MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND

MY PERFECT 'ALIEN' HUSBAND
Episode 39



Rennata yang terbangun karena mendengar suara tangisan Naela, segera berlari ke box si kembar karena box milik Naela telah terbakar setengahnya. Dia bergegas menggendong Naela dan berteriak memanggil Brian.


Brian segera bangun dan berlari ke arah Rennata sembari mengambil Rendra. Setelah itu dia memanggil kedua penjaga yang sedang berjaga di depan kamarnya untuk memadamkan api itu.


Seketika seluruh anggota kerajaan berkumpul di kamar Rennata. Mereka semua panik kecuali Raja dan Ratu yang tersenyum.


"Kenapa panik?. Harusnya api itu tidak akan melukai si kembar. Karena itu adalah kekuatan mereka." Ucap William yang merupakan ayah dari Brian.


"Iya juga ya, kenapa aku panik banget ya?." Ucap Brian menyadari tindakannya.


"Tentu saja kamu panik, itulah naluri orangtua. Dulu kami juga seperti itu saat kalian semua bayi." Senyum Jane menjelaskan kondisi yang sama dia alami dulu.


"Aku juga panik karena aku takut terjadi hal buruk pada mereka, bagaimana pun di darah mereka mengalir darah manusia biasa." Jelas Brian.


"Benar juga, tapi sepertinya itu tidak akan mempengaruhi mereka."


"Kak, lihat tanganmu. Sepertinya kakak kena apinya." Tunjuk Oscar pada tangan Rennata yang memerah dan sedikit melepuh.


Brian yang melihat kondisi tangan Rennata segera menyerahkan Rendra pada orangtuanya lalu mengambil Naela dari tangan Rennata. Lalu setelahnya dia meminta Richard untuk mengeluarkan kekuatannya agar bisa menolong menetralkan panas yang ada di tangan Rennata.


Setelah di netralkan, Rennata segera di obati oleh dokter kerajaan yang memang tinggal di istana.


"Apa itu sangat sakit?." Tanya Brian panik.


"Sedikit, tapi aku lega setidaknya Naela dan Rendra baik-baik saja."


"Iya sayang, maaf membuatmu merasakan kesakitan seorang diri."


"Tidak apa-apa sayang." Senyum Rennata.


Sembari menunggu Rennata di obati, Brian meminta para penjaga untuk membereskan kekacuan yang terjadi. Dia juga meminta para dayang untuk mengganti box bayi milik Naela.


Selesai di obati, Rennata pun berbaring di ranjangnya dan meminta Naela dan Rendra ditidurkan di sampingnya. Brian juga ikut berbaring saat semua orang keluar dari kamar tersebut.


"Tidurlah kembali, aku yang akan menjaga anak kita sampai mereka tertidur." Ucap Brian meminta Rennata untuk kembali tidur.


Tanpa membantah, Rennata pun tidur setelah dia memberikan ciuman pada kedua anaknya dan Brian. Sedangkan Brian mencoba menidurkan Naela yang memang masih terbangun. Dengan memeluk Naela dalam tidurnya, Brian juga menepuk-nepuk lembut tubuh Naela.


Namun sepertinya dia tidak bisa menahan rasa kantuknya, hingga tanpa dia sadari dia sudah tertidur meninggalkan Naela yang masih terjaga.


Sinar mentari pagi menerobos lewat celah-celah jendela kamar milik Rennata. Rennata pun langsung terbangun dan menatap ke arah sampingnya. Dia selalu tersenyum saat melihat kedua buah hatinya yang sangat cantik dan tampan itu.


Rennata turun dari ranjangnya lalu berjalan ke kamar mandi. Karena jika saja salah satu dari si kembar terbangun, akan sulit baginya untuk mandi dan berganti pakaian. Karena memang si kembar tidak mau jauh darinya.


Di kamar mandi, dengan perlahan Rennata membuka perban yang melilit luka bakar di tangannya, lalu kemudian dia juga membuka seluruh pakaiannya. Dia pun masuk ke dalam bathub yang sudah dia isi dengan air dan sabun favoritnya.



Sedangkan Brian barusaja terbangun dan memperhatikan sekelilingnya. Dia yang tidak melihat Rennata pun turun dari ranjang dan berjalan ke area kamar mandi.


