yang ingin keluar untuk marah-marah, seketika terdiam melihat sosok yang dia kenal berjalan ke arahnya dan masuk kedalam mobil. Sosok itu adalah Rennata kekasihnya.
"Kenapa kau bisa disini?. Bukankah kau bersama Erick?. Dan sepertinya kalian akan kembali bersama kan." Jawab Brian melepas pelukan Rennata dan memalingkan wajahnya.
"Aku memang bersama Erick dan kami tidak akan kembali bersama. Karena aku memilihmu Brian. Benar, Erick memintaku kembali padanya tapi aku menolaknya karena aku lebih memilihmu daripadanya. Dan apa yang kudapatkan sekarang?. Kau malah memalingkan wajahmu dariku."
"Bukankah kalian tadi berpelukan?."
"Jadi gara-gara itu kau pergi tanpa menemuiku?. Dia memelukku spontan dan aku juga tidak membalas pelukannya."
Brian terdiam dan menghela nafasnya. Betapa bodohnya dia pergi begitu saja tanpa mendengarkan kekasihnya itu. Dan lagi sekarang kekasihnya sudah mengejarnya dan berkata jujur padanya.
"Sekarang kita pulang dulu dan membicarakannya lagi dirumah." Ucap Brian kembali menyalakan mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
π΅π΅π΅π΅π΅π΅
Dirumah, setelah mandi dan berganti pakaian, Brian mengajak Rennata mengobrol di ruang tamu. Dengan manjanya Rennata duduk disebelah Brian dan menyenderkan tubuhnya ke tubuh Brian.
"Aku sudah tau semuanya Brian. Hari itu aku mengetahui semuanya dan karena itu menyangkut traumaku, makanya aku pergi kekampung ku dan mencoba mencerna semuanya." Ucap Rennata yang mampu membuat Brian kaget.
"Apa malam itu Erick memberi tau semuanya padamu?. Apa kau juga tau soal kekuatanku?." Tanya Brian mencoba memastikan. Dan dia mendapat anggukan dari Rennata. "Hah.. Malam itu sebenarnya aku juga mau jujur tentang diriku padamu. Yah seperti yang kau tau dari Erick, aku bukanlah manusia dan aku punya kekuatan berupa api. Dan diplanetku berasal, semua keturunan raja memiliki kekuatan sendiri dan semua nya berbeda." Tambah Brian menceritakan semuanya.
"Jadi kau keturunan raja?." Takjub Rennata menatap kekasihnya yang tampan itu.
"Ya bisa dibilang aku adalah seorang pangeran diplanetku. Aku putra ke enam di keluargaku. Semua saudaraku laki-laki."
"Pantas saja kau sangat tampan." Goda Rennata yang membuat Brian tersipu."Apa aku boleh bertanya satu hal padamu Brian?." Serius Rennata tiba-tiba.
"Tentu saja. Tanyakan semuanya padaku." Semangat Brian.
"Malam 10 tahun yang lalu, bukankah kamu membunuh dan membakar seseorang di gang itu?" Tanya Rennata ragu-ragu.
"Itu tidak seperti yang kau pikirkan Ren. Dia bukan manusia, dia salah satu penghuni planetku. DanΒ semua yang kau lihat adalah balasan untuknya karena telah melukai adikku sampai sekarat, yang membuatku diusir."
"Astaga. Kenapa kau bisa diusir?." Sedih Rennata.
"Ayahku mengira bahwa akulah yang melukai adikku, karena adikku itu terbakar hebat. Setelah melukai adikku, dia pergi meninggalkanku berdua dengan adikku. Dan kau tau sendiri kelanjutannya."
"Apa dia juga punya kekuatan api?. Bukankah kamu bilang hanya keturunan raja yang memiliki kekuatan?."
"Aku juga tidak tau darimana dia mendapatkan kekuatan itu. Makanya aku mencoba mencarinya dibumi dan memusnahkannya."
"Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Maafkan aku berpikir buruk padamu." Memeluk Brian dan dibalas oleh Brian.
Brian mencium Rennata, dan mereka dikagetkan dengan bunyi bel. Dengan kesal, Brian berjalan ke pintu utama dan membuka pintu.
Diluar dia melihat kedua orangtuanya yang datang bersama adik-adiknya. Brian mengajak mereka semua masuk dan mengenalkan Rennata pada keluarganya. Rennata yang berpikir bahwa akan sulit baginya diterima disana, merasa sangat senang setelah diterima dengan baik oleh keluarga Brian.
Malam itu karena keluarganya sudah berkumpul, Brian melamar Rennata dan tentu saja diterima oleh Rennata.
"Jadi besok kita pergi kerumah Renna dan berbicara dengan orangtuanya." Ujar Ayah Brian yang disetujui oleh istrinya.
**********
Bersambung.....