"Sayang, apa kamu di dalam?." Tanya Brian dari pintu kamar mandi.


"Iya sayang, apa si kembar bangun?."


"Tidak, aku hanya ingin memastikan kamu di dalam apa tidak."


"Baiklah, aku hampir selesai."


"Tidak untuk sekarang, sayang."


Brian pun keluar dan kembali ke ranjangnya. Dia memperhatikan si kembar yang masih tertidur nyenyak. Dia sudah tidak sabar melihat bagaimana jika si kembar dewasa nanti.


Tidak lama kemudian Rennata keluar dari kamar mandi setelah memakai pakaiannya. Brian pun mendekati istrinya tersebut sambil membawa obat untuk di oleskan pada tangan Rennata.


Dia mengajak Rennata duduk di sofa dan mulai mengoleskan obat yang telah diberikan dokter untuk luka Rennata.


"Bagaimana jika ini ada bekasnya?." Tanya Rennata.


"Tidak akan, sayang. Ini tidak akan membekas, dalam beberapa minggu kulitmu akan kembali mulus." Senyum Brian dan dibalas senyuman juga oleh Rennata.


"Oh iya, apa kita pulang ke bumi hari ini?."


"Iya sayang, aku sudah membicarakannya pada Raja dan Ratu."


Rennata tampak bersemangat mendengar ucapan Brian. Karena dia memang sudah sangat merindukan suasana di bumi. Dia juga sudah tidak sabar mempertemukan si kembar dengan Erick sahabatnya. Dia sudah bisa membayangkan antusias Erick nanti.


"Mikirin Erick?." Tanya Brian yang membaca pikiran Rennata.


"Iya, aku pengen liatin si kembar sama dia. Pasti dia heboh banget."


"Nanti anak kita lecet lagi."


"Enggaklah sayang. Kamu masih cemburu ya sama Erick?." Goda Rennata.


"Siapa bilang, gak ada yang perlu aku cemburuin dari dia. Lagian aku pemenangnya."


"Hahaha iya sayang, kamu pemenangnya. Buktinya si kembar lahir kan."


"Nanti kita bikin si kembar lainnya." Senyum Brian.


"Mau kembar lagi?. Ini aja udah kerepotan sayang. Kalau gitu kita tunggu umur si kembar yang ini 5 tahun apa 4 tahun dulu ya?."


"Kelamaan sayang. Nanti kita bisa cariin baby sitter kalau kamu hamil lagi."


"Enggak, aku gak mau anak-anak kita di asuh sama baby sitter, pokoknya urusan anak-anak biar aku yang urus."


"Iya sayang. Kita berdua yang urus. Gak mungkin juga aku biarin kamu capek sendiri."


"Kita liat nanti aja. Kamu mandi dulu sana. Habis itu kita mandiin si kembar."


"Iya sayang." Patuh Brian lalu mencium pipi Rennata.


Brian pun masuk ke kamar mandi, sedangkan Rennata mendekati anak-anaknya. Dia pun segera mengambil Rendra yang ternyata sudah bangun dan menyusuinya. Sementara dia menyusui Rendra, Naela pun juga terbangun. Dia pun juga mengambil Naela dan langsung menyusuinya. Sekarang Rennata sudah bisa menyusui si kembar langsung sekaligus.


Brian yang memang tidak pernah mandi terlalu lama itupun keluar dengan pakaian yang rapi. Setelahnya dia meminta penjaga diluar untuk memanggil para dayang untuk menyiapkan perlengkapan mandi untuk si kembar.


Kali ini Rennata juga ikut memandikan si kembar. Sebenarnya Brian sudah melarang, namun Rennata tetap bersikeras untuk memandikan putra putrinya itu. Karena tentu saja saat di bumi nanti, dia sendiri yang akan memandikan si kembar.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Brian dan Rennata membawa si kembar keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan keluarga. Disana tentu saja sudah berkumpul seluruh pangeran dan ditambah dengan kehadiran orangtua Rennata.


Si kembar pun kemudian diletakkan di sebuah ranjang kecil yang disediakan disana agar Brian dan Rennata bisa ikut makan bersama. Setelah Raja dan Ratu datang, mereka pun mulai mengambil masakan yang tersedia lalu memakannya dengan perlahan